
"Kamu masih begitu muda, tapi sudah mengalami banyak cobaan dalam hidupmu. Mengapa waktu kamu hamil, tidak datang meminta tanggung jawab padaku? Andai kamu dari dulu mendatangiku, tentu kita sudah bertemu sejak dulu. Kita tidak akan kehilangan waktu bersama yang begitu lama", ujar Gerald menyesalkan pertemuannya yang terlambat dan prihatin pada perjalanan hidup Rianty.
"Aku takut mas, lagi pula kita sangat berbeda, aku tidak pernah berpikir kalau mas Aldo akan menikahi aku. Apakah mas Aldo bersedia menikahi setiap wanita yang hamil anak mas Aldo?", tanya Rianty kelepasan, karena Rianty selalu mengira kalau Gerald mempunyai hubungan dengan banyak perempuan.
Mendengar perkataan Rianty, Gerald tentu marah. Gerald langsung mencengkram kedua lengan Rianty, dan menatap tajam ke Rianty yang masih ada di pangkuannya,
"Memang apa yang kamu pikirkan tentang aku, Rianty? Memang kamu pikir aku suka berhubungan dengan banyak wanita?", tanya Gerald marah.
"Maaf mas, aku...", Rianty kebingungan menjawab, dan menyesali sudah kelepasan bicara.
"Aduh mulutku ini, koq bisa kelepasan bicara sih!", Rianty mengomeli dirinya sendiri dalam hati.
"Tapi bukankah mas Aldo seperti itu, kalau tidak untuk apa dulu dia membeli aku, walaupun sudah beristri?", pikir Rianty lagi membenarkan dirinya sendiri.
Akhirnya Rianty memberanikan diri menjawab dan menatap ke Gerald,
"Karena mas Aldo membeli ku, jadi aku berpikir hal itu sudah biasa buat mas Aldo".
Setelah menjawab, akhirnya Rianty menunduk lagi.
"Ah, apa salahku sih? Aku kan hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Koq aku gak berani menatap ke mas Aldo?", keluh Rianty dalam hati.
"Bukankah aku sudah pernah bertanya padamu, sebenarnya kamu bekerja sama dengan siapa, hingga kamu bisa berada di kamarku! Dan siapa yang sudah memberikan obat padaku hingga aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri!", ujar Gerald mengangkat dagu Rianty.
"Saat pertama kali aku bertanya padamu, kamu menangis membuatku tidak tega. Saat itu aku berpikir aku akan menyudahi masalah itu, kalaupun kamu dulu sudah menjebak ku, aku tetap akan menyudahi masalah itu, karena saat itu aku sudah tertarik padamu", sambung Gerald lagi.
Tentu Rianty senang mendengar perkataan Gerald, ternyata Gerald bukanlah seorang Casanova seperti yang dipikirkannya selama ini.
Karena Rianty tahu kalau dalam hatinya dia sudah mencintai Gerald.
Jadi selama ini dia hanya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada.
Tanpa sadar mata Rianty berkaca-kaca karena bahagia.
"Maafkan aku mas, waktu itu aku masih tidak pengalaman dalam hidup, aku tidak mengerti apa-apa".
"Ya sudah, mulai sekarang bila ada yang menjadi ganjalan buat kamu, langsung tanya saja padaku. Jangan suka menduga yang tidak-tidak!", ujar Gerald akhirnya tidak marah lagi, apalagi setelah melihat Rianty yang seperti sudah mau menangis, tentu Gerald tidak bisa marah lagi.
"Tujuh tahun yang lalu Rianty baru berusia 18 tahun, jarak usia Rianty denganku 10 tahun, tentu pikirannya masih labil, apalagi dia baru datang dari desa, masih polos dan tidak berpengalaman", pikir Gerald dalam hati memaklumi dan juga merasa kasihan pada Rianty yang sudah mengalami banyak masalah di usianya yang masih terhitung muda, sambil memandang wajah cantik di depannya.
__ADS_1
"Iya mas", sahut Rianty
Rianty yang merasa Gerald yang selalu perhatian dan menyayangi dirinya, akhirnya kali ini memberanikan diri dan berinisiatif menabrakkan bibirnya pada bibir Gerald dan langsung mengalungkan tangannya kembali pada leher Gerald.
Gerald tentu merasa senang dan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Dasar, kaku banget sih, harus sering aku latih!", omel Gerald dalam hati, tapi merasa senang.
Gerald langsung m*l*m*t bibir Rianty, bahkan Rianty tidak diberi kesempatan menarik nafas.
Tapi acara itu harus terhenti, ketika terdengar pintu tembusan dibuka dan terdengar Aldi yang memanggil Rianty.
Rianty segera mendorong dada Gerald, dan bangun dari pangkuan Gerald, berusaha mengatur nafasnya yg tersengal-sengal.
"Heran, selalu datang tidak tepat waktu!", keluh Gerald dalam hati.
