
*Klek* pintu kamar Mario terbuka.
Tanpa banyak bicara Mario segera memeriksa tangan Bela takut ada pecahan yang menempel serta mengeluarkan darah. Bela tercengang melihat kelakuan lembut yang berbanding terbalik dengan wajah dingin Mario.
Tangannya sibuk memeriksa tangan Bela dan membersihkan pecahan yang menempel dengan mencabutnya menggunakan pinter kecil.
"Makasih tuan"
"Ini bukan untukmu, tapi untuk oma" Ketusnya lalu memberikan plester pada Bela agar dapat menutup luka itu.
Mario kembali berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada kata apapun yang dia ucapkan kecuali diam dan pergi. Padahal Bela sudah sangat senang melihat kepedulian yang telah diberikan olehnya.
"Untuk oma, memangnya apa hubungannya oma dengan darahku. Dasar tuan muda yang aneh" ucapnya bergumam sendiri.
"Apa maksudmu" Bela terkejut, ternyata Mario belum menutup pintu kamarnya dengan rapat.
"Tidak tuan, aku hanya berbicara pada beling itu yang aneh karena terus menusuk tanganku hingga terluka" Mario tidak peduli dengan penjelasan itu, dan dia segera menutup pintu kamarnya dengan rapat dan kembali mengunci.
Semetara itu Bara dan Alex sudah berada di dalam club malam. Tersedia minuman anggur yang sangat mahal di meja mereka. Mata Alex masih sama mencari mangsa wanita untuk ditidurinya.
Setiap sudut dia selalu menyelidiki, mengendus bau-bau harum dari tubuh wanita malam yang bebas. Rasanya dia menginginkan semua untuk di cicipi.
"Lihatlah Bara, gadis itu sangat cantik dan aku yakin kau akan menyukainya" Bara tetap saja menghisap rokok dan tidak memperdulikan gadis yang sedang dibicarakan oleh Alex.
"Aku akan memilihkan gadis itu untuk kau mainkan" Senyumnya kembali licik, walaupun bara tidak berkata iya tapi Alex akan mencarikan gadis yang dia inginkan untuk Bara.
Terlihat salah satu gadis cantik dan manis. Matanya yang menarik serta senyum liciknya seakan mengatakan ingin mengajak Alex berkencan satu malam penuh.
Baju dengan bahan minim dan menggoyangkan pinggul untuk menjajakan dirinya pada pria hidung belang yang sedang asik mengunjungi klub malam.
"Hai tampan, maukah kau meniduri ku? " Ucapan genit yang selalu didengar dari mulut wanita yang berbeda.
Bara sudah bosan melihat tubuh terbuka penuh dengan lemggak-lenggok dengan serba gaya yang dimiliki. Karena di otak mereka hanyalah tentang uang, bukan harga diri.
Bara masih perjaka walaupun dia suka bermain wanita semenjak kepergian Sisil yang membuat hidupnya hancur berantakan. Namun dia hanya bermain dengan tangan saja, sedangkan keperjakaannya disimpan untuk wanita yang dinikahi secara sah nanti.
"Aku ingin bermain dengamu, namun jika kau tidak menarik maka siap-siap aku menghukummu" Wajah dingin itu tidak pernah menjadi hangat pada siapapun.
Wanita itu juga mampu melakukan ribuan rayuan untuk Bara hingga akhirnya mereka memesan satu kamar VVIP di club yang sudah tersedia khusus untuk Bara bermain.
"Kau sangat seksi, bermainlah denganku" Rayuannya geli dengan segelas botol anggur di tangan masing-masing.
Wanita itu bergelayut manja di lengan Bara dan melakukan aksi biasanya. Tangannya bermain mengelus lembut wajah Bara yang sedang asik menikmati cerutu dan memeluk tubuh wanita itu.
Belaian dan bisikan manja untuk membuat lawan mainnya semakin tertarik dengan apa yang dilakukan.
"Lihatlah, dada bidangmu yang seksi ini sayang" Tangannya mengelus dada Bara yang masih terbungkus kaos dan ditemani dengan jaket kulit.
