
Perasaan Bela tidak nyaman, dia ingin keluar dan melihat keadaan Bara disana. Tanpa disadari kekhawatiran itu muncul dengan sendirinya dari lubuk hati Bela yang paling dalam.
"Kamu jangan keluar karena operasi sedang berlangsung" Ujar Alex membuka pembicaraan di dalam kamar Bela.
"Aku hanya ingin menyiapkan makan malam kak" Sahut Bela, padahal dia ingin melihat operasi itu.
"Tidak usah, aku sudah memesan makanan cepat saji untuk malam ini" Sahut Alex.
Bela memicingkan alisnya, dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Biasanya Bara yang memerintahnya dan sekarang sahabatnya juga memerintah dirinya.
Bahkan mereka sudah memesan makanan dengan jumlah yang cukup besar tanpa sepengetahuan dirinya. Tapi yang paling penting sekarang hati Bela gelisah menunggu operasi itu selesai.
"Mengapa ada operasi dadakan kak? " Rasa ingin tau Bela cukup tinggi, sedangkan Alex tidak bisa menjelaskannya panjang lebar.
"Karena darurat" Hanya sahutan singkat yang Alex berikan.
"Kapan itu akan selesai"
"Secepatnya"
Bukan jawaban pasti yang keluar dari mulut Alex, melainkan jawaban yang cukup singkat tapi tidak ada penjelasan panjang. Alex hanya mengatakan apa yang dia tau tapi tidak menjelaskan apa yang Bela tanyakan.
Seketika mereka berdua berdiam diri dalam kamar dengan keheningan masing-masing. Alex berdiri di dekat jendela sambil membukanya untuk menikmati udara segar angin malam.
Sedangkan Bela masih menunggu dan duduk di atas ranjang dalam kecemasan pikirannya sendiri. Dia memang membenci Bara, tapi dia juga tidak tega bila melihat Bara terluka seperti itu.
"Kenapa aku tidak boleh melihatnya?" Bela kembali bertanya pada Alex.
"Karena ini privasi" Ucap Alex singkat.
"Aku kan istrinya kak, aku takut jika suamiku kenapa-napa" Ucap Bela dengan menampilkan wajah yang penuh pikiran seakan-akan dialah istri sungguhan.
"Suami? " Tanya Alex kembali, dan Bela hanya mengangguk.
Sebenarnya Alex tau bahwa hubungan mereka hanyalah sebatas nikah kontrak untuk menyenangkan oma. Dia juga tau bahwa Bara hanya menjadikan Bela mainan saja.
Tapi yang tidak Alex duga yaitu sifat Bela sungguh dewasa. Bahkan Bela menganggap Bara sebagai suaminya. Dia juga tertegun saat melihat gadis sekecil Bela sudah menjadi ibu rumah tangga penuh dengan tanggung jawab.
Dan parahnya lagi dia melakukan pekerjaan rumah baik itu memasak ataupun membersihkan rumah sebesar ini dengan sendirian.
Alex mengetahui semua itu dari Bara. Bara menceritakan semuanya dengan bangga tanpa memikirkan perasaan gadis kecil yang sedang merenung di hadapannya malam ini.
"Kau bersedih? " Tanya Alex sembari mendekati Bela yang sedang melamun pilu di ranjangnya.
"Tidak, aku hanya takut" Sahutnya lirih.
"Takut kenapa? " Bela terdiam saat Alex kembali bertanya.
Dia beranjak dari tempat duduknya dan ingin keluar dari kamar itu. Tapi Alex kembali mencegahnya agar Bela tetap berdiam diri di dalam kamar walau hatinya sedang berkecambuk untuk melihat Bara.
Sekali lagi Alex bertanya tentang ketakutan yang Bela katakan, namun gadis itu masih membisu dan tidak mau menjawab tentang ketakutan apa yang dimaksud oleh ucapannya tadi.
"Apa kau takut Bara kenapa-napa? " Alex terus mencecar beberapa pertanyaan pada Bela.
"Tidak, aku hanya takut kalian kelaparan" Ucapnya spontan.
