Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Gerald semakin menyukai Rianty


__ADS_3

"Aku langsung balik ke kantorku dulu, nanti siang aku ada pertemuan dengan partner bisnisku, sepertinya tidak sempat menjemput Aldi. Apa nanti supirku menjemput Aldi saja?", tanya Gerald ketika mobilnya sudah sampai di depan toko roti Rianty.


"Tidak usah mas, biar aku jemput sendiri. Aldi lebih suka dijemput ibunya", sahut Rianty segera membuka safety belt nya.


Rianty benar-benar merasa risih kalau Gerald terlalu memperhatikan nya.


"Apakah kamu tidak bisa membawa mobil? Bukankah lebih aman naik mobil?", tanya Gerald.


"Tidak bisa mas, aku kan asalnya dari desa, bisa bawa motor saja sudah bagus", sahut Rianty tersenyum.


"Memang kamu pikir beli mobil seperti beli kacang goreng?, kalau buatmu ya pasti mudah, pegawai ku saja memanggilmu sultan", pikir Rianty dalam hati.


"Tidak perduli dari mana, asal belajar pasti bisa. Aku merasa lebih tenang kalau kamu membawa mobil dari pada membawa motor!", ujar Gerald tidak setuju mendengar jawaban Rianty yang merendahkan asal usulnya.


"Baiklah mas Aldo, kapan-kapan kalau ada waktu, aku akan coba belajar", jawab Rianty mengalah agar Gerald segera menyudahi pembahasan masalah kendaraan yang dipakai.


"Ya sudah ya mas Aldo, aku masuk dulu. Mas Aldo hati-hati di jalan ya, terima kasih buat kuenya yang cantik", sambung Rianty sambil membuka pintu bersiap keluar dari mobil.


Pada dasarnya Rianty memang bermulut manis dan pintar menyenangkan orang, karena dia sudah terbiasa menawarkan rotinya pada pembeli, apalagi ketika pertama kali dia baru memulai usaha dan belum mempunyai pelanggan dan karyawan.


Jadi Rianty sudah terbiasa bersikap ramah dan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan orang lain.


"Tapi aku lebih suka roti buatan kamu", ujar Gerald memuji.


Mendengar itu, Rianty yang sudah menginjakkan kakinya di aspal, menoleh ke Gerald,


"Mas Aldo mau? saya bawain buat mas Aldo ya?", tawar Rianty.


"Tidak usah Rianty, lain kali saja, sepertinya nanti juga sibuk dan gak sempat".


"Baiklah mas", sahut Rianty melangkah keluar dan menutup pintu mobil.


"Walaupun sibuk tetap makan yang teratur mas!", ujar Rianty sambil melambaikan tangannya, sebelum Gerald melajukan mobilnya.


Dalam perjalanan menuju kantornya, Gerald tersenyum senang, dia merasa kali ini dia benar-benar memiliki sebuah keluarga.


Memiliki seorang istri yang memperhatikannya dan memiliki seorang anak yang banyak maunya, menurut Gerald

__ADS_1


...********...


"Tuan akhir-akhir ini sibuk sendiri, dan sering pergi sendiri, ada yang bisa saya bantu tidak?", tanya sekretaris Kim yang dari tadi menunggu datangnya Gerald, karena sebentar lagi mereka ada pertemuan dengan client penting.


Dan Gerald datang dengan waktu yang begitu mepet, padahal Gerald biasanya tidak pernah begitu.


"Apakah menemui calon istriku harus membawamu juga?", tanya Gerald.


"Oh maaf Tuan, saya tidak tahu kalau tuan bertemu nona Rianty, saya pikir ada urusan lain yang mungkin saya bisa bantu".


"Huh sombong mentang-mentang sudah dapat istri yang sudah cocok dan dia suka", gerutu sekretaris Kim dalam hati.


"Tuan jangan lupa besok penanda tanganan surat nikah Tuan dan nona Rianty. Karena tidak dirayakan, apakah Tuan akan segera memboyong nona Rianty dan Aldi langsung ke rumah baru?", tanya sekertaris Kim.


"Rianty dan Aldi akan tinggal di mansion ibuku, kali ini aku harus menurut pada ibuku, karena dulu aku sudah berjanji pada ibuku.


Biarkan saja rumah yang sudah dibeli itu, tetap dirawat, siapa tahu kapan-kapan aku akan membawa Rianty ke rumah yang sudah kubelikan untuknya itu."


"Apakah nona Rianty bersedia tinggal di mansion ibu tuan?", tanya sekretaris Kim.


"Rianty wanita yang penuh pengertian, dia sama sekali tidak keberatan, dia langsung menyetujui saat kutanyakan padanya", sahut Gerald memuji calon isterinya itu.


"Tentu saja aku menyukainya, kalau tidak untuk apa aku menikahinya. Kalau aku tidak menyukainya aku cukup mengambil anakku saja.


