Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
menyetujui permintaan Aldi


__ADS_3

"Bukan Lena! ibu sendiri yang memutuskan seperti itu. Dulu kan kamu sudah janji sama ibu kalau kamu punya anak akan tinggal di Mansion keluarga kita bersama ibu?


Kamu tahu sendiri, Ibu hanya merasa sepi, dan tidak bermaksud apa-apa. Jangan bilang kamu tidak setuju dan tidak mau menepati janjimu!" ujar Rini mengingatkan janji Gerald.


Gerald sebenarnya tidak tega menolak keinginan ibunya, tapi kali ini dia merasa permintaan ibunya seperti ada udang di balik batu.


"Aku kan menjanjikan pada ibu, kalau Monica yang punya anak. Karena ibu dan Monica sangat cocok. Tapi kalau dengan Rianty, ibu kan tidak menyukainya? Bagaimana bisa tinggal bersama? Nanti malah bermasalah!", ujar Gerald mencoba menolak usul ibunya itu.


Monica yang juga berada di antara Gerald dan ibunya dari tadi hanya tersenyum sinis mendengar jawaban Gerald.


"Sial, Gerald pas ada maunya pakai namaku, kurang ajar! Aku hanya dimanfaatkan saja.


Bagaimana bisa punya anak, sehelai rambut pun tidak pernah disentuh!


Sampai aku digosipin mandul di tempat arisan, sungguh memalukan. Apa sih kelebihan gadis kampung itu, sampai Gerald begitu melindunginya dan takut disentuh orang lain", gerutu Monica dalam hati kesal dan iri.


"Kamu jangan banyak alasan Gerald, kamu sudah berjanji pada ibu, kamu harus menepatinya! Ibu gak mau tahu. Terserah Rianty, dia mau tinggal di mansion kita atau enggak, yang penting ibu ingin Aldi, cucu ibu tinggal bersama ibu!", ujar Rini marah.


"Ibu jarang meminta apapun padamu, kali ini ibu hanya meminta kamu menepati janjimu pada ibu. Apa itu juga tidak bisa kamu kabulkan?", sambung Rini mendesak Gerald.


"Baiklah, nanti aku akan bicarakan pada Rianty", ujar Gerald menarik nafas kesal.


"Kamu tidak perlu meminta pendapat Rianty, cukup kamu yang memutuskan. Dia harus menurut padamu. Punya hak apa perempuan itu, sampai dia yang memutuskan!", ujar Rini, sesudah itu langsung beranjak keluar dari rumah Gerald, karena Rini tidak ingin lagi mendengar sahutan Gerald yang selalu membela Rianty menurutnya.


Lagipula dari tadi Monica berada di situ juga, Rini ingin menjaga perasaan Monica, menantu kesayangannya nya itu.


Istri mana pun akan merasa sedih bila suaminya begitu membela perempuan lain, menurut Rini.


"Ah.. Gerald benar-benar keterlaluan, sama sekali tidak menjaga perasaan istrinya. Kalau memang dia begitu menyayangi perempuan itu, mengapa dulu setuju menikah dengan Monica?


Kalau kuhitung-hitung umur Aldi, harusnya dia mengenal Rianty waktunya hampir sama dengan pernikahan nya dengan Monica.


Mengapa sesudah 6 tahun dia baru ingin menikah dengan Rianty?


Ah.. jangan-jangan benar kata si Lena, Gerald sudah diguna-guna! Sampai bisa tergila-gila pada wanita itu. Selama ini aku tidak pernah melihat sekalipun Gerald bisa begitu memuja seorang wanita.


Kata Lena biasa perempuan yang berasal dari desa, pintar menggunakan guna-guna.


Aku harus berhati-hati dengan perempuan itu, kalau tidak jangan-jangan aku pun diguna-guna!", pikir Rini yang sudah semakin kacau jalan pikirannya.

__ADS_1


Gerald hanya bisa menatap kepergian ibunya dengan kesal.


"Pasti ini ulahnya si Lena yang sok tahu itu. Pasti dia yang mempengaruhi ibu!


Pantas saja dulu ditinggal kekasihnya, menikah dengan perempuan lain!", gerutu Gerald yang akhirnya menyumpahi Lena karena kesal


Sedangkan Monica sudah menghilang dari tadi, begitu mertuanya pulang.


Monica tersenyum senang menuju ke kamarnya.


"Rasakan kau perempuan kampung! Kamu pikir kamu sudah mendapatkan hati Gerald sudah bisa menang? Akan kulihat apa yang bakal terjadi padamu ke depannya!"


Dan tentu saja Monica mengharapkan hal-hal jelek yang akan terjadi pada Rianty.


...********...


