
Betapa malangnya Bela, kedua saudaranya baru menyadari bahwa Bela sangat mencintai semua orang walau dirinya sangat dingin. Hal itu di sebabkan ketidak nyamanan dalam suasana rumah yang dia tinggali.
Ana menangisi penyesalan terdalam di setiap fase hidup masa lalunya. Hingga dia terlelap dan membawa kesedihan itu masuk dalam mimpinya. Begitu juga dengan El melakukan hal yang sama dengan ana, dia juga terlelap dalam kesedihan.
Kediaman Bara
Hari sudah malam dan Bela belum juga keluar dari kamarnya. Bara turun dari kamarnya dan melihat Alex sedang bersantai menonton TV. Dia menonton berita kesuksesan Sisil yang telah menempati puncak kejayaannya sebagai seorang model. .
Senyumnya selalu terlihat penuh arti, dia bahagia karena Sisil selalu tersenyum dalam sesi wawancaranya. Seperti sedang merasakan kehidupan yang penuh dengan bunga.
Bara melihat itu, dia juga bergabung dengan Alex untuk melihat mimik wajah Sisil yang selalu memancarkan kebahagiaan tanpa dia ketahui bahwa ada bencana yang sedang menunggunya.
"Nikmatilah dulu kehidupan mu, dan sebentar lagi bersiaplah untuk hancur" Batin Bara sangat antusias untuk mengungkapkan itu.
Bibirnya juga tersenyum licik, seakan menyimpan banyak tanda tanya yang sedang dia persipakan untuk perempuan murahan itu. Hanya menunggu waktu untuk bisa melaksanakan semuanya.
Lalu pandangan Alex merasa aneh dan menatap ke kamar Bela. Biasanya di jam itu Bela akan keluar dari kamar dan duduk bersantai atau memasak. Namun semenjak Bara memukulinya, Bela tidak keluar dari kamarnya.
"Sedang apa kau melihat kamar istriku, jangan berbuat mesum" Tegur Bara saat melihat Alex terus memperhatikan kamar Bela.
"Apa kau gila? Aku sudah menganggap dia adikku. Jadi aku akan melindunginya" Ujarnya.
"Baguslah, kau dulu menyukai kecantikan gadis itu, tapi aku tidak akan membiarkan kau menyukainya" Sambung Bara, seakan-akan dia melindungi Bela dari lelaki hidung belang. .
"Aku merasa khawatir padanya, kenapa dia tidak keluar dari tadi. Aku takut terjadi hal buruk padanya" Alex menjelaskan isi hatinya yang sedang dalam keadaan gelisah.
Bara juga merasakan hal yang sama tapi dia tidak mampu mengungkapkan rasa itu. Dia juga memikirkan Bela, namun pikirannya masih tetap dengan ego dan sifat dinginnya.
Bara berdiri, sejenak dia mengesampingkan egonya untuk mengetuk pintu Bela dan memastikan gadis yang sudah dia pukuli baik-baik saja.
*tok, tok, tok*
"Hei bangunlah " Teriak Bara sambil mengetuk pintu kamar Bela.
Tidak ada sahutan dari dalam, Bara mencoba membuka pintu tapi Bela menguncinya dari dalam. Alex yang berada di samping Bara juga ikut mengetuk pintu dengan kencang. Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Tatapan mata Alex dan Bara saling bersautan. Hati mereka berdua meraskaan kejanggalan. Karena Bela tidak seperti biasanya, bila ada ketukan pintu gadis itu akan langsung membukanya atau menyahut saja dari dalam. Akan tetapi kali ini tidak demikian.
"Bela" Teriak Alex dan Bara secara bersamaan setelah tatapan mereka saling bertaut.
*brak, brak*
Bara mendobrak pintu Bela dengan kencang. Akhirnya pintu itu terbuka dan mereka berdua segera masuk ke kamar Bela.
Terlihat gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Alex dan Bara mencoba membangunkan Bela dan ternyata dia pingsan. Kepanikan semakin mengisi kesunyian kamar gadis itu.
