Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Trauma masa lalu


__ADS_3

"Patrick! Kamu masuk dulu ke tokonya, berlagak mau beli, suruh Pak tua itu masuk sesudah kamu, nanti kamu rekam kejadian di sana. Kalau menurutmu rekamannya sudah cukup, kamu keluar dari sana dan tinggalkan saja pak tua itu!", ujar Monica memberikan instruksi lewat handphone.


"Baiklah", sahut Patrick tanpa semangat, karena sebenarnya Patrick tidak setuju dengan perbuatan Monica.


Setelah itu, Patrick turun dari mobil dan menuju ke toko roti Rianty, sesudah berpesan pada Sugiman untuk menyusulnya sesudah dia masuk ke dalam dan untuk tidak saling mengenal kalau sudah berada di dalam.


"Iya", sahut Sugiman penuh semangat karena di otaknya sudah terbayang segepok uang, malah sebenarnya dari tadi dia sudah gak sabar lagi.


...********...


Begitu masuk didalam, Patrick melihat Rianty, Ayu dan Dita yang kelihatan nya sedang ngobrol.


Rianty saat itu sedang menjelaskan cara-cara membuat roti yang lebih praktis dan cepat, sedangkan Ayu dan Dita memperhatikan dengan serius.


Begitu Patrick masuk ke dalam, Ayu segera beranjak menghampiri Patrick, karena Ayu yang lebih sering menangani tugas melayani pelanggan.


Ayu langsung kagum melihat calon pembelinya, karena Patrick memang memiliki wajah yang tampan. Apalagi sesudah itu Patrick tersenyum padanya,


"Saya lihat-lihat dulu ya", ujar Patrick.


"Silahkan pak!", sahut Ayu sopan.


"Wah...hari ini aku benar-benar beruntung, hari Minggu pagi begini saja sudah bisa cuci mata, dapat pelanggan ganteng", pikir Ayu dalam hati.


Memang toko roti Rianty kalau hari Minggu, masih pagi biasanya masih sepi, jam ramainya kalau sudah siang, berbeda dengan hari biasa, kalau pagi sudah ramai.


Jadi Rianty masih lanjut menjelaskan pada Dita, karena Dita yang menangani pembuatan roti.


Patrick yang sempat melihat Rianty, sebenarnya merasa tidak tega.


"Sebenarnya Monica mengapa harus dendam pada perempuan ini saja, bukankah si Gerald juga bersalah. Mukanya juga terlihat polos, hubungannya dengan karyawan-karyawan nya juga baik. Harusnya perempuan ini tidak jahat, mengapa Monica ingin mencelakakannya terus?", pikir Patrick, tapi karena cintanya pada Monica, akhirnya Patrick tetap memilih menuruti keinginan Monica, daripada Monica marah padanya.


Tidak lama kemudian Sugiman menyusul masuk ke dalam juga, Ayu yang melihat kedatangan orang lagi, segera menghampiri Sugiman,


"Bisa saya bantu pak, mau cari yang rasa apa?", tanya Ayu dengan ramah.

__ADS_1


"Aku mencari Rianty, anakku!", ujar Sugiman langsung.


Ayu langsung memandang ke Sugiman dengan tatapan menyelidik, setahunya Rianty tidak pernah bercerita tentang ayahnya, Rianty hanya pernah bercerita tentang ibunya yang sudah meninggal karena wabah penyakit, jadi Ayu mengira kalau ayah Rianty juga sudah meninggal.


Sedangkan Rianty yang mendengar namanya disebut segera menoleh ke asal suara, begitu melihat orang yang berdiri di depan pintu, tubuh Rianty langsung gemetar karena takut, bahkan Rianty sama sekali tidak bisa bersuara.


Memang Rianty takut pada ayahnya sejak dulu, Rianty sering melihat ibunya yang dipukul kalau tidak memberikan uang yang dia minta.


Bahkan kadang-kadang Rianty juga dijadikan ancaman, agar ibunya mengeluarkan simpanannya.


Dan yang Rianty yang paling ingat, bahkan boleh dibilang trauma, saat ibunya mempertahankan tabungan yang akan digunakan Rianty untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, Sugiman menggunakan Rianty sebagai ancaman, bahkan melukai bahu Rianty hingga meninggalkan bekas sampai sekarang, yang mana akhirnya membuat ibunya menyerah, dan membuat Rianty tidak melanjutkan sekolah lagi.


...********...


"Ibu kenapa?", tanya Dita cemas yang melihat wajah Rianty yang langsung berubah pucat.


"Dasar anak durhaka! Bikin bapakmu hidupnya susah aja. Dinikahkan baik-baik malah kabur dari rumah! Ibumu mati juga gara-gara kamu, tahu? Udah kaya sombong! malah takut ketemu bapaknya sendiri!", omel Sugiman yang mulai menghampiri Rianty yang bingung.


Patrick tentu saja dengan mudah merekam kejadian itu, karena Ayu dan Dita sudah lupa dengan kehadiran Patrick, karena Ayu dan Dita sedang memandang cemas ke Rianty.


