
"Huh, mau nunjukin ke aku kalau dia kesayangan Tuan muda? Dia pikir aku akan takut sama dia kalau dia disayang tuan muda? jangan mimpi kamu perempuan kampung!
Sok mesra-mesraan sama tuan muda di depanku", gerutu Lena dalam hati.
Hatinya menjadi panas saat melihat Gerald dan Rianty yang kelihatan mesra, bisik-bisikan, menurut pandangannya.
Belum lagi tadi melihat Gerald yang tanpa sebab menggenggam tangan Rianty.
Karena pikirannya yang negatif pada Rianty akhirnya dia menganggap Rianty memanasinya, dan hendak menunjukan ke orang-orang kalau dia adalah kesayangan Gerald.
Gerald yang melihat Lena, merasa aneh, karena biasanya asisten ibunya ini selalu menempel dengan ibunya.
"Di mana ibuku?", tanya Gerald yang menghampiri Lena, sedangkan Rianty mengekor di belakang Gerald.
Aldi mengikuti di belakang, tetapi dari tadi Aldi sibuk melihat ke kanan dan ke kiri, sepertinya dia kagum dengan mansion Anggara yang sangat luas itu dan terawat rapi itu.
"Nyonya sedang menemani tuan di dalam, dan sudah menunggu tuan muda dan tuan muda Aldi dari tadi", sahut Lena.
"Sebaiknya tuan muda segera masuk ke dalam", sambung Lena lagi.
"Baiklah", sahut Gerald, sesudah itu menengok ke belakang,
"Ayo Rianty, Aldi kita masuk ke dalam dulu!", ajak Gerald.
Belum sempat Rianty menjawab, Lena langsung memotongnya,
"Maaf tuan, Nyonya memintaku untuk membawa nona Rianty berkeliling mansion agar bisa lebih mengenal pelayan-pelayan di sini dan tahu keadaan mansion", ujar Lena.
"Tidak usah, nanti aku saja. Aku akan membawanya sendiri, sekalian bersama Aldi", sahut Gerald langsung tidak setuju.
"Tetapi sepertinya ada yang mau nyonya bicarakan dengan tuan muda", sahut Lena seakan memberi tanda kalau Rianty tidak boleh ikut mendengar pembicaraan ibu Gerald dengan Gerald.
"Rianty adalah istriku, apa yang ibu ingin bicarakan tidak masalah jika didengar Rianty", sahut Gerald mulai emosi, karena Gerald pada dasarnya tidak menyukai Lena.
"Tuan jangan menyulitkan saya,. saya hanya menjalankan perintah nyonya", sahut Lena tetap pada pendiriannya.
"Perintah nyonya? tapi kan otaknya kamu! Jangan membuat aku marah Lena!", ujar Gerald yang langsung menyebut nama Lena tanpa embel-embel, karena emosi.
__ADS_1
Rianty yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya menarik tangan Gerald,
"Gak pa pa mas, aku ikut Bu Lena saja, sekalian melihat-lihat dan mengenal orang-orang di sini. Juga gak enak, kalau satu tempat tinggal gak tahu namanya", ujar Rianty menatap Gerald memohon.
"Sungguh perasaanku tidak enak, baru saja datang, sudah membuat mas Aldo dan kepercayaan ibunya adu mulut, nanti aku kena cap bawa sial lagi", pikir Rianty dalam hati cemas.
Gerald terdiam menatap lekat ke Rianty, sebenarnya dia tetap tidak setuju, karena dia yakin kalau Lena itu tidak berniat baik.
"Kenapa aku selalu tidak berdaya setiap Rianty memohon padaku?", pikir Gerald dalam hati bingung dengan perasaannya sendiri, yang akhirnya membuat Gerald hanya bisa menghela nafas dan mengangguk setuju.
"Al gak mau! Al maunya sama mami!", malah sekarang Aldi juga ikut keberatan.
Rianty segera menghampiri Aldi dan membujuk Aldi,
"Al kan ada papa yang temenin, nanti kalau mami sudah sudah mengenal keadaan di sini, mami kan bisa bawa Al jalan-jalan. Lagipula Al kan sudah janji mau nurut sama nenek."
"Baiklah, Al nurut sama mami. Mami yakin gak pa pa sendirian?", tanya Aldi menatap curiga ke Lena.
"Iya gak pa pa Al. Nah gitu dong!", sahut Rianty, segera mengecup pipi Al, karena sudah menjadi kebiasaan sejak Al kecil, setiap Aldi menurut, Rianty selalu menghadiahkan ciuman di pipi.
"Huh kamu pikir cari muka sama aku, aku bisa suka padamu? yang namanya pelakor tetap pelakor, jahat! gak usah sok baik. Orang lain bisa tertipu oleh kamu, aku tidak!"
