Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
9. Tuan muda


__ADS_3

Bibir senyum melihat keindahan yang sedang berada di hadapannya. Muncul beberapa harapan yang sudah tumbuh dari masa itu. Dan baru kali ini harapan sebenarnya sudah di depan mata.


"Suatu saat nanti oma akan kembali seperti dulu" ucap Bara dalam hati.


Klara menatap anaknya dengan senyuman. Seorang ibu tau kesedihan yang sedang bergelut dengan pikiran anaknya dan berharap kesedihan itu segera menghilang


Bara hanya terdiam dan kembali pergi menggunakan mobil tanpa berpamit lagi. Dia ingin melihat perkembangan simpanan senjatanya. Lebih tepatnya menghilangkan gundah yang merenggut senyum dalam hidupnya saat ini.


Di kafe


"Aku tau jika kau tidak akan memberikan sesuatu gratis pada seseorang, tapi tidak baik juga jika harus menjadikan gadis kecil itu sebagai pelayan. Bukankah dia hampir mirip dengan Denada" Tutur Alex saat Bara termenung nemandangi kopi yang sudah tersedia di atas meja.


"Benar dia mirip Denada, tapi kenyataannya dia bukan adikku" Ketusnya dengan kesal sambil memegang sebatang rokok.


Alex tau sendiri bahwa tubuh Bela mirip dengan Denada walau wajahnya tidak, tapi yang tau sifat Bela saat ini adalah Bara. Dia menceritakan tentang Bela mulai awal bangun hingga membawa oma Rose keluar dari rumah dan berada di kebun.


"Gadis itu juga cantik, aku jadi ingin mencicipi nya" Senyum licik terlintas dari bibir Alex.


Dia sudah mencicipi banyak wanita di klub malam. Mulai dari yang segel hingga yang sudah berpengalaman.


Tapi di statusnya hanya memiliki satu wanita yang sedang berada di Amerika. Di saat mereka menjalani hubungan jarak jauh, maka disitulah Alex kesepian dan mencari wanita malam.


"Kau tidak boleh meniduri gadis itu, dia terlalu kecil bagimu"


"Hahahah, lagipula umur kita berpaut 5 tahun. Hmm apakah mungkin kau juga menyukainya?" Bara hanya terdiam dengan ejekan Alex yang mengatakan bahwa dia menyukai Bela.


"Omong kosong apa yang kau ucapkan, tutuplah mulutmu itu" Ketusnya dengan nada dingin.


"Iya, iya aku paham bahwa kau masih menginginkan wanita itu kembali. Aku pikir kau harus melupakannya" Alex sangat mengerti sahabatnya itu tidak bisa melupakan mantan kekasihnya.


Wanita itu adalah Sisil yang pergi ke luar negeri untuk mengejar impiannya menjadi model dan meninggalkan Bara tanpa belas kasih. Sudah 5 tahun lamanya Sisil pergi dan tidak pernah kembali, bahkan dia juga memutuskan semua hubungannya dengan Bara.


Di saat itulah tawanya menghilang dan kehidupannya menjadi dingin. Apalagi semenjak kepergian Denada, dan sifat dingin itu kini menjadi beku tanpa senyum bahagia yang terlintas kecuali senyum kepuasan.


"Sudahlah jangan berbicara tentangnya" Wajah Bara melihat sangat lesu bila membicarakan tentang Sisil.


"Baiklah, lebih baik malam ini kita bersenang-senang di tempat biasa" Ucap alex sambil menyeringai.


Alex selalu saja memiliki cara untuk membuat Bara senang. Yaitu berkunjung ke klub malam dan meminum anggur yang sangat disukainya. Tapi yang paling berbeda adalah, Bara tidak mau memberikan benihnya kepada wanita asing.


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak tidur daerah wanita malam atau wanita manapun kecuali dia mencintainya dan menikahi gadis itu.


Rumah Baratha


Sementara itu Adel dengan sabar merawat oma dengan memberikan obat serta memijat-mijak kakinya. Dia juga tidak lupa menjenguk pak Taryo yang masih belum sadar dari komanya.