Padahal dalam pikiran Bela masih memeluk ketakutan tentang apa yang dia lihat tadi. Bara memang kejam, tapi Bela masih memiliki kewajiban untuk membalas budinya karena telah memberinya tempat tinggal yang nyaman.
Tidak lama kemudian operasi itu telah selesai, dokter menyarankan untuk membawa Bara ke kamarnya akan tetapi kamar Bara terletak di atas dan susah untuk melewati tangga.
"Kak, kamar di sebelahku kosong. Jadi tuan Bara bisa istirahat disana, dan aku janji akan menjaganya" Ucap Bela pada Alex.
Mendengar hal itu, Alex memutuskan untuk mengikuti kemauan gadis itu. Lagipula saran dia sangat tepat sekali demi kesembuhan Bara secepat mungkin.
Bela juga berjanji untuk menjaga Bara agar kembali pulih seperti semula. Akhirnya malam itu dia menjaga Bara dan merawatnya sesuai dengan perintah dokter agar luka Bara segera kering.
Sedangkan Alex dan yang lainnya berjaga-jaga di rumah Bara untuk mengantisipasi penyerangan yang dilakukan oleh musuh. Karena saat ini keadaan msih belum aman.
"Tuan, tuan, kau membuatku khawatir saja. Kenapa bisa bermain dengan peluru seperti itu? Kak Alex juga tidak memberitahu ku tentang lukamu ini. Lalu aku bertanya pada siapa lagi? "
Bibir Bela terus berbicara banyak hal tentang kekhawatiran yang bergelit pada pikirannya sendiri. Padahal lawan bicaranya masih terlelap dengan pulas karena obat bius dari operasi tadi.
Bela berani berbicara seperti itu karena Bara tertidur, coba saja Bara terbangun mungkin dia tidak akan mengatakan hal seperti tadi.
Dia terus mengoceh sedangkan tangannya sibuk memberikan pelayanan ternyaman agar tuannya terlelap dengan tenang. Dia mengurusnya dengan baik malam ini.
"Beruntung sekali sahabatku mendapatkan gadis sepertinya, walaupun dia masih muda tapi perhatiannya mengalahkan para istri di luaran sana."
Bisik Alex kecil dari balik pintu yang sedang terbuka kecil. Alex sangat senang dengan kepribadian Bela, gadis kecil yang cantik dan selalu penuh dengan senyuman. Rasanya semua orang akan merasa damai bila menatap indah senyumannya.
Namun yang dia heran adalah sahabatnya yang tidak pernah menikmati ciptaan Tuhan. Pikir Alex berkata bahwa Bara belum merasakan hal yang istimewa di dalam tubuh Bela.
"Aku harap suatu hari nanti dia sadar tentang kelebihan dari istri palsu yang dia miliki saat ini."
Senyum kecil dari bibir Alex terlintas kembali, lalu langkahnya pergi meninggalkan Bela yang masih sibuk memandnagi wajah Bara dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Alex segera pergi dan menjalani tugasnya untuk melindungi rumah Bara dengan penuh hati-hati. Berharap malam ini dan seterusnya akan kembali damai dan tidak ada penyerangan dadakan lagi dari para musuh.
Pagi
"Eeehhmmm" Tubuh Bela menggeliat dan tangannya sibuk mengucek mata untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Dia terbangun dari tidurnya yang lelap semalam. Dirinya terus sibuk mengurus Bara dengan sabar walaupun harus tertidur di sofa kembali.
Namun saat dia benar-benar sadar dari tidurnya, betapa terkejut diri Bela saat melihat Bara sudah tidak ada di atas ranjangnya. Dia masih tidak percaya lalu mengeceknya kembali di balik selimut, ternyata benar Bara tidak ada disana.
"Tuan, tuan, tuan kemana kkau.
Teriaknya kecil sambil mencari Bara di bawah kolong kasur. Bela takut jika Bara terjatuh dan menggelinding di bawah kasur dan tertidur bersama kecoa yang ada disana.