"Bagaimana dengan oma, dan apa yang akan gadis itu lakukan saat ini pada oma" ucap bara dalam hati.
Tubuhnya memang ada di dalam kamar itu, tapi pikiran Bara terus dikelilingi wajah Bela. Dia juga memikirkan tentang keadaan pmanya, selama pikirannya tidak lepas dari kediamannya.
"Aku akan memuaskanmu dengan tubuhku ini" Dia berdiri dan menari tanpa rasa malu. Terbiasa menjajakan tubuhhya pada lelaki manapun dan menukarnya dengan uang.
"Cukuplah, ini uangmu dan tutup kembali bajumu. Aku sudah bosan melihatnya" Ketus Bara saat gadis itu ingin membuka pakaiannya.
Tangan Bara meletakkan beberapa lembar uang di atas kasur yang masih rapi. Kali ini pikiranya ingin pulang karena terus mengingat gadis kecil dan rasa takutnya tentang oma Rose yang sangat dia sayangi.
"Bagaimana bisa, sedangkan kau saja belum menyentuh ku" Dia menghentikan langkah Bara yang ingin pergi dari kamar itu. Gadis itu terus memaksa agar Bara mau menerima layanannya.
*Brak* lemparan keras membuat gadis itu terhempas ke lantai. Tubuhnya tersungkur dan beberapa tulang belakangnya terbentur ke tembok dengan keras.
"Aww, sakit tuan" Dia meringis kesakitan saat tubuhnya benar-benar remuk hanya dengan satu lemparan dari tangan Bara yang kekar.
"Rupanya kau baru mengenalku" Langkahnya langsung pergi dengan kesal dan meninggalkan wanita malam itu sendirian dengan rasa sakit yang ada.
Bara sangat tidak suka apabila dirinya dipaksa untuk hal apapun. Sifat arogannya akan mengaung bagai singa. Bahkan siapapun akan merasa takut melihat kemarahannya.
"Ada apa denganku, mengapa memikirkan gadis kecil yang tengil itu. Hai Bara, kau adalah mafia terbesar bagaimana bisa memikirkan hal kecil tentang gadis itu" Bibirnya berbicara pada diri sendiri.
Perjalanan yang cukup jauh, Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa dirinya merasa oma Rose tidak aman dengan Bela. Sehingga wajah bela terngiang dalam benaknya.
*klek*
"Kemana gadis itu? " Tanya Bara pada para pelayan yang masih sibuk berjaga.
"Dia ada di kamar nyonya besar Rose tuan" Tanpa banyak bisa cari lagi, Bara segera berjalan ke kamar oma Rose.
Sejenak dia terdian di depan pintu lalu mengumpulkan pikiran dan membuka pintu oma secara perlahan. Karena dirinya takut jika oma tertidur dan dia akan membangunkannya di waktu tengah malam ini.
*klek*
Bibirnya terdiam membisu, tatapannya terpaku melihat Bela yang sedang tertidur di bawah dengan tangan yang masih menempel di kaki oma Rose seperti sedang memijatnya.
"Dasar gadis kecil, membuatku kepikiran saja" Dia senang karena tidak ada hal buruk yang terjadi pada oma Rose.
Hatinya juga terlihat sangat bahagia saat melihat pemandangan indah ini. Gadis kecil yang dia tolong telah mengabdikan dirinya dengan baik. Bela menjalani tugasnya merawat oma Rose dengan sangat baik.
"Tidurlah oma sayang, aku akan selalu menjagamu" ucap Bara.
*Cup* Kecupan kecil di kening oma.
Bara sangat menyayangi oma Rose melebihi siapapun. Bahkan dia lebih sayang pada oma Rose dibandingkan dengan mamanya sendiri. Karena dari kecil hanya oma yang merawatnya dengan kasih syaang.
Mamanya pergi ke luar negeri dengan berbagai urusan hingga dia lupa untuk menjaga anak satu-satunya saat itu sebelum Mario dan Denada di lahirkan. Itu sebabnya oma adalah bagian dari hidupnya.
"Hmm, tuan. Kapan kau pulang? " Bela mengucek matanya untuk memastikan bahwa itu Bara. Dan dia berdiri di hadapan Bara dengan tegak.
