Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Monica yang dendam


__ADS_3

"Katamu kamu bisa menemukan ayah Rianty yang pemabuk dan penjudi itu! Mana ? Aku sudah memberikan uang padamu, tapi kenapa sampai sekarang belum kau bawa juga?", tanya Monica yang sejak pulang dari Mansion Anggara marah-marah.


Monica langsung teringat rencana jahatnya lagi, ingin membuat Rianty malu, dan kalau bisa akan membuat Gerald tidak suka pada Rianty.


Monica iri pada Rianty yang sudah mendapatkan hati Gerald.


Monica adalah perempuan egois dan mau menang sendiri, karena dia tidak bisa mendapatkan hati Gerald, dia juga ingin Rianty juga bernasib sama sepertinya, karena dia tidak mau kalah dari Rianty yang hanya perempuan desa.


"Sabar nona, saya akan menemukannya segera. Tapi nona janji ya, nona sendiri yang membuat perjanjian dengan ayah Rianty ya? saya gak bisa ikutan, karena saya masih sekampung dengan mereka. Saya takutnya nanti ayah Rianty akan mencariku terus dan minta uang. Kalau dengan nona kan dia tidak berani karena tidak kenal", ujar Dodi meyakinkan sekali lagi.


Dody tentu takut ketahuan kalau ayah Rianty adalah kakaknya sendiri, dan Rianty adalah keponakannya. Jadi Dodi beralasan takut dimintai uang terus, kalau dia yang bertemu.


Sebetulnya waktu dia mengusulkan hal itu, Dodi kelepasan dan sudah menyesal karena tidak berpikir panjang dan terlalu beresiko buat dia.


Tapi karena sudah kelepasan, terpaksa Dodi tetap menjalankan misi itu, apalagi saat itu Monica langsung mentransfer uang dalam jumlah yang lumayan banyak untuk misi itu, juga kebetulan dia sedang butuh uang untuk membiayai anak bungsunya yang baru lulus SMA, untuk masuk ke Universitas.


"Kamu koq bawel sekali sih Dodi? Pakai harus buat perjanjian dengan aku! Apa sih yang aku takuti? kalau kamu tidak berani ketemu ayah Rianty, aku sendiri yang akan menemuinya! Baiklah aku janji tidak akan melibatkan mu!" ujar Monica berjanji.


"Huh janji nya seorang perempuan kan tidak harus ditepati, aku kan bukan laki-laki", pikir Monica mentertawakan Dodi dalam hati.


Mendengar janji Monica, Dodi langsung menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan alamat pada Monica.


Ternyata Dodi sudah tahu tempat ayah Rianty, tapi dia ragu untuk memberitahu Monica, tapi setelah Monica berjanji tidak akan melibatkannya, diapun segera menyerahkan alamatnya.


"Awas ya kamu Dodi, coba main-main sama aku", pikir Monica hanya dalam hati, tidak mengatakannya langsung, karena dia merasa masih membutuhkan bantuan Dodi.


...********...


Setelah Dodi keluar dari ruangan Monica, Patrick yang dari tadi ikut mendengarkan pembicaraan Monica, menghampiri Monica.


"Buat apa kamu mencelakakan perempuan itu?, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, apalagi kamu sudah tahu Tuan Gerald sekarang menyayanginya!", nasehat Patrick yang sebenarnya tidak setuju dengan rencana Monica.


"Apalagi kata mu kalau Gerald murka bahaya. Bagaimana kalau sampai dia marah karena kamu menyusahkan kesayangannya?", sambung Patrick yang khawatir.


"Aku tidak bodoh, yang penting jangan sampai ketahuan Gerald kalau aku terlibat.Justru semakin Gerald sayang padanya, semakin ingin aku mencelakakannya!", sahut Monica dengan suara penuh dendam.


"Apakah kamu masih mencintai Gerald?", tanya Patrick penasaran.

__ADS_1


"Dulu iya, aku sangat mencintai Gerald. Tapi sekarang aku hanya tidak ingin melihat Gerald bahagia di atas penderitaan ku!", ujar Monica.


"Sebaiknya sudahi saja dendam mu, bukankah lebih baik kamu bercerai dari Gerald dan menikah denganku", ujar Patrick yang benar-benar mencintai Monica.


Karena cintanya itulah Patrick selalu menuruti Monica dan selalu membantu Monica.


"Aku sudah bilang padamu, kamu jangan pernah menuntut padaku. Nikmati saja hubungan kita sekarang ini, aku tidak mungkin menikah denganmu", sahut Monica.


