
"Kamu tidak mengundang aku masuk ke tokomu?" tanya Gerald ketika mobilnya sudah sampai di depan toko Rianty, dan Rianty dengan cepat sudah melepas sabuk pengamannya.
"Saya takut mengganggu waktunya Tuan Aldo", sahut Rianty, setelah sempat tertegun mendengar pertanyaan dari Gerald.
"Sesibuknya aku, tentu aku punya waktu untuk calon istriku! Aku ingin hubungan kita lebih dekat, dan kamu tidak perlu merasa segan padaku, kalau kau menginginkan sesuatu katakan saja padaku", jawab Gerald menatap intens ke Rianty.
"Si Al pulang jam berapa, biar nanti aku yang jemput. Kamu masih perlu istirahat!", sambung Gerald lagi.
"Baiklah, Al pulang jam 12 hari ini, tidak ada pelajaran tambahan", sahut Rianty mengalah, Rianty mulai mencoba mengikuti alur, sepertinya Gerald menyukai perempuan.yamg penurut, pikir Rianti dalam hati
Lagipula lebih baik dia memberi waktu pada Gerald dan Aldi untuk mengenal lebih dekat, apalagi sebentar lagi mereka akan tinggal bersama.
"Tuan jadi mau masuk ke dalam dulu, suka minum apa akan saya buatkan, tuan Aldo", ujar Rianty akhirnya mengundang Gerald untuk masuk.
"Sebaiknya nanti saja, saat aku menjemput Aldi baru sekalian mampir", sahut Gerald.
Ternyata tadi Gerald hanya ingin tahu apakah Rianty menghindarinya atau tidak.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya kembali ke toko dulu. Tuan hati-hati di jalan ya", ujar Rianty setelah itu dia segera keluar dari mobil.
Rianty sungguh merasa lega sudah bisa keluar dari situasi yang menegangkan itu.
"Rianty!"
"Aduh apalagi ini?", pikir Rianty dalam hati, tapi terpaksa membalikkan badan dan menghampiri mobil Gerald lagi.
"Ada apa tuan?", tanya Rianty dengan sedikit membungkuk, melihat ke Gerald, di mana kaca mobilnya sudah diturunkan Gerald.
"Kamu jangan terlalu banyak bergerak dan bekerja, agar badanmu benar-benar pulih. Kalau membutuhkan apapun katakan saja padaku. Jaga kesehatanmu, kamu harus sehat agar bisa melayaniku dengan baik!", ujar Gerald.
"Baik tuan Aldo, kedua karyawan ku sudah bisa bekerja sendiri, tuan tidak perlu khawatir. Saya bisa beristirahat dengan baik!", sahut Rianty.
Setelah mendengar jawaban Rianty, Gerald mengangguk, sesudah itu menginjak gas dan menjalankan mobilnya meninggalkan Rianty yang menatap kepergian Gerald.
"Dasar manusia egois, sepertinya perhatian padaku, tapi tujuannya menagih janjiku terus. Takut aku sakit dan tidak bisa melayani dia dengan baik!", gerutu Rianty, tapi hati Rianty berdebar-debar juga setiap mengingat janjinya.
"Mengapa mulutku begitu mudah mengucapkan janji!", omel Rianty pada dirinya sendiri.
__ADS_1
...********...
Dita dan Ayu sejak tadi sudah melihat mobil Gerald. Tentu sangat mudah bagi mereka mengenali mobil Gerald yang limited edition itu.
Tadinya mereka berpikir kalau Gerald akan membeli roti, tapi mereka kaget juga saat melihat Rianty keluar dari dalam mobil Gerald.
Mereka juga sempat melihat saat Rianty hendak masuk ke dalam toko, tapi Rianty kembali menghampiri mobil Gerald dan berbincang sebentar, setelah itu Rianty menatap kepergian Gerald.
"Wah ada hubungan apa antara ibu Rianty dan si Sultan ya? koq pulangnya diantar si Sultan?" Tanya Ayu penasaran dan masih menatap ke depan.
"Dasar tukang gosip. Mungkin saja mereka gak sengaja ketemu, dan kebetulan ibu tadi kan gak bawa kendaraan, mungkin aja si Sultan menawarkan mengantar pulang, apa lagi si sultan tahu kalau ibu baru keluar dari rumah sakit!", ujar Dita yang berpikiran positif.
"Mana mungkin ada laki-laki sebaik itu, kalau gak ada tujuannya, apalagi seorang sultan, waktu adalah uang baginya!", ujar Ayu yang yakin kalau pendapatnya lebih benar.
"Sok tahu! emang kamu punya teman sultan?", ejek Dita.
"Walaupun enggak, tapi itu berdasarkan pengalamanku menonton film!", sahut Ayu tidak mau kalah.
Ketika Dita mau menjawab lagi, Rianty sudah masuk ke dalam toko, akhirnya adu mulut itu pun berhenti.
Ayu yang rasa ingin tahunya besar, langsung menghampiri Rianty. Saat seperti ini dia sudah lupa kalau Rianty adalah bosnya.
