Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Rianty yang meragukan Gerald


__ADS_3

"Tapi besok aku mau ke toko dulu ya mas, soalnya aku hari ini sudah gak ke toko. Boleh ya mas?", tanya Rianty sambil menatap memohon ke Gerald.


Dan seperti biasa, Gerald tidak pernah bisa menolak permintaan Rianty.


"Baiklah, nanti aku antar kamu ke toko dulu, sesudah itu aku dan Aldi ke sana, nanti kalau kamu sudah beres di toko, kamu telpon aku untuk jemput kamu, kamu juga harus lihat studio Aldi!", ujar Gerald mengiyakan permintaan Rianty.


"Baik, terimakasih ya mas", jawab Rianty tanpa sadar mengecup pipi Gerald karena terbawa suasana senang.


Tentu hal tersebut membuat Gerald tertegun, karena Rianty biasanya tidak pernah berinisiatif.


Bahkan Aldi saja sampai melongo kaget melihat kelakuan maminya.


Rianty langsung tersipu malu dan tidak bisa menjawab, ketika diprotes Aldi,


"Kata mami kalau orang dewasa enggak dapat ciuman walaupun nurut, memang papa anak kecil?"


"Tapi kan papa juga pernah kecil", sahut Gerald yang tidak terima dengan protesnya Aldi.


Rianty akhirnya malah tersenyum melihat ayah dan anak yang adu mulut itu.


...********...


Gerald yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur, masih belum terbawa kantuk.


Hatinya sedang merasa senang karena hubungannya dengan Rianty dan Aldi yang semakin baik dan dekat.


Sedang membayangkan Rianty yang semakin perhatian padanya, ketukan di pintu kamarnya membuat Gerald kaget.


"Siapa yang sudah malam masih mencariku?", pikir Gerald ketika dia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat


Rini langsung melangkah masuk ke kamar Gerald, ketika Gerald membukakan pintu.


"Ibu ingin bicara denganmu sebentar. Di mana Rianty?", tanya Rini ketika melihat Rianty tidak berada di kamar Gerald.


"Menemani Aldi Bu, kenapa?", tanya Gerald.


"Coba kamu lihat Aldi sudah tidur belum, kalau sudah kamu panggil ke sini juga. Ibu ingin Rianty juga mendengarkan pembicaraan kita", ujar Rini lagi.


Gerald yang dari tadi sudah tidak sabar menculik Rianty dari kamar Aldi, tentu kesenangan mendapat kesempatan ini.


Akhirnya Gerald sama sekali tidak curiga apa yang hendak dikatakan ibunya.


Dari tadi dia sudah mengintip ke kamar Aldi dua kali, bukan saja Aldi belum tidur, kelakuannya malah ketahuan Aldi, yang langsung menatapnya curiga.


Jadi kali ini kalau ketahuan lagi, Gerald punya alasan.


Begitu sampai di kamar Aldi, ternyata bukan hanya Aldi yang sudah tidur, Rianty juga sudah tertidur.

__ADS_1


Tapi Gerald malah curiga kalau Rianty hanya berlagak tidur seperti malam sebelumnya, Gerald datang mendekati Rianty, membungkuk dan mengecup bibir Rianty.


Rianty yang benar sedang tidur, merasakan ada yang mengecup bibirnya, langsung terbangun dari tidurnya.


Rianty yang baru bangun dari tidurnya, mengerjap-ngerjapkan matanya, dan kaget melihat wajah Gerald yang begitu dengan wajahnya.


"Maaf mas, aku ketiduran", ujar Rianty yang menjadi salah tingkah karena wajah Gerald yg begitu dekat.


Gerald yang sebenarnya ingin memesrai Rianty, terpaksa harus menahan keinginan nya itu, teringat ibunya yang masih menunggu mereka berdua di kamarnya.


Akhirnya Gerald menegakkan tubuhnya sambil menghela nafas, menahan keinginannya itu.


"Ibu ingin bicara dengan kita berdua", ujar Gerald.


Mendengar perkataan Gerald, Rianty yang tadinya tidak berani bergerak karena kedekatan Gerald, segera bangun dan duduk di kasurnya.


Dengan tangannya Rianty merapikan rambutnya.


Gerald yang merasa Rianty tambah cantik di bawah cahaya lampu, tanpa sadar tangannya mengelus pipi Rianty


"Sudah cantik!", ujar Gerald memuji Rianty. "Ayo!", sambung Gerald sambil menarik tangan Rianty bangun dari tempat tidurnya.


...********...


-


"Ibu ingin bicara apa? Langsung saja Bu", ujar Gerald yang memulai pembicaraan.


Mereka duduk di sofa yang tersedia di kamar Gerald. Rini duduk di depan Gerald, sedangkan Rianty tadi ditarik Gerald supaya duduk di sampingnya.


Mendengar pertanyaan Gerald, Rini malah terdiam dan mencoba mengingat apa yang ingin dikatakannya.


