Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
78. Bela Putus Asa


__ADS_3

Perdebatan antara Bela dan Ibu guru di dalam kelas telah berlangsung. Padahal yang ribut adalah Mario dan Bela akan tetapi bu guru hanya menegur Bela saja dan Mario menjadi anak emasnya.


"Kalau kamu tidak bisa diam, maka keluarlah jangan mengikuti pelajaran ini" Peringatan kembali diberikan dengan tegas oleh guru.


Sedangkan Bela masih tenang sambil menunduk, mereka kira Bela terdiam karena meras bersalah. Nyatanya dia tertawa di balik tangannya yang berusaha menutupi semua kepala Bela.


Begitu juga dengan Mario yang ikut tersenyum karena perbuatan sahabatnya itu. Dia tidak pernah menyangkal tentang apa yang Bela lakukan adalah kesalahan. Karena menurut Mario perbuatan Bela bisa dikatakan hal lucu yang harus diperkembangkan untuk menebarkan sebuah senyuman.


"Jangan tertawa terus, gigimu kering" Bisik Mario yang semakin membuat Bela tertawa di balik tangannya. Bahkan suara Bela semakin keras sehingga dia mendapatkan teguran terakhir dan membuatnya keluar dari kelas.


"Bela keluarlah, cepat" Kesabaran ibu guru sudah diambang batas dan kesabaran itu telah habis.


Guru di depan tidak bisa mentoleransi Bela lagi dan menyuruhnya keluar. Sementara itu teman-teman di dalam kelas tertawa keras karena ketawa Bela daritadi sudah mereka dengar namun memilih diam. Sedangkan Bela tetap saja tertawa hingga akhirnya dia mendapatkan hukuman untuk keluar dari kelas.


"Ah sial ketawa ku tidak bisa terhenti" Bela menggerutu sambil berjalan keluar.


Sebenarnya Mario juga menyalahkan dirinya dan ingin ikut keluar bersama Bela, namun guru dalam kelas tidak menyalahkan Mario sehingga melarang dia untuk keluar dan mengakui kesalahan.


Sedangkan kelas masih dalam keadaan gaduh karena perbuatan Bela. Hingga akhirnya mereka mendapatkan bentakan dari ibu guru yang terdengar sangat garang. Hingga seketika suasana jelas menjadi sunyi.


Bela menyendiri duduk di depan kelas dengan rasa bosan. Baru saja pelajaran dimulai dia harus keluar karena ulahnya sendiri yang tertawa keras dan tidak jelas. Lalu Bela berjalan menuju ke kantin untuk menenangkan diri. Sesampainya di pertengah perjalanan, dia melihat taman sekolah yang tertutup dan sepi. Akhirnya Bela memilih untuk menyendiri di sana.


"Aku jadi ingat denganmu Roy" Beberapa ingatan kembali ke masa lalu, tentang Bela dan Roy yang selalu senang bila mendapatkan teguran dari guru dan menyuruhnya untuk keluar kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran.


Mereka berdua akan pergi ke kantin untuk menikmati hidangan dengan tenang. Namun seketika ketenangan akan berubah apabila ada pengecekan dari guru piket yang berkeliling untuk mencari siswa yang bolos kelas.


Seketika hal itu menjadi gaduh bagi mereka yang pertama kali bolos. Sedangkan Bela dan Roy akan berlari ke atas atap untuk menenangkan diri. Karena mereka tau bahwa guru piket akan mengecek atap atas hanya di depan pintu saja tidak menyeluruh.


"Sekarang hidupku terlihat lesu saat menyendiri di sekolah Roy. Walaupun aku memiliki sahabat, tapi mereka tidak sama denganmu yang selalu menemaniku kemanapun kaki ini melangkah" Gumam Bela kembali.


Kepiluan kembali memeluk Bela saat dirinya sendirian. Biasanya Roy yang akan menemani Bela dan menghiburnya bersama sebatang rokok. Lalu mereka berdua akan tertawa dan bernyanyi di atas atap sekolah. Namun sekarang itu adalah hayalan yang Bela ciptakan sendiri karena kenyatannya Roy tidak ada di sekitar Bela.


Jarak dan waktu kembali mencekik rindu yang bertaburan dalam hatinya. Ingin berjalan ke tempat asal rindu itu namun rasanya sangat sulit bagi Bela untuk sampai kesana.


"Sepertinya aku harus segera menemui Roy karena rindu ini benar-benar mencekikku hampir setiap hari, dan aku tidak peduli apapun konsekuensi yang harus di hadapi" guman Bela dalam kesendiriannya.


Setiap hari dia merasa ingin bertemu Roy entah mengapa rasanya hidup yang dijalani saat itu seakan hampa karena setiap hari dia selalu bersama Roy dan bahkan hampir keseharian Bela dapat diketahui Roy, namun sekarang semua berubah total.


Untuk menghilangkan rasa sedihnya Bela segera menuju kantin dan menikmati makan sekaligus menikmati momen yang pernah dia lakukan bersama