"Dia pingsan, cepat panggil dokter" Teriak Bara pada Alex.
Alex segera mengambil ponselnya dan menelpon dokter pribadi. Tangannya gemetar saat memencet nomor dokter. Ada rasa ketakutan dalam otaknya tentang hal buruk pada Bela.
Tubuh Bela terlihat sangat pucat, saat dibangunkan tidak ada pergerakan sama sekali. Darah di bibirnya terlihat mengalir namun sudah kering. Kakinya terasa sangat dingin.
*dretttt, drettt*
"Angkatlah dok, cepat angkat" Gumam Alex dengan panik saat dokter tidak mengangkat ponselnya.
Lalu beberapa detik kemudian dokter mengangkat panggilan Alex dan dia segera menuju ke rumah Bara untuk memeriksa gadis yang sedang terbaring lemah.
Bara dan Alex tidak tinggal diam, mereka mencari selimut yang tebal untuk menutupi kaki Bela agar tidak dingin. Tidak lupa mereka juga merawatnya seperti sedang merawat bayi.
Bara dan Alex juga sibuk mengoleskan minyak angin di seluruh tubuh Bela sambil menunggu dokter datang. Terlihat wajah panik di setiap detiknya dari wajah Alex dan Bara.
__ADS_1
"Bela, Bela bangunlah. Bell bangunlah" Bara mencoba kembali untuk membangunkan Bela tapi tidak ada pergerakan dari gadis itu.
Tidak tau berapa banyak minyak yang mereka oleskan ke seluruh tubuh Bela. Di kaki, tangan, leher, kepala dan saat tiba di perut terlihat Bara gemetar untuk memberikan minyak angin ke perut Bela.
Jantungnya berdetak kencang seakan ada aliran listrik di saat tangannya mengoleskan di area perut bela. Tanpa pikir panjang dia segera mmengoleskan minyak untuk membuat tubuh gadis itu kembali hangat.
Usaha mereka tidak sia-sia, karena tubuh Bela kembali hangat. Begitu juga dengan kaki Bela yang sedingin es kini kembali ke suhu tubuh normal.
"Bara lihatlah, suhunya sudah hangat" Ucap Lex sambil memang tubuh Bela.
"Syukurlah Lex, dia akan baik-baik saja" Terlihat rasa lega dari mereka berdua setelah merasakan suhu bBela kembali hangat
Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama, karena kini tubuh Bela kembali ke suhu tinggi. Saat Bara memerikasa dahi Bela, terlihat sangat panas. Sepertinya jika memasak telur di dahi Bela mungkin akan segera masak.
Demam Bela meningkat dengan cepat. Padahal suhu tubuh awalnya rendah, lalu kembali ke suhu tubuh normal dan sekarang menjadi suhu tubuh tinggi dan demam.
"Aaah sial, kenapa dia demam. Kenapa. Secepat itu suhunya berubah" Ketus Bara dengan kesal.
"Sudahlah kau harus diam, tunggu disini aku akan mengambil air hangat untuk mengkompresnya" Ujar Alex dan pergi mengambil air untuk kompres Bela.
"Dokter sialan, kenapa dia lama sekali. Aaaaa" Amarah Bara kembali melonjak. Dia sangat kesal karena dokter yang ditunggunya tidak kunjung tiba.
Bara pergi untuk mengambil obat di kamar atas. Dia berlari dan hampir saja tersandung di tangga hanya untuk mengambil obat demam.
Sedangkan Alex dia sudah selesai mengambil air hangat dan segera mengkompres Bela dengan handuk yang dibawanya. Sungguh kekacauan yang dibuat sendiri dan dapat dirasakan sendiri
Tidak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa Bela. Untung saja keadaan Bela hanya demam dan segera dokter memberikan resep obat untuk Bela.
"Dia hanya demam, mungkin efek luka di tubunya karena imunnya sedang lemah. Jadi saya berikan resep obat untuk mengurangi demamnya. Mungkin besok keadannya segera membaik" Jelas dokter pada mereka berdua.
