Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Pindah ke mansion Anggara


__ADS_3

"Kapan kamu akan membawa Aldi tinggal di sini?", tanya Rini pada Gerald, ketika Gerald malam datang ke mansion Anggara untuk mengecek kamarnya dan kamar untuk Aldi.


"Besok Bu, makanya aku mau ngecek kamarku dan kamar Aldi sudah jadi belum?", sahut Gerald.


Gerald tidak memakai kamarnya yang dia tinggali dulu, karena kamarnya yang dulu besar tapi tidak berdampingan dengan kamar tidur yang lain.


Jadi Gerald memilih kamar yang ada dampingannya, jadi ke dua kamar itu bisa dibuat pintu tembusan.


"Sudah jadi, kenapa kamu begitu sibuk mengurus kamarmu, sementara sudah ada orang yang mengurusnya. Dulu waktu kamu menikah dengan Monica sama sekali kamu tidak mengurusnya, sekretaris mu yang urus semua!", omel Rini yang merasa kalau Gerald pilih kasih.


"Ah.. ibu kenapa harus bandingin sih, emang ibu gak suka kalau aku datang ke sini?", tanya Gerald kesal.


"Ibu hanya merasa kasihan pada Monica, karena kamu begitu perhatian pada Rianty, tapi sama sekali tidak memperhatikannya!", ujar Rini tidak puas dengan sikap Gerald.


"Kan Gerald sudah bilang ibu gak tahu Monica yang sebenarnya, jadi percuma saja ngomong sama ibu", sahut Gerald lagi.


Daripada diomelin terus, akhirnya Gerald memilih naik ke atas untuk melihat kamarnya.


Setelah mengecek dan tidak melihat adanya kekurangan apapun, Gerald berpikir untuk kembali ke mansion nya saja.


Sebetulnya tadi dia berpikir untuk tidur di sini saja, tapi daripada diomelin ibunya terus, akhirnya Gerald memutuskan untuk pulang ke mansion nya sendiri.


"Hfff, kalau ibu seperti ini terus, sepertinya bukan Rianty yang tidak betah tinggal di sini, Jangan-jangan aku yang gak betah tinggal di sini",


keluh Gerald dalam hati.


Sesudah berpamitan pada ayah dan ibunya, akhirnya Gerald memilih kembali ke mansionnya sendiri.


...********...


"Mami, kenapa kita harus tinggal bersama nenek? kenapa kita tidak tinggal bertiga saja?", tanya Aldi.


"Harusnya papa bisa membelikan kita rumah mi, kenapa harus tinggal di tempat nenek?", sambung Aldi lagi.


"Nenek dari dulu merindukan punya cucu, sepertinya nenek sangat menyukai Al, makanya nenek ingin kita tinggal bersama mereka. Gak masalah Al, semakin ramai kan semakin bagus. Al gak bakal kesepian lagi!", jawab Rianty sambil memasukkan pakaiannya dan pakaian Aldi ke dalam koper.


Rianty bisa menghibur Aldi, tapi dalam hatinya di juga sebenarnya merasa gentar juga tinggal di mansion Anggara, dia benar-benar tidak tahu akan bagaimana nasibnya tinggal di sana.


Rianty juga tidak tahu aturan-aturan di sana, dan sebenarnya yang membuat dia gentar adalah ibu Gerald yang tidak menyukainya.Belum lagi wanita di samping ibu Gerald, yang kelihatannya merupakan kepercayaan ibu Gerald, entah mengapa kelihatannya sangat membencinya.


"Tapi Al tidak suka sama nenek yang satu lagi, kelihatannya galak", sahut Aldi.


Mendengar perkataan Aldi, Rianty tersenyum,


"Ternyata Al merasakan hal yang sama denganku".

__ADS_1


"Gak pa pa Al, yang penting kan papa dan nenek sayang sama Al. Selama mereka sayang sama Al, tidak ada yang berani sama Al.


Jadi nanti kalau Al ketemu nenek, Al harus sopan dan menurut ya", nasehat Rianty.


"Baiklah mi", sahut Aldi akhirnya tidak mengajukan protes lagi.


Aldi juga sibuk memilih barang yang dia mau bawa.


Sebenarnya Gerald sudah memberitahu Rianty tidak perlu membawa apa-apa, karena semua sudah tersedia, selain pakaian.


Tapi Aldi tentu ingin membawa barang yang dia sayangi, jadi Rianty membiarkan Aldi memilih sendiri barang yang ingin dibawanya.


...********...


Keesokan sorenya sekitar jam empat, Gerald sudah muncul di depan toko roti Rianty.


Penandatanganan surat nikah sudah dilakukan tadi pagi, tapi karena Gerald ada masalah di perusahaan, akhirnya Gerald memutuskan untuk menjemput Rianty dan Aldi ke Mansion Anggara sesudah semua urusannya selesai, jadi sekalian pulang.


