Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Hubungan yang semakin membaik


__ADS_3

Begitu sampai di kamar, Rianty melihat Gerald sedang santai duduk di kursi sofa, sepertinya sedang menunggunya.


Rianty berjalan terburu-buru karena mengira tadi siang saat Gerald menelponnya marah, Rianty takut Gerald akan bertambah marah kalau menunggunya terlalu lama.


Rianty selalu teringat dengan pamannya yang sepertinya begitu takut pada Gerald, hal tersebut akhirnya membuat Rianty mengambil kesimpulan kalau Gerald memiliki tabiat yang buruk.


Apalagi Gerald berasal dari keluarga kaya dan berkuasa.


Sedangkan prinsip Rianty dalam hidupnya, adalah sebisa mungkin dia harus menghindari masalah.


Rianty segera menghampiri Gerald dan menaruh pisang molen buatannya di atas meja yang berada di samping Gerald.


"Mas Aldo mencariku, ada apa?", tanya Rianty.


Dada Rianty masih terlihat naik turun, karena tadi dia berjalan tergesa-gesa dan letak dapur ke kamarnya memang lumayan jauh.


"Kamu kelihatan capek, mengapa tidak istirahat saja, malah ke dapur.


Di dapur kan sudah ada orang!", tegur Gerald.


"Aku gak capek koq mas, ini gara-gara aku tadi jalan cepat-cepat dan lumayan jauh", sahut Rianty tersenyum.


"Mengapa kamu harus terburu-buru?", tanya Gerald lagi.


"Takutnya mas Aldo menungguku terlalu lama", sahut Rianty.


Gerald menatap sejenak ke Rianty, setelah itu dengan tiba-tiba menarik tangan Rianty agar Rianty duduk di pangkuannya.


"Mas aku belum mandi dan baru dari dapur", ujar Rianty yang merasa risih dengan perlakuan mesra Gerald.


Rianty tidak berani terang-terangan menolak Gerald, bagaimanapun juga sekarang status Gerald adalah suaminya, jadi dia mencari alasan yang tepat.


"Memang kenapa kalau dari dapur?Kamu takut aku sedang lapar dan akan memakan mu sampai habis, karena kamu bau kue?", tanya Gerald yang teringat omongan Aldi, dan menatap Rianty penuh arti.


"Dasar Al, hal seperti itu saja diceritakan ke papanya", sungut Rianty dalam hati.


"Aku hanya bercanda dengan Al", sahut Rianty akhirnya, tersipu malu.


"Tapi aku tidak bercanda denganmu!

__ADS_1


Aku sedang lapar dan ingin memakan mu!", sahut Gerald memandang ke Rianty dengan lekat, bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada Rianty yang berada di pangkuannya.


Mendengar perkataan Gerald, Rianty langsung terdiam dan tidak bisa menjawab.


Walaupun tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, Rianty tentu mengerti maksud perkataan Gerald.


Melihat Rianty yang tertegun, tentu Gerald tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, perlahan Gerald meyelusuri leher Rianty dengan bibirnya. "Bolehkah?",bisik Gerald di telinga Rianty.


"Mengapa dia harus bertanya padaku? bagaimana aku harus menjawabnya? Aku sudah menjadi istrinya, tentu itu sudah menjadi haknya dia", pikir Rianty malu dan yang jelas jantungnya berdebar-debar, bahkan dia merasa sulit bersuara.


Rianty akhirnya hanya mengangguk pasrah.


Melihat anggukan Rianty, Gerald tersenyum puas, langsung me*um*t bibir Rianty yang masih berada dalam pangkuannya.


Setelah itu Gerald bangun dari tempat duduknya, menggendong Rianty menuju tempat tidur mereka, dan sama sekali tidak melepas tautan bibirnya.


Kejadian 7 tahun yang lalu terulang kembali, tapi kali ini tentu lebih indah, mereka sudah diikat pernikahan, bukan karena transaksi, bukan karena pengaruh obat, kali ini karena Gerald yang sudah mencintai Rianty, dan dalam hati Rianty juga mulai tumbuh perasaan cinta pada Gerald.


...********...


"Bu Rini, dulu aku menyerahkan Monica ke keluarga Anggara, karena Bu Rini berjanji akan memperlakukan Monica dengan baik. Bagaimana sekarang ibu mengijinkan Gerald menikah lagi?", tanya Mirna yang sore itu mendatangi kediaman Anggara karena rasa tidak puasnya, karena merasa anaknya sudah tidak diperlakukan dengan tidak adil.


"Iya Bu Mirna, anak kalau sudah dewasa tidak bisa kita atur lagi, Gerald mana mungkin mau mendengarkan ku", sahut Rini membela diri.


