
"Sudah, jangan takut, aku kan sudah di sini menemanimu", hibur Gerald sambil menepuk-nepuk punggung Rianty menenangkan.
"Setelah ayahmu diotopsi, aku sudah menyuruh sekretaris Kim untuk mengurus penguburan ayahmu dengan layak", sambung Gerald lagi.
"Terimakasih mas Aldo", ujar Rianty masih memeluk Gerald dengan erat.
"Maaf Ibu Rianty, interogasinya masih harus dilanjutkan lagi!", ujar Petugas .
"Baik pak, saya minta waktu sebentar lagi untuk bicara dengan istri saya, harap maklum pak dia masih dalam suasana duka", ujar Gerald mewakili Rianty.
"Baik pak, jangan lama-lama ya!", ujar petugas itu, kemudian meninggalkan Rianty dan Gerald.
"Dengarkan aku Rianty! pertemuan mu dan ayah mu kemaren ada yang merekam, sepertinya ada yang mau berniat tidak baik padamu.
Ingat nanti kalau kamu ditanya tentang pengakuan mu mendapat uang dari menjual diri, jangan pernah cerita transaksi 7 tahun yang lalu. Kalau tidak, nanti masalahnya akan semakin panjang . Bilang saja kamu asal menjawab ayahmu, karena kamu sedang kesal", bisik Gerald di telinga Rianty.
Rianty langsung tertegun mendengar pesan dari Gerald, Rianty baru ingat kalau kemaren dia juga sudah curiga, kenapa bapak nya bisa datang dan tahu tempatnya.
"Mengerti?", tanya Gerald lagi.
"Iya mas, mengerti", sahut Rianty mengangguk.
"Untung kali ini ada mas Aldo mengingatkan, kalau tidak aku bisa kena masalah", pikir Rianty merasa bersyukur karena kali ini saat dia menghadapi masalah, ada Gerald yang membantunya.
"Ya sudah, kamu cepat kembali ke ruang interogasi, agar cepat selesai. Nanti baru kita bicara lagi di rumah", ujar Gerald mengecup dahi Rianty sekilas, kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya mas", sahut Rianty menurut.
Sesudah kedatangan Gerald, akhirnya Rianty merasa sudah lebih tenang, dibandingkan saat tadi dia hanya seorang diri.
...********...
"Bagaimana tanggapan ibu Gerald sesudah melihat video yang ku kirim kan pada Bu Lena?",’ tanya Monica yang menghubungi Lena lewat telpon.
"Nyonya sangat marah. Menurutku kali ini Rianty bakal diusir dari keluarga Anggara, karena sudah membuat malu", ujar Lena penuh semangat.
__ADS_1
"Semoga saja cepat diusir, aku sudah gak tahan kalau lihat pelakor itu bersandiwara sok baik!", sambung Lena lagi berharap
"Terimakasih Bu Lena sudah membantuku, sebenarnya saya sedih Gerald sudah lama tidak pulang ke mansion kami", ujar Monica mencari simpati dari Lena .
"Tidak usah berterimakasih padaku nyonya muda, aku memang paling benci wanita pelakor.Makanya saya bersedia membantu nyonya muda.
Baiklah nyonya muda, semoga kali ini pelakor itu pergi selamanya dan tidak bisa lagi mengganggu hubungan tuan muda dan nyonya muda lagi", ujar Lena mengakhiri panggilan telpon dari Monica.
...********...
"Gerald pergi ke mana? Mengapa jam sibuk seperti ini dia tidak berada di kantor?", tanya Rini gusar, karena tidak berhasil bertemu dengan Gerald.
"Tuan Gerald sedang ke kantor polisi untuk menemani nona Rianty menjadi saksi atas kematian bapaknya", sahut sekretaris Kim.
"Apa? Bapak Rianty meninggal?Meninggal kenapa?", tanya Rini kaget.
"Sepertinya ada yang mencelakakan, karena itu nona Rianty diminta menjadi saksi", ujar sekretaris Kim lagi.
"Ah, sungguh perempuan yang banyak masalah. Akhirnya membuat Gerald bertambah sibuk. Sudah sibuk mengurus bisnis, masih harus mengurus dia lagi. Belum lagi bikin berita yang memalukan keluarga Anggara!", keluh Rini kesal, apalagi dia tidak bisa mengajukan protes pada Gerald.
"Tapi kan tetap saja ada yang sudah tahu! sungguh memalukan!", ujar Rini tidak puas.
"Sekretaris Kim, sebenarnya bagaimana sampai Gerald bisa mempunyai hubungan dengan perempuan seperti Rianty?", tanya Rini lagi penasaran.
