
"Kejadiannya seperti itu Tuan Gerald. Saya sudah menceritakan semuanya dengan jujur.
Saya harap Tuan Gerald dapat menepati janji tuan untuk menjaga keluarga saya, karena saya sudah menceritakan semuanya dengan jujur", ujar Dodi yang menceritakan apa yang sudah dilakukan Monica sejak awal, bahkan lengkap dengan Patrick yang merupakan simpanan Monica.
Sudah pasti Dodi tidak lupa menceritakan tentang perihal Patrick, karena Dodi dendam pada Patrick yang sudah melaporkan dan menjadi saksi perihal kematian ayah Rianty.
"Lagipula dalam hal ini saya tidak bersalah tuan. Semuanya adalah rencana Monica, karena saya adalah pekerjanya, mau tidak mau saya harus menurutinya. Kalau tidak saya pasti akan dipecat. Sedangkan keluarga saya membutuhkan biaya", sambung Dodi lagi, membela dirinya sendiri.
"Tapi mengapa kamu tega mencelakakan Rianty, yang keponakan kamu sendiri? Harusnya kau melindungi dia, bukan mencelakakan nya dengan menjualnya karena permintaan Monica!", tanya Gerald yang tidak puas dengan kelakuan Dodi pada Rianty.
Gerald merasa kasihan pada Rianty yang saat itu usianya masih muda, tapi sudah ditipu Dodi yang merupakan pamannya sendiri.
"Dan apa yang sudah kamu katakan padanya hingga dia mau melakukan itu? Aku mengenal Rianty dengan baik, Rianty tidak mungkin akan melakukan hal itu kalau hanya demi uang yang banyak?", tanya Gerald.
"Tuan Gerald sudah beruntung mendapatkan Rianty daripada wanita yang lain. Keponakanku adalah gadis yang cantik dan baik", ujar Dodi malah mempromosikan Rianty.
"Aku hanya diberi waktu yang singkat untuk mencari seorang gadis oleh Monica, dimana aku bisa menemukannya? Saat itu Rianty yang ada, terpaksa saya menawarinya, dan tidak dengan paksaan", sahut Dodi berusaha mengalihkan pertanyaan Gerald.
"Jawabanmu jangan putar-putar! Aku ingin tahu apa yang sudah kamu katakan hingga Rianty bersedia melayaniku? Jangan bilang kalau Rianty bersedia karena uang yang diberikan Monica!", tanya Gerald mulai marah dengan Dodi yang sepertinya menggunakan Rianty, agar Gerald bersikap lebih baik padanya.
"Waktu itu saya bilang padanya, kalau dia tidak mengirimkan uang dalam jumlah yang besar, ayahnya akan memukul dan menyiksa ibunya. Rianty melakukan itu demi ibunya", sahut Dodi akhirnya.
"Tega sekali kamu!", ujar Gerald menatap marah pada Dodi.
"Padahal uangnya tidak sampai pada bapaknya Rianty, kamu jangan kira aku tidak tahu. kata Patrick kalian berantem karena masalah uang itu!" sambung Gerald lagi.
"Memang aku tidak berikan uang itu pada bapak Rianty, paling akhirnya hanya akan habis di meja judi.
__ADS_1
Uang itu sudah saya berikan pada Rianty saat dia hamil anak Tuan, dan mungkin modal dia membuka toko roti dari uang yang kuberikan, tuan", ujar Dodi membela diri.
"Lagipula kalau saya tidak melakukan itu, bukankah tuan tidak akan bertemu dengan keponakan saya yang cantik dan baik itu, Tuan?
Dan mungkin saja sekarang dia tidak akan menjadi istri tuan, mungkin saja dia sudah menjadi istri orang lain. Tidak sulit buat dia menemukan seorang suami dengan rupanya yang cantik itu. Tuan Devan saja menyukainya.
Harusnya Tuan berterima kasih padaku, berkat aku Tuan akhirnya bisa bertemu dengan Rianty dan memperistri Rianty.
