
Begitu sampai di sekolah Aldi, seperti biasa Rianty membantu Aldi melepaskan jaket, helm dan masker Aldi.
Sebenarnya Rianty juga tahu kalau anaknya Aldi suka bermanja-manja padanya, tapi Rianty membiarkan hal itu,
Karena Rianty sadar Aldi hanya mempunyai dia, tidak memiliki figur seorang ayah .
Rianty karena memperhatikan Aldi, sama sekali tidak sadar kalau dari tadi Devan dan Angel memperhatikan tingkah laku ibu dan anak itu.
Yang satu memandang dengan iri, sedangkan yang satu lagi memandang dengan kagum.
"Rianty! Bukankah kemaren kamu sudah setuju diantar oleh supirku, koq mendadak menghilang?", tanya Devan setelah melangkah mendekati Rianty.
Rianty sempat kaget, karena Devan muncul mendadak.
"Maaf, kemaren saya benar-benar sakit, jadi saya pulang terburu-buru, lagipula Aldi sudah capek juga", ujar Rianty memberikan alasan.
Aldi yang tahu ibunya berbohong hanya diam saja, karena dia mulai tidak menyukai Devan yang kelihatan perhatian dan berusaha mendekati maminya itu.
"Udah mami pulang saja, kan masih banyak kerjaan di toko, ini Al sudah mau masuk koq mi", ujar Aldi pada ibunya, yang secara tidak langsung membantu maminya menjauh dari Devan.
Rianty bersyukur dalam hati, Al secara tidak langsung membantunya menghindar dari Devan, padahal Rianty tidak tahu kalau Al takut ayahnya Angel melakukan pendekatan pada maminya.
"Oo iya ya, baiklah mami pulang dulu, Aldi di sekolah jangan nakal dan membantah guru ya." Karena otak Aldi yang genius terkadang bila dia merasa tidak puas, sering membantah gurunya.
"Mas Devan saya pulang dulu ya, Angel Tante pulang dulu ya", ujar Rianty sambil menepuk sayang pipi Angel.
Sesudah Rianty pulang dengan motornya, Devan juga masuk ke mobil dan menuju ke kantornya.
Ketika tinggal Angel dan Aldi, Angel langsung menatap kesal pada Aldi dan protes pada Aldi,
"Kamu sengaja ya? takut mamimu menyukai papaku kan?"
"Kan aku sudah bilang kalau aku gak setuju. Lagipula mamiku masih ada papaku, gak mungkin mamiku bisa suka sama papamu!", sahut Aldi.
"Kamu bohong!Dasar licik, mana papamu!", omel Angel ngotot. Gara-gara itu akhirnya keduanya yang selalu kompak, hari ini sama sekali tidak berbicara lagi selama jam sekolah.
__ADS_1
********
Gerald setelah merasa Rianty memiliki wangi tubuh yang familiar, akhirnya seharian bayangan Rianty berkelebat di kepalanya. Dia berusaha mengingat kejadian 7 tahun yang, tapi tidak ada yang bisa dia ingat sama sekali.
Yang dia ingat hanya di bahu wanita itu ada lukanya, tapi bagaimana dia bisa melihat bahu wanita itu?
Karena pikirannya tidak mendapat jawaban, akhirnya Gerald kesal dan penasaran sendiri, dan tidak konsentrasi lagi di ruang kantornya.
Gerald benar-benar tidak sabar kalau harus menunggu laporan dari orang mereka yang menyelidiki masalah ini.
Akhirnya Gerald memanggil sekretaris nya.
"Kim aku mau keluar sebentar, aku bawa mobil sendiri, kalau ada apa-apa kamu hubungi aku, kalau yang bisa kau tangani sendiri, langsung saja, tidak usah tanya aku lagi!", ujar Gerald pada sekretaris Kim yang memang merupakan kepercayaannya.
"Baik Tuan", sahut sekretaris Kim sama sekali tidak bertanya ke mana bosnya pergi, karena dia sudah tahu sifat Tuannya yang tidak suka kalau ada orang yang ingin mengetahui kegiatannya, dan kalau biasanya penting, Tuannya dengan sendirinya akan memberitahu dia.
Setelah itu Gerald langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar.