"Kata tante Klara bapak akan siuman, tapi hingga hari menjelang petang tetap saja bapak belum bangun. Bela takut sendirian pak" Keluhnya di dekat pak Taryo.


Bela memikirkan keadaan pak Taryo, hingga dia lupa bahwa luka di kepala dan tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya. Dia hanya ketakutan bila tinggal di rumah asing, Satu-satunya harapan saat ini adalah pak Taryo yang berperan sebagai orang tua sekaligus teman.


"Bela pergi dulu ya pak, mau beresin ruangan" Walaupun wajahnya tidak ada rasa, tetap saja kesedihan melanda dam genggaman kecil.


"Dudududu, dudududu, wahai debu kenapa banyak sekali" Bela bernyanyi sambil membersihkan rumah yang sangat besar itu.


Hatinya masih ada kecemasan, kesedihan yang datang melanda. Dia merasakan itu semua, namun lihatlah bahwa wajah Bela selalu menampakkan hal yang penuh ceria.


Senyumannya sangat teduh, sehingga banyak orang yang melihat itu akan merasakan ketenangan. Bela gadis kecil yang sangat manis, apalagi hidupnya penuh tawa walaupun tidak dengan kenyataannya.


"Siapa kamu, mengapa ada di rumah ini? " Bela terkejut dan segera membalikkan badannya.


Terlihat lelaki yang tingginya hampir sama dengan Bara. Matanya sedikit sipit, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Pemuda itu masih berseragam sekolah dengan lengkap. Bela menatapnya dari atas hingga bawah.


Dia tidak mengenali lelaki di hadapannya. Tapi jika di lihat dengan jelas, wajahnya hampir mirip dengan tiannya Bara.


"Mario, kamu kenapa baru pulang" Tegur Klara dan mendekat ke pemuda itu.

__ADS_1


Bela tidak tau siapakah pemuda yang ada di depannya dan memeluk Klara dengan erat. Wajahnya yang tampan membuat Bela tersenyum kecil, seperti sedang menatap dengan rasa suka.


"Bela"


"Iya tante"


"Kemarilah" Dengan rasa malu Bela mendekat.


"Ini Mario anak tante, dia baru datang sekolah" Ujarnya memperkenalkan pemuda itu pada Bela.


Mata Bela terpesona dengan Mario yang tampan, senyum kecil menghiasi wajahku Bela yang bertaut dengan tatapan tak teralihkan. Lalu bela mengulurkan tangannya dengan senang sebagai tanda untuk berkenalan.


"Siapa dia ma? " Bukannya menyambut uluran tangan Bela, tapi Mario bertanya tentang identitasnya.


"Dia bela dan akan tinggal di rumah ini. Sebagai pengasuh oma" ujar Klara menjelaskan sedikit tanpa memberitahu identitas Bela sebenarnya.


"Mengapa dia menggunakan baju Denada? " Setiap orang heran melihat Bela menggunakan baju itu dan menyebut nama Denada sedangkan dia sendiri tidak tau siapakah Denada itu.


"Sudahlah jangan bicarakan itu, apakah kamu tau jika oma sudah mulainberbicara kembali"


"Benarkah? " Mario segera menuju ke kamar oma Rose untuk melihat keadannya.


"Aduhh pegel banget uluran tangan ini, bukannya disambut tapi malah dibiarkan. Untung saja tidak jamuran" Gumam Bela sambil menarik lagi uluran tangan yang dihiraukan oleh Mario.


"Oma, apa kabar? "


"Baik" Jawabnya singkat dan wajahnya berpaling dari Mario.


"Bela kemarilah, sekarang waktunya oma makan malam" Panggil Klara.


"Baik tante" Bela segera mengambil persiapan makan malam oma dan mengambil obat-obatan.


Entah mengapa rasanya Bela senang merawat oma. Padahal dia baru mengenalnya dan lagipula ini adalah rumah asing baginya. Namun yang dia sayangkan adalah sifat kedua tuannya yaitu Bara dan Mario memiliki sifat yang sama.