"Baik dokter, Terima kasih" Ucap Alex pada dokter.
Karena Bara sudah merasa kesal dan tidak mungkin dia akan berbicara lembut pada dokter tersebut. Yang ada dia semakin marah bila melihat wajah dokter karena datangnya terlalu lama.
"Bangunlah, aku sangat bersalah" Ucapnya sambil menggenggam tangan kecil gadis itu.
Ada penyesalan dalam diri Bara. Dia yang telah membuat Bela seperti ini dan dia juga yang merasakan kebingungan saat Bela tidak sadarkan diri. Pikirnya kali ini tentang keselamatan Bela, sebab jika oma tau maka Bara juga yang akan memeluk kesedihan karena oma akan marah.
Tangannya membelai rambut Bela dengan lembut. Berharap bisa membuatnya terbangun dari pingsannya. Di masa itu Bara memberikan perhatian penuh pada Bela.
"Bara ini obatnya, cepat berikan pada bela" Alex datang dan membawa obat sesuai dengan resep dokter.
Bara segera memberikan obat pada Bela. Untung saja Bela sedikit sadar jadi mempermudah dia meminum obat itu. Bara membantu Bela mengangkat kepalanya agar dapat meminum obat dengan baik.
Di saat seperti itu Alex merasa lega. Di dalam sisi buruk sahabatnya terdapat sisi baik juga. Tapi sisi baik itu jarang diperlihatkan pada orang lain. Dan baru kali ini Alex melihat sisi baik yang tulus diberikan pada orang lain oleh Bara.
Akhirnya malam panjang penuh kepanikan kini telah berakhir. Alex dan blBara tertidur di dalam kamar Bela.
Pagi
Akhirnya Bela terbangun dari tidurnya. Dia merasakan sakit yang amat kuat di sekujur tubuhnya. Bahkan pipinya masih lebam dan sangat susah untuk berbicara.
Dia juga terkejut saat melihat tangannya sedang terpasang selang infus. Dan lebih terkejutnya lagi melihat Bara tidur di sampingnya. Dan selalu saja tangannya memeluk Bela.
"Ah sial, kenapa dia tidur disini. Apa aku harus membangunkan kak Alex agar dia bisabmenyingkirkan orang ini" Gumam Bela dalam hati sambil melihat Bara dan Alex secara bergantian.
Bela tidak bisa melakukan apapun karena Bara memeluknya. Sedangkan Alex tertidur sangat pulas di atas sofa sepertinya mimpi yang sedang dirajut sangatlah indah.
Bela hanya bisa pasrah karena tubuhnya sangat lemas seperti tidak memiliki kekuatan. Dia ingin menyingkirkan tangan Bara tapi terasa sangat berat, lebih tepatnya berat karena takut dia terbangun.
Dia terdiam mengingat tidak bisa melakukan apapun karena kekejaman bara kemarin. Nafas Bara juga terdengar jelas di telinga Bela karena mereka terlelap salam satu ranjang.
__ADS_1
"Ssst, sssst, ssst" Bela memberikan isyarat agar Alex terbangin dan bisa membantu dirinya untuk memindahkan Bara.
"Kak alexxxx" Teriaknya kecil agar tidak terdengar oleh Bara.
Beberapa kali Bela memanggil tapi Alex sudah mati dalam tidurnya. Dia tidak mendengar apapun dan masih tenang dalam lelapnya.
Tidak ada cara lain yang harus dilakukan Bela kecuali mencari ide agar dia bisa terlepas dari bara. Karena dirinya hanya ingin ketenangan dan berdiam diri dalam kamar yang sunyi tanpa siapapun.
"Aaaaaaaaa, aaaaaaa" Sontak teriakan Bela membuat Bara dan Alex terkejut.
Mereka berdua langsung menatap dan mendekat pada Bela dengan wajah yang penuh rasa kekhawatiran, walau jiwa mereka belum sepenuhnya balik dari terlelapnya. Tatapan panik diberikan dan langsung memegangi tangan Bela.
"Kau kenapa? Apa ada yang sakit? " Tanya Bara dengan lembut.
