Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Menepati janji


__ADS_3

"Menurutmu kalau aku mau honeymoon enaknya ke mana ya Kim? selain Korea!", tanya Gerald.


Sekretaris Kim terdiam beberapa saat sebelum menjawab,


"Tuan Gerald gak salah? mau honeymoon? Saat ini belum bisa Tuan, masih banyak yang harus tuan selesaikan dulu, apalagi ada proyek besar!", sahut sekretaris Kim tidak setuju dengan keinginan Bos nya itu.


"Lho buat apa aku punya kamu? Kamu kan bisa mewakili aku!"


"Bukan hanya itu saja tuan, tuan harus memikirkan masalah lain. Dulu dengan Monica tuan tidak ada acara honeymoon, sekarang dengan Rianty koq ada acara honeymoon? Nanti bagaimana tanggapan keluarga tuan?", ujar sekretaris Kim menasehati.


"Ah..aku gak perduli dengan tanggapan mereka, yang penting aku senang", sahut Gerald masih ngotot.


"Sebenarnya tuan sudah pasti tidak bermasalah, siapa yang berani protes pada tuan Gerald. Tapi nona Rianty yang akan bermasalah, kalau tuan memang menyukai nona Rianty sebaiknya tidak perlu honeymoon.


Takutnya semakin banyak yang tidak menyukai nona Rianty. Tentu tidak enak buat nona Rianty untuk tinggal bersama orang-orang yang tidak suka padanya!", ujar sekretaris Kim.


Kali ini Gerald terpengaruh oleh ucapan sekretaris Kim, karena menyangkut Rianty. Gerald merasa adalah kewajibannya melindungi Rianty, istrinya.


"Koq bisa ya sekretaris Kim lebih mengerti perasaan orang ya? Aku malah gak kepikiran sampai di situ?", pikir Gerald akhirnya.


"Bagaimana Tuan? honeymoon tetap jadi tidak? Kalau jadi akan saya cari informasi dulu", tanya sekretaris Kim, tetap menyerahkan keputusan akhirnya pada Gerald.


"Sesudah kupikir-pikir tangguhkan dulu, kata-katamu ada benarnya juga Kim!", sahut Gerald dengan suara kecewa, karena rencananya gagal.


"Tentu kata-kataku benar, karena aku bisa berpikir jernih, tidak seperti tuan yang sedang mabok kepayang gara-gara cinta", keluh sekretaris Kim dalam hati.


"Baiklah tuan, aku balik ke ruanganku dulu, untuk mengatur pertemuan Tuan dengan tuan Richard dan nona Lucy, mengenai rencana tuan Richard untuk memberikan proyek pada perusahaan gabungan kita dan Takahashi", ujar Kim yang segera beranjak pergi dari ruangan Gerald.


...********...


Setelah sekretaris Kim meninggalkan ruangan Gerald, Gerald memutar kursinya dan menghadap ke kaca , di mana dari ruangan Gerald yang berada di lantai 19 itu, dia bisa memandang bangunan-bangunan lainnya.


Gerald bukan memikirkan tentang meeting yang membahas proyek barunya, Gerald malah memikirkan kejadian kemaren malam sampai pagi tadi, hari pertama Aldi dan Rianty tinggal bersamanya di Mansion Anggara.


Sesudah Gerald mengatakan "iya", kalau Rianty tidur bersama Aldi, akhirnya Gerald kembali ke kamarnya dengan kesal.


Gerald juga tidak bisa mengajukan protes pada Rianty, karena Aldi berada di samping Rianty terus, dan bercerita terus pada Rianty , tak ada habis-habisnya.


Di dalam kamar, sesudah mandi , Gerald merebahkan tubuhnya di kasur nya yang luas itu.

__ADS_1


Gerald sudah terbiasa tidur sendiri, bahkan dia paling anti kalau ada orang yang menyentuh barang pribadinya.


Tetapi entah mengapa hari ini Gerald merasa kesepian berada seorang diri di kamarnya.


Sebenarnya Gerald ingin Rianty sekamar dengannya, Rianty sudah membuat dia tertarik, dia ingin ngobrol-ngobrol dengan Rianty juga, seperti anaknya Aldi.


Gerald ingin lebih mengenal pribadi Rianty, agar dia bisa mengetahui isi hati Rianty.


Tapi Rianty sepertinya agak segan dan selalu menjaga jarak padanya.


Karena dia sudah mengalah pada Aldi, Gerald jadi kebingungan mendekati Rianty.


Sedangkan mereka tinggal di Mansion Anggara, jadi Gerald hanya bisa berduaan dengan Rianty kalau mereka sudah berada di dalam kamar.


