Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Karakter asli mulai terlihat


__ADS_3

"Bukankah itu Gerald, ngapain dia ke rumah sakit?", pikir Monica dalam hati, saat matanya menangkap bayangan Gerald yang sedang berjalan terburu-buru.


Gerald memang mencolok, karena perawakan tubuhnya yang tinggi dan atletis.


Gerald yang baru dari toilet, berjalan tergesa kembali ke ruang Rianty, karena khawatir meninggalkan Rianty sendirian.


"Jangan-jangan dia juga mirip aku, jadi stress gara-gara ditinggal cewek kampung itu!", duga Monica, yang langsung teringat pembicaraan nya dengan Lena via telpon.


...********...


Monica memang ditelpon Lena, setelah Rianty memilih meninggalkan mansion Anggara tanpa membawa apapun, hanya membawa Aldi saja.


Lena benar-benar kaget dengan pilihan Rianty, akhirnya Lena menjadi cemas, karena selama ini dia yang sering mempengaruhi Rini.


Setelah kejadian itu, Rini langsung meninggalkan ruang keluarga, dan langsung masuk ke kamarnya tanpa berkata apapun. Rini terlihat sangat terpukul dengan kejadian itu, walaupun tidak menyalahkan Lena.


Tapi Lena yang jadi merasa bersalah sendiri. Karena tidak ada yang bisa diajak berbicara, akhirnya Lena menelpon Monica.


Mendengar kabar kalau Rianty akan bercerai dengan Gerald tanpa kompensasi apapun, Monica tentu merasa senang.


"Apalagi yang Bu Lena khawatirkan? Bukankah ibu paling tidak suka dengan pelakor, ibu harus senang dong sudah berhasil membasmi satu pelakor lagi", ujar Monica menghibur.


"Tapi Nyonya sangat sedih, aku merasa kasihan pada Nyonya Rini, dia begitu menyayangi Aldi. Aku benar-benar merasa bersalah pada Nyonya yang selalu mendengar usul ku itu!", jawab Lena sama sekali tidak semangat, walaupun sudah berhasil membuat Rianty pergi.


"Sudah jangan dipikirkan Bu Lena! Kalau sudah tidak ada perempuan kampung yang mengganggu itu, nanti sebentar lagi aku akan memberikan cucu pada .Nyonya Rini", ujar Monica sekedar menghibur Lena.


"Ah.. kamu menikah dengan tuan Gerald saja sudah 7 tahun, tapi belum memiliki anak sampai sekarang. Koq semudah itu mengatakan mau memberikan cucu untuk Nyonya Rini", pikir Lena setelah mematikan sambungan telpon.


Ternyata Lena sama sekali tidak terhibur dengan perkataan Monica, malah tambah pusing.


"Huh dasar peratu kolot! Kayak anjing saja, setia banget sama Nyonya yang gila cucu itu! Nyonya dia yang sedih, ngapain dia juga ikut sedih dan pusing.


Pantas saja kamu selamanya jadi anjing setianya Nyonya Rini, pantas saja pacarmu dulu meninggalkanmu. Dasar bodoh!", gerutu Monica kesal, karena merasa disalahkan Lena.


...********...


Setelah melihat Gerald memasuki sebuah ruangan VIP, Monica semakin penasaran.

__ADS_1


Sesudah beberapa menit, Monica memberanikan diri mengintip dari kaca kecil yang terdapat di pintu pasien.


Monica tentu kaget ketika melihat Rianty yang berada di ruang inap itu.


Posisi tempat tidur Rianty yang menghadap ke pintu, membuat Monica bisa melihat jelas wajah Rianty dan mengenali Rianty.


Gerald yang duduk menyamping terlihat menggenggam tangan Rianty dan menaruh telapak tangan Rianty ke bibirnya sambil menatap ke Rianty dengan intens.


Jadi Monica juga aman saat mengintip, tapi hati Monica yang tidak aman.


Monica langsung merasakan sakit hati, walaupun Gerald tidak pernah mau memesrai nya, tapi kali ini dia melihat sendiri bagaimana Gerald bersikap mesra dan begitu perhatian pada Rianty.


Monica merasa semua yang dulu jadi mimpinya, sudah direnggut paksa oleh Rianty.


Monica mengepalkan tangannya,


Monica semakin bertambah dendam dan benci pada Rianty,


"Dasar wanita kampung yang licik, berlagak sakit buat menarik perhatian Gerald, dan lelaki bodoh itu juga bisa diperdaya wanita kampung itu", gerutu Monica, sambil mengambil handphone nya untuk menelpon Lena.