"Oma, waktunya kita makan malam dulu ya" Ucap Bela sambil membawa sepiring nasi dan air.


Mario terkejut dengan apa yang dia lihat. Pikirnya heran karena oma Rose terlihat nyaman dengan gadis yang bernama Bela. Padahal sebelumnya banyak pengasuh yang tidak kuat dengan wajah ketus dan sifat oma Rose saat sedang marah. Tapi kali ini berbanding terbalik dengan biasanya.


Gadis muda di hadapannya mampu meluluhkan hati oma sehingga ucapan demi ucapan kembali muncul dari mulut oma Rose.


"Sini Bela suapin, nanti kalau sudah habis baru kita minum obat" Memang tidak ada senyum di bibir oma Rose tapi hatinya terlihat sangat nyaman dengan kehadiran Bela.


Apalagi gadis kecil ini memiliki banyak cara untuk membuat oma Rose melakukan hal yang membuat dirinya senang.


"Ayo ikut mama" Klara menyeret Mario keluar dari ruangan saat netranya menatap heran kelakuan gadis itu yang mampu melukuhkan hati oma Rose.


Klara menjelaskan pada Mario tentang perubahan oma. Semua itu karena Bela yang mirip dengan Denada serta menggunakan baju peninggalan Denada yang membuatnya semakin mirip.


Hal itu membuat raut wajah tenang oma kembali lagi seperti dulu. Seakan wajah oma mengatakan telah menemukan cucunya yang hilang.


"Tapi dia bukan Denada ma, bagaiman jika dia mencelakai oma" Rupanya Mario juga tidak menyukai kehadiran gadis itu.


Terlihat jelas dengan kekhawatiran yang dia ungkapkan lewat tatapan matanya saat oma Rose disampingi oleh gadis asing itu.


Mario juga mengatakan bahwa keluarga ini belum mengetahui pasti sifat gadis itu. Ketakutan dalam dirinya kembali muncul dalam pikiran negatif. Takut oma dicelakai oleh orang yang baru saja masuk ke keluarga Baratha.


"Sudahlah, kita lihat saja nanti. Dan kamu cepat ganti baju karena sangat bau keringat" Perintah Klara.


Mario segera naik ke kamarnya. Ternyata kamar mereka saling bersebelahan. Kamar bara terletak diantara kamar Mario dan juga Denada.


"Gadis itu ingin merebut tempat Denada, aku tidak akan membiarkannya" Mario tidak menginginkan kehadiran Bela. Apalagi Bela memakai pakaian saudaranya.


Denada dan Mario adalah saudara kembar. Mereka selalu bersama kemanapun, bila salah satu menghilang makan jantung hati mereka tidak akan utuh. Mereka berdua tidak bisa dipisahkan.


Namun takdir berkata lain, mereka berdua dipisahkan oleh kematian. Benar saja hingga saat ini jantung hati Mario hanya tinggal sebelah dan satunya lagi telah mati.

__ADS_1


"Denada, apakah kau tersenyum disana? Aku harap kau selalu melihatku. Lihatlah jendela ini tidak pernah aku tutup karena aku yakin engkau akan pulang" pungka Mario yang selalu mengatakan kata hayalan, karena harapnya terlalu tinggi menunggu Denada pulang.


Tangannya menggenggam sebingkai foto gadis cantik yaitu Denada. Matanya menatap taburan bintang yang menyala bebas di angkasa. Dan hatinya selalu menunggu kehadiran Denada lewat bintang jatuh.


*tok, tok, tok* ketukan pintu menyadarkan Mario dalam lamuannya.


"Permisi tuan Mario" Mario segera membuka pintu untuk melihat siapa yang ada disana. Ternyata Bela sudah ada di depan pintu untuk memanggil Mario makan malam bersama.


"Tante klara menyuruhku untuk memanggil anda tuan" Tuturnya lembut, berbanding terbalik dengan bicara kasarnya saat Bela berbicara dengan Bara saudara kandung Mario.


"Siapa kau, beraninya memanggil mamaku dengan sebutan tante. Seharusnya kau tau diri" Ketusnya dengan kesal.


