
# Flashback sesudah pertengkaran Gerald dan Rianty #
Sebenarnya Gerald tahu, tidak lama sesudah dia bertengkar dengan Rianty, Rianty dan Aldy ke luar dari kamar mengendap-endap turun ke bawah dan meninggalkan Mansion. Gerald hanya memandang kepergian ibu dan anak itu keluar dari Mansion melalui jendela kamarnya.
Menuruti kata hatinya dia ingin menahan kepergian Rianty dan Aldi, tapi dia yakin saat ini Rianty masih marah padanya.
Gerald juga mulai mengenal sifat Rianty yang sebenarnya, walau pun lemah lembut, Rianty mempunyai hati yang keras.
"Biarlah Rianty menenangkan diri dulu, nanti kalau sudah lebih tenang aku akan membujuknya kembali padaku", pikir Gerald malam itu.
Gerald cukup menyesali rasa ingin tahunya tentang perasaan Rianty padanya, harusnya ketika ibunya memberikan pilihan pada Rianty, dia harusnya mencegahnya, bukannya terdiam, dan penasaran dengan pilihan Rianty.
Dan harusnya dia sudah tahu Rianty pasti akan memilih Aldi, karena memang dari awal Rianty menikah dengannya karena tidak mau berpisah dengan Aldi.
"Otak ku memang sudah bebal, malah ingin tahu apakah Rianty rela meninggalkanku atau tidak?
Setelah tahu Rianty semudah itu memutuskan bercerai, akhirnya aku sendiri yang sakit hati. Padahal kalau dia memilihku tentu aku juga tidak akan membiarkan dia berpisah dengan Aldi".
"Untuk saat ini aku harus membuang Rianty dalam pikiranku dulu, agar aku bisa melakukan semua rencana dan kegiatanku dengan benar!", putus Gerald menghela nafas berusaha menghilangkan rasa sakit hatinya pada Rianty dan berusaha menghilangkan bayangan Rianty dari pikirannya.
...********...
Tapi kadang, tidak semua hal bisa sesuai dengan apa yang direncanakan kita.
Gerald yang sudah terbiasa dilayani Rianty, keesokan pagi nya benar-benar merasa kehilangan.
Padahal Rianty hanya melakukan hal-hal kecil seperti menyiapkan bajunya dan memakaikan dasinya.
Tapi Gerald sangat senang, karena dia merasa sangat diperhatikan Rianty.
Padahal sebelumnya Gerald lebih suka melakukan semua itu sendiri, bahkan dia paling tidak suka kalau ada orang lain menyentuh barang pribadinya.
Belum juga sehari, Gerald sudah merasakan rindu pada Rianty yang membuatnya semakin merasa tersiksa.
Rindu pada Rianty yang setiap pagi muncul di kamarnya dengan senyumnya, Rianty yang melayani dia dengan telaten.
Apalagi ketika berada dalam mobil, Gerald semakin merasa kehilangan dan kesepian, karena tidak ada Aldi dan Rianty yang ikut bersamanya hari ini.
Perasaan yang sama sekali tidak pernah dirasakan nya dulu, karena dulu kehidupannya hanya diwarnai pekerjaan dan bisnis nya saja.
__ADS_1
Hal tersebut lah yang akhirnya membuat Gerald muncul di kantor dengan wajah kusut dan tidak serapi biasanya.
...********...
"Tuan, ada kabar baru dari kepolisian yang mengurus kasus meninggalnya bapak Rianty", ujar sekretaris Kim melaporkan pada Gerald.
Gerald memang memberikan nomor telpon sekretaris Kim untuk dihubungi pihak kepolisian, kalau ada kabar terbaru mengenai meninggalnya pak Sugiman.
"Kabar apa?", sahut Gerald cepat, begitu mendengar masalah yang berhubungan dengan Rianty.
"Pihak polisi sudah berhasil menangkap tersangka yang menyebabkan kematian bapak Sugiman, dan katanya ada saksinya juga", sahut sekretaris Kim.
"Bagus kalau pelaku nya sudah tertangkap!", ujar Gerald.
"Apakah perlu saya menyampaikan masalah ini pada nona Rianty?", tanya sekretaris Kim.
"Tidak perlu, aku sendiri yang akan memberitahu Rianty", sahut Gerald.
"Justru aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Rianty, dasar gak berperasaan, begitu saja gak ngerti masih harus tanya segala", gerutu Gerald dalam hati.
