
"Ibu belum tahu kelakuan Monica, kalau aku punya bukti ibu baru tahu Monica yang sebenarnya!", ujar Gerald masih pada pendiriannya untuk menceraikan Monica
"Bukan ibu yang tidak mengenal Monica, ibu lebih tahu Monica dari pada kamu, yang setiap saat sibuk dengan bisnismu!Sudah bagus Monica selalu mengalah padamu, bahkan dia juga sudah setuju menerima anakmu Aldi. Mengapa kamu masih tidak bisa mengerti kalau Monica sangat mencintaimu?", tanya Rini yang memang disengaja agar Rianty juga ikut mendengar.
Rianty tertegun, yang menjadi pikiran Rianty adalah kata-kata kalau Monica bersedia menerima Aldi.
Hal tersebut justru membuat Rianty bertekad menjadi istri Gerald, agar Aldi tidak bisa diambil dari dia.
"Itu cuman sandiwara Monica, ibu jangan begitu saja percaya pada Monica!", sahut Gerald sama sekali tidak terpengaruh ucapan ibunya.
Monica mulai takut kalau dia benar-benar diceraikan kali ini, sepertinya kali ini keinginan Gerald sudah susah berubah.
Otak Monica langsung berpikir mencari jalan keluar agar dia tidak diceraikan Gerald.
Apalagi dia masih berhutang uang dalam jumlah besar di Bank nya Gerald, uang yang dipakai Patrick untuk bermain di pasar Saham.
Sedangkan hasilnya sampai sekarang juga belum kelihatan.
"Ah aku kali ini harus mengalah pada perempuan kampung itu!", pikir Monica dalam hati.
"Baiklah Bu, Monica tidak masalah kalau Gerald mau menikahi Rianty, kalau memang Gerald suka. Monica bersedia menerima Rianty sebagai istri kedua Gerald", ujar Monica sambil menangis tersedu-sedu.
Rianty yang melihat keadaan Monica menjadi terenyuh, hatinya sebenarnya tidak tega, tapi dia juga harus melindungi Aldi.
Dia benar-benar kagum pada Monica yang begitu mencintai Gerald sampai membiarkan suaminya mempunyai istri lain, bahkan tujuh tahun yang lalu juga menerima saja saat suaminya tidur dengan perempuan lain.
Rianty tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia yang di posisi Monica, apakah dia bisa menerima semua itu, andaikata dia mencintai Gerald?
Akhirnya Rianty hanya bisa tertunduk, karena dia merasa malu pada kelakuannya sendiri.
Dia tidak pernah menyangka kalau suatu hari dia akan menjadi pelakor dan pengrusak rumah tangga orang lain.
...********...
"Monica, kamu jangan khawatir, mungkin itu hanya keputusan Gerald sesaat saja, Gerald hanya khilaf, nanti baru kita bicarakan lagi kalau Gerald sudah tenang", ujar Rini sambil menepuk punggung Monica, berusaha menghibur menantu kesayangannya.
"Apakah ibu pernah melihat saya merubah keputusan saya? Apakah saya kelihatan seperti orang mabok yang bicara sembarangan?", tanya Gerald yang masih pada pendiriannya.
Mendengar itu Monica semakin tersedu-sedu, Rianty semakin takut melihat keadaan yang mencekam itu, hatinya tiba-tiba terasa dingin, dia merasa kalau Gerald itu terlalu kejam.
Dan sebentar lagi dia akan menjadi istri dari pria kejam itu, pikirnya semakin resah.
__ADS_1
Rianty semakin tidak tenang saat ibu Gerald mendekatinya,
"Perempuan tidak tahu malu, sudah senang kamu? tertawa di atas penderitaan orang lain. Suatu hari kamu juga akan dapat balasan! Kamu jangan senang dulu, mengira sudah mendapatkan hati Gerald!", omel Rini menyumpahi Rianty.
"Aku tidak bermaksud seperti itu", sahut Rianty merasa tidak enak.
"Tidak mungkin Gerald melakukan itu, kalau kamu tidak menyetujui untuk menikah dengan Gerald", ujar Rini lagi menyalahkan Rianty.
"Tapi kalian yang memaksaku melakukannya!", pikir Rianty dalam hati, dia merasa lebih baik dia diam saja, karena pada dasarnya Rianty merasa memang dia adalah pihak yang bersalah.
"Kamu juga yang mempengaruhi Gerald untuk menceraikan Monica kan? Jangan pernah berharap aku akan menerima mu sebagai menantuku", ujar Rini marah.
"Rianty tidak pernah memintaku untuk bercerai, itu adalah murni keinginanku sendiri. Ibu jangan menyalahkan Rianty, Rianty sama sekali tidak bersalah!" ujar Gerald membela Rianty.
Rianty merasa semakin bersalah, bukan saja sudah mengakibatkan Gerald akan menceraikan Monica tapi juga sudah menyebabkan Gerald bertikai dengan ibunya sendiri.