"Bu Lena, ini aku di rumah sakit, mana ada Rianty pergi? Aku lihat Rianty dirawat di rumah sakit, malah Gerald menjaganya. Apanya yang cerai?", ujar Monica langsung dengan nada marah dan kesal , begitu Lena mengangkat telpon, padahal Lena belum sempat mengucapkan "halo".


"Kamu belajar lah mengurus rumah tangga mu sendiri nyonya Gerald! Kamu jaga baik-baik saja suami mu, aku hanya orang luar, tidak bisa membantu urusan keluargamu.


Kamu yang berasal dari keluarga terpandang, berpendidikan tinggi masak kalah sama seorang gadis kampung yang cuman lulusan SMP?"


Mendengar perkataan tersebut, akhirnya kesabaran Monica habis sudah. Jiwanya yang mulai terganggu, dan mulai sering menggunakan obat penenang membuat Monica tidak bisa mengontrol ucapan nya lagi.


Apa yang selama ini hanya berani diucapkan dalam hati, akhirnya dikeluarkan semua.


"Dasar perawan tua, sendiri saja tidak bisa menjaga pasangannya sendiri. Akhirnya sekarang tinggal sendiri dan tidak punya keluarga. Masih untung kamu jadi pelayan nya ibu mertuaku. Masih berani ngatain aku dan sok nasehatin, huh!" omel


Monica langsung menutup telpon nya dengan kasar.


Mendapat perkataan kasar dari Monica, Lena benar-benar kaget kali ini, Lena hanya bisa mengelus dadanya dan menyesal, ternyata selama ini dia sudah membela orang yang salah.


"Pantes saja dia gak bisa ambil hati tuan muda Gerald, ternyata sifatnya selama ini hanya sandiwara.

__ADS_1


Pada orang yang lebih tua saja dia tidak sopan. Rianty yang pelakor saja tidak pernah sekasar itu, pantas saja tuan Gerald lebih memilih Rianty", sesal Lena, tapi tidak berarti dia langsung menyukai Rianty, karena pada hakekatnya Lena membenci seorang pelakor.


...********...


"Sudah sadar?", tanya Gerald menarik nafas lega melihat Rianty yang membuka matanya tiba-tiba.


"Ini di mana mas?", tanya Rianty yang berusaha bangun


"Kamu di rumah sakit, tidak sadarkan diri!", ujar Gerald menahan Rianty agar tidak bangun dari tidurnya,


"Jangan bangun dulu, kamu harus istirahat dulu", sambung Gerald lagi.


"Tidak bisa mas, aku harus bertemu paman Dodi. Aku mau minta penjelasannya!", ujar Rianty.


"Kali ini menurut lah padaku Rianty. Kamu sedang mengandung saat ini, masih harus banyak istirahat dulu kata dokter"


"Apa? Aku mengandung?" Tanya Rianty kaget.


"Iya, Kamu tidak senang, Aldi akan segera memiliki seorang adik?" tanya Gerald.


"Aku...", Rianty jadi termenung dan bingung untuk menjawab Gerald.


Kalau mau jujur, sebenarnya Rianty memang merasa belum siap, karena Rianty merasa keluarga Gerald masih belum bisa menerimanya, walaupun Gerald tidak perduli.


Tapi Rianty juga tidak bisa berkata jujur, karena takut Gerald marah.


"Tidak Mas, aku hanya kaget saja mendengarnya", jawab Rianty akhirnya.


"Aku sangat bahagia Rianty", sahut Gerald yang bangun dari duduknya dan mengecup dahi Rianty.


"Aku harus mensyukuri pemberian Tuhan, bukannya menyesal", pikir Rianty akhirnya setelah melihat Gerald yang begitu bahagia.


"Iya mas, aku juga bahagia", jawab Rianty akhirnya untuk menyenangkan hati Gerald.


Gerald yang bahagia kembali mengecup dahi, dan kedua pipi Rianty berulang-ulang.


"Sudah mas, sudah", ujar Rianty menghentikan tindakan Gerald dan tertawa serta menutup kedua pipinya dengan tangannya.

__ADS_1


Mereka tidak sadar kalau Monica sejak tadi dari luar mengintip mereka dengan rasa benci dan penuh dendam.


Bersambung........


__ADS_2