"Pokoknya aku gak mau tahu, nanti malam kalau Aldi sudah tidur, kamu harus ke kamar ku! Harus menyelesaikan yang terputus!", ujar Gerald sebelum Rianty pergi.
Rianty hanya tersenyum dan mengangguk tersipu, segera menuju ke Aldi.
Sepeninggal Rianty, Gerald baru teringat hal yang ingin ditanyakan,
"Kenapa sih setiap dekat Rianty membuatku terbius dan lupa hal penting yang ingin kutanyakan.
...********...
Jam 8 pagi Gerald sudah berada di ruang kantornya. Karena hari ini dia mengantar Aldi ke sekolah dan Rianty ke toko rotinya.
Tampak wajah Gerald yang cerah walaupun tanpa senyum, karena Gerald merasa saat ini dia adalah. orang yang paling bahagia, karena Rianty yang menuruti keinginannya dan melayani dia dengan telaten.
Gerald tersenyum sendiri teringat, setelah Aldi tidur, Rianty muncul di kamarnya dengan pipi merona, dan langsung tidur di samping nya dengan tubuh tegang, sepertinya Rianty masih suka merasa malu padanya.
Tentu saja Gerald tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sebentar saja Rianty sudah berada dalam pelukannya, sedangkan Rianty hanya memasrahkan tubuhnya pada Gerald.
Selanjutnya tidak ada kata-kata yang terucap, yang terdengar hanya d**ah*n dan nafas memburu di kamar mereka.
Setelah itu, Rianty juga tidak langsung kembali ke kamar Aldi, Rianty membiarkan Gerald memeluk tubuhnya dan sama sekali tidak mengajukan protes seperti biasa, bahkan Rianty membalas memeluk pinggang Gerald dan menyembunyikan wajahnya di dada Gerald.
Gerald tentu bertambah senang mendapati Rianty yang semakin bertambah manja padanya.
__ADS_1
Sesudah itu Gerald tertidur pulas, entah jam berapa Rianty kembali ke kamar Aldi, karena saat Gerald bangun Rianty sudah tidak ada di sampingnya.
Rianty kembali lagi saat membantunya menyiapkan baju dan memasangkan dasi untuk nya
"Huh aku harus bikin kesepakatan dengan Aldi, agar Rianty tidur di kamar ku. Kali ini aku harus serius memikirkan caranya!", pikir Gerald yang dari tadi duduk di kursi kebesaran nya melamun.
...********...
Sayangnya belum sempat memikirkan hal itu, sekretaris Kim masuk ke ruangan nya dan memberitahukan sebuah kabar yang mengejutkan.
Gerald yang dari tadi pagi berada dalam suasana bahagia langsung berubah seketika begitu melihat kabar yang terpampang di internet disertai rekaman video.
"Kapan kejadian itu?", tanya Gerald.
"kejadiannya baru kemaren, sepertinya yang menaruh berita ini sengaja ingin memalukan Tuan dan nona Rianty, Tuan Gerald!", sahut sekretaris Kim.
"Pantas saja sikap Rianty agak aneh kemaren, Kenapa Rianty tidak menceritakan padaku?", sesal Gerald
"Saya kan sudah bilang, walaupun tuan menyukai nona Rianty, Tuan tetap harus waspada, takutnya Rianty dulu juga terlibat tuan!", ujar sekretaris Kim mengingatkan Gerald.
"Rianty tidak terlibat Kim! Rianty cuman korbannya! Mengapa orang yang menyebarkan berita ini bisa mengambil video Rianty yang sedang bertengkar dengan bapaknya? pasti ini sudah direncanakan! sepertinya ada yang mau mencelakai Rianty!", ujar Gerald membela Rianty.
"Iya memang ada yang berniat tidak baik pada nona Rianty. Tapi coba tuan lebih perhatikan lagi di video ini! Di sini ada menyebutkan nama pamannya Rianty yang sepertinya terlibat. Karena Rianty ada berkata pamannya yang bernama Dodi itu ada memberikan uang pada bapaknya!" ujar sekretaris Kim.
"Benar juga katamu! Kamu benar-benar teliti Kim!", puji Gerald.
"Sebetulnya tuan biasanya juga sangat teliti, tapi sejak tuan jatuh cinta, banyak sifat tuan yang sudah berubah!", pikir sekretaris Kim hanya dalam hati.
Bersambung.......
...Dear readers tersayang,...
...Jangan lupa terus dukung Author dengan like👍 dan comment....
...Vote dan hadiah🌹🍵 tentu tidak ditolak 🤗🤣🤣, bahkan membuat author semakin semangat💪💪....
...Jangan lupa juga pencet favorit ❤️, agar selalu mendapat notifikasi, sekalian follow author ya😘😘...
** maaf akhir-akhir ini sering slow up, karena author disibukkan kegiatan anak-anak menjelang akhir tahun.
__ADS_1
Buat yang suka cerita time travel dan cerita lucu, bisa mampir ke cerita yang satu ini, dijamin bakal mengocok perut