Ayu sering nonton drama, kalau orang kayak sultan penggemarnya banyak, bisa jadi simpanannya banyak, walaupun istrinya cuman satu!", ujar Ayu yang sok tahu itu.
Kalau sudah bertemu yang namanya gosip, Ayu sudah lupa segalanya. Dia bahkan sudah lupa dengan posisinya.
"Sok tahu kamu itu, dasar korban drama!", omel Dita menyenggol Ayu, karena melihat Rianty yang tertegun mendengar perkataan Ayu.
Dita sifatnya lebih dewasa dari Ayu, walaupun usia mereka sama, bahkan lebih bisa mengendalikan diri, tidak seperti Ayu yang bicaranya suka keceplosan.
"Bu rotinya sudah hampir habis Bu, mau bikin lagi gak?", tanya Dita mengalihkan omongan Ayu.
"Oo, hari ini selesai sampai sini saja, nanti kalian kalau mau pulang, boleh pulang cepat, biar ibu yang jaga saja untuk jual sisa roti yang ada", ujar Rianty, teringat kalau nanti Gerald akan mampir saat menjemput Aldi pulang.
"Asyik aku lagi seru nonton drama Korea, bisa lanjut deh!", ujar Ayu senang mendengar pulang cepat.
"Dasar kamu mau enaknya saja, kalau hobby banget nonton sekalian saja gak usah kerja. Cari bos kaya, nikahin saja, kayak di film kamu itu!", omel Dita.
__ADS_1
"Ibu kan masih mau jemput Aldi, biar kami jaga sampai Aldi pulang saja!", usul Dita pada Rianty. Dita memang pegawai yang bertanggung jawab dan cekatan.
Tapi Rianty malah jadi bingung, bagaimana harus menceritakan keadaannya pada kedua pegawainya itu.Tapi sepertinya dia tetap harus menceritakan statusnya pada mereka, karena dalam waktu dekat ini dia sudah mau menikah dengan Gerald.
"Ayo kalian berdua duduk di sini, ibu mau bicara sama kalian!", ujar Rianty segera menuju ke kursi yang ada di tokonya.
Ayu dan Dita juga segera menyusul duduk dan dengan serius memperhatikan apa yang mau dikatakan Rianty.
"Orang yang kalian sebut Sultan itu papanya Aldi", ujar Rianty akhirnya, sesudah kebingungan mau memulai darimana ceritanya.
Kedua karyawannya menatap Rianty dengan kaget, dan selama beberapa detik mematung tidak bisa berkomentar apa-apa.
Bahkan Dita yang biasanya pintar menguasai keadaan saja sama sekali tidak berkomentar.
"Kaget ya?", tanya Rianty setelah menghela nafas panjang.
"Astaga Bu, koq kayak di film-film? Ayu benar-benar gak nyangka Bu. Pantas saja setiap melihat Sultan, koq Ayu merasa wajahnya familiar. Jangan-jangan mirip Aldi ya, Bu?"
Malah Ayu yang berkomentar duluan daripada Dita, Dita masih diam dan hanya mendengarkan saja.
"Tapi maaf ya Bu, sepertinya Sultan sudah punya istri deh, jadi siapa istri si sultan sebenarnya?", tanya Ayu penasaran.
"Dasar kamu! Nanya yang gak penting! itu urusan pribadi ibu, koq kamu seperti reporter saja sih, nanya sampai mendetail gitu!", omel Dita yang sudah sadar dari rasa kagetnya itu.
Dita memang lebih dewasa dan pengertian dibandingkan Ayu, karena Dita adalah anak sulung di keluarganya.
"Betul kata Dita, ibu tidak bisa menceritakan masalah pribadi ibu pada kalian. Mengapa sesudah Aldi berumur 6 tahun, ibu baru akan tinggal bersama tuan Aldo dan menjadi istri tuan Aldo.
Dan memang benar tuan Aldo sudah punya istri. Ibu hanya berharap kalian percaya, ibu sama sekali tidak pernah bermaksud menjadi pelakor, dan merusak hubungan orang lain!", ujar Rianty cepat-cepat menghapus air matanya.
Sebenarnya Rianty merasa tertekan dan terpaksa menikah dengan Gerald yang sudah mempunyai istri.
"Dita percaya sama ibu, ibu orang yang baik hati. Pasti ada kesalahan bila sampai terjadi seperti itu. Ibu tidak perlu malu kepada kami", sahut Dita berusaha menghibur Rianty.
Sedangkan Ayu otaknya sudah berpikir ke masalah lain.
"Berarti ibu toko rotinya tutup dong? Ibu kan sudah jadi istri Sultan, mana mungkin dikasih buka toko roti lagi? Terus nanti Ayu dan Dita kerja di mana Bu ?", tanya Ayu merasa khawatir, karena dia sudah betah bekerja di toko Rianty.
__ADS_1
Rianty tertegun mendengar pertanyaan Ayu, karena Rianty saja sama sekali tidak terpikirkan masalah itu.
Bersambung.......