Setahu Dita, Rianty orang yang baik dan selalu menghormati orang tua, jadi rasanya Rianty tidak mungkin seperti orang yang dikatakan Sugiman.


Rianty sama sekali sudah tidak mendengar pertanyaan Dita, Rianty hanya fokus melihat ke Sugiman.


"Ba..pak, bukan aku...bukan aku yang menyebabkan bunda meninggal", sahut Rianty terbata-bata.


"Mengapa bapak tidak merawat bunda dengan baik saat bunda sakit?", sambung Rianty yang sudah menangis teringat ibunya dan karena rasa takutnya.


"Dasar anak kurang ajar! masih berani nyalahin bapaknya! Kamu sendiri enak-enakan sama suami kaya, sama sekali tidak ingat dengan bunda mu!", sahut Sugiman yang langsung menarik lengan Rianty menuju tempat kasir.


"Bapak jangan begitu! bicaralah baik-baik, ibu Rianty bukan orang seperti itu!", ujar Dita melerai, Dita mulai merasa kalau ayahnya Rianty tidak benar.


Dita yang berusaha menarik tangannya Sugiman, malah didorong dengan kencang hingga jatuh terjerembab.


"Jangan ikut campur urusan keluargaku", omel Sugiman tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Ayu yang agak kekanakan dan kurang bisa mengatasi masalah, kebingungan dan mulai menangis ketakutan sambil berjongkok menghampiri Dita.


"Cepat ambil uangmu, berikan pada bapakmu. Gara-gara kamu kabur dari pernikahan dengan pak Sugeng, kamu membuat bapakmu harus berpindah-pindah kota menghindari penagih hutang!", ujar Sugiman menyalahkan Rianty, sambil menunjuk ke laci kasir.


"Rianty mohon, Bapak sadarlah, berapapun yang kuberikan tetap akan habis, kalau bapak tidak berhenti bermain judi!", sahut Rianty berusaha menyadarkan Sugiman.


"Gak usah menasehati bapakmu, sebetulnya bapak udah menang banyak, bapak harus membayar kerugian kamu kabur dari pernikahan dengan Sugeng!", sahut Sugiman bukannya sadar, malah makin menyalahkan Rianty.


"Aku kan sudah mengirimkan bapak uang lewat paman Dodi", ujar Rianty akhirnya, sambil menyebut sejumlah uang yang didapatkan dia dari menjual tubuhnya.


"Huh gak usah bohong kamu! Kapan kamu pernah titip uang ke Dodi untuk diberikan ke bapakmu. Bapakmu saja sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu Dodi.


Lagipula darimana kamu bisa punya uang banyak gitu? Emang kamu jual diri!", omel Sugiman.


Rianty yang sering merasa tidak punya harga diri karena kejadian 7 tahun yang lalu, akhirnya terbawa emosi dengan perkataan ayahnya yang seakan-akan menghina dia.


"Iya, aku jual diri. Bapak senang? Bapak bangga? bapak puas mendengar pengakuanku?", tanya balik Rianty yang benar sudah lupa kalau ada orang lain yang ikut mendengarkan perkataan nya karena tersulut emosi.


Tapi mana mungkin Sugiman bisa sadar? Kalau kebiasaannya berjudi ini mau disamakan dengan penyakit, samakan saja dengan penyakit akut, penyakit yang sudah susah disembuhkan!


"Salahmu sendiri! Bapak sudah mengatur mu untuk hidup enak. Menikah dengan Sugeng, tuan tanah yang kaya raya, kamu malah gak mau. Sok idealis, ujung-ujungnya jual diri. Bukankah kalau dulu kamu menikah dengan Sugeng udah gak masalah, mungkin saja ibumu masih hidup.


Untung saja sekarang masih ada orang kaya yang masih mau sama kamu! kamu sudah punya suami kaya, masak tidak mau ngasih duit ke bapakmu? Jangan terlalu! Cepat ambil uangmu! Berikan pada bapakmu! Memang kamu mau lihat bapakmu mati dipukul penagih?", ujar Sugeng yang bukannya sadar, malah makin menekan dan menyalahkan Rianty.


Mendengar perkataan ayahnya, Rianty benar-benar menyesal karena tadi sudah terbawa emosi dan berkata tanpa berpikir. Rianty hanya bisa menangis tanpa bersuara, dengan pasrah menuju ke laci kasir.


Rianty akhirnya sadar, berkata apapun pada ayahnya akan percuma saja.


Sedangkan Ayu dan Dita yang menyaksikan pertengkaran itu benar-benar bingung dan tidak bisa berkata apa-apa.


Mereka hanya bisa mengasihani Rianty dalam hati karena mempunyai ayah yang seperti itu.


Patrick yang merasa rekamannya sudah cukup, segera berjalan keluar dari toko Rianty, lagipula Patrick sudah tidak tega untuk menyaksikan kejadian itu lebih lanjut lagi.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2