
"Kalau masalah yang berhubungan dengan kehamilan, nanti sebaiknya berkonsultasi lagi dengan dokter SPOG untuk lebih jelasnya", tambah dokter David.
"Harusnya sudah tidak masalah kalau nona Rianty sudah sehat", sambung dokter David tersenyum kembali, melihat Rianty yang tertunduk malu.
"Nyonya Gerald!", tegur Gerald.
"Heran si David ini, sudah jelas Rianty sedang mengandung anak ku, tetapi masih dipanggil nona Rianty, sedangkan Monica dia panggil nyonya Gerald !", gerutu Gerald dalam hati.
"Ah, iya maaf tuan Gerald", sahut dokter David.
"Dulu anti perempuan, begitu punya istri sampai dua, aku ya jadi bingung manggilnya, masak manggil dua-duanya Nyonya Gerald, bagaimana bedain nya", Dokter David juga menggerutu dalam hati
...********...
”Berani sekali Gerald menahan Monica, aku sekarang juga mau ke mansion Anggara mencari Rini agar mendidik anaknya lebih baik! Mau bikin malu nama keluarga kita hanya gara-gara seorang gadis kampung!" omel Mirna.
"Ibu sabar dulu. Monica juga salah karena hampir membunuh Rianty yang sedang mengandung", ujar Devan berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada ibunya.
Sesudah pulang dari Rumah Sakit, Devan memang akhirnya memutuskan untuk memberitahukan ibunya kejadian itu, agar ibunya tidak kaget kalau sewaktu-waktu kejadian itu jadi berita.
"Salah sendiri! Siapa suruh jadi pelakor. Monica pasti cemburu lah!
Monica belum punya anak sedangkan sekarang perempuan kampung itu sudah mau punya anak lagi!" ujar Mirna yang malah membela Monica.
"Heran aku sama adikmu itu, sudah dikasih minum macam-macam obat penyubur tapi masih bisa kalah subur sama perempuan kampung itu!", sambung Mirna tidak puas.
"Berapa banyak vitamin dan obat penyubur yang ibu berikan tentu tidak ada fungsinya, Bagaimana bisa hamil kalau tidak disentuh sama sekali?", pikir Devan dalam hati tapi tidak berani mengatakan pada ibunya.
Devan cukup mengenal sifat ibunya yang mau menang sendiri dan kalau sudah marah dapat melakukan apapun.
Devan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perkataan ibunya.
"Tapi bagaimanapun percobaan membunuh orang itu tetap salah Bu", ujar Devan lagi.
__ADS_1
"Huh! kamu koq membela perempuan itu! Jangan-jangan benar kata Monica, kalau kau menyukai perempuan kampung itu juga. Bahkan kamu lebih membela dia daripada adik mu sendiri!", omel Marni yang selalu nyamber dulu sebelum orang bercerita habis.
"Devan sudah cukup pusing pada urusan Monica, ibu jangan menambah-nambah masalah lagi, nanti akhirnya makin kacau Bu!", ujar Devan meminta pengertian ibunya.
"Tapi ibu tidak bisa membiarkan adikmu begitu saja, ibu harus mengeluarkan nya. Hanya masalah kecil saja mengapa kamu besar-besar kan. Cukup satu kali ibu merasa malu karena perceraian mu! Mau ditaruh di mana muka ibu, kalau Monica sampai ditahan?', ujar Mirna tidak mau mengerti.
"Ibu sadar lah, Monica benar-benar sudah melakukan kesalahan besar.
Bukan hanya itu yang ibu harus khawatirkan! Aku yakin sebentar lagi Monica akan diceraikan Gerald!", ujar Devan mulai kesal.
"Mana boleh seenaknya menceraikan Monica?", sahut Mirna.
"Tapi Monica kali ini. sudah tidak bisa menolak lagi Bu, bahkan mungkin Monica bisa diceraikan tanpa kompensasi apa pun dari Gerald, karena Monica sudah melakukan kesalahan besar.
Dan Monica mempunyai hutang yang besar di Bank Gerald atas nama perusahaan nya.
Hal itulah yang sedang Devan pikirkan Bu!"
"Memang kesalahan besar apa sih? selain tuduhan ingin membunuh perempuan kampung itu? Itu kan hal yang wajar dilakukan, karena cemburu!', ujar Mirna masih mempertahankan pendapatnya.
"Jangan sembarang bicara kamu Devan!", omel Mirna tidak percaya.
"Untuk apa aku sembarang bicara. Bukti dan saksi sudah ada Bu, bahkan aku sudah pernah bertemu dengan pria itu! aku hanya bisa membantu Monica membayar hutang nya saja, permasalahan lain aku sudah menyerah Bu", sahut Devan meyakinkan Mirna.
Mendengar hal tersebut kali ini Mirna terdiam dan tidak menyahut lagi.
...********...
"Ah ..Monica koq kejam sekali!" ujar Rini pada Lena lagi, ketika Lena sedang memijat bahunya.
Entah sudah yang ke berapa kali Rini mengucapkan hal itu
"Iya Nyonya, saya juga tidak menyangka", ujar Lena masih terus melanjutkan memijat bahu Rini.
__ADS_1
Lena tahu, Rini masih stres dan tegang sejak menyaksikan hasil rekaman CCTV, saat Monica hendak mencelakakan Rianty.
Saat mereka mau pulang ke Mansion, tanpa sengaja mereka bertemu dengan dokter David.
Ketika dokter David menyapa Rini, Rini pun langsung bertanya pada dokter David lagi untuk meyakinkan.
"Kata dokter, Monica hendak mencelakakan Rianty, apakah benar?"
"Benar Nyonya, ada saksinya dan rekaman CCTV nya juga", sahut dokter David.
Mendengar jawaban dokter David, akhirnya Rini memutuskan untuk melihat hasil rekaman CCTV itu.
Lena saja sampai terdiam, dan sempat tidak menjawab perkataan Rini karena sangking shock nya menyaksikan rekaman itu.
Walaupun Lena tidak menyukai Rianty, tapi hatinya tadi sempat berdebar-debar saat melihat Rianty dibekap oleh Monica.
"Untung sekretaris Kim datang tepat waktu, ternyata Monica benar-benar sudah gila!
"Sungguh tidak berperasaan, bahkan mau membunuh perempuan yang sedang mengandung. Ternyata selama ini aku sudah salah menilai, aku sudah tertipu sikapnya yang berlagak baik padaku. Ternyata isi hatinya dan mukanya berbeda."
pikir Lena dalam hati, sehingga tidak sadar kalau Rini sedang berbicara padanya.
"Lena! Mengapa kau diam saja? Aku bertanya padamu?", ujar Rini yang akhirnya menyadarkan Lena dari lamunan nya
"Oo, maaf Nyonya saya tidak mendengar pertanyaan nyonya. Bisa ulangi nyonya".
"Menurutmu aku harus bagaimana Lena? aku benar-benar bingung", tanya Rini mengulangi pertanyaan nya kembali.
Lena sempat terdiam dan berpikir mendengar pertanyaan
"Tidak tahu Nyonya, saya juga bingung!", jawab Lena akhirnya.
Sejak bekerja dengan Rini, baru kali ini lah Lena tidak bisa menjawab pertanyaan Rini dan memberikan pendapatnya.
__ADS_1
bersambung........