Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Devan salah duga


__ADS_3

"Mengapa adik saya ditahan pak? Apa kesalahan yang sudah diperbuat dia? Bapak tahu siapa dia? Dia itu Monica Anderson, istri Tuan Gerald!", ujar Devan gusar, saat ingin memasuki ruangan Monica ditahan, Devan tidak diberi ijin masuk oleh petugas keamanan.


"Maaf pak, kami hanya menjalankan perintah. untuk sementara nona Monica diamankan dulu, karena berbahaya!", sahut salah satu petugas keamanan itu.


"Tapi saya adalah kakak kandung nona Monica, saya ingin bertemu dengan adik saya. Apa yang sudah dilakukan adik saya, sampai kalian ketat seperti ini? Awas! aku akan menuntut kalian, karena sudah bertindak semena-mena!", ancam Devan bertambah marah karena mendengar perkataan petugas yang mengatakan kalau Monica berbahaya.


"Maaf pak, jangan menyulitkan kami. Kami hanya menjalankan tugas saja! Sebaiknya Tuan Devan langsung menghubungi yang memberikan perintah, bukan kami", ujar petugas itu lagi.


"Ah, mengapa otak ku menjadi bebal. Untuk apa aku ngotot pada mereka, orang-orang suruhan yang hanya mendengar perintah dari atasannya saja!", gerutu Devan dalam hati.


Baru saja Devan mau bertanya lagi, Devan melihat dokter David yang sedang melintas melewati tempat itu.


"Dokter David!", panggil Devan.


Dokter David langsung menghentikan langkahnya, ketika mendengar namanya dipanggil, dan menoleh ke asal suara.


"Oo Tuan Devan, kok bisa kebetulan tuan ke sini juga?", tanya dokter Devan.


"Saya datang hendak menjemput adik saya monica. Dokter tahu kenapa adik saya Monica ditahan?", tanya Devan .


"Betul Tuan Devan, Nona Monica ditahan karena ingin melakukan tindakan pembunuhan, jadi untuk sementara ditahan sampai yang berwajib datang", ujar dokter David.


"Tidak mungkin dok, adik saya perempuan yang baik. Tidak mungkin dia akan melakukan hal seperti itu!", ujar Devan tidak percaya.


"Maaf tuan Devan, anda harus menerima kenyataan itu. Ada saksinya, dan untung saja saksi tiba tepat waktu, sehingga korban bisa diselamatkan. Apakah tuan Devan tahu kalau nona Monica sering meminum obat penenang? Sepertinya hal itu juga mempengaruhi pikiran nona Monica, sehingga kadang dapat melakukan hal-hal di luar dugaan", ujar dokter Devan menjelaskan.


Devan terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Pantas saja tadi di telpon bicaranya juga kasar. Mengapa adik ku bisa menjadi seperti ini. Pasti karena dia sedih karena Gerald sudah tidak pernah memperdulikan nya sejak memiliki Rianty.


Ibu sering memarahinya yang kalah dengan Rianty dalam hal mendapatkan perhatian Gerald. Gerald benar-benar terlalu, hatinya begitu mudah berubah.

__ADS_1


Bagaimana Monica tidak tertekan dan menjadi stres. Aku harus meminta pertanggung jawaban Gerald!", pikir Devan dalam hati geram dan menyalahkan Gerald.


"Memang Monica menyerang siapa? Saksinya siapa?", tanya Devan curiga, karena Devan berpikir Gerald sebenarnya hanya ingin membuang Monica setelah tidak menyukainya.


"Korbannya nona Rianty, saksinya sekretaris Kim dan Aldi anaknya, dan untungnya mereka tiba tepat waktu, sehingga Nona Rianty bisa tertolong", ujar Dokter David menghela nafas.


Dokter David tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi andai saja sekretaris Kim dan Aldi tidak datang mengunjungi Rianty.


...********...


"Jangan sembarang menuduh adikku. Monica tidak mungkin membunuh, lagipula Monica bisa membunuh dengan apa? Jangan-jangan ada yang mau menjebak Monica dan menuduh Monica", sahut Devan yang masih tidak bisa menerima kenyataan dan merasa semua ini hanya jebakan Gerald saja, yang ingin membuang Monica.


