Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
56. Rahasia Pernikahan Terbongkar?


__ADS_3

Bangun tidur yang buruk bagi Sisil. Dia mendapatkan kejutan namun bukan kebahagiaan melainkan kejutan yang mengancam karirnya hingga di ujung tanduk.


"Sialll, siapa yang melakukan ini padaku" Teriak sisil kesal dan membanting ponselnya.


"Sungguh orang sialan, mengapa dia melakukan ini" Sambung manajer dan ikut geram dengan berita pagi yang mereka dapatkan.


Bukan hanya itu saja, beberapa panggilan pagi juga masuk dan ternyata beberapa perusahaan juga memutuskan kerja sama dengan Sisil secara sepihak tanpa penjelasan.


Sungguh pagi yang sangat buruk, Sisil dan manajer segera bersiap diri untuk mendatangi perusahaan terbesar yang pertama kali merekrutnya.


Perusahaan itulah yang membuat nama Sisil melambung tinggi dan menjadi terkenal, tapi sekarang perusahaan itu juga yang memutuskan kontrak secara sepihak pada Sisil dan manajernya.


Sisil dan manajernya segera berangkat ke tempat perusahaan utama mereka. Dia menggunakan baju yang tertutup dan juga penutup wajah sebagai penyamaran.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah kau menyebarkan foto kebersamaan kita? " Teriak Sisil gila di dalam mobil pada manajernya. Bibirnya terus menerkam beberapa pertanyaan pada sang manajer untuk meminta penjelasan.


"Tidak mungkin, foto itu tersimpan rapi di laptopku hanya untukku saja" Jelas manajernya.


"Kau sangat bodoh, mengapa harus menyimpannya. Bagaimana jika ada yang menyadap laptopmu bodoh. Bukankah aku sudah bilang bahwa kau harus menghapusnya" Kesal Sisil kembali melonjak.


Mereka berdua terus bertengkar di dalam mobil. Sisil sudah geram melihat manajernya yang ceroboh meletakkn foto tanpa pengamanan di dalam laptop dan ponselnya.


Padahal Sisil sudah mengatakan untuk menghapus foto itu tapi dia tidak mau mendengarkan dan menyimpan foto itu untuk dirinya nikmati.


Hidup Sisil yang malang, dia harus tertekan dengan perbuatannya sendiri. Karirnya sudah di ujung tanduk dan sebentar lagi mungkin akan segera lengser.


"Aahhhh sialll, mengapa harus seperti ini" Teriaknya meracau tidak jelas di dalam mobil.


Dia terus memaki dirinya sendiri karena ceroboh melakukan hal itu dengan manajernya. Mereka telah dipenuhi dengan nafsu sehingga melakukannya berkali-kali. Namun baru kali ini bangkainya terbongkar juga.


Sesampainya di perusahaan tersebut, pemilik perusahaan belum datang juga. Sisil ingin melakukan banding untuk karirnya agar tidak runtuh. Begitu juga dengan manajer yang akan mendukung Sisil sepenuhnya. Karena penghasilan dirinya hanya pada Sisil.


"Silahkan anda tunggu disini, mungkin 1 jam lagi pemilik perusahaan akan segera tiba" Ujar resepsionis agar mereka menunggu kedatangan pemilik perusahaan.


Terlihat wajah sangat begitu ketakutan, dia merasa bahwa dirinya tidak dalam ketenangan melainkan dalam masalah besar. Karir yang dia susun dari nol sekarang sudah diujung tanduk.


Dirinya hanya bisa terdiam dan merenung di kursi tunggu. Padahal karirnya baru melonjak cepat namun sekarang di hancurkan oleh sebuah foto yang dilakukan oleh orang bodoh di sampingnya.


"Tamatlah riwayatku" Gumamnya dengan stres.


Sisil terus menjambak rambutnya karena melihat harapan buntu. Seakan-akan sudah tertutup rapat untuk dirinya menjadi seorang model profesional.


Sisil sungguh menyesal karena pulang ke Indonesia, seharusnya dia tetap berada di luar negeri untuk melanjutkan kariernya walau terus disakiti oleh para lelaki hidung belang yang hanya membutuhkan tubuh yang saja.


