
"Terserah padamu, kamu senang ya sudah. Aku juga masih bisa bekerja sendiri, semoga saja tidak memerlukan bantuan orang lain!", ujar Rianty dalam hati, masih tersenyum sabar mendengar ucapan Lena.
Rianty pada hakekatnya adalah orang yang optimis. Sejak dia berhasil melalui masalah dari mau dinikahkan dengan juragan tanah sampai dia ke kota, melahirkan anak dan menjadi single parent, akhirnya membuat dia menjadi dewasa dengan pengalaman hidupnya.
Dan hal itu juga, yang akhirnya membuat dia selalu optimis bahwa dia akan bisa melalui semua masalah yang dihadapinya.
Lena yang melihat Rianty tersenyum malah hatinya jadi panas sendiri.
"Kurang ajar perempuan kampung ini, sama sekali gak ada takut-takutnya! Dia malah tertawa, jangan-jangan tertawain aku lagi!Memang mukaku seperti pelawak!
Dasar kurang ajar! Awas kamu perempuan kampung! kamu salah sedikit saja, maka habis kamu!", omel Lena dalam hati dengan sumpah serapah nya.
Lena yang tadinya ingin tertawa di atas penderitaan orang lain, akhirnya malah dia sendiri yang naik darah sampai ke ubun-ubun, saat melihat senyum Rianty.
...********...
"Aldi ini nenekmu!", ujar Gerald pada Aldi.
Aldi yang sudah diajari oleh Rianty untuk bersikap sopan dan menurut pada neneknya, segera menghampiri Rini, dan memberi salam pada Rini dengan sopan.
Tentu Rini merasa senang dengan sikap Aldi, karena saat dia bertemu Aldi di toko Rianty, Aldi bersikap asing dan menjauh darinya.
Bahkan menatapnya penuh curiga.
Tetapi hari ini sikap Aldi berubah seratus delapan puluh derajat.
Apalagi Rini sudah begitu lama merindukan kehadiran seorang cucu .
"Pintar Aldi, kamu kalau ada keperluan apa minta sama nenek saja. Papa mu biasanya sibuk, Aldi", ujar Rini yang ingin menjalin hubungan lebih akrab dengan Aldi.
"Baik nek, tapi untuk saat ini Al belum membutuhkan apa-apa nek, lagi pula biasanya mami yang menyiapkan semua kebutuhan Al".
Rini langsung terdiam mendengar perkataan Aldi yang menyebut nama Rianty.
__ADS_1
"Ini kakek Al, kakek kena stroke jadi hanya bisa duduk di atas kursi roda. kakek juga agak sulit berbicara, tapi kalau Al mau cerita sama kakek, kakek bisa dengar. Untungnya Kakek hanya menderita stroke disertia bukan stroke Afasia, jadi kakek hanya susah berbicara tapi masih bisa mendengar dan mengerti kalau Aldi bicara. Kakek juga mungkin akan merasa senang kalau Al sering bercerita dan mengajak kakek bicara", ujar Gerald menjelaskan keadaan ayahnya pada Aldi.
"Sedangkan yang merawat kakek, Al panggil saja pak Pram, siapa tahu kapan-kapan Al mau bawa kakek jalan-jalan, pak Pram yang akan membantu mendorong kursi roda kakek", sambung Gerald.
Pak Pram yang berdiri di belakang kursi roda langsung tersenyum dan mengangguk hormat pada Aldi.
Aldi yang sering diajari oleh Rianty untuk berbelas kasih pada orang yang lemah atau kekurangan, setelah mendengar cerita Gerald segera menghampiri Pak Anggara.
"Kakek, namaku Aldi, aku adalah cucu kakek", ujar Aldi sambil menggenggam telapak tangan pak Anggara.
Pak Anggara sebetulnya ingin sekali tersenyum pada cucunya, tapi kesulitan karena sakit stroke yang dideritanya.
"Ah akhirnya aku punya seorang cucu, penerus keluarga Anggara. tampan dan juga pintar, tidak kalah dengan Gerald, aku sungguh bahagia sekarang", tanpa sadar Pak Anggara meneteskan air mata terharu.
"Besok Al bawa kakek jemuran ya!
Besok hari Sabtu, jadi Al libur, tidak sekolah. Katanya kalau orang terkena sinar matahari, badannya akan sehat kek", ujar Aldi tersenyum.