"Kalau sudah ada niat melakukannya, banyak cara tuan Devan. Monica membekap Rianty dengan bantal tuan", ujar dokter David mulai kesal dengan Devan yang masih ngotot.


"Maaf tuan Devan, saya masih harus memeriksa banyak pasien lagi, saya tinggal dulu. Kalau masih kurang jelas, bisa langsung menanyakan pada sekretaris Kim", sambung dokter David langsung, tidak memberikan kesempatan lagi pada Devan untuk bertanya lagi.


"Huh kakak dan adik sama ngotot nya, percuma berbicara pada mereka, sudah jelas salah masih tidak terima", gerutu dokter David dalam hati sambil melangkah pergi.


...********...


Setelah mendapat info kalau Gerald berada di ruang inap VIP, Devan segera menuju ke ruangan itu dengan dada bergejolak penuh amarah.


Setelah mengintip dari kaca untuk meyakinkan kalau dia tidak salah ruangan, akhirnya apa yang terpampang di depan matanya malah membuat Devan makin emosi.


Devan menyaksikan bagaimana Gerald begitu penuh perhatian pada Rianty.


Terlihat Gerald yang sedang melap wajah Rianty dengan hati-hati memakai saputangan, dan kemudian menarik tubuh Rianty untuk masuk dalam pelukannya dan mengecup dahi Rianty berulang-ulang, tentu membuat kemarahan Devan sampai ke ubun-ubun.


Akhirnya hal tersebut membuat Devan lupa akan sopan santun, yang langsung melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah cepat dan mengeluarkan kemarahannya.


Rianty yang merasa tidak enak berbisik pada Gerald agar melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kamu mau tiduran atau bersender?", tanya Gerald santai pada Rianty sama sekali tidak perduli dengan kemarahan Devan.


"Bersender saja mas", ujar Rianty cepat, merasa tidak enak pada Devan yang menatap tajam ke arah mereka.


Akhirnya Gerald melepaskan pelukannya pada Rianty, sesudah itu membenarkan posisi Rianty, agar Rianty lebih leluasa.


"Kamu tidak salah mengatakan aku mencelakakan adikmu, Monica?", tanya Gerald sambil bangun dari duduknya dan mendekati Devan.


"Gerald! Kau jangan hanya menyalahkan adikku yang ingin mencelakakan Rianty. Salahkan dirimu yang terlalu pilih kasih hingga Monica menderita. Bahkan sangking stress nya dia, kata dokter David dia memakai obat penenang. Karena kamu lah dia menjadi seperti ini, dan melakukan penyerangan. Kau yang sudah memaksanya?", ujar Devan menyalahkan Gerald.


Mendengar perkataan Devan, Gerald tersenyum sinis,


"Harusnya sebelum kau datang mencariku, kau selidiki yang benar dulu. Selidiki lah adikmu itu, apa yang sudah dilakukan dia di belakang keluarga kalian, yang tidak kalian ketahui.


kamu pikir dia minum obat penenang gara-gara aku?


Sudah terlalu banyak dosa yang dilakukannya, sehingga membuat dia tidak tenang dan membutuhkan obat penenang!"


"Jangan sembarang bicara Gerald!Adikku gadis yang berpendidikan dan baik. Juga berasal dari keluarga baik-baik. Kalau tidak, tidak mungkin ibumu akan memilih dia sebagai istrimu.


Tidak pernah ada jejak buruk dalam hidupnya!", ujar Devan menyindir Gerald, karena Devan yakin dengan kwalitas Monica.


Memang selama ini Monica selalu menjaga sikap di depan keluarganya.


"Percuma aku menjelaskannya pada mu, kau tidak mungkin percaya perkataan ku. Kalau kau memang ingin mengetahui adikmu yang sebenarnya, aku akan membawa mu menemui seseorang yang akan membuka semua rahasia Monica selama ini! Tapi tidak hari ini, hari ini waktuku hanya untuk Rianty", ujar Gerald.


"Baiklah", ujar Devan menghela nafas kesal,


"Tapi ijinkan aku untuk menemui Monica sebentar", pinta Devan


"Baik, aku akan menghubungi mereka untuk mengijinkan mu masuk", sahut Gerald yang tidak mau memperpanjang masalah, karena saat ini dia hanya ingin menemani Rianty saja, tidak ingin diganggu hal lain nya.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2