Rini memang kurang pandai bicara, jadi tentu dia kalah dengan Mirna yang memang pintar berdebat.


"Lagipula dengan perempuan itu dia sudah mempunyai anak. Aku mana bisa mencegahnya lagi!", ujar Rini lagi membela diri.


"Oh jadi maksud Bu Rini, mau menyalahkan Monica yang belum mempunyai anak?", tanya Mirna malah bertambah marah.


"Tapi Nyonya Rini sudah berusaha mencegah pernikahan itu, tapi Gerald tidak bisa dicegah. Lagipula Nona Monica sendiri juga sudah mengijinkan", ujar Lena membela Rini yang tersudut.


"Kamu cuman asisten di keluarga Anggara, apa hak mu ikut campur urusan keluarga Anggara dan Anderson?", sahut Mirna ketus.


"Jangan menyalahkan Monica. Bagaimana Monica bisa punya anak, kalau Gerald pulangnya ke Mansion Anggara terus, sedangkan Gerald tidak pernah pulang ke tempat Monica", sambung Mirna lagi.


"Ternyata ibu Monica suka melebih-lebihkan masalah. Rianty tinggal di sini baru 2 hari saja, koq dia sudah bisa ngomong kalau Gerald tidak pernah pulang ke Monica, dulu belum ada Rianty juga bertahun-tahun tidak punya anak", pikir Rini dalam hati, karena mulai kesal dari tadi dipojokkan terus.


"Baiklah Bu Mirna, nanti saya akan bicarakan dengan Gerald agar dia mau berlaku adil pada Monica", ujar Rini akhirnya mengalah, agar perdebatan itu segera berakhir.

__ADS_1


"Iya ma, ayo kita pulang saja sekarang, ibu selalu baik padaku dan pasti membantu aku!", ujar Monica membela Rini lagi.


Sebenarnya Monica bukan hendak membela Rini, tapi waktu datang dia sudah melihat mobil Gerald, dia tidak ingin ibunya bertemu dengan Gerald, karena dia yakin Gerald pasti akan bersikukuh cerai dengannya, kalau ibunya menekan Gerald terus.


Untung saja Mirna kali ini menurut, Monica pun segera membawa ibunya pergi sesudah berpamitan dengan Rini.


Tapi begitu sampai di mobil, Monica benar-benar kesal dengan Gerald


"Kurang ajar si Gerald, begitu perempuan kampung itu tinggal di sana, dia pulangnya cepat banget.


Daya pikat perempuan kampung itu benar-benar hebat, sampai si Gerald bisa nempel terus, huh!", omel Monica dalam hati, semakin iri dan dendam kepada Rianty.


...*******...


Rianty sudah berada di kamar Aldi sejak tadi. Setelah kejadian tadi, Rianty segera kembali ke kamar Aldi.


Selesai mandi, karena Aldi belum bangun, Rianty duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya, tapi pikirannya melayang ke Gerald lagi, tanpa sadar Rianty tersenyum mengingat sikap Gerald yang seperti anak-anak, menurutnya.


Gerald yang sedang dimabuk cinta tentu tidak rela, dia merasa belum puas memeluk Rianty, Rianty sudah mau kembali ke kamar.


"Takutnya Aldi sudah mau bangun mas", ujar Rianty memberikan alasan dan berusaha melepaskan pelukan Gerald.


Lagipula Rianty juga masih merasa malu dan salah tingkah.


"Aku gak mau tahu, kamu harus kasih pengertian sama Aldi, kalau kamu tidur dengan aku!", ujar Gerald kesal.


"Kan mas Aldo sendiri yang bikin janji sama Aldi", protes Rianty yang sudah berhasil menyingkirkan tangan Gerald dan duduk di atas kasur merapikan bajunya yang kusut.


Rianty sama sekali tidak melihat ke Gerald, karena dia masih merasa malu apalagi Gerald masih bertelanjang dada.


Begitu melihat Rianty duduk, Gerald juga ikut bangun, dan memeluk pinggang Rianty kembali dari belakang.


Rianty kali ini benar-benar kewalahan menghadapi sikap Gerald.


"Mas, lepasin. Aku mau kembali ke kamar Aldi, biasanya Aldi sudah mau bangun!", ujar Rianty.


"Masak setiap malam aku harus menculik kamu dari kamar Aldi. Padahal kamu kan adalah milikku!", sungut Gerald kesal, lupa kalau saingannya adalah anaknya sendiri.


Tapi akhirnya Gerald melepaskan Rianty dan membiarkan Rianty kembali ke kamar Aldi dengan perasaan tidak rela.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2