Rianty akhirnya memberanikan diri mendekati Gerald.
"Tuan Aldo, aku hanya ingin menjadi ibu Aldi, menjadi istri ke berapa pun tidak masalah buatku. Aku tidak pernah meminta tuan Aldo menceraikan istri Tuan", ujar Rianty .
Mendengar Rianty berkata seperti itu sebenarnya Gerald marah, itu menunjukkan kalau Rianty terpaksa menikah dengannya hanya karena ingin bersama Aldi.
Dia langsung teringat permintaan Rianty tadi saat menyetujui menikah dengannya.
"Aku ingin menceraikan Monica bukan gara-gara kamu, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu!", sahut Gerald akhirnya.
Melihat keinginan Gerald yang sepertinya sudah susah dihalangi, akhirnya ibu Gerald pun memutuskan untuk mengalah.
"Baiklah Gerald, ibu tidak akan melarang kamu menikahi perempuan itu, tapi kamu juga tidak boleh menceraikan Monica.
Ke acara manapun kamu tetap harus membawa Monica, bukan perempuan itu. Kamu jangan membuat malu keluarga Anggara.
Kamu juga cukup menikahi dia di catatan sipil saja, tidak akan ada perayaan. Jangan membuat malu keluarga kita!
Kalau perlu pernikahanmu denngannya jangan banyak yang tahu, biar orang lain tetap tahunya istrimu hanya Monica!", ujar Rini mengajukan syarat.
"Aku sudah bilang kalau aku tetap akan menceraikan Monica Bu, aku tidak mau punya dua istri, cukup Rianty saja!", ujar Gerald masih keras kepala.
"Kamu jangan memaksa ibu melapor kepada ayahmu! Kalau sampai ayahmu yang struk itu ada apa-apa, itu salahmu Gerald!", ancam ibu Rini marah.
Tentu Rianty yang mendengar perkataan ibu Gerald itu kaget, dia sungguh tidak ingin hubungan Gerald dan keluarganya menjadi kacau hanya gara-gara dia.
__ADS_1
Akhirnya Rianty nekad mendekati Gerald lagi, kali ini sepertinya dia harus merayu Gerald agar Gerald tidak bersikuku pada keputusannya itu.
Rianty sudah tidak perduli lagi dengan rasa malu, toh dia juga sudah dicap sebagai wanita penggoda dan pengrusak rumah tangga orang.
Dia takut terjadi apa-apa dengan ayah Gerald yang struk itu, tentu dia akan merasa berdosa kalau terjadi apa-apa.
Rianty akhirnya menggenggam tangan Gerald dengan kedua tangannya, dan memberanikan diri memandang ke mata Gerald.
"Tuan Aldo, aku mohon padamu, jangan menceraikan istrimu, Jangan membuat keluargamu menjadi kacau hanya gara-gara kehadiranku dan Aldi.
Tuan bersedia menikahi ku saja, aku sudah sangat bersyukur.
Aku mohon pada mu tuan, anggaplah permohonan ku ini sebagai hadiah pernikahan untukku, aku tidak memerlukan yang lainnya.
Benar kata ibumu, tidak perlu ada perayaan, orang lain tidak perlu tahu pernikahan kita, bagaimanapun Tuan berasal dari keluarga terhormat.
Tuan harus menjaga nama baik Tuan.
Sebagai balasannya aku akan berusaha melayani Tuan Aldo dengan sebaik mungkin", ujar Rianty dengan nada memohon.
Melihat tatapan Rianty, Gerald seperti tersihir tanpa sadar mengangguk,
"Baiklah aku tidak akan menceraikan Monica", entah kepada siapa Gerald berbicara.
Monica akhirnya bisa menarik nafas lega, karena Gerald tidak jadi menceraikannya, tapi juga iri dan marah karena Gerald begitu menurut pada Rianty.
"Huh tidak bisa dianggap remeh, ternyata gadis kampung ini pintar merayu pria! bahkan lebih hebat dari aku", pikir Monica menatap penuh rasa iri dan benci pada Rianty.
Sedangkan ibu Gerald terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi begitu melihat Gerald begitu menurut pada Rianty,
Tapi setidaknya Rianty sudah mencegah Gerald untuk tidak menceraikan Monica.
Sekretaris Kim yang dari tadi menyaksikan kejadian itu akhirnya mengambil kesimpulan kalau Tuan nya sudah jatuh cinta pada Rianty.
Setahu sekretaris Kim selama ini Gerald tidak pernah merubah keputusan yang sudah dibuat.
Baru kali ini Gerald merubah keputusannya, hanya gara-gara Rianty.
Ternyata cinta sudah membuat Tuannya buta.
"Pantas saja ada pengarang yang menciptakan lagu Love is blind!', pikir sekretaris Kim menghela nafas panjang.
__ADS_1
Bersambung........