********
Rianty menghela nafas lega setelah bisa menghindari Devan dan tidak perlu berbasa basi terlalu lama dengan Devan.
Sebenarnya berbicara dengan Devan tidak masalah, karena Devan orangnya cukup menyenangkan dan juga bisa mengikuti alur bicara seseorang.
Walaupun Devan berasal dari kalangan atas, orangnya cukup berbaur dan tidak sombong sekali.
Hanya saja sejak bertemu dengan Monica dan Rianty tahu kalau Devan adalah kakak Monica, Rianty merasa dia perlu menghindari Devan sejauh mungkin. Belum lagi Monica sudah mengancamnya,
Rianty menjadi takut sendiri dengan ancaman Monica.
Di telinganya tergiang terus perkataan Monica, yang membuatnya takut sekali kalau Monica benar-benar akan melaksanakan ancamannya.
Karena Rianty merasa Monica adalah orang yang benar-benar bisa melaksanakan ancamannya.
Begitu sampai toko, lamunan Rianty pun terputus. Setelah memarkir motornya, dan melangkah masuk ke tokonya, betapa kagetnya Rianty melihat seseorang yang sangat dikenalnya berada di tokonya itu.
__ADS_1
Harusnya dia tadi curiga, saat melihat mobil mewah parkir di depan tokonya. Tapi karena otaknya yang sedang berpikir akhirnya kesadarannya terlambat.
Sudah terlanjur melangkah masuk ke dalam toko, Rianty hanya bisa berusaha menenangkan hatinya yang berdebar-debar.
"Ah biar kuserahkan saja pada Dita dan Ayu", pikir Rianty dalam hati, berpikir untuk langsung naik ke lantai 2 menghindari Gerald dan berlagak tidak mengenal Gerald.
Tapi ternyata Gerald langsung memanggilnya saat melihat Rianty yang akan menuju ke tangga dan naik lantai 2.
"Nona Rianty, bisa berbicara sebentar?"
Rianty langsung kaget dan jantungnya langsung berdetak kencang.
Ternyata Dita dan Ayu juga ikut kaget, mereka tidak menyangka kalau Riyanti mengenal pria yang menjadi perhatian mereka itu sejak tadi, karena selain tampan dan memiliki tubuh yang bagus, sudah pasti berasal dari keluarga kaya, kalau dilihat dari mobil dan pakaian yang digunakan pria itu.
Bahkan Dita dan Ayu merasa akhir-akhir ini Rianty beruntung sekali bisa mengenal pria kaya.
Maklum saja Dita dan Ayu memang penggemar drama bertema Cinderella.
"Ada yang bisa saya bantu tuan....?" Rianty merasa kebingungan menyebut nama Geraldo yang kebarat-baratan, memang Rianty kurang fasih kalau mengucapkan bahasa Inggris.
"Tuan Aldo", akhirnya Rianty memutuskan menyebutkan akhir nama Geraldo yang lebih menunjukkan nama Indonesia, dan membuat dia lebih mudah menyebutnya.
Gerald sempat tertegun mendengar panggilan Rianty, karena seumur dia sampai sekarang belum pernah ada yang menyebut namanya seperti itu.
Bahkan mungkin orang-orang sudah lupa kalau namanya Geraldo, karena semua orang selalu memanggilnya dengan panggilan Tuan Gerald.
"Wanita yang unik, pantas saja Devan tertarik dengannya!", pikir Gerald dalam hati.
Dengan terpaksa Rianty berjalan mendekati Gerald, rasanya tidak sopan kalau dia berdiri terlalu jauh dan juga menghindari kecurigaan Gerald. Rianty berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar-debar.
Hanya saja dia menyesalkan, mengapa dia terhindar dari Devan, malah bertemu dengan yang lebih menakutkan.
"Apa yang bisa saya bantu Tuan Aldo?", Rianty mengulang pertanyaannya kembali, karena dia bingung dan menjadi salah tingkah karena dari tadi Gerald hanya menatapnya tajam, dan tidak menjawab pertanyaannya.
Mencium wangi yang familiar dan melihat Rianty yang salah tingkah dan seperti menghindarinya, Gerald semakin curiga.
__ADS_1
"Apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?"
Bersambung........