
Dita semakin yakin kalau Rianty sedang bermasalah dengan Gerald, ketika Aldi turun dari atas dan bersiap-siap untuk ke sekolah.
Dan dari tadi dia sering memergoki Rianty yang termenung dengan tatapan kosong.
Dita yang pengertian, tidak banyak bertanya lagi, Dita sudah tahu sifat Rianty yang agak tertutup dan jarang menceritakan masalah pribadinya itu.
"Ayu kamu jangan banyak bertanya masalah pribadi pada Bu Rianty hari ini, sebaiknya hari ini kamu kunci mulutmu itu!", ujar Dita pada Ayu, dengan tangannya memberi tanda agar Ayu mengunci mulutnya itu.
"Kenapa ta? Aku baru saja mau tanya, apakah ibu Rianty kemaren tidur di toko", sahut Ayu penasaran, karena tadi dia melihat Aldi yang rambutnya masih basah, selesai mandi.
"Sudah pokoknya kamu turuti aku saja! jaga mulutmu itu! nanti senggang baru kuberitahu. Awas ya kalau gak nurut!", ancam Dita.
"Iya deh. tapi hari ini aku bakal gak bisa tenang karena penasaran deh", ujar Ayu kecewa.
"Dasar kamu! rasa ingin tahu nya gede banget sih, lebih baik kamu jadi detektif dari pada tukang roti!", omel Dita.
...********...
Begitu Rianty berangkat mengantar Aldi ke sekolah, Ayu langsung menghampiri Dita yang sedang menyusun roti di rak.
"Ayo ta, cerita dong! Bu Rianty sudah gak ada. Katanya kamu mau kasih tahu aku!", tagih Ayu yang ternyata masih penasaran sejak tadi
"Astaga Ayu! Rasa ingin tahu mu besar banget sih!", ujar Dita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu kan sudah tahu, memang sifat teman mu ya kayak gini", ujar Ayu tertawa.
"Kayaknya Bu Rianty dan si Sultan bermasalah deh, pagi-pagi aku datang, Bu Rianty sudah lagi bikin roti. Sepertinya semalam tidur di sini, soalnya ada Aldi juga", ujar Dita menjelaskan.
"Itu mah aku sudah nebak ta, yang aku ingin tahu kenapa ta?", tanya Ayu yang semakin penasaran.
"Aku juga gak tahu yu, kamu kan tahu sendiri, ibu Rianty orang nya jarang mau cerita masalah pribadi dan tertutup. Mangkanya aku bilang ke kamu, kamu jangan tanya yang enggak-enggak, sepertinya ibu Rianty sedang sedih, dari tadi melamun terus!", sahut Dita.
"Lho kalau enggak tanya kita gak tahu masalahnya dong", ujar Ayu tidak terima.
"Dasar kamu! kita harus jaga perasaan ibu Rianty, menurutku rekaman pembicaraan ibu Rianty dan bapaknya itu pasti mendatangkan masalah di keluarga nya si sultan, mereka kan keluarga terpandang, walaupun sekarang sudah dihapus.
__ADS_1
Makanya kamu jangan tanya Bu Rianty lagi! Kasihan, nanti Bu Rianty tambah sedih", ujar Dita menasehati Ayu.
"Baiklah ta, aku akan menjaga mulutku. Kupikir dugaanmu ada benarnya juga.
Ah... Ternyata menikah dengan seorang sultan tidak seenak yang kubayangkan. Banyak aturannya! Cuman duitnya saja yang enak!", gerutu Ayu.
"Sepertinya aku harus membuang mimpiku", sambung Ayu lagi.
"Sudah ah, ayo lanjut kerja lagi, jangan gosip terus!", tegur Dita memukul bahu Ayu.
...********...
Dita dan Ayu bertambah khawatir, ketika melihat Rianty pulang dari mengantar Aldi, berlari masuk dan langsung ke toilet muntah-muntah.
"Ibu sakit ya? perlu ke dokter gak? Ayu bisa ngantar ibu ke dokter, Dita yang jaga toko Bu", ujar Dita yang menghampiri Rianty mengusulkan.
Dita menjadi prihatin melihat wajah Rianty yang pucat dan lesu.
