Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Gerald murka


__ADS_3

"Mau dikemanakan istrimu si Monica itu?", tanya Bu Rini menatap marah ke Gerald.


"Akan kuceraikan Bu!", sahut Gerald langsung, tanpa merasa bersalah.


"Kamu sungguh keterlaluan, istrimu yang baik itu mau kau ceraikan hanya karena seorang perempuan yang gak jelas begitu. Kamu tidak tahu segala upaya yang sudah dia lakukan agar bisa memiliki anak darimu, tapi kamu tidak punya hati!", omel Bu Rini memukul meja,karena kali ini bu Rini sudah hilang kesabarannya.


"Aku dan Monica selamanya tidak mungkin punya anak!", sahut Gerald tersenyum sinis.


"Baiklah, ibu mengerti kamu seorang pria yang sukses, kalau kamu hanya ingin sekedar bermain dengan perempuan lain, karena bosan, ibu akan menutup sebelah mata. Yang penting kamu berhati-hati, jangan sampai tertipu wanita yang gak jelas asal usulnya itu! Dan yang penting istrimu hanya Monica, tidak ada perempuan lain!", ujar Bu Rini akhirnya mengalah, teringat nasehat asistennya.


"Apakah ibu menilai aku pria seperti itu?Apakah waktuku banyak, sampai bisa main-main? Apakah ibu selama ini pernah lihat aku bermain-main dengan wanita?", tanya Gerald yang kecewa dengan penilaian ibunya itu.


"Tapi selama ini hubunganmu dengan Monica baik-baik saja, mana bisa tanpa sebab kamu ceraikan Monica? Apa yang sudah diperbuat wanita itu sampai kamu lebih memilih membuang Monica? Padahal kamu saja tidak tahu asal usul wanita itu?", tanya Bu Rini benar-benar tidak bisa menerima keinginan anaknya itu.


"Karena ibu tidak tahu sifat asli Monica, kalau ibu tahu ibu baru bisa mengerti keputusan ku!", ujar Gerald.


"Kamu yang tidak mengerti! Kamu sudah dibutakan wanita siluman itu! Coba-coba saja kalau kau berani menikahi wanita itu, akan kuberitahu pada ayahmu! Sampai ada apa-apa dengan ayahmu, itu karena perbuatan kamu. Kamu jangan berharap ibu merahasiakannya dari ayahmu!", ancam Bu Rini.


Mendengar perkataan ibunya, Gerald langsung terdiam.


Sekretaris Kim yang dari tadi menyaksikan pertikaian ibu dan anak itu hanya diam saja hanya bisa berkata dalam hati saja.


"Aku sudah yakin tidak semudah itu untuk menceraikan Monica. Tuanku sudah salah langkah dari dulu, tidak menceraikannya dari awal!"


Ternyata Gerald tidak menyerah begitu saja, setelah berpikir beberapa lama Gerald berkata lagi,


"Bagaimana kalau aku dan perempuan itu sudah punya anak?", tanya Gerald.


"Ambil saja anaknya, kamu kasih saja kompensasi ke perempuan itu, mengapa kamu harus menikahi perempuan itu hanya gara-gara kamu menghamilinya? Nanti Monica bisa merawat anakmu itu!


Aku yakin Monica tidak akan keberatan.


Memang sudah berapa bulan?", tanya bu Rini yang mengira Rianty sedang hamil, dia juga merasa hal itu bukanlah masalah besar, dan semua bisa diselesaikan dengan uang.


"Siapa yang bilang Rianty hamil bu? Anakku sudah berumur 6 tahun bu.


Bukankah ibu sangat menginginkan seorang cucu?", tanya Gerald sambil menyerahkan hasil tes DNA nya itu


Bu Rina langsung melihat hasil tes itu, sesudah melihat hasilnya dengan jelas, Bu Rini langsung duduk kembali di kursinya dengan perasaan kaget dan hanya bisa menatap Gerald tidak percaya!


...********...

__ADS_1


Dodi dari tadi sudah berada di depan toko roti Rianty, tapi Dodi tidak berani masuk ke dalam.


Dia sempat kaget juga melihat Rianty yang keluar mengantar kepergian Devan dan Angel.


"Kenapa kakaknya Monica begitu baik pada Rianty? Jangan-jangan dia menyukai Rianty, kalau gak salah statusnya duda deh", pikir Dodi dalam hati.


Begitu mobil Devan sudah melaju pergi, Dodi pun segera menghampiri Rianty.


Rianty sempat tidak mengenal pamannya itu, karena Dodi memakai topi dan masker.


"Rianty!", sapa Dodi.


"Paman!" sahut Rianty setelah mengenali Dodi.


"Ayo masuk ke dalam toko, paman", sambung Rianty ramah karena senang bertemu pamannya kembali, satu-satunya keluarga yang dia miliki.


"Jangan Rianty! di sini saja kita bicara. jangan sampai terlihat siapa-siapa!", ujar Dodi.