Tapi setidaknya dia masih memiliki karir sebagai model dan bisa melambungkan namanya. Dan sebentar lagi keinginannya akan musnah bersama skandal yang datang menyebar.


Sungguh sangat malang nasib Sisil kali ini karena dia sudah tidak bisa mengangkat karirnya lagi setelah jatuh dari masalahnya sendiri, membutuhkan waktu yang lama untuk meningkatkan karirnya seperti dulu lagi.




Sekolah Bela



Setelah mengantarkan Bela ke sekolah Alex segera pergi bersama kekasihnya. Sedangkan Bela segera masuk ke ke dalam sekolah.



"Eh Lihatlah ada berita hangat pagi ini" gerutu para siswa di pagi ini sepertinya ada sebuah berita yang menyambar sehingga membuat Bela penasaran.



"Benar Aku tidak menyangka jika model ini melakukan hal yang sehina itu" sambung beberapa siswa yang lainnya sambil melihat ponsel.



Bela penasaran dengan apa yang mereka bicarakan di pagi ini akhirnya dia membuka ponselnya. Ternyata berita pagi ini adalah tentang seorang model yang bernama Sisil telah tersandung skandal tentang dirinya yang tidur bersama dengan manajernya.



Bela terkejut melihat itu karena dia sendiri coba mengingat wajah yang tidak asing dalam pikirannya. Beberapa menit kemudian Bela sadar ternyata wanita yang bernama Sisil adalah seseorang yang pernah mengejar Bara waktu itu.



"Bukankah dia yang pernah bertemu denganku dan Tuan Bara? " Bella mengingat saat itu lalu dia berencana ingin mencari tahu lebih dalam dengan menanyakan kepada Alex tentang wanita yang saat ini menjadi perbincangan di media sosial.



Kemudian dia berjalan menuju ke arah kelas dan tiba-tiba ada seseorang yang menyiramkan sebuah air ke tubuh Bela sehingga bajunya basah semua.



\*swarrr\*



"Sialan siapa yang melakukan ini" teriak Bela dengan angkuh. Wajahnya memerah meluapkan amarahnya.



Dan ternyata terlihat Dira keluar dengan beberapa gengnya lalu tertawa sangat bahagia saat melihat tubuh Bela basah kuyup di pagi itu, karena Dira sudah menganggap Bela sebagai musuh bebuyutannya.


__ADS_1


Wajah mereka sangat puas saat melihat Bela terdiam memaku dan wajahnya terlihat sangat emosi karena memang itu yang ingin dia dapatkan agar Bela melawan sehingga di pagi hari dia mendapatkan masalah.



Kepala Bela sudah panas amarahnya sudah di ubun-ubun Ingin rasanya memukul Dira dengan keras tapi dia ingat bahwa Ketenangan bisa menyelamatkan dirinya daripada emosi secara berlebihan.



"Rupanya kau tidak pernah kapok denganku Untung saja emosiku sekarang bisa terkontrol jika tidak mungkin kau sudah habis" Ketus Bela, Walaupun dia kesal tapi hanya membalas dengan senyuman dan mengelus dadanya agar tetap tenang.



Tidak lama kemudian Mario datang dari belakang dan melihat bahwa baju Bela sudah terlihat sangat basah lalu dia melepas jaketnya dan segera memberikannya pada Bela. Bela tersenyum dengan hal itu Dan dia juga dengan sengaja memegang tangan Mario dan menggandengnya pergi dari hadapan Dira.



Saat berjalan Bela tidak lupa berbalik sedikit melihat Dira lalu mengeluarkan lidahnya dengan ejekan yang khas karena Bela tahu Dira sangat menyukai Mario.



" Ada apa denganmu Kenapa pagi-pagi sudah basah begini Apa kau bodoh" ujar Mario. Dia memaki Bela karena sudah berbuat ulah dengan bajunya yang basah di pagi ini.