Sedangkan Gerald dari tadi memperhatikan tingkah laku Rianty, dan dia tiba-tiba sadar kalau Rianty mengecup Aldi karena Aldi menurut.
Tiba-tiba Gerald berpikir ingin memanasi Lena, dan menggoda Rianty, tapi tentu tidak akan menolak kalau diberi.
"Lho si Al nurut dikasih ciuman di pipi, kenapa bapaknya gak dapat ya?", tanya Gerald menatap ke Rianty.
Lena langsung menatap tak percaya ke Gerald, setahunya selama ini tuan mudanya selalu serius dan berwibawa.
Bahkan sejak dulu tidak pernah menggoda wanita mana pun.
Tapi mengapa Gerald sifatnya bisa berbeda sekali saat bersama Rianty.
"Ah..sepertinya tuan muda sudah tergila-gila pada wanita kampung ini, sampai tidak bisa menjaga wibawanya. Sungguh kasihan Monica, mengapa bisa kalah dengan seorang gadis kampung yang cuman lulusan SMP ini!", pikir Lena merasa prihatin pada Monica.
Lena bahkan sudah lupa kalau dia dulu juga dibuang kekasihnya, karena kekasihnya lebih tertarik pada wanita lain.
__ADS_1
Hal yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk hidup sendiri.
Sedangkan Rianty yang tidak menyangka kalau Gerald akan menyelak dengan pertanyaan tidak penting, menjadi terdiam dan tidak bisa menjawab apa-apa, juga membuat wajahnya memerah, karena malu.
Untung ada Aldi yang mewakili Rianty menjawab.
"Papa koq bisa sama ya pertanyaannya sama Al? Al juga pernah bertanya pada mami hal yang sama, mami bilang, papa gak dapat, karena papa sudah besar, kalau Al kan masih kecil.
Makanya kalau papa mau, bisa gak papa jadi kecil lagi, hahaha!", sahut Aldi menertawakan Gerald karena dia merasa menang.
"Papa gak bisa jadi kecil lagi kan?", sambung Aldi masih tertawa senang berhasil mengejek Gerald.
Rianty akhirnya tersenyum juga melihat kelakuan Aldi, setidaknya Aldi sudah berhasil menolongnya keluar dari suasana kaku dan memalukan karena pertanyaan Gerald yang tidak pada tempatnya.
"Huh gak lucu!" gerutu Lena dalam hati makin merasa kesal melihat kebahagiaan ketiga orang itu.
...********...
"Ayo ikuti saya, saya akan menunjukkan anda tempat-tempat di mansion ini, juga mengenalkan beberapa pelayan di sini!", ujar Lena tegas dan agak ketus, sesudah bayangan Gerald dan Aldi menghilang.
"Baik Bu Lena", sahut Rianty sopan, dan mengikuti langkah Lena.
Ketika mereka sampai suatu tempat yang ada Gazebo nya, terlihat beberapa pelayan yang sedang duduk mengobrol, begitu melihat kedatangan Lena dan Rianty para pelayan yang tadinya terlihat sedang santai mengobrol, langsung bangun dan berdiri tegang.
Rianty memandang ke para pelayan yang terlihat masih muda hampir seumuran dengan Dita dan Ayu, sambil mengembangkan senyum ramah.
"Sepertinya para pelayan muda itu begitu takut pada Bu Lena.
Aku harus lebih berhati-hati dengan Bu Lena kelihatannya orangnya kaku dan tegas!", pikir Rianty dalam hati.
"Ini adalah Bu Rianty, istri kedua Pak Gerald", ujar Lena yang menekankan kata kedua dengan sengaja saat mengenalkan Rianty.
"Jadi kalian harus membedakan kalau memanggil bu Monica dan Bu Rianty.
Kalau Bu Monica kalian cukup memanggilnya nyonya muda, kalau Bu Rianty kalian harus memanggilnya nyonya muda kedua untuk membedakannya", ujar Lena yang ingin merendahkan status Rianty.
"Status tidak penting bagiku, yang penting aku bisa bersama Aldi selalu", pikir Rianty menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kalau kalian diperintahkan oleh nyonya muda kedua membantunya, kalian tetap memerlukan ijin dariku! Mengerti? Semua ini perintah Nyonya Rini, saya hanya mewakilinya saja", Ujar Lena tersenyum puas, dengan begitu dia ingin menyampaikan kalau Rianty di Mansion Anggara sama sekali tidak mempunyai kekuasaan. Hanya statusnya saja yang nyonya muda, itupun cuman nyonya muda kedua!
Bersambung.........