"Ah.. si sultan terlalu, baru menikah belum lama, ibu sudah dibuang, hanya karena masalah itu. Padahal Bu Rianty cantik dan baik hati. Koq tega banget sih. Sungguh tidak mudah menjadi istri si sultan", Dita akhirnya berpikiran negatif pada Gerald, apalagi dari tadi dia sering melihat Rianty termenung.
Sesudah meminum obat masuk angin, Rianty langsung naik ke kamarnya untuk beristirahat, karena dia merasa pusing.
"Huh, semua gara-gara mas Aldo, gara-gara ucapan nya aku tidak bisa tidur semalaman. Aku harus menghilangkan nya dari pikiranku, agar hidupku tenang!", pikir Rianty yang tiba-tiba merasa kesal lagi pada Gerald.
Untungnya setelah itu Rianty tertidur karena kelelahan akibat kemaren malam dia tidak tidur sama sekali, dan mungkin juga ditambah obat yang dikonsumsinya.
...********...
Rianty mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha membuka matanya yang berat karena pengaruh obat yang diminumnya, ketika dia merasa ada seseorang yang mengelus pipinya.
Ketika melihat Gerald yang duduk di kasur nya menghadap ke arahnya dan mengelus pipi nya, langsung saja yang Rianty ingat pertama kali adalah kata-kata Gerald yang menghina nya kemaren, yang membuat nya sakit hati.
Rianty langsung menepis tangan Gerald dan bangun dan langsung memundurkan badannya duduk di ujung tempat tidur menjauhi Gerald,
"Jangan sentuh aku!", ujar Rianty.
__ADS_1
"Mengapa kau masuk ke kamarku seenaknya saja!", omel Rianty.
Mendengar perkataan Rianty, Gerald benar-benar kaget karena baru kali ini dia melihat Rianty begitu galak, biasanya Rianty selalu menurut padanya dan lemah lembut.
"Karyawan mu Dita memberitahu aku kalau kamu sedang sakit, jadi aku langsung ke atas untuk melihatmu. Tapi sepertinya suhu badanmu tidak tinggi", ujar Gerald berusaha sabar.
Waktu Gerald sampai di toko Rianty, pertama-tama Dita terlihat ragu memberitahukan keberadaan Rianty pada Gerald
Tapi begitu Gerald berkata ingin membawa Rianty ke kantor polisi, karena pelaku yang menyebabkan kematian ayah Rianty sudah ditangkap, akhirnya Dita pun memberitahu Gerald kalau Rianty sedang beristirahat di atas karena sedang sakit.
"Mungkin dugaan ku tentang tuan Gerald salah, ternyata tuan Gerald masih kelihatan perhatian pada Bu Rianty, dan terlihat khawatir waktu aku bilang ibu sakit", pikir Dita.
"Apa yang dikatakan Sultan pada mu?", tanya Ayu langsung, begitu dia selesai melayani pelanggan, karena tadi Ayu tidak mendengar pembicaraan Dita dan Gerald.
Dita hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng melihat temannya yang rasa ingin tahunya sangat besar itu.
...********...
"Bukan urusanmu! Sebentar lagi kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, kalau sudah bercerai!", ujar Rianty lagi.
Akhirnya kesabaran Gerald benar-benar habis, Gerald melepaskan sepatunya, dan naik ke tempat tidur, mendekati Rianty yang duduk di ujung dan pojok kasur.
"Jangan sembarang berbicara! siapa yang akan menceraikan mu! Kamu sampai kapan pun adalah istriku. Kamu adalah milik ku!", ujar Gerald menangkap kedua bahu Rianty dan meremasnya karena gemas.
"Sakit mas, lepaskan!", ujar Rianty berusaha mendorong dada Gerald.
Gerald segera melepaskan bahu Rianty, ketika sadar kalau dia sudah menyakiti Rianty.
Tapi Gerald kali ini tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, segera dia mengunci Rianty dalam pelukannya.
"Maafkan perkataan ku kemaren Rianty, aku terbawa emosi karena kamu memilih bercerai dengan ku.Bahkan sepertinya aku cemburu pada Aldi, kamu lebih memilih dia. Kamu tidak pernah mempercayaiku, apapun yang terjadi tentu aku tetap akan membuatmu selalu bersama Aldi, bukankah aku sudah pernah berjanji padamu? Aku pasti memenuhi janjiku, walau harus bertentangan dengan ibuku!", ujar Gerald.
Akhirnya kata "maaf" yang langka, keluar dari mulut Gerald.
Bersambung........
__ADS_1