"Apakah karena asal keluargaku?", tanya Patrick yang mulai merasa tidak puas pada Monica, yang hanya ingin bersenang-senang dengannya saja.


"Sudahlah Patrick jangan membicarakan masalah tidak menyenangkan lagi, aku benar-benar capek!", ujar Monica yang langsung merayu Patrick dengan memberikan ciuman panas.


Itulah kelemahan Patrick, begitu Monica merayu, Patrick langsung lupa dengan segala rasa tidak puasnya, apalagi rayuan Monica berlanjut ke tempat tidur!


...*******...


Rianty benar-benar kewalahan menghadapi Gerald yang sedang jatuh cinta.


Ketika jam makan dan mereka turun ke bawah, Gerald langsung memeluk bahunya dan berjalan di sampingnya.


Rianty yang berharap Aldi protes dengan tingkah Gerald, hanya bisa pasrah saja ketika melihat Aldi malah meninggalkannya.


"Gak pa pa deh, papa bermanja-manja sama mami sekarang, yang penting kalau malam mami tidur menemaniku.Jadi biar adil", pikir Aldi, karena dia tidak tahu rencana Gerald yang menculik maminya di tengah malam.


Ternyata kekhawatiran Rianty benar juga, begitu sampai di bawah tangga, mereka bertemu dengan Lena, Lena mendengus kesal dan menatap tajam ke Rianty.


"Dasar gak malu, mesra-mesraan biar semua orang tahu dia kesayangan tuan muda".


Untung nya sesudah itu Gerald melepaskan pelukannya dan hanya menarik Rianty mengikutinya ke ruang makan.


Rianty pun bisa menarik nafas lega, karena sesudah itu Gerald tidak melakukan apa-apa lagi yang menarik perhatian, Gerald terlihat tenang menikmati makanannya, hanya kadang saja mencuri pandang ke Rianty.


Kali ini Gerald yang lebih dulu ijin mengundurkan diri setelah selesai makan, tapi tentu saja membawa serta Aldi dan Rianty juga.


Rini yang ingin membicarakan masalah kedatangan ibu Monica dengan Gerald terpaksa menahan diri dulu, karena ada Aldi bersama mereka.


"Sebaiknya nanti saja setelah Aldi tidur, baru aku bicarakan dengan Gerald", pikir ibu Rini.

__ADS_1


...********...


"Papa ingin mendengarkan Aldi main gitar, mau ya Al", tanya Gerald yang ikut berkumpul di kamar Aldi.


"Baiklah pa", sahut Aldi langsung berjalan mengambil gitarnya.


Sesudah itu Aldi duduk di atas kursi dan mulai memainkan gitar mendendangkan lagu-lagu yang lumayan populer.


Rianty yang duduk dia atas kasur tersenyum bangga melihat tangan lincah Al yang memainkan gitar.


Senyum Rianty langsung hilang,dan berganti jantungnya berdebar-debar ketika Gerald duduk di sampingnya dan memeluknya kembali sambil memperhatikan Aldi yang bermain gitar.


Karena seharian ini Gerald begitu memperhatikannya dan selalu bersikap mesra padanya, akhirnya tanpa sadar Rianty terbawa suasana menyenderkan kepalanya di bahu Gerald sambil memperhatikan Al yang bermain gitar.


Tentu saja Gerald merasa senang melihat Rianty yang sudah mulai dekat dengannya dan sudah mulai mau bercerita padanya, tidak seperti pertama kali, yang selalu terlihat segan dan tegang setiap Gerald mendekatinya.


Gerald benar-benar merasa senang dengan kemajuan hubungannya dengan Rianty.


Ketika selesai memainkan gitar, Gerald bertepuk tangan.


"Al benar-benar hebat", puji Gerald.


"Sebenarnya papa sudah membuat studio buat Aldi di rumah kita, tapi sayangnya nenek ingin kita tinggal bersama!", ujar Gerald.


"Gak pa pa, Al juga senang tinggal di sini, bisa menghibur kakek yang sedang sakit".


"Wah Al benar-benar anak yang pengertian. Papa bangga punya anak seperti Al!", puji Gerald.


"Bagaimana kalau besok kita mampir ke rumah yang sudah papa beli itu. Jadi Al bisa sekalian lihat studionya Al", ajak Gerald.


"Mau pa!", sahut Aldi dengan cepat,


karena mendengar ada studionya.


Apalagi Gerald berkata kalau studio itu dibuat untuknya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2