Gerald juga tidak ingin Rianty merasa canggung di Mansion, kalau dia membawa Rianty terlebih dulu ke Mansion, karena dia tahu ibunya tidak menyukai Rianty. Belum lagi ada si Lena yang suka mempengaruhi ibunya.


Rianty akan lebih aman bila bersamanya, pikir Gerald.


Rianty yang mendengar Gerald akan menjemputnya sore, tentu merasa senang, jadi dia masih ada kesempatan berada di toko rotinya lumayan lama.


Rianty juga sudah memberitahu Ayu dan Dita ada kemungkinan waktu dia berada di toko semakin berkurang, jadi dia mengharapkan Ayu dan Dita sudah bisa bekerja sendiri tanpa kehadirannya.


Ayu dan Dita sudah merasa senang karena Rianty tetap meneruskan usahanya walaupun sudah menikah dengan Gerald


"Ibu sudah dijemput Sultan Bu!", ujar Ayu begitu melihat mobil Gerald berhenti di depan toko.


"Koq cepat sekali?", sahut Rianty tanpa sadar.


"Mungkin sudah gak tahan ehem ehem Bu!", sahut Ayu tersenyum menggoda.


"Dasar otak kamu gak benar!", omel Rianty agak tersipu.


"Dasar si Ayu, omes! kamu harusnya segera dinikahkan saja!", ujar Dita ikut mengomel juga.


Pembicaraan mereka terhenti, ketika Gerald melangkah masuk ke dalam toko. Dita dan Ayu segera menyibukkan diri, bagaimanapun juga mereka merasa segan pada Gerald.


Rianty segera menghampiri Gerald,


"Berangkat sekarang ya mas? Mas Aldo urusannya sudah selesai?", tanya Rianty.


"Iya, sudah selesai dan tak ada hal penting lainnya lagi, jadi aku segera datang menjemputmu. Mumpung langit masih terang, jadi nanti aku bisa membawamu keliling mansion, agar kamu bisa lebih mengenal tempat tinggal barumu', sahut Gerald.

__ADS_1


"Baiklah mas, aku panggil Aldi dulu,


Aldi sedang mengerjakan tugas sekolah di atas, sekalian membawa barang yang mau dibawa ke sana".


"Ayo, aku bantu bawakan barangnya!", ujar Gerald mengikuti langkah Rianty menuju ke atas.


...********...


Di dalam mobil selama perjalanan menuju Mansion Anggara mereka bertiga jarang berbicara.


Aldi begitu menikmati duduk di samping Gerald, menikmati pemandangan selama perjalanan.


Sedangkan Rianty mengalah duduk di belakang, karena dia tahu Aldi suka duduk di depan.


Gerald yang mengendarai mobil terlihat konsentrasi memperhatikan jalan. Kadang-kadang Gerald menatap ke Rianty melalui spion, tanpa Rianty sadari.


Rianty selama ini berusaha tenang, tapi ternyata ketika harinya tiba, hatinya berdebar-debar tidak tenang. Tanpa sadar Rianty mer*m*s-r*m*s gaunnya sendiri.


Rianty tidak sadar kalau Gerald melihatnya dari kaca spion.


Ketika mereka sudah sampai di mansion, kedatangan mereka langsung disambut pelayan-pelayan yang menyapa hormat pada Gerald.


"Wah rumahnya besar sekali pa! Memang siapa saja sih yang tinggal di sini?", tanya Aldi kagum melihat mansion Anggara.


"Kakek, nenek, dan tentu nantinya kita tinggal di sini", sahut Gerald.


"Aldi mau berkeliling melihat-lihat pa!", ujar Aldi.


"Jangan Al, sebaiknya kita menemui kakek dan nenek dulu untuk memberi salam, nanti sesudah itu Al baru berkeliling gak pa pa", jawab Rianty mewakili Gerald.


"Iya mi, Al jadi lupa", sahut Aldi tertawa malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Gerald hanya tersenyum mendengar percakapan Rianty dan Aldi.


"Kelihatannya Rianty sangat tenang menghadapi situasi ini, tapi aku yakin sebetulnya hatinya sedang cemas".


karena sejak tadi sudah beberapa kali Gerald melihat Rianty mer*m*s-r*m*s gaunnya sendiri.


Rianty tidak menyangka, tiba-tiba saja Gerald menggenggam tangannya, "Jangan takut ada aku!" ujar Gerald berbisik di telinga Rianty.


Rianty sempat tertegun, dia tidak menyangka Gerald bisa tahu isi hatinya.


Tetapi sesudah itu Rianty cepat-cepat menarik tangannya dari Gerald, karena dia sadar banyak yang melihat tingkah laku Gerald.


"Jangan begitu mas, banyak orang!" tegur Rianty berbisik juga, karena takut terdengar.

__ADS_1


Apalagi Rianty melihat Lena yang berdiri di dekat pohon itu, menatap tajam ke arahnya penuh kebencian.


Bersambung........


__ADS_2