
Monica bertambah tidak tenang, ketika dia berusaha menghubungi Dodi lewat telpon, sama sekali tidak diangkat.
"Ah, ada apa ini? orang seperti Dodi tidak mungkin pergi sebelum mendapatkan uangnya? Mungkinkah dia mau mengkhianati aku? Bukankah sekarang keponakannya adalah istri Gerald? Kalau dia menceritakan semuanya pada Rianty, kalau sebenarnya aku yang membelinya untuk Gerald, habislah aku!", Gerald pasti akan tahu juga.
Tapi dia kan juga terlibat, masak dia berani cerita?", pikir Monica menebak-nebak dalam hati, karena perasaannya semakin tidak tenang.
"Kalau aku diceraikan Gerald bagaimana dengan keuanganku? Apalagi terakhir aku meminjam uang dalam jumlah besar di Bank Gerald, kalau sampai aku diceraikan Gerald, pasti Gerald tidak akan membiarkannya, pasti asetku akan disita Gerald! Saat itu habislah aku, mungkin kak Devan juga tidak sanggup menolongku", pikir Monica semakin tidak tenang , apalagi kali ini sama sekali sudah tidak ada siapapun di sampingnya lagi yang bisa membantunya.
...********...
Dodi yang pagi tadi sudah bersiap naik Ferry untuk menyebrangi pulau, tidak menyangka kalau akhir nya dia ditangkap oleh pihak yang berwenang karena dituduh sudah menghilangkan nyawa Sugiman
Tentu Dodi tidak mau mengakui, karena dia merasa tidak ada bukti yang bisa membuktikan kalau dia yang menyebabkan kematian kakaknya, Sugiman.
"Bukan saya pak pelakunya, saya sudah lama tidak pernah bertemu kakak saya", ujar Dodi masih menyangkal.
"Saya bahkan tidak tahu kalau kakak saya sudah berada di kota ini", sambung Dodi lagi.
"Bapak boleh menyanggah, kalau nanti kita sudah sampai di kantor", ujar polisi yang membawa Dodi masuk ke dalam mobil.
"Berdasarkan apa Bapak menuduh saya pelakunya, saya tidak mau ikut kalau tidak ada bukti. Saya sudah janji kalau besok saya mulai bekerja di tempat baru, dan letaknya di seberang, jadi saya harus berangkat sekarang", ujar Dodi masih melawan.
"Kami tidak asal menangkap, ada saksi yang menyaksikan pertemuan antara pak Dodi dan korban terakhir kalinya di jalan xxx', ujar polisi itu, yang akhirnya membuat Dodi terduduk lemas di mobil tahanan.
"Habislah aku kali ini, bagaimana nasib ketiga anakku yang masih sekolah dan kuliah", pikir Dodi tertunduk lemas dan bingung memikirkan bagaimana dengan nasib anak-anak nya.
...********...
Dita yang biasa datang pukul 04.00 pagi untuk membuat roti kaget, begitu sampai di toko roti menjumpai Rianty yang memakai celemek sedang memasukkan roti-roti mentah ke dalam oven.
Rianty yang kesulitan tidur, karena selalu teringat ucapan Gerald yang melukai hatinya, akhirnya memilih untuk menyibukkan diri mencoba membuat roti model baru.
"Tumben Bu, datangnya pagi banget. Apakah pagi-pagi gini,Tuan Gerald yang ngantar ibu ke sini?", tanya Dita.
Rianty yang bingung menjawab pertanyaan Dita, hanya menggelengkan kepala dan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Dita, ibu lagi coba bikin roti dengan model baru dan isi kream baru. Rasa red Velvet, sepertinya banyak yang suka dengan rasa ini!", ujar Rianty.
Untungnya Rianty berbicara dengan Dita yang pengertian, bukan Ayu yang suka gosip dan suka penasaran.
Dita yang merasa Rianty sedang memiliki masalah, juga berlagak tidak tahu dan mengikuti alur pembicaraan Rianty.
"Rasa apa itu Bu?", tanya Dita yang pada dasarnya hobi membuat roti.
"Itu lho rasanya hampir mirip dengan Thai tea yang lagi ngetrend. tapi rasanya agak berasa coklat. Nanti kalau jadi kau dan Ayu nyoba satu, kasih penilaian ya?", ujar Rianty.
"Oke Bu, kalau soal mencoba dan menilai aku dan Ayu paling jago", sahut Dita tersenyum.
"Dita, kamu pernah jatuh cinta gak?", tanya Rianty tiba-tiba.
Dita yang sedang serius memperhatikan cara kerja Rianty yang cekatan, begitu mendengar pertanyaan Rianty, Dita sampai kaget hingga batuk-batuk.