Padahal dia sudah tahu jika yang membuat baju Bela basah adalah Dira. Akan tetapi dia marah pada Bela karena tidak segera pergi dari sana dan masih saja meladeni Dira tanpa memikirkan dirinya karena baju yang basah akan membuatnya masuk angin.



" Aku tidak bodoh hanya saja Aku ingin membalas dendam padanya tapi bukan menyiram Dira akan tetapi memegang tanganmu dan merangkulnya karena dia pasti akan cemburu" Sahur Bela dengan senyuman tanpa harus memikirkan perasaan Mario yang menyukainya.



Dia tidak tahu jika ucapannya membuat Mario sakit hati karena Mario menyukainya akan tetapi terlihat Bela sedang memainkan Mario dengan hal tersebut. Padahal Mario sendiri sedikit bahagia saat Bela merangkul dirinya dan pergi ke dalam kelas.



Mario hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus dia katakan, seakan pikirannya sedang bergelut Apakah dia harus mengatakan tentang cinta pada Bela ataukah tetap memendam rasanya hingga waktu yang ditentukan.



"Sudahlah aku dingin, di mana tempat baju ganti" gerutu Bela saat badannya mulai menggigil karena Bajunya sudah basah sedangkan Mario masih mengajak Bella berbicara dan tidak membawanya ke tempat gudang penyimpanan seragam sekolah.



" Berjalanlah di gudang sana banyak baju seragam bekas dan kau ganti saja bajunya" Ketus Mario dengan wajahnya yang kembali dingin.



Bela pergi menuju ke gudang dan masih menggunakan jaket Mario. Dia merasa aneh saat Mario terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.




Saat Bela ke gudang penyimpanan seragam ternyata gudang itu terkunci sungguh sangat disayangkan dia memaksa membukanya, tapi tetap saja tidak terbuka sedangkan badannya sangat kedinginan.



" Pakailah ini" sebuah tangan dari seorang lelaki yang memberikan seragam pada Bella ternyata dia adalah Beni.



" Terima kasih" ucap Bela dengan senyuman.



Wajah Beni terlihat datar tidak ada ekspresi apapun Lalu dia pergi meninggalkan Bella akan tetapi Bela menghentikannya.



" Tunggu ada apa denganmu, mulai dari kemarin aku lihat kau hanya bisa terdiam " ujar Bela berbicara di belakang Beni.



Beni berbalik dan menatap Bela dengan pekat seakan-akan dia ingin membicarakan sesuatu pada Bela. Beni menarik nafas dalam-dalam sambil menenangkan dirinya untuk bertatapan dengan Bela kembali.



" Aku berhenti untuk mengejarmu karena kau sudah nikah bukan?" Ujar Beni dengan menguatkan dirinya sendiri.



Bela terkejut dengan hal itu bibirnya menganga dan tidak bisa tertutup dan jantungnya bergetar hebat karena dia takut jika ada seseorang yang mendengar kebenaran ini. Yang lebih takutnya lagi mengapa Beni tahu tentang kebenaran yang sudah dia simpan rapat-rapat. Bela membeku serasa pikirannya menggantung sampai ke ubun-ubun.



"Apa maksudmu? Menikah dengan siapa? " ujar Bela mencoba menutupi itu dari Beni, seakan-akan dia tidak tahu maksud dari ucapan Beni.



"Aku tahu semuanya, saat kau sakit aku pergi ke sana namun suamimu melarangku untuk menemuimu, berulang kali aku ke sana dan dia bilang bahwa dia suamimu bukan kakakmu" ujar Beni dengan tatapan penuh kekecewaan.



Bela mendengar itu dan dirinya tidak bisa berkata apapun karena memang itu kebenarannya tapi yang sangat dia sayangkan adalah Bara melakukan itu dan membuat Bela semakin tertekan.

__ADS_1



Bela takut jika Beni mengatakan pada semua siswa dan membuat Bela dikeluarkan dari sekolah ini serta mendapatkan cacian dari mereka. Bela coba menenangkan diri dan bernegosiasi dengan Beni agar Rahasianya tertutup.



"Aku memohon padamu, tolong jangan beritahu siapapun karena aku menikahinya dengan terpaksa dan Aku bersumpah Bahwa aku tidak melakukan apapun dengannya" Jelas Bela.