"Sepertinya tidak ada hal penting lagi yang harus aku lakukan, aku mau ke tempat Rianty sekarang juga memberitahukan hal ini pada nya", sambung Gerald lagi, langsung bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya dengan semangat.
"Lewat telpon kan lebih praktis dan cepat tuan, apalagi jam-jam begini jalanan sedang macet", ujar sekretaris Kim mengusulkan.
"Mengapa akhir-akhir kamu tidak mengerti kemauanku? Padahal dulu kamu orang yang paling mengerti aku!", tegur Gerald sebelum berjalan keluar ruangan.
Sekretaris Kim hanya diam mendengar perkataan Gerald dan hanya menatap kepergian Gerald.
"Sebenarnya bukan aku tidak mengerti tuan, tapi sifat Tuan lah yang sudah berubah banyak sejak menikahi nona Rianty. Jadi bagaimana aku bisa mengerti kemauan tuan?"
...********...
Dodi yang merasa sudah tidak ada harapan lagi, merasa begitu senang begitu sampai di tempat interogasi, Dodi berpas-pas an dengan Patrick.
Setelah mendapat ijin dari petugas untuk berbicara dengan Patrick, Dodi tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Patrick, tolong sampai kan pada nona Monica, cepat bantu agar aku keluar dari sini'", ujar Dodi penuh harapan lagi.
"Maaf, aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Monica, pak Dodi", sahut Patrick.
__ADS_1
"Tapi tolong coba kamu sampaikan ke Monica, kalau aku ditangkap karena dituduh menyebabkan kematian bapak Rianty!";ujar Dodi.
"Bukankah memang kamu yang menyebabkan kematian pak Sugiman?", Patrick bertanya balik.
"Apa maksudmu Patrick?", tanya Dodi mulai tidak tenang dan curiga mendengar pertanyaan Patrick.
"Walaupun aku sudah tidak ada hubungan dengan Monica, aku tetap berharap yang terbaik buat Monica. Jangan sampai orang seperti kamu ada di samping Monica, ketika aku meninggalkan Monica.
Orang yang sudah begitu tega pada keponakannya sendiri, sudah menipu uangnya, masih juga mau mencelakakannya. Jangan-jangan selama ini kamu sudah memberi pengaruh jelek pada Monica, hingga Monica melakukan hal-hal tidak benar!", tuduh Patrick.
"Mengapa kamu menuduhku menipu uang Rianty? jangan sembarang bicara kamu Patrick!", ujar Dodi tidak terima.
"Aku mendengar nya sendiri ketika kau ribut dengan ayah Rianty. Aku juga menyaksikan sendiri kalau kamulah yang mendorong ayah Rianty dan membuat ayah Rianty meninggal. Kalian berdua sungguh tega, yang satu paman, yang satu Ayah!
Orang sepertimu kalau dibiarkan berkeliaran akan berbahaya.
Akulah orang yang akan menjadi saksi atas kematian ayah Rianty."
"Pantas saja hari itu dia meyakinkan sekali lagi kalau Monica tidak terlibat. Sesudah yakin dia melaporkan aku ke polisi. kurang ajar si Patrick ini, masih sempat memikirkan keselamatan Monica.
Padahal dia gak tahu kalau biang keladinya pacar gelap dia. Semua bermula dari Monica, kalau tidak hari ini aku tidak akan kena masalah seperti ini!", pikir Dodi dalam hati penuh dendam.
"Baiklah, percuma sudah sampai tahap ini, harapanku sudah tidak ada lagi, tapi akan ku buat kamu menyesal Patrick, pada akhirnya kamu akan tahu sendiri seperti apa perempuan yang kamu cintai selama ini", pikir Dodi dalam hati sambil menatap penuh kebencian dan dendam pada Patrick, dan berjalan meninggalkan Patrick tanpa berkata apa pun lagi.
Patrick sempat bergidik, melihat tatapan mata Dodi yang penuh kebencian itu.
"Tapi setidaknya aku sudah melakukan hal yang benar kali ini, dan Monica akan terbebas dari orang yang berbahaya seperti Dodi", pikir Patrick yang membulatkan tekadnya untuk menjadi saksi kasus kematian ayah Rianty.
Bersambung.......
...ππππππππ±...
...Dear readers tersayang,...
...Jangan lupa terus dukung Author dengan likeπ dan comment....
...Vote dan hadiahπΉπ΅ tentu tidak ditolak π€π€£π€£, bahkan membuat author semakin semangatπͺπͺ....
...Jangan lupa juga pencet favorit β€οΈ, agar selalu mendapat notifikasi, sekalian follow author yaππ...
__ADS_1