Setahunya Rianty jarang berbicara masalah pribadi, bahkan hampir tidak pernah.
"Kenapa Bu? Emang ibu mau jodohin aku sama cowok?", ujar Dita bercanda
"Ah ibu gak berani jodohin orang, takut kalau gak cocok nanti disalahin", sahut Rianty.
"Ibu hanya ingin tahu saja rasanya seperti apa?", sahut Rianty.
"Harusnya ibu lebih tahu dong, ibu sudah menikah dengan Tuan Gerald, sedangkan Dita belum punya pacar Bu", sahut Dita tersenyum.
"Jangan bilang ibu menikah bukan karena cinta, tapi karena keadaan yang memaksa, seperti cerita Ayu tentang drama yang sering dia tonton!", ujar Dita sambil tertawa berusaha membuat suasana santai, karena Dita mulai merasakan sepertinya Rianty sedang mempunyai masalah.
Apalagi baru saja ada kejadian rekaman Rianty saat ayahnya datang, Dita yang mempunyai otak cerdas yakin kalau keluarga Gerald pasti akan mempermasalahkan itu, hanya saja Dita tidak berani mengatakannya.
Rianty termenung mendengar sahutan Dita, sedangkan Dita yang dari tadi merasa sikap Rianty aneh, menebak dalam hati kalau Rianty sedang bermasalah melihat Rianty termenung.
"Kalau Dita dengar dari teman-teman, macam-macam Bu.
Ada yang bilang rasanya bahagia banget saat berdua, ada yang bilang kalau pisah bentar saja, sudah kangen lagi, ada yang bilang kalau setiap berdekatan jantungnya langsung berdebar-debar, pokoknya banyak Bu", sahut Dita agar Rianty terhibur.
__ADS_1
Dita tidak menyangka kalau jawabannya bukan menghibur tapi membuat Rianty malah termenung kembali.
"Ah gawat, kalau begitu artinya aku sudah jatuh cinta terlalu dalam pada mas Aldo, semua yang disebutin Dita sudah kurasakan semua
Tapi aku harus segera menghilangkan rasa itu, mas Aldo sudah menghinaku, mungkin karena asal ku dari desa dan dari keluarga miskin, jadi dia berpikir bisa seenaknya saja menghinaku", pikir Rianty termenung kembali.
Apalagi akhir-akhir ini perasaan Rianty sensitif dan gampang tersinggung, juga emosi, tidak seperti biasanya yang sabar.
...********...
Sekretaris Kim yang kemaren malam sempat menyaksikan keributan di Mansion Anggara, merasa tidak aneh lagi ketika seharian melihat Gerald yang lebih banyak marahnya, daripada bekerja.
Tapi sekretaris Kim juga tidak mau menanyakan hasil akhirnya, karena dia yakin kalau Gerald sudah tidak tahan pasti akan bercerita padanya.
Kalau dia bertanya duluan, dia hanya akan jadi pelampiasan kemarahannya Gerald saja.
Benar saja ketika sekretaris Kim masuk untuk ke tiga kalinya ke ruangan Gerald, meminta tanda tangan surat, Gerald memandangnya dengan wajah kusut sambil bertanya,
"Menurutmu apakah sikapku seperti seorang diktator? Mengapa Rianty tidak bisa menganggap aku sebagai seorang suami, tapi malah menganggap aku sebagai majikan nya?"
"Lho memang nona Rianty berkata begitu pada tuan?"
" Tidak perlu dia ucapkan, aku bisa merasakannya", sahut Gerald yakin
"Tapi bukankah tuan pertama kali begitu senang saat dia melayani tuan. Saya masih ingat tuan begitu bangga dengan baju, dasi pilihan nona Rianty.
Kenapa sekarang baru tuan mempermasalahkan hal itu?
Harusnya tuan menikmatinya saja, bukankah yang penting apa yang tuan mau sudah jadi milik tuan", sahut sekretaris Kim memberi masukan.
"Ini suratnya, sudah aku tanda tangani!", ujar Gerald menyerahkan surat yang dibawa sekretaris Kim, sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan sekretaris Kim lagi.
"Huh, dijawab sesuai kenyataan gak mau terima, seperti ini masih tidak mau disebut diktator", omel sekretaris Kim dalam hati, segera mengambil suratnya dan keluar dari ruangan Gerald.
"Otak ku memang sedang bebal, kenapa aku harus tanya pada orang yang sama sekali gak mengenal cinta itu!", gerutu Gerald dalam hati.
__ADS_1
"Aku harus memikirkan caranya bagaimana membuat Rianty tidak marah lagi dan mau kembali bersamaku lagi dengan sukarela, tanpa harus dengan cara memaksa".
Bersambung.......