Cukup Satu monica yang menjadi benalu di hidupku!", sahut Gerald.


Mendengar jawaban Gerald sekretaris Kim akhirnya terdiam,


"Berarti aku harus menyelidiki keterlibatan Rianty diam-diam, tidak perlu diketahui tuan. Bagaimanapun Rianty tetap mencurigakan.Tapi kalau tuan sudah menyukainya percuma saja memberitahunya sebelum menemukan bukti", pikir sekretaris Kim dalam hati memutuskan akan menyelidiki keterlibatan Rianty tujuh tahun yang lalu diam-diam.


"Ayo Kim, kita berangkat sekarang! nanti telat", ajak Gerald sambil melemparkan kunci mobilnya kepada sekretaris Kim.


"Baik tuan!", sahut sekretaris Kim refleks menangkap kunci mobil dari Gerald.


"Kalaupun telat salah tuan sendiri yang sibuk menempel terus dengan nona Rianty!", pikir sekretaris Kim kesal.


...********...

__ADS_1


"Dodi! Coba kamu bantu aku pikirkan bagaimana cara aku menjatuhkan perempuan kampung itu!", ujar Monica kesal.


"Kamu bantu aku membuat malu perempuan kampung itu Dodi, biar Gerald tidak suka padanya. Aku sungguh tidak puas kalah oleh perempuan kampung itu!", sambung Monica geram.


"Ah saya juga bingung nona, kalau tuan Gerald sudah menyukainya susah nona, nanti malah kita yang celaka kalau tertangkap basah ngerjain kesayangan tuan Gerald", sahut Dodi sama sekali tidak tertarik dengan misi yang Monica berikan kali ini.


Bukannya membantu memikirkannya, kali ini Dodi malah memanasi Monica.


Memang akhir-akhir ini Dodi malas-malasan mengerjakan tugas tambahan dari Monica, karena menurutnya Monica makin hari makin pelit padanya, sejak Patrick ikut bekerja di perusahaan Monica.


"Huh, pas susah gitu keluh kesahnya sama aku, kalau pas yang enaknya ngasih ke Patrick. Enak saja! Lagipula Rianty juga masih keponakanku. Sebaiknya aku tidak mencelakakan keponakan sendiri, dosa!", gerutu Dodi dalam hati.


"Tapi kali ini kalau sampai aku dibuang Gerald, habislah aku. Keuanganku sudah parah Dodi, mungkin aku juga sudah tidak bisa memperkerjakan mu lagi, Ayo kamu pasti punya akal mengatasi wanita kampung itu!', ujar Monica sedikit mengancam Dodi.


"Sungguh nona, saya tidak terpikirkan cara untuk menjatuhkan Rianty. Kalau saya tahu, saya pasti memberitahu caranya nona", ujar Dodi pada pendiriannya.


"Dipecat gak pa pa, toh sekarang juga sudah pelit, enggak seperti dulu lagi bonusnya banyak. Berhenti dari sini aku juga bisa kerja di tempat lain", pikir Dodi lagi menghitung untung ruginya.


"Kalau kau membantuku dan bisa berhasil aku akan memberikanmu uang yang banyak!', ujar Monica seraya mengucapkan sejumlah uang yang sangat menggiurkan.


Sepertinya Monica sudah tahu sifat Dodi yang mata duitan, karena itu Monica memancing Dodi dengan menawarkan sejumlah uang besar, agar Dodi memberikan solusi.


Mendengar perkataan Monica seketika raut muka yang cuek dari tadi itu berubah menjadi tertarik dan serius.


"Saya tahu nona! saya akan pergi mencari ayahnya yang pemabuk dan gila judi itu. Kalau bapaknya tahu Rianty menikah dengan orang kaya pasti akan datang mencarinya.


Tentu kemunculan bapaknya itu akan membuat malu keluarga Anggara, bisa jadi juga tuan Gerald menjadi tidak suka pada Rianty yang merupakan anak dari seorang penjudi dan pemabuk", ujar Dodi mengusulkan.


"Usul yang bagus Dodi, baiklah aku akan mentransfer sejumlah uang untuk biaya kamu mencari ayah Rianty dan membuat keributan di mansion Anggara.


Benar-benar usul yang bagus karena Rianty tinggal bersama ibu Gerald.


Jadi biar mereka semua bisa melihat dari mana asal usul perempuan kampung itu!", ujar Monica tersenyum puas dengan usul Dodi.


"Baik nona Monica".


Begitu mendengar uang, Dodi sudah lupa kalau Rianty itu keponakannya, bahkan dia sudah lupa dengan perkataannya sendiri yang baru diucapkan dalam hati, kalau mencelakakan keponakan sendiri adalah dosa.

__ADS_1


Ternyata uang dapat merubah hati seseorang.


Bersambung........


__ADS_2