"Tubuhmu berbau alkohol" Bukannya menjawab pertanyaan dari Bela atau menanggapinya, tapi Bara langsung terdiam dan keluar dari kamar oma.
__ADS_1
"Tumben sekali dia diam, biasanya berguman hal yang tidak penting" Batinnya merasa aneh saat melihat kelakuan Bara.
Bela tersenyum saat melihat oma Rose tertidur dengan nyaman tanpa gangguan apapun. Dia mengambilkan selimut dan menutupi kaki oma dengan benar. Lalu pergi meninggalkan kamar oma dan kembali terlelap dikamarnya.
"Pagi tuan mario" Sapa Bela sambil membantu pelayan lainnya menyiapkan makanan.
Mario hanya menatapnya sekilas lalu memalingkan wajahnya lagi dan duduk di meja makan. Sedangkan Klara juga baru keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan juga bersih.
"Pagi tante " Sapanya dengan senyuman yang sangat ramah dan disambut indah oleh Klara.
"Pagi juga sayang, bagaimana harimu? "
"Tenang tante, hariku sangat senang" Senyuman Bela terngiang di pikiran klara. Apalagi tutur kata yang sangat lembut darinya.
"Bi, aku jemput oma dulu ya" Ucapnya berpamitan pada pelayan senior yang juga sangat ramah pada Bela.
"Iya Bela, lagian disini sudah beres semua" Sahut pelayan senior.
Oma sudah cantik dan berpakaian yang terbaik. Tidak seperti biasanya karena di hari-hari sebelumnya oma akan berpakaian serba gelap untuk mengenang kepergian Denada. Dan Bela tidak mengetahui hal itu.
"Lihatlah, oma cantik tidak? " Teriak Bela pada Mario dan klara di meja makan.
Semua orang yang melihat penampilan oma sangat terkejut. Mario dan Klara juga terpaku menatapnya, bahkan pelayan dan beberapa ajudan juga melihat perubahan dari oma.
"Oma? " Ucap Mario dan Klara secara bersamaan.
"Apa yang kau perbuat pada oma ku" Teriakan keras mengagetkan semuanya. Bara yang baru saja terbangun dari tidurnya sangat terkejut melihat oma memakai baju berwarna cerah.
"Aduhh, sakit tuan. Rambutku akan terlepas jika kau terus menariknya" Ucap Bela dengan santai saat Bara menarik rambut Bela dengan keras.
Bela sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Tapi di hatinya saat ini sedang bertanya-tanya mengapa Bara memarahi dirinya yang sedang membawa oma ke meja makan.
"Bara"
"Kak" Tidak ada yang bisa mencegah amarah Bara kecuali perkataan dari oma Rose.
"Mengapa kau ganti pakaian oma?" Bentaknya pada Bela. Sedangkan tangan itu masih mencengkeram kuat rambut Bela.
"Tuan, aku hanya memberikan pakain terbaik untuk oma yang cantik, baik dan tidak sombong" Sahutnya dengan tersenyum walaupun kepala Bela mengadah ke atas karena tarikan keras dari tangan kekar Bara pada rambutnya.
Saat ini Bela tidak memanggilnya nenek melainkan dengan sebutan oma. Karena kemarin oma Rose yang menyuruh Bela untuk memanggilnya dengan sebutan oma.
"Beraninya kau memanggilnya dengan sebutan oma" Amarah Bara semakin melonjak tinggi saat mendengar seorang pelayan menaggil oma dengan sebutan seperti itu.
"Kau..... "
"Tunggu" Tangan Bara hampir saja menampar wajah Bela. Tapi tangan oma Rose menghentikan itu semua.
"Duduklah dan jangan membuat gaduh pagi ini" Ucap oma.
Seketika semuanya menjadi hening dan tidak ada yang berbicara lagi termasuk Bara.
__ADS_1
Bara segera menempati kursinya dan duduk tenang. Semuanya terdiam karena melihat keanehan pagi ini. Keanehan pertama yaitu saat oma Rose berani keluar dari kamar dan ikut makan bersama di ruang makan.