"Ah tuan, jika aku memanggilnya nyonya maka hubungan kami tidak akan akrab. Dan sebetulnya aku ingin memanggil anda dengan sebutan yang indah agar tidak dilupa" Ujarnya sambil tersenyum.


Ternyata Bela masih sama memiliki pembicaraan yang sesuka hati keluar dari mulutnya tanpa disaring. Karena dia sudah terbiasa saat menggoda Roy saat di sekolah.


Apalagi saat dia memanggil Klara dengan sebutan tante, tidak ada yang melarangnya. Dan Klara juga senang dengan sebutan itu.


"Bisakah kau diam, aku tidak lapar"


*brak* bela terkejut dengan kelakuan tuan mudanya itu. Namun bibirnya dengan santai tersenyum seperti tidak terjadi sesuatu.


"Kemana dia, apakah tidak mau turun Bela? " Tanya Klara


"Tante, tuan Mario sedang kelelahan jadi dia ingin aku membawakan makanan ke atas" Ucap Bela dengan senyumnya yang khas.


"Baguslah"


Dia segera mengambilkan makanan Mario lengkap dengan susu coklat yang sangat disukainya. Padahal baru hari ini Bela menjadi pelayan, tapi rasanya dia sangat menyukai pekerjaan barunya itu.


*tok, tok, tok*


"Tuan muda, aku sudah membawakan makanan yang sesuai dengan seleramu. Aku juga membawakan susu coklat" Mario masih terdiam di kamar.


Dia ingin bersantai tapi gadis itu kembali mengetuk kamarnya yang membuat wajah Mario kembali kesal. Dirinya merasa Bela menganggu malam Mario yang begitu dingin.


Mario sangatlah menyukai sepi, karena yang membuatnya ramai yaitu Denada kini telah tiada. Selama keramaian itu hanya hadir dalam mimpi.


"Apa? Bukankah sudah ku bilang jika aku tidak ingin makan" Bentaknya dengan keras.


"Benar tuan kau tidak ingin makan, tapi cacing di perutmu itu akan terus bernyanyai" Sahut bela dengan tenang walaupun dia harus disanbut dengan bentakan Mario.


"Syalalalla, syalalalal" Bela kembali menghibur, tapi wajah Mario masih saja sama.


*pyarrr* Mario melemparkan makanan tersebut sehingga berserakan di atas lantai. Lalu langkahnya kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kembali dengan kasar.


"Aduhh tuan, kau menambah pekerjaanku saja. Punggungku rasanya seperti copot" Gumamnya berbicara liar didepan pintu kamar Mario yang tertutup rapat.


"Ada apa Bela? " Teriak Klara dari bawah.


"Tidak apa-apa tante, aku tidak sengaja memecahkan makanan tuan Mario" Bela berbohong.


Bibir tante klara terlihat tersenyum kecil. Dia tau bahwa Bela berbohong padanya, karena Mario pasti tidak ingin makan. Hampir setiap malam dia tidak ingin makan di rumah, karena dirinya terus memikirkan mendiang saudaranya itu.


Dan Klara selalu memantaunya dengan baik, walaupun Mario tidak makan di rumah dia selalu makan di luar rumah sesuka hatinya.


"Aku harus membawa banyak alat ke atas, aduh mana tangganya panjang sekali seperti ular naga" Keluhnya sambil mencari peralatan.


Setelah dia menemukan apa yang dicari, langkahnya bergegas pergi dan segera membersihkan tumpahan tadi serta beling-beling yang berserakan.


"Lain kali kalau kamu jatuh jangan sampai pecah, karena belingmu sangat tajam" Obrolan Bela yang berbicara asing dengan pecahan piring dan gelas.


"Aduh, yah berdarah. Kocak sekali kulitku ini" Bukan hanya satu pecahan beling yang menusuk, tapi tiga sekaligus menusuk tangan Bela.


Mohon dimaklumi, karena bela tidak pernah membersihkan pecahan piring di rumahnya. Jadi di tidak tau bagaimana cara membersihkan dengan baik agar tidak menusuk kulitnya.

__ADS_1



__ADS_2