Rianty juga harus berterimakasih padaku juga, karena berkat aku dia akhirnya mendapatkan suami yang mapan seperti Tuan Gerald!", sahut Dodi yang tidak merasa bersalah, malah Dodi merasa dia sudah berjasa besar.
"Kalau Rianty sudah berjodoh denganku, tentu kami akan bertemu juga. Bahkan mungkin pertemuan
kami akan lebih indah, tidak seperti itu!", ujar Gerald berjalan keluar meninggalkan Dodi.
"Berbicara dengan nya lama-lama membuatku ingin memukulnya! Sebaiknya aku keluar saja, percuma berbicara dengan orang yang pintar bersilat lidah itu. Bagaimanapun dia masih paman Rianty!", gerutu Gerald dalam hati, sama sekali tidak mau menengok ke Dodi lagi.
...********...
"Huh sungguh membuat marah pamannya Rianty itu. Kasihan sekali Rianty dan ibunya bisa mempunyai ayah dan paman seperti itu, mulai sekarang aku harus lebih baik padanya lagi!", pikir Gerald menghela nafas kesal, yang langsung teringat lagi pada Rianty.
Apalagi Gerald teringat saat di baru datang, Dodi masih sempat mengadakan tawar menawar dengannya sebelum menceritakan semua kejadian padanya.
Akhirnya Gerald menyetujui permintaan Dodi, untuk membantu keluarganya jika Dodi dipenjara.
Demi mendapatkan info mengenai kejadian 7 tahun yang lalu.
Lagi pula Gerald berpikir bagaimanapun Dodi adalah keluarga Rianty yang masih tersisa.
__ADS_1
"Awas kamu Monica! kamu sudah menipuku sejak awal, kali ini aku aku sudah punya bukti untuk menceraikan nya. Kalau ibu tahu masalah yang sebetulnya, ibu pasti juga akan menyetujui keputusanku bercerai dengan Monica!" pikir Gerald senang, sudah mendapatkan bukti kebusukan Monica, yang sudah lama dia curigai.
Apalagi ditambah Monica juga memiliki selingkuhan.
...********...
Baru bersiap menginjak gas mobil, Gerald mendapat panggilan masuk pada handphone nya
Melihat siapa yang menelpon, Gerald mengurungkan niatnya menginjak gas, dan segera mengangkat telpon.
"Ada apa lagi Kim, aku sedang mau ke rumah sakit lagi!", ujar Gerald yang khawatir kalau sekretaris Kim mengatur jadwal untuknya, sedangkan dia sudah tidak bisa menahan rasa kangennya pada Rianty.
"Baiklah kalau begitu tuan, kami tunggu kamu di sini, tadi Aldi minta diantar ke rumah sakit untuk melihat ibunya", sahut sekretaris Kim.
"Ada apa Kim, tidak mungkin kamu menelponku hanya untuk mengatakan itu bukan? tanya Gerald curiga
"Monica berada di rumah sakit tadi mau mencelakai nona Rianty, tapi sekarang sudah diamankan", sahut sekretaris Kim.
"Bagaimana dengan Rianty?", tanya Gerald langsung dengan nada khawatir.
"Sudah tidak kritis Tuan, sudah diperiksa dokter David , tapi masih tidak sadarkan diri, karena tadi sempat kehilangan oksigen", ujar sekretaris Kim, dan belum melanjutkan pembicaraan nya, sambungan telpon nya sudah dimatikan Gerald
"Ah Rianty, tahu seperti ini aku tadi tidak akan meninggalkan mu. Mengapa tadi aku tidak minta orang untuk menjaganya!", sesal Gerald dalam hati, yang langsung mematikan sambungan telpon sekretaris Kim, dan menginjak gas mobil, menuju ke rumah sakit.
"Kalau aku tahu Tuan sudah menuju ke rumah sakit, lebih baik tadi aku tidak menelpon tuan. Hanya akan membuat Tuan tidak tenang dalam perjalanan ke sini', sesal sekretaris Kim, yang mengkhawatirkan kalau tuan nya pasti akan ngebut dalam perjalanan ke rumah sakit
Bersambung........
__ADS_1