"Maaf nyonya, saya juga tidak tahu", sahut sekretaris Kim.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu. Bukankah Gerald selalu bersama kamu. Monica bahkan berkata padaku, dulu kamu sering menginap di mansion mereka!", ujar Rini yang tidak puas dengan jawaban sekretaris Kim.
"Maaf nyonya, saya benar-benar tidak tahu, saya baru mengenal nona Rianty sesudah nona Rianty menikah dengan tuan Gerald", sahut sekretaris Kim menegaskan.
"Dasar perempuan licik, ternyata suka mengadu juga", omel sekretaris Kim dalam hati.
"Huh, kamu sama Gerald sama saja, selalu tidak jujur padaku. Untung masih ada Lena yang selalu setia membantuku!", omel Rini kesal, sambil duduk di sofa yang tersedia di ruangan Gerald.
"Aku tunggu Gerald saja di sini, kalau sekretaris Kim sibuk, bisa tinggalkan aku!", ujar Rini.
__ADS_1
"Tapi sepertinya percuma nyonya menunggu tuan di sini, Tuan tidak akan kembali ke kantor. Tuan tadi sudah berpesan pada saya untuk mengambil alih pekerjaannya hari ini, nyonya".
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?Kamu cuman menghabiskan waktuku saja!", omel Rini melampiaskan kekesalannya pada sekretaris Kim, apalagi tujuannya untuk bertemu Gerald gagal.
Rini kemudian segera beranjak keluar dari ruangan Gerald dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Ah serba salah kalau ketemu orang yang moodnya sedang jelek, tidak bertanya untuk apa kuberitahu? Nanti dibilang ngusir lagi!
Benar juga dugaan ku, kalau tuan Gerald menikah dengan nona Rianty, maka akan terjadi banyak masalah!" keluh sekretaris Kim menghela nafas panjang.
...********...
"Aku harus segera pergi dari kota ini, waktunya benar-benar mendesak. anak-anak juga masih kuliah, jadi aku pergi sendiri dulu. Nanti kalian menyusul kalau aku sudah mantap di tempat baru, Bu!", ujar Dodi pada istrinya, Susi.
"Kenapa mendadak pa?", tanya Susi
"Kan kebutuhan kita banyak Bu, anak-anak semua masih kuliah, aku harus cepat menghasilkan uang", sahut Dodi memberikan alasan pada istrinya.
"Koq tempat kerjamu bisa mendadak tutup pa? Padahal kan yang punya kalau gak salah katamu menantunya Anggara grup?", tanya Susi lagi penasaran.
"Ya, mungkin dia sudah mau fokus di rumah tangga, buat apalagi dia bekerja, suaminya kan sudah kaya, hartanya tidak akan habis tujuh turunan! orang kaya kan suka-suka, tidak seperti kita yang pas pasan gini Bu", ujar Dodi asal memberikan alasan, agar istrinya tidak banyak bertanya lagi.
Tapi ternyata Susi masih tidak puas dengan jawaban Dodi,
"Tapi kan kamu bilang keponakanmu itu sekarang sudah jadi istri keduanya Anggara grup. Kenapa kamu tidak meminta bantuan dia saja? Walaupun dia istri kedua, kan katamu tuan Gerald sayang sama dia. Setidaknya dia kan bisa masukin kamu ke Anggara grup untuk bekerja? Jadi kamu kan tidak harus di kota lain, dan kita sekeluarga masih tetap bisa berkumpul", ujar Susi memberikan solusi.
"Dulu kan kamu sudah melarang aku bertemu dengan Rianty, katamu setiap bertemu dia, uangku habis untuk menolong dia. Gak enak dong, sekarang mendadak aku muncul minta bantuannya lagi!", ujar Dodi memberikan alasan lagi.
Susi langsung terdiam mendengar jawaban Dodi. Memang 7 tahun yang lalu dia sering mengomel Dodi yang sering memberikan bantuan pada Rianty, apalagi ketika Dodi memberikan modal pada Rianty yang cukup besar, saat Dodi memutuskan tidak akan bertemu Rianty lagi.
Padahal Susi tidak tahu kalau uang itu adalah hasil dari Dodi menipu Rianty, uang melayani tuan Gerald, yang dititipkan Rianty agar diberikan pada bapaknya di kampung.
Susi juga tidak tahu apa sebenarnya alasan Dodi untuk segera pindah ke kota lain, kalau saja dia tahu, tentu dia akan kaget.
"Aku kan gak tau pa, kalau Rianty suatu hari akan menjadi istri kedua tuan Gerald", sahut Susi menyesal.
__ADS_1
Bersambung........