Keanehan yang kedua yaitu oma memakai baju dengan warna yang cerah setelah 2 tahun memakai baju serba gelap untuk mengenang cucunya yang telah pergi untuk selamanya.
"Aku ingin berbicara" Suara oma memecah keheningan di ruang makan. Suara sendok dan piring yang beradu kini seketika terdiam.
"Oma, saya ke dapur dulu ya" Bela ingin pergi ke dapur karena tidak nyaman bila mendengarkan pembicaraan keluarga besar ini.
"Tidak usah, duduklah di sana" Oma Rose menyuruh Bela duduk di meja makan dan berdekatan dengan Bara.
"Tapi oma, saya hanyalah pelayan dan tidak pantas duduk disini"
"Cepatlah duduk" Ketusnya, membuat bela segera duduk dan tidak berbicara lagi.
Ketegangan dan rasa tidak nyaman terlihat dari wajahnya Bela. Dia tidak terbiasa duduk bersama di meja makan seperti ini. Apalagi mereka yang ada di hadapannya adalah orang asing di dalam pikirannya.
"Bara, kau harus menikah dengan Bela" Ucapan yang membuat suasana pecah pagi ini.
"Apa? " Sahut Bela dan Bara secara bersamaan.
Perkataan oma rosa bagaikan bom waktu yang dinyalakan tiba-tiba. Semua yang mendengar hal tersebut sangat terkejut, apalagi Bela dan Bara yang tidak percaya dengan ucapan oma Rose.
Rasanya mereka mendapatkan kejutan yang sangat besar tapi itu menyakitkan. Oma seperti berbicara ngawur tapi kenyataannya hal itulah yang ingin oma sampaikan.
"Oma, apa yang sedang oma pikirkan. Aku masih mengurus bisnisku" Wajah Bara terlihat sangat tidak nyaman. Ada rasa terkejut, heran dan bercampur dengan kekesalan. Lebih tepatnya kesal kepada Bela.
"Hei gadis kecil, racun apa yang kau katakan pada oma sehingga dia menyuruhku untuk menikahimu" Wajah Bara meluapkan amarah yang besar dan rasanya ingin menampar Bela.
"Hei tuan, aku juga tidak ingin menikahimu. Apalagi umurku yang masih 17 tahun dan kau sudah....... " Bela berhenti melanjutkan karena takut bara semoain marah.
"Apa? Sudah tua maksudmu? " Argumen Bara dan Bela yang mencekam. Satunya meluapkan amarah dengan besar dan satunya lagi berbicara dengan santai walau dirinya juga terkejut.
"Ya begitulah" Mario tersenyum sedikit sedangkan Klara juga tertawa namun tidak mengeluarkan suara.
"Diamlah, apa kau akan menunggu oma mati dulu baru akan menikah"
\*deg\* perkataan yang benar-benar mengejutkan. Bagaimana bisa oma Rose mengeluarkan kata-kata itu sedangkan Bara sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun.
"Bukan begitu oma, dia hanyalah gadis kecil sedangkan aku sudah dewasa. Memangnya apa tujuan oma ingin menikahkan aku dengannya" Bara berlutut di hadapan oma.
"Aku ingin gadis kecil itu masuk dalam keluarga ini" Keputusan oma tidak pernah ada yang membantahnya. Klara, Mario ataupun Bara.
"Jika kau tidak ingin menikah dengannya maka jangan panggil aku oma lagi" Oma segera menjalankan kursi rodanya sendiri untuk pergi dari ruang makan.
Tanpa berbicara lagi di ruang makan, Bela segera mengejar oma dan membawanya ke kamar tidur. Bela tau pikiran oma sedang kacau karena keributan tadi.
"Oma, istirahatlah. Aku akan memijat kaki oma agar bisa tertidur dengan lelap" Bela membantu tubuh oma untuk tertidur di ranjang besar miliknya.
Tangan Bela sangat cekatan, dia meminta perlahan kaki oma. Sebenarnya banyak hal yang ingin dibicarakan tapi dia memilih diam agar oma tidak terlalu banyak berfikir dan memilih untuk istirahat.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~