Sebelum dia berbicara dengan Gerald, Rini memang membahas masalah Monica dengan Lena asistennya, karena Rini memang dari dulu kurang bisa mengambil keputusan.


Dan seperti biasa, Lena sudah pasti memberi masukan yang memojokkan Rianty.


"Menurut saya, Rianty menggunakan segala cara, agar tuan muda tidak ke tempat Monica, nyonya.


Rianty itu terlalu pintar merayu laki-laki, jadi tuan muda lengket terus padanya.


Monica sungguh kasihan", ujar Lena mempengaruhi Rini.


Rini memang sudah mulai berkurang rasa tidak sukanya pada Rianty sejak Aldi mulai akrab dengannya.


Bahkan dia sudah menyuruh Lena memanggil Rianty dengan sebutan nama saja, tidak boleh menyebut Rianty dengan sebutan perempuan kampung lagi, dengan alasan takut terdengar oleh Aldi.


"Terus aku harus bagaimana Len?", tanya Rini bingung dan agak bimbang, karena dia juga mulai tidak suka pada ibu Monica yang suka melebihkan masalah dan menekan dia.

__ADS_1


"Nyonya harus menyuruh Gerald gantian, gak boleh hanya pulang ke sini. Biar adil juga untuk Monica, nyonya", ujar Lena memberikan pendapat.


"Kamu tahu sendiri, Gerald punya keputusan sendiri dan susah dipengaruhi!", sahut Rini ragu kalau Gerald mau mendengarkannya.


"Saya tahu Nyonya, tapi saat ini tuan muda sangat menyayangi Rianty, jadi sudah pasti dia akan mendengarkan perkataan Rianty. Jadi Nyonya harus menekan Rianty, bukan tuan muda", sahut Lena.


"Dan Rianty kan selalu menjaga image, agar terlihat seperti orang baik, jadi nyonya harus membuat Rianty yang meminta tuan muda supaya pulang nya bergantian", sambung Lena yang selalu berpikir kalau Rianty suka bersandiwara dan hanya berlagak baik hati di depan orang-orang, agar disukai.


...********...


"Bu koq bengong, katanya mau bicara sama aku dan Rianty?", Gerald mengulangi pertanyaannya lagi.


"Bagaimana Rianty, apakah kamu betah tinggal di mansion Anggara?", tanya Rini melihat ke arah Rianty.


"Baik..baik.. betah Bu", sahut Rianty gagap, karena tidak menyangka akan ditanya mertuanya itu.


"Baguslah kalau kamu betah!"


"Terimakasih Bu".


"Gerald, sudah dua hari kamu pulang ke mansion Anggara, kapan kamu berencana pulang ke tempat Monica?", tanya Rini, yang tiba-tiba mengalihkan pertanyaan ke Gerald.


"Ada apa Bu? Kalau ibu mau membawa sesuatu buat Monica aku bisa menyuruh supir buat mengantarkannya Bu", sahut Gerald secara tidak langsung menyatakan kalau dia tidak akan ke tempat Monica.


"Kamu jangan berlagak bodoh Gerald! Monica juga istrimu, malah dia istri pertamamu. Kamu harus adil, masak kamu tidak ke tempatnya sama sekali?", ujar Rini mulai emosi.


"Sudah bagus tidak kuceraikan, aku sedang menunggu dia meminta cerai padaku. Untuk apa aku ke tempatnya?", sahut Gerald ketus.


"Kamu sungguh terlalu Gerald. Di mana hatimu?", tanya Rini benar-benar kesal.


Sesudah itu Rini mendekati Rianty, menggenggam tangan Rianty dan menepuk-nepuk tangan Rianty


"Rianty coba kamu nasehati Gerald supaya lebih adil, kamu juga seorang perempuan, bagaimana rasanya kalau suatu hari kita diperlakukan seperti itu. Tentu sakit sekali", ujar Rini.


"Belum lagi ibu yang harus menghadapi keluarga Monica yang merasa tidak adil. Ibu mohon agar kamu mau menasehati Gerald", sambung Rini lagi.


Rianty yang dari tadi sudah tegang menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu, semakin bertambah tegang lagi ketika Rini memohon padanya.


Perkataan Rini akhirnya membuat Rianty kembali berpikir kalau Gerald terlalu tega, mengapa begitu membenci Monica, padahal saat dia bertemu di pesta, terlihat hubungan Gerald dan Monica baik-baik saja.


Tiba-tiba hati Rianty menjadi dingin, "Akankah nasibku sama seperti Monica kalau suatu hari Gerald bosan padaku?", pikir Rianty dalam hati terpengaruh ucapan Rini.


Padahal dia sudah mulai lupa akan hal tersebut, saat Gerald begitu perhatian dan menyayanginya.


Bahkan sepertinya saat ini dia sudah memberikan hatinya pada Gerald.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2