Mansion besar yang sudah lama sepi dan dingin itu akhirnya terasa hangat dengan kehadiran Aldi yang ceria dan pintar menyenangkan hati.
"Rianty benar-benar pintar mendidik Aldi, sampai Al menjadi anak yang sopan dan mudah disukai orang-orang", pikir Gerald dalam hati bangga dan semakin menyukai Rianty istri barunya itu.
...********...
Ternyata Lena membawa Rianty berkeliling tanpa Gerald dan Aldi, tujuannya hanya ingin menunjukkan status Rianty yang tidak penting, walaupun dia istri dari Gerald, dan hanya ingin menunjukkan kalau Rianty tidak punya kuasa apa-apa di mansion Anggara, bahkan dengan dia yang hanya seorang asisten saja kalah.
Sedangkan Rianty yang masuk ke dalam keluarga Anggara yang tidak mempunyai tujuan apapun, tentu tidak masalah.
Tujuan Rianty hanya satu, yaitu hanya ingin bersama Aldi saja, jadi Rianty dari tadi bersikap santai dan berjalan di belakang Lena tidak berkomentar apapun.
Bahkan Rianty dari tadi mengembangkan senyumnya pada siapapun yang dijumpainya.
Akhirnya Lena capek sendiri dan menyudahi acara tournya itu.
__ADS_1
...********...
Begitu sampai di dalam Mansion, Rianty langsung disambut Aldi yang langsung berlari mendekati nya.
"Mami! ini kakek mi", ujar Aldi pada Rianty sambil menarik Rianty mendekati pak Anggara.
"Panggil saja pak Anggara", ujar Lena yang dari tadi masih bersama Rianty.
"Pak Anggara, saya Rianty, ibunya Aldi", ujar Rianty akhirnya memilih menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ibu Aldi, daripada istri Gerald, saat memberi salam pada Ayah Gerald.
"Koq manggil pak Anggara? Panggil Ayah, seperti aku. Kamu kan menantunya!", tegur Gerald sambil menatap tajam ke Lena.
Rianty mengangguk, mengiyakan.
Sedangkan Lena hanya diam saja, dan tidak berkata apa-apa lagi, karena Rini juga tidak berkata apapun untuk membelanya.
Lena tidak tahu kalau Rini sama sekali tidak terlalu memperhatikan, karena otaknya penuh dengan pikiran bagaimana caranya agar dia bisa semakin dekat dengan cucunya yang semakin disukainya itu.
"Kelihatannya perempuan ini tidak seperti yang diceritakan. Kelihatannya seperti perempuan baik-baik. Walaupun berasal dari kampung dan pendidikannya hanya SMP, terlihat seperti orang yang terpelajar dan tidak memalukan jika menjadi istri Gerald", pikir Pak Anggara yang tidak bisa mengatakan isi hatinya itu, karena penyakitnya itu.
Memang beberapa kali Pak Anggara tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara istrinya dengan Lena, yang mana Lena sering menceritakan kejelekan Rianty, dan terlihat sekali Lena begitu membenci Rianty.
Pak Anggara hanya bisa menyesali kalau dulu dia terlalu memanjakan istrinya, sehingga akhirnya Rini kurang bisa mengambil keputusan, dan akhirnya Rini begitu mudah dipengaruhi oleh Lena, yang kadang belum tentu benar juga.
...********...
Rianty yang dari tadi bisa bersikap tenang, saat bersama keluarga Gerald malah mulai merasa tidak tenang ketika dia sudah berada di kamar tidur Aldi.
Dia sungguh merasa bingung, apakah dia akan tetap tidur dengan Aldi seperti janjinya pada Aldi atau tidur dengan suaminya Gerald.
Kalau menuruti kata hatinya dia ingin tidur dengan Aldi saja, dia sungguh risih bila harus sekamar dengan Gerald.
Tapi kalau dia melakukan itu, ia juga takut Gerald akan marah dan merasa tersinggung.
__ADS_1
Rianty tidak tahu perjanjian yang sudah dibuat antara Aldi dan Gerald, karena itu Rianty menjadi merasa serba salah, sehingga dari tadi Rianty berlagak sibuk memindahkan baju-baju Aldi ke dalam lemari, yang tidak selesai-selesai.
Bersambung........