"Maksudmu?" Tanya Beni, dia masih belum mengerti apa yang Bela katakan dan ingin mengetahui kejelasannya walaupun hanya singkat.



Bela mengajak Beni duduk selonjor di depan gudang seragam, mereka ingin berbicara Empat Mata. Bela menjelaskan bahwa dirinya menikah hanya untuk status saja bukan menikah sesungguhnya.



Jadi walaupun lelaki itu sudah menikahi Bela tapi dia tidak menyentuhnya sama sekali karena itu perjanjian mereka dari awal.



Bela sengaja menceritakan semuanya pada Beni agar dia paham apa yang terjadi sesungguhnya dan tidak menyebarkan hal konyol ini kepada seluruh sekolah.



" Berarti kau masih suci" tanya Beni dengan penuh semangat.



" Jelas bodoh karena aku masih remaja" kesal Bela.



Bela mencoba berbicara kembali pada Beni agar dia tidak membocorkan rahasia. Dan Beni menyetujui itu asal Bela memberikan nomor ponselnya. Sungguh usaha yang tidak sia-sia dari Beni yang ingin mendekati Bela.



Karena Semenjak Beni pindah ke sekolah ini, dia tidak memiliki nomor Bela. Karena Bela tidak pernah ingin memberikan nomornya padanya.



" Baiklah aku akan memberikan nomorku padamu akan tetapi kau juga harus berjanji menjaga rahasia ini baik-baik" Peringatan Bela untuk Beni yang terus dikatakan secara berulang.



" Oke aku janji akan menutup mulutku, berarti aku bisa mengejarmu lagi bukan?" Beni mengatakan hal tersebut seakan matanya memancarkan sebuah harapan baru untuk mendapatkan hati Bela.



Dia tidak peduli walaupun Bela sudah memiliki suami tapi perjuangan Beni akan tetap berlanjut karena Bela hanya memiliki status pernikahan pura-pura saja bukan sungguhan.



Beni berharap di masa depan dia menikah dengan Bela. sungguh hal konyol yang dipikirkan oleh Beni Padahal dia sendiri belum bisa menguasai pelajaran sekolah dan sudah memikirkan Bagaimana cara menguasai wanita.



"Kau belum jawab pertanyaanku berarti aku masih bisa untuk menjadi pacarmu bukan? " Ujar Beni kembali pada Bela dengan senyuman yang kocak seperti dulu.



" Nggak, nggak akan pernah " Sahut Bela dan pergi meninggalkan Beni sendirian.



Di dalam kelas



Pelajaran dilakukan seperti biasa dan wajah Beni kembali seperti dulu. Matanya kembali menatap pada Bela dengan senyuman genitnya dan berharap Ia mendapatkan kelancaran untuk mengais cinta Bela.



Namun dia lupa jika di samping Bela masih ada Mario dan juga menyukai Bela. Sepertinya Beni dan Mario akan bersaing lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Bela.



Seperti biasa di jam istirahat Bela akan pergi ke kantin bersama ketiga sahabatnya yakni Brandon Sela dan juga Mario.



" Kenapa kau tidak melawannya saat disiram oleh Dira tadi?" Ketus Sela dengan kesal karena setelah mendengar cerita dari Brandon jika Bela disiram oleh Dira tadi pagi.



"Sudahlah lupakan saja Aku ingin menjadi anak baik yang tidak suka marah-marah" Ujar Bela dengan melemparkan senyuman.



Mungkin dirinya lupa jika pernah menghantam wajah Dira dengan keras. Dan sekarang seakan dirinya menjadi baik antara ingin taubat ataupun ingin menenangkan diri saja, sebab Bela takut amarahnya melonjak kembali dan membuat lawannya masuk ke rumah sakit hehehe.



Bela merasa bahwa dirinya harus lebih baik dari kemarin. Karena tidak mungkin jika dirinya harus menjadi Bela yang buruk lagi seperti dulu. Karena keburukan itu harus menghilang walau sedikit demi sedikit.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2