
"Tuan Gerald sebenarnya nona Rianty hanya kelelahan, mungkin kecapaian atau sedang stress, tensi darahnya juga rendah, mungkin juga kurang asupan makanan, jadi nona Rianty jadi tidak sadarkan diri", ujar dokter David, yang juga merupakan dokter keluarga Anggara.
Mendengar perkataan dokter David, Gerald benar-benar menyesali perbuatannya kemaren.
Gerald bertambah menyesal lagi ketika mendengar lanjutan perkataan Dokter David,
"Seharusnya nanti kalau sudah sadar sudah bisa pulang Tuan Gerald, tapi ini tidak bisa, karena nona Rianty sedang hamil, tadi juga sudah diperiksa dokter SPOG, untung saja janin nya tidak apa-apa. Tapi harus lebih diperhatikan lagi untuk makanan dan vitamin nya. Jadi sementara dirawat di sini dulu, nanti kalau sudah benar-benar pulih baru dibawa pulang.
Dan yang terpenting jangan sembarangan meminum obat bebas, kalau ada masalah kesehatan langsung dengan dokter kandungannya nanti, jadi diresepkan obat yang benar-benar aman untuk ibu hamil", pesan dokter David.
"Baik dok, akan saya lebih perhatikan lagi. Tolong beri perawatan terbaik untuk istri saya!", sahut Gerald.
"Pasti tuan Gerald, jangan khawatir. Selamat ya tuan Gerald", ujar dokter David.
"Tuan Gerald juga sudah boleh melihatnya, nona Rianty sudah selesai pemeriksaan dan sudah dibawa ke ruang inap", Sambung dokter David lagi.
"Baik dok, terimakasih", sahut Gerald cepat dan segera menuju ke ruangan Rianty dirawat.
Gerald memang sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Rianty sejak Rianty diperiksa, Gerald dari tadi sudah tidak tenang dan benar-benar khawatir dengan keadaan Rianty.
Dokter David memandang kepergian Gerald dengan penuh tanda tanya, tapi tidak berani menanyakannya pada Gerald.
"Aku dulu pernah menghadiri pernikahannya tuan Gerald, rasanya perempuan tadi bukan istrinya tuan Gerald, makanya ku panggil nona Rianty. Aku yakin, aku tidak mungkin salah mengenal orang", pikir dokter David penasaran.
Dokter David memang selalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi jarang mengikuti berita gosip yang beredar, jadi dia tidak tahu kalau Gerald sudah mempunyai dua istri.
...********...
Begitu sampai di ruangan Rianty dirawat, Gerald langsung menghampiri Rianty yang masih belum sadar.
Melihat wajah Rianty yang pucat dan masih belum sadar, Gerald kembali merasa menyesal sudah berlaku kasar pada Rianty.
Gerald terbayang kembali kejadian saat dia menarik Rianty sampai kamar mereka di atas, dan menghempaskan Rianty ke tempat tidur.
"Ah.. kenapa aku gampang banget tersulut emosi, hingga memperlakukan Rianty dengan kasar?", sesal Gerald mengecup dahi Rianty dan duduk di sebelah tempat tidur Rianty, di kursi yang memang tersedia untuk keluarga pasien yang ingin menjaga pasien.
Gerald menggenggam tangan Rianty, dan kedua tangannya bertumpu di tempat tidur, sambil menatap wajah cantik yang masih tidur itu, entah berapa lama Gerald posisinya seperti itu, sampai suara handphone nya berbunyi.
Gerald segera mengangkat panggilan masuk itu, tanpa melihat lagi nama yang menelponnya, karena khawatir akan mengganggu Rianty.
__ADS_1
"Huh mengganggu saja!", gerutu Gerald.
"Halo?", ujar Gerald, segera berdiri dan menjauhi tempat tidur Rianty, karena takut mengganggu.
"Tuan ada kabar baru, tersangka Dodi ternyata adalah paman dari nona Rianty. Dan aku sudah mendapatkan informasi kalau dia sudah lama bekerja sebagai supir pribadi Monica", ujar sekretaris Kim, langsung ke pokok pembicaraan.
"Rianty tidak pernah mengatakan kalau dia punya seorang paman, Apakah kamu yakin? Atau jangan-jangan orang itu berbohong?", tanya Gerald
"Kan saya sudah bilang pada tuan, kalau saya curiga nona Rianty menyimpan rahasia. Tapi tuan selalu berkata, kalau nona Rianty selalu jujur kepada tuan!", sahut sekretaris Kim menyalahkan.
Dan menurut sekretaris Kim kalau Tuan nya sudah dibutakan oleh cinta, sehingga selalu percaya pada semua ucapan Rianty.
"Pasti ada sebabnya Rianty tidak memberitahuku. Rianty sekarang lagi dirawat di rumah sakit, jadi belum bisa bertanya padanya", sahut Gerald masih membela Rianty.