"Ada apa paman? koq sepertinya paman ketakutan bertemu Rianty?", tanya Rianty bingung.


"Kamu janji ya sama paman, jangan pernah bilang aku itu pamanmu! Kamu juga jangan memberi tahu siapapun, apalagi Tuan Gerald dan sekretaris nya itu, kalau paman yang menawarimu melayani tuan Tuan Gerald 7 tahun yang lalu, dan juga jangan melibatkan Monica istrinya Gerald.


Kalau Monica terlibat, paman juga akan terlibat. Paman bisa habis di tangan tuan Gerald. Tuan Gerald terkenal dengan kesadisannya!", ujar Dodi menakuti Rianty.


"Paman dulu cuman kasihan padamu, ingin menolong kamu. Kali ini kamu juga harus membantu paman merahasiakan, kalau paman dan istri Gerald terlibat.


Janji ya Rianty, kamu akan selalu menyimpan rahasia ini. Dan juga jangan pernah bilang kalau aku pamanmu. Kasihan paman, kedua saudaramu masih kuliah. Paman tidak boleh sampai kehilangan pekerjaan paman", ujar Dodi dengan wajah memelas.


Sesudah mencerna perkataan pamannya, akhirnya Rianty mengangguk sedih,


"Baiklah paman, Rianty berjanji akan merahasiakannya".


Dodi akhirnya bisa merasa lega dan tersenyum. Senyumnya langsung hilang ketika mendengar Aldi yang baru keluar memanggil Rianty,


"Mi! Di luarnya koq lama banget?"


"Aku pergi dulu ya, Rianty. Takutnya kelihatan anakmu! terimakasih ya", ujar Dodi segera melangkah lebar meninggalkan Rianty.


Rianty termangu menatap kepergian pamannya dengan hati sedih, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki juga tidak boleh dia akui lagi.


Rianty tersadar dari lamunannya ketika Aldi menggoyang-goyang kan tangannya.

__ADS_1


"Siapa mi? Koq sampai Aldi panggil mami, mami gak sahut?"


"Bukan siapa-siapa Al, hanya orang. kesasar menanyakan alamat", ujar Rianty sambil menggandeng Aldi masuk ke dalam.


...********...


"Siapa yang berani menyuruh Rianty keluar dari rumah sakit, aku kan sudah bilang aku yang akan mengurus check out Rianty, biarkan dia beristirahat dulu!", ujar Gerald murka pada sekretarisnya, ketika sekretaris Kim melaporkan padanya kalau Rianty sudah tidak berada di rumah sakit.


Sebetulnya Gerald sudah berada di lorong rumah sakit, hendak menuju ke ruang perawatan Rianty.


Salah seorang perawat yang mengenali Gerald dan sekretaris Kim segera memberitahu sekretaris Kim kalau Rianty sudah check out dari rumah sakit sejak tadi pagi.


Gerald langsung melangkah cepat diikuti sekretaris Kim menuju ke bagian admin pengurusan check out pasien .


"Siapa yang sudah mengijinkan ibu Rianty check out tadi pagi? Bukankah sudah saya bilang, kalau saya yang akan mengurus check outnya?"


Karena emosi Gerald bertanya langsung, sudah tidak diwakili sekretarisnya.


Akhirnya bagian Admin yang mengurus proses keluarnya Rianty dengan muka pucat karena takut melihat kemarahan Gerald menjawab.


"Dokter yang merawat berkata ibu Rianty sebenarnya sudah bisa keluar, tapi nanti keluarnya yang urus Tuan Gerald.


Tapi yang membawa ibu Rianty check out adalah Pak Devan, dan kata pak Devan dia akan memberitahu ke Tuan Gerald, karena ibu Rianty juga sudah mendesak terus ingin pulang".


"Tuan, mereka tidak salah, mereka hanya menjalankan tugas, Rianty sudah pulih, mereka tidak mungkin menahan Rianty terus, apalagi keluarnya dijamin tuan Devan. Kalau Tuan Gerald ingin bertemu nona Rianty, kita bisa ke tempatnya.


Jangan emosi di sini, hanya akan menarik perhatian", bisik sekretaris Kim berusaha meredakan kemarahan tuannya itu.


Mendengar perkataan sekretaris Kim, akhirnya tanpa menjawab Gerald langsung melangkah keluar.


"Orang sudah sehat mau check out gak boleh, malah ditahan! Memang orang kaya itu aneh, uangnya sudah kebanyakan, jadi mau dibuang-buang", pikir petugas Admin itu bingung menatap kepergian Gerald dan sekretarisnya.


"Atau jangan-jangan gosip Tuan Gerald punya simpanan itu benar. Itulah enaknya jadi Sultan, sudah punya istri cantik masih tidak puas".


Bersambung........


...🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉...


...Jangan lupa follow author dan pencet...


...tombol favoritnya ❤️...

__ADS_1


...Terimakasih buat readers yang sudah memberikan vote, like, dan comment 🙏...


__ADS_2