
"Om Kim salah satu penggemar channel YouTube Al lho!" ujar sekretaris Kim sesudah berhasil mengajak keluar Aldi.
"Huh, om Kim gak usah bohong cuman buat nyenengin Al, Al gak bisa lama-lama ninggalin mami!" sahut Aldi yang tidak terpancing oleh ucapan sekretaris Kim yang memujinya itu.
"Lho, om Kim gak bohong koq. Om sudah bertahun-tahun mengikuti Channel mu, dan gak nyangka akhirnya bisa bertemu dengan orangnya langsung. Om sangat menyukai anak kecil yang berbakat seperti kamu. Mau gak kalau dibuatkan studio yang keren?", ujar sekretaris Kim lagi berusaha meyakinkan Aldi.
Tentu saja sekretaris Kim berbohong, dia meneliti channel Aldi baru-baru ini, setelah mencurigai kalau Aldi anaknya Gerald.
Mana mungkin sekretaris Kim sempat nonton YouTube kalau bukan karena ingin menyelidiki Aldi, anak Tuannya itu.
Tapi setelah meneliti channel Aldi, dia baru menyadari dari deskripsi kalimat yang ada, sepertinya Aldi selalu berharap bertemu ayahnya.
Seperti kalimat-kalimat
Papa, semoga papa bisa berkumpul dengan mami dan Al kembali, kupersembahkan khusus untuk papa yang masih berada di tempat jauh, dan masih ada beberapa kalimat lagi yang sepertinya menyatakan kerinduan Aldi untuk bertemu ayahnya.
"Gak mau, kata mami Al gak boleh sembarang menerima pemberian orang lain, takutnya ada maunya!", sahut Al.
"Perempuan itu bisa juga memberikan ajaran yang bagus buat anaknya. Aku langsung ngomong saja, anak ini anak genius, mungkin dia bisa menerima kenyataannya, lagipula dia merindukan ayahnya", pikir sekretaris yang sebenarnya masih meragukan Rianty.
"Kalau yang buatin studio buat Al, papa kamu, apakah Al mau?", tanya sekretaris Kim.
"Kalau yang buatin papaku, tentu Al terima, kalau orang lain gak mau!", sahut Aldi cepat.
"Ya sudah nanti kusampaikan pada papa Al kalau Al mau dibuatin studio", ujar sekretaris Kim langsung.
"Huh om Kim jangan nipu Al, mentang-mentang Al masih kecil! Kalau om Kim ngomongnya ngaco terus Al sudah gak mau ngomong sama om Kim lagi. Al mau balik ke toko saja, om Kim suka nipu anak kecil. Huh om Kim menang karena masih keturunan Korea saja, bisa bikin Angel naksir sama om!", omel Aldi kesal.
"Lho om pasti punya kelebihan dong, sampai bisa bikin Angel naksir. Om tahu papa Al dimana, kamu kan pengen banget ketemu papa kamu kan?", ujar sekretaris Kim tidak mau kalah
Kali ini Aldi langsung terdiam mematung.
"Om Kim gak bohong kan?", tanya Aldi sesudah mencerna kata-kata sekretaris Kim.
__ADS_1
"Buat apa om bohongin Al. Om kan sudah bilang kalau om itu fans kamu! Lagipula hal seperti itu mana mungkin om jadiin candaan!", ujar sekretaris Kim meyakinkan.
"Siapa papa Al?", tanya Aldi penasaran, dan menatap sekretaris Kim tanpa berkedip menunggu jawaban.
"Om akan memberitahumu, tapi kamu harus berjanji dulu...", ujar sekretaris Kim menggantung .
"Janji apa?", tanya Aldi tidak sabar.
"Kamu jangan pernah menyalahkan papamu, papamu tidak pernah tahu kalau kamu anaknya, janji?", tanya sekretaris Kim.
"janji!", sahut Aldi cepat.
"yang penting tahu dulu, mau nyalahin atau enggak urusan nanti. namanya juga janji anak kecil, gak dihitung dong", pikir Aldi dalam hati.
"Mengapa kamu sekarang baru dikasih tahu, alasannya apa, papamu tidak pernah tahu, Al tanyakan saja sama mami Al sendiri, karena yang mutusin seperti itu mami Al!, janji?", tanya sekretaris Kim lagi.
Buat sekretaris Kim yang penting tuan nya, urusan orang lain dia tidak perduli.