"Oo, kenapa Tuan?", tanya sekretaris Kim kaget.
"Nanti baru ku ceritakan, aku masih di rumah sakit menjaga nya. Nanti kamu menjemput Aldi ya! Jangan bawa ke mansion Anggara, bawa saja ke mansion ku yang baru", instruksi Gerald pada sekretaris Kim.
"Baik Tuan, tapi aku juga ingin memberitahukan kalau tersangka Dodi meminta terus ingin bertemu dengan Tuan. Sepertinya ada yang mau dikatakan pada Tuan", ujar sekretaris Kim lagi.
"Baiklah! Aku akan menjumpainya setelah Rianty sadar. Aku juga ingin tahu apa yang mau dia bicarakan dengan aku!", sahut Gerald menutup panggilan masuk itu.
"Tuan ku sepertinya benar-benar sudah dibutakan oleh cinta. Apa saja perbuatan nona Rianty, Tuan akan selalu memaklumi nya", pikir sekretaris Kim sambil menghela nafas, setelah telpon itu ditutup.
...********...
"Iya, Wah ternyata jadi istrinya Gerald di mana-mana di kenal. Hebat!", sahut Monica sinis, menjawab pertanyaan dokter David.
"Memang kenapa dok?", tanya balik Monica.
"Ah tidak nona, hanya ingin memastikan saja. Saya anjurkan usahakan jangan memakai obat penenang ini nyonya Gerald", ujar dokter David yang langsung merubah panggilan nya kepada Monica.
"Justru butuh! makanya saya meminta resep ini dok!", sahut Monica kesal, dan tidak sopan.
Sejak hatinya tidak tenang, sifat Monica menjadi emosian dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Kadang setiap pertanyaan orang, dia merasa orang itu sepertinya menyindir dia.
Apalagi sudah berhari-hari dia mengalami gangguan tidur, hampir tiap hari dia hanya tidur 2 jam saja.
__ADS_1
Dokter David tentu kaget mendapat jawaban sinis Monica , tapi karena dia adalah dokter yang sudah berpengalaman, dokter David akhirnya mengerti kalau Monica bukanlah sakit fisik.
"Saya anjurkan sebaiknya nyonya ke dokter bagian physical, agar mereka lebih bisa menangani nyonya agar tidak perlu meminum obat penenang.
Efeknya sungguh tidak bagus nyonya, kalau tidak perlu, usahakan jangan diminum.
Kalau Nyonya mau saya bisa rujuk ke dokter yang bagus", ujar dokter David.
"Kamu pikir aku perempuan gila? Aku masih belum perlu ke psikiater. Sudah kukatakan aku hanya perlu obat penenang, agar bisa tidur!", sahut Monica yang tidak bisa menahan kemarahannya, karena merasa dianggap seperti orang gila.
"Baiklah nyonya Gerald, ini resepnya, bisa langsung diambil di lantai 1", ujar Dokter David akhirnya tidak berkata apa-apa lagi.
Monica langsung mengambil kertas resep itu dengan kasar, tanpa berkata apa-apa lagi dan langsung keluar dari ruangan dokter David. Monica bahkan tidak mengucapkan terimakasih.
"Pantes saja Gerald punya dua istri, ternyata istrinya yang pertama sangat kasar dan tidak sopan.
Atau jangan-jangan dia jadi seperti itu karena Gerald mempunyai istri yang lain. Apalagi istri barunya sedang mengandung, dan Gerald kelihatan sayang sekali dengan istrinya itu. Istrinya ini kan belum punya anak, Nyonya Rini sering meminta vitamin untuk mereka", pikir Dokter David menduga-duga.
"Aku dari tadi sudah aneh, setahuku Gerald bukanlah orang yang mata perempuan, kenapa bisa sampai punya 2 istri? Ah .. otakku kenapa hari ini? Ngapain ngurus urusannya tuan Gerald. Masih banyak pasien yang harus ku tangani!", putus Dokter David mengakhiri pikirannya.
Memang pada dasarnya dokter David bukan orang yang suka bergosip, apalagi waktunya sudah habis untuk mengurusi pasien.
Bersambung .........
...🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉...
...Dear pembaca tersayang,...
...Author ucapkan terimakasih atas dukungan like, comment, hadiah dan votenya selama tahun 2021 ini....
...Semoga untuk ke depannya tidak bosan mendukung author....
...Author akan selalu berusaha menghasilkan karya sebaik-baiknya agar pembaca selalu terhibur....
...Terimakasih atas dukungannya selama ini.🙏🙏🙏...
...Author tidak akan berarti tanpa ada pembaca yang selalu mendukung....
...Happy New Year pembaca tersayang...
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Dukung terus ya, agar tahun 2022 Author bisa berprestasi lebih baik lagi...