"Syukurlah, pelukannya sudah terlepas" Ucap Bela dalam hati.
Dia sengaja menjerit agar pelukan Bara terlepas dari tubuhnya. Karena dia tidak suka bila Bara memeluk dirinya apa lagi di atas ranjang.
"Kau kenapa Bela, apakah ada yang sakit? " Tanya Alex. Dia juga panik saat mendengar teriakan Bela.
Bela hanya melihat Bara dan Alex secara bergantian. Tidak tau apa yang harus dia lakukan karena terlihat sangat jelas jika kedua lelaki itu memberikan wajah perhatiannya.
Begitu juga dengan Bara, wajahnya yang dingin mendadak menjadi perhatian walau tidak sepenuhnya. Mungkin dirinya merasakan penyesalan karena telah menyakiti Bela.
"Aku lapar" Ucap Bela dengan nada lemas.
"Lapar? Alex, pesanan makan" Perintah Bara pada Alex.
"10 porsi nasi padang" Sambung Bela kembali.
"Benarkah? Kau mau menghabiskan 10 porsi? " Bara dan Alex terlihat heran setelah mendengarkan pesanan yang diminta oleh Bela.
Bela mengangguk.
Alex segera memesan nasi padang sebanyak yang diminta oleh Bela. Sedangkan Bara masih duduk di samping gadis itu seperti sedang menjaganya dari bahaya.
Alex melihat hal itu, dia keluar dari ruangan agar bisa memberikan waktu untuk mereka berbicara berdua. Karena dia tau jika Bara akan luluh dengan Bela, sebab Alex merasa hati Bara memiliki rasa sayang walau sedikit.
"Maaf karena kemarin" Ucap Bara memecah keheningan. Bela hanya mengangguk menanggapi ucapan Bara.
"Kau hanya mengangguk? " Tanya Bara kembali. Dan Bela kembali menjawabnya dengan anggukan.
"Apa kau bisu? " Pertanyaan kembali Bara layangkan. Bela sudah geram dengan hal tersebut.
Lagi-lagi tuannya menanyakan hal yang sudah jelas-jelas dia melihat bahwa wajah Bela masih lebam dan bekas luka juga belum hilang. Tapi Bara terus saja bertanya hal yang tidak penting.
Luka itu di sebabkan oleh Bara dan dia juga yang memaksa Bela untuk menjawab pertanyaannya dengan menahan sakit yang tidak pernah dirasakan oleh Bara.
"Mulutku sakit, aku tidak bisa bicara. Ini semua karenamu" Ucap Bela dengan cepat dan kembali menutup mulutnya.
"Ah sungguh disayangkan, beberapa hari kedepan kau tidak akan bicara" Ucap Bara lalu beranjak dari tempat duduk nya.
Sikap dinginnya kembali dimulai dan segera meninggalkan Bela. Dia keluar dan menyuruh Alex untuk menemani Bela di dalam kamarnya. Karena di rumah ini hanya terdapat satu orang perempuan yaitu Bela.
Alex patuh dengan perintah sahabatnya, jadi dia masuk ke dalam kamar Bela untuk menjaga gadis itu dan sekalian mengajak Bela untuk tersenyum agar tidak stres.
"Hai, masih sakit? " Bela hanya terdiam dan matanya menatap Alex.
Alex segera duduk di kursi samping ranjang Bela. Dia memandangi gadis itu dengan penuh luka yang menghiasi wajah imutnya. Terlihat jelas bekas tamparan yang membiru mengelilingi pipi Bela.
Sobekan sedikit di bibirnya juga terlihat, Alex merasa kasihan melihat gadis di hadapannya menjalani kehidupan malang ini.
__ADS_1
Sebenarnya dia setuju dengan balas dendam Bara pada anak Pras, tapi dia tidak setuju jika balas dendam Bara ditujukan untuk Bela. Karena Alex mengetahui semua tentang Bela. Dia sudah menyelidiki bahwa gadis di hadapannya tidak pernah merasakan kasih sayang dari Pras.