Tapi kemungkinan itu juga hilang, sesudah Aldi merebut Rianty dari sampingnya.


Terpikir sampai situ Gerald benar-benar menyesal sudah mengalah pada Aldi, harusnya otaknya bisa lebih pintar bagaimana cara mengatasi permintaan Aldi itu.


Bukan hanya asal mengiyakan.


Akibat pikirannya itu akhirnya Gerald tidak bisa tidur, menjelang jam 12.00 malam, akhirnya Gerald mengendap ke kamar Aldi lewat pintu tembusan.


...********...


Sambil merebahkan tubuhnya di samping Aldi, Rianty melihat ke jam yang menunjukkan hampir jam 24.00, karena hal itulah dia melihat gerendel pintu tembusan yang diputar.


Jantung Rianty langsung berdebar kencang, Rianty segera memejamkan matanya.


Tampak Gerald melangkah masuk, kemudian duduk di samping Rianty, dan memperhatikan Rianty dengan seksama.


Melihat bulu mata Rianty yang bergetar, Gerald akhirnya sadar kalau Rianty tidak benar-benar sedang tidur.


"Kulihat kamu mau bagaimana menghindariku", pikir Gerald dalam hati kesal melihat Rianty yang selalu berusaha menghindarinya.


Kedua tangan Gerald akhirnya bersitumpu di atas kasur, di samping kanan dan kiri kepala Rianty.


"Mengapa kamu menghindariku?", bisik Gerald di telinga Rianty.


Rianty yang sudah terlanjur berlagak tidur, akhirnya bersikuku tidak memperdulikan bisikan Gerald, dan tetap melanjutkan akting tidurnya itu.

__ADS_1


Rianty tidak menyangka kalau Gerald akan nekad, tiba-tiba menggendongnya dan berjalan menuju kamar mereka, dengan kakinya Gerald menendang pintu tembusan kamar itu.


Rianty yang tadi takut dan kebingungan akhirnya membuka matanya, saat dia sudah berada di


kamar mereka.


Rianty menjadi malu ketika membuka matanya, yang mana langsung bertemu dengan tatapan mata Gerald yang sedang manatap padanya dengan lekat.


"Mas Aldo.... ada apa?", tanya Rianty tergagap.


"Aku ingin kamu menemaniku!", ujar Gerald langsung.


"Nanti kalau Aldi bangun mencariku bagaimana mas?", tanya Rianty yang mencari alasan yang tepat.


"Aku hanya ingin kamu bercerita tentang hidupmu dulu sebelum kamu ke Jakarta, aku hanya ingin lebih mengenalmu, ", sahut Gerald.


"Aku hari ini kesulitan tidur, bukankah kau bilang akan melayaniku dengan baik? Kalau kamu bisa membuat aku tertidur, kamu boleh kembali ke kamar Aldi", sambung Gerald lagi.


"Mas Aldo turunkan aku dulu", ujar Rianty akhirnya.


Sesudah Gerald menurunkannya, Rianty berjalan ketempat tidur mereka, dan duduk menyender seperti orang bersemedi di ujung tempat.


Rianty sebenarnya merasa bersalah juga sudah tidak menepati janjinya, untuk melayani Gerald dengan baik, apalagi Gerald sudah berkali-kali membelanya.


"Mas Aldo, ayo tidur sini", ujar Rianty sambil menepuk pangkuannya.


Gerald menurut bahkan merasa senang, dengan cepat Gerald membaringkan tubuhnya ke kasur dengan kepalanya di atas pangkuan Rianty.


Rianty kemudian bercerita tentang hidupnya yang sebenarnya dengan jujur, tentu hanya satu yang Rianty sembunyikan, yaitu tentang pamannya Dodi.


Tanpa sadar Rianty memijat kepala Gerald, untuk keahlian Rianty yang satu ini memang tidak diragukan lagi.


Karena Rianty dulu waktu di desa belajar dari tetangganya yang seorang ahli pijat, demi membantu ibunya untuk meredakan sakit migran yang kala itu sering menyerang ibunya.


Entah karena keahlian memijat Rianty, atau karena Gerald yang sudah kecapaian, akhirnya tidak sampai satu jam Gerald sudah tertidur di atas pangkuan Rianty. Bahkan Gerald sama sekali tidak bangun saat Rianty dengan perlahan memindahkan kepala Gerald ke atas bantal.


Sebelum balik ke kamar, Rianty masih sempat memandang wajah Gerald,


"Aku tidak menyangka kalau suatu hari Mas Aldo akan menjadi suamiku. Setidaknya aku harus menepati janjiku untuk melayani Mas Aldo dengan baik, bagaimanapun mas Aldo juga sudah baik padaku dan dia adalah suamiku".

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2