Begitu sampai di kamarnya, Monica langsung menghempaskan tubuhnya dengan kesal ke kasurnya yang besar itu.


"Aku juga harus melakukan pergerakan, aku tidak bisa tinggal diam saja melihat perempuan kampung itu berbahagia dengan Gerald! Gara-gara dia kehidupan pernikahan ku dengan Gerald hancur. Enak saja dia mau menggantikan posisiku.


Tidak masalah kalau posisiku sebagai istri Gerald diganti perempuan lain, asal jangan dia yang menggantikannya." pikir Monica dalam hati penuh dendam.


Monica tidak merasa kalau dia sendiri yang bersalah, padahal dulu dia sendiri yang merencanakannya, tetapi dia merasa Rianty lah yang sudah menjebaknya.


Kalau aku kalah dengan perempuan yang juga keturunan konglomerat, aku masih bisa terima", pikir Monica yang ternyata suka membedakan kasta.


Karena itulah Monica tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan Patrick, karena Patrick bukanlah berasal dari kalangan mereka.


Dan sudah ada satu orang yang dipikirkan Monica, yaitu Lucy dari Takahashi group.


Lucy anak perempuan satu-satunya Takahashi group, yang sering membantu mengurus bisnis ayahnya itu


Karena itulah Lucy sering bertemu dengan Gerald, untuk masalah bisnis. (ada di episode 4)


"Biarlah aku kalah dengan Lucy dari pada aku harus kalah dengan perempuan kampung itu, biar perempuan kampung itu merasakan penderitaan yang kurasakan juga!", pikir Monica penuh dendam.


...********...


"Al kenapa marah sama papa? Bukankah Al dari dulu mencari papa, kenapa sekarang papa sudah bersama Al, malah Al cuekin?", tanya Rianty sambil menyisir rambut Aldi, sesudah Aldi selesai mandi sore.

__ADS_1


"Harusnya mami lebih marah dari Al, koq mami malah membela papa dan sama sekali tidak marah sama papa sih?", tanya Aldi penasaran dengan ibunya.


"Lho koq mami harus lebih marah? Memang papa salah apa?", tanya Rianty yang bingung dengan pertanyaan Aldi.


"Lho Al saja marah karena papa istrinya dua, kenapa mami tidak marah. Harusnya kan mami lebih marah. Atau jangan-jangan gara-gara ini mami dulu gak pernah beritahu Al siapa papa Al? tanya Aldi, menoleh ke ibunya yang sedang menyisir rambutnya itu


Rianty sempat terdiam sebentar mendengar pertanyaan Aldi.


"Mami kan sudah bilang ini bukan salah papamu, karena keadaan yang tidak bisa mami jelaskan pada Al, nanti kalau Al sudah dewasa baru Al bisa mengerti.


Yang penting sekarang Al harusnya bersyukur sudah bisa ketemu papa, dan nanti Al sudah bisa berkumpul sama papa. Bukankah ini impian Al?", jawab Rianty akhirnya.


"Baik mi."


"Jadi besok kalau Al ketemu papa, Al jangan marah lagi ya, jangan dicuekin lagi, kasihan papa! nanti papa kepikiran terus, nanti papa kerjanya gak konsentrasi.


Papa Al kan sibuk bisnis", ujar Rianty menasehati Aldi.


"Baik mi, Al nurut sama mami saja, kalau mami memang gak marah, Al juga enggak".


"Nah itu baru betul Al!", sahut Rianty sambil membungkuk mengecup pipi Aldi.


"Kalau besok papa nurut sama mami, mami juga cium papa ya?", tanya Aldi lagi.


Mendengar pertanyaan Aldi, Rianty langsung teringat Gerald yang menciumnya mendadak tadi.


Tetapi Rianty kemudian berusaha segera menghilangkan pikirannya itu.


" Ih.. apa-apaan sih, koq aku malah ngebayangin yang enggak-enggak", pikirnya kesal.


"Enggak dong, Al kan masih kecil, kalau papa Al kan orang dewasa", sahut Rianty.


"Nanti kalau sudah tinggal bersama papa, mami bobok sama siapa? sama Al atau papa?", tanya Aldi lagi.


"Al maunya bobok sendiri atau sama mami?", sempat tertegun sebentar, tapi akhirnya Rianty bertanya balik pada Aldi.


"Al mau tetap bobok sama mami!", sahut Aldi langsung.


"Ya sudah, kalau begitu mami bobok sama Al", sahut Rianty langsung mengiyakan, dan dia cukup senang akhirnya dia bisa punya alasan untuk tidak sekamar dengan Gerald setelah menikah.

__ADS_1


Entah mengapa, dia merasa risih kalau harus sekamar dengan Gerald.


Bersambung........


__ADS_2