"Salahmu sendiri menyembunyikan keberadaan anak tuan Gerald, biar kamu sendiri saja yang jelasin ke anakmu, yang penting Tuan Gerald tidak terlibat", pikir sekretaris Kim dalam hati, tersenyum.
"Salah om Kim sendiri percaya sama janji anak kecil! ternyata om Kim gak pintar-pintar banget, masih bisa kena tipu sama anak kecil", pikir Aldi dalam hati.
"Papamu om Gerald, Geraldo Anggara dari Anggara Group. Al jangan tanya lagi benar atau enggak, nanti sampai tokomu langsung saja tanya mami Al sendiri, Om Kim bohong atau tidak!", ujar sekretaris Kim tersenyum penuh kemenangan.
"Tugasku selesai tuan Gerald!", ujarnya dalam hati.
Sedangkan Aldi yang mendengar perkataan sekretaris Kim langsung terdiam dan kali ini mematung lebih lama lagi dari pada tadi.
"Untung anak seumur aku jarang ada yang kaget sampai jantungan dan mati, om Kim memang manusia sadis!", omel Al akhirnya menyalahkan sekretaris Kim.
Bagaimanapun Al tetap membela Rianty, dia merasa sekretaris Kim hanya menyalahkan mami nya saja.
Sedang sekretaris Kim kali ini terdiam dan tidak bisa menjawab lagi, disebut manusia sadis oleh Al.
__ADS_1
...********...
Rianty pertama-tama tidak melakukan perlawanan, karena dia tidak menyangka Gerald akan menciumnya. Ciuman Gerald begitu agresif dan intim, membuat Rianty yang tidak berpengalaman, otaknya menjadi kosong.
Sedangkan Gerald yang sama sekali tidak mendapatkan perlawanan dari Rianty, semakin jadi.
Gerald memeluk erat tubuh Rianty, tubuh perempuan yang pernah dia gauli 7 tahun yang lalu, yang tidak pernah hilang dari ingatannya walaupun saat itu dia dipengaruhi obat.
Rianty yang merasa tubuhnya seperti menempel ke tubuh Gerald sedangkan bibir Gerald masih me**m*t bibir Rianty dengan intim, membuat Rianty teringat kejadian 7 tahun yang lalu yang paling disesalinya itu.
Rianty langsung sadar dari rasa terpukaunya, berusaha memberontak dalam pelukan Gerald yang erat, sedangkan Gerald yang tidak menyangka Rianty tiba-tiba memberontak, pelukannya menjadi renggang.
Rianty segera menggunakan kesempatan itu untuk menjauhkan wajahnya dari Gerald dan menekan dada Gerald dengan kedua tangannya agar Gerald tidak bisa mendekati wajahnya lagi.
"Tuan Aldo sadarlah, ini bukan cinta, ini n*fs*!", ujar Rianty dengan pipi merona.
Akhirnya Gerald melepaskan tangannya dari pinggang Rianty dan menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Jangan terlalu naif Rianty, cinta dan na*s* hanya berbeda tipis saja!", ujar Gerald asal saja, untuk menenangkan hatinya.
"Lihat Tuan Aldo, dalam hal seperti ini saja kita sudah berbeda pendapat, belum lagi asal keluarga. Kita tidak mungkin bahagia kalau kita menikah. Biarlah seperti ini saja, kalau tuan memang ingin melihat Aldi, saya tidak akan melarang", ujar Rianty.
Kesabaran Gerald akhirnya habis, selama ini tidak pernah ada yang berani menolaknya. Baru kali ini ada orang yang berani menolaknya.
Hal tersebut tentu membuat Gerald yang selalu memperoleh apa yang diinginkannya menjadi tersinggung dan marah.
"Aldi adalah milikku, apa yang merupakan milikku harus kuambil kembali. Berani-beraninya kamu menyembunyikan Aldi dariku selama 6 tahun. Itu saja belum kuperhitungkan denganmu. Bila kamu tidak mau menyerahkannya, jangan salahkan aku memakai cara lain untuk mengambil Aldi!", ujar Gerald kali ini tidak bisa ditawar lagi.
Rianty terkejut mendengar perkataan Gerald, menatap ke Gerald yang juga sedang menatap tajam padanya.
Tatapan yang membuatnya merasa takut dan hatinya menjadi dingin tiba-tiba karena khawatir, teringat pamannya yang juga begitu takut pada Gerald.
Akhirnya Gerald melangkah keluar dan meninggalkan Rianty, Rianty yang ditinggal masih berdiri mematung, bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
Bersambung........