Ternyata masih saja dia tidak menemukan Bara, lalu kembali mencarinya ke kamar mandi, ke dalam lemari, dan masih banyak lagi di setiap sudut kamar. Namun yang dia dapatkan bukanlah Bara, melainkan laba-laba baru yang sedang membuat sarang.
"Oh tidak, apakah dia di culik? " Pikirnya meracau tidak jelas. Bela berlari keluar dari kamar untuk mencari keberadaan tuannya yang sedang terluka.
"Taun, tuan, kau diamana tuan? "
"Tuan" Teriak Bela dengan keras.
Hari masih pagi, suara Bela sudah bergema di setiap sudut rumah memanggil nama Bara. sedangkan Bara bersantai di halaman rumah untuk menikmati udara segar pagi ini.
"Kau menganggu pagiku" Ketua Bara.
"Aku mencarimu tuan, aku takut kau di culik lagi. "
Jelas bela, hal itu membuat Alex tersenyum penuh arti sambil menatap pada Bara. Bara melihat sekilas tatapan Alex, rasanya tangan Bara ingin menampar senyuman Alex yang menyimpan sesuatu ejekan.
"Aku tadi mencarimu di balik selimut, di bawah kasur, di lemari, di kamar mandi dan masih banyak lagi. Tapi aku tidak menemukanmu jadi aku takut kau kenapa-napa tuan"
Ucapan Bela kembali membuat Alex menahan tawanya yaug sudah memuncak. Rasanya dia ingin tertawa keras saat mendengar ucapan Bela yang mencari Bara di sembarang sudut. Padahal tubuh Bara sebesar, tapi masih saja mencarinya di dalam lemari.
Sedangkan Bara masih menatap sinis pada gadis di depannya yang terus meracau menceritakan semua hal yang dia alami pagil ini hanya untuk menemukan tuannya yang menghilang dari atas ranjang setelah bangun tidur.
"Apa kau bodoh" Kesal Bara mulai memuncak walau sedikit.
"Tidak tuan, jika aku bodoh maka aku tidak akan mencari dan mengkhawatirkan mu" Sahut Bela dengan tenang.
"Hahahahha, dia tidak bodoh tapi sangat cerdik Bara. Karena kau juga sama dengan titisan kecoa" Bisik Alex penuh ejekan.
"Isss kau ini"
__ADS_1
"Tenanglah jangan memukul ku, karena wajahmu terlihat lucu. Hahahaha"
Akhirnyaa alex mengeluarkan pikirannya yang sudah dari tadi dia simpan. Dan tawanya terus bergema menatap hal lucu yang sedang terjadi di pagi buta ini.
Bagaimana tidak, pagi yang seharusnya menikmati pemandangan di halaman rumah akan tetapi yang didapati adalah perdebatan antara kekhawatiran Bela yang terlihat sangat konyol karena mencari Bara di tempat yang tidak terduga.
"Pergilah, kau menganggu pagiku saja" Bara mengusir Bela dari hadapannya.
"Baiklah, aku pergi tuan" Baru beberapa langkah Bela masuk lalu kembali lagi ke depan Bara sambil berjalan mundur seperti kaset yang diputar mundur saja.
"Benarkah kau baik-baik saja tuan? " Pertanyaan dengan menampakkan wajah konyolnya.
"Kau ini" Bentak bara sambil memegang vas bunga yang menjadi hiasan di meja dekatnya.
"Aaa baiklah, sepertinya kau baik" Dia bertanya sendiri dan dia juga yang menyahut pertanyaan dirinya sendiri dengan senyuman pula.
Lalu langkah Bela pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Untung saja Bela tidak sekolah dikarenakan hari libur. Jika tidak, mungkin dirinya akan telat sekolah karena menyiapkan begitu banyak makanan bagi Bara, Alex dan beberapa bawahannya.
Gadis itu sangat cekatan, bila dilihat semakin hari skil masaknya semakin mumpuni. Tidak bisa di ragukan lagi, bahwa Bela adalah gadis kecil idaman bagi para lelaki yang menginginkan istri.
Etss, tapi Bela sudah punya suami. Dan untuk masa depan masih tidak ada yang tau. Apakah Bela akan melanjutkan kontraknya dengan menjadi istri asli seutuhnya ataukah dia akan pergi setelah kontrak 2 tahunya selesai.
Hari berganti malam, rumah Bara tidak kesepian lagi. Karena kali ini dia menyuruh bawahannya untuk menjaga rumahnya. Tidak tau sampai kapan perang ini akan berakhir.
Sedangkan Alex sudah pergi kembali ke tempat persembunyian yang baru. Serta mengamankan seluruh persenjataan yang dimiliki agar tidak bisa diambil alih oleh para musuh .
Dan sekarang di dalam rumah hanya tersisa dua makhluk Tuhan yang paling suka dengan pertengkaran, yaitu Bara dan Bela.
"Tuan ini air hangatnya, dan aku akan membantumu untuk mengkompres luka" Ucapnya sambil membawa sebaskom air hangat dari dapur.
Bela sangat perhatian pada Bara, karena dia tidak ingin melihat orang-orang di sekitarnya sedih dan terluka. Jadi dia melakukan apapun untuk kesembuhan Bara.
"Sini tuan biar aku kompres lukamu dengan air hangat"
"Tidak usah aku bisa sendiri" Bara langsung mengambil handuk kecil di tangan Bela lalu dia mencoba untuk mengompres lukanya sendiri.
Alex masih memperhatikan sahabatnya yang keras kepala serta arogan itu. Dia masih mengikuti apa yang akan dilakukannya, padahal sudah jelas-jelas tangannya kesusahan untuk menjangkau lukanya. Apalagi untuk mengompresnya sendiri.
Sedangkan Bela masih berdiam diri memperhatikan Bara, dia menarik nafas dalam-dalam melihat kelakuan tuannnya. Menunggu waktu untuk melakukan hal yang tepat
"Sepertinya tanganmu terlalu pendek tuan, lebih baik aku saja."
Handuk kecil kembali Bela ambil dari tangan Bara. Lalu dicelupkan kembali ke air bangat dan segera menempelkannya ke tangan Bara.
Sejenak Bara terdiam dan mengikuti alur yang sedang gadis kecil itu lakukan. Dia tidak bisa berkata apapun karena kebenarannya memang Bara tidak dapat menjangkau lukanya dan melakukan pengompresan lukanya itu dengan benar.
"Sepertinya kau akan aman bersamanya" Bisik Alex sambil tersenyum puas saat matanya melihat adegan itu.
"Isss kau ini, dasar sialan" Cletuk Bara. Hal itu terdengar oleh telinga Bela dan menjadi salah paham.
"Aku sialan? Sungguh dunia tak tau aturan, aku sudah membantunya tapi masih saja menghardik. Silahkan engkau lakukan sendiei saja"
Bela meninggalkannya dan memberikan handuk itu kembali ke tangan Bara. Dia langsung pergi ke dapur dan memasak makanan untuknya pagi ini.
Semua ini gara-gara Alex membuat Bara mengatakan hal keras sehingga Bela merasakan bahwa Bara mengatakan sialan padanya, padahal kata sialan itu untuk Alex yang sedang menganggu Bara.
"Lihatlah, ini semua karenamu. Dia pikir aku mengatakan sialan untuknya" Curhatan kecil seorang
"Lalu apakah kau merasa bersalah? Sepertinya kau tidak rela dia pergi. Padahal tadi kau tidak mau dia merawat lukamu, tapi sekarang kau menyesalinya saat dia pergi"
Alex kembali tertawa puas tanpa suara, dia kembali mengejek Bara karena perbuatannya sendiri. Hal itu semakin membuat sahabatnya geram.
Untuk menghindari kemarahan Bara, Alex pergi dari hadapannya dengan wajah yang masih berbalut senyum. Seakan dia mengatakan bahwa rumah tangga mereka sangat lucu.
__ADS_1
Alex juga merasakan bahwa ada hal yang berbeda dari sahabatnya. Terlihat dari tatapnnya saat Bela membantu untuk membersihkan lukanya. Tatapan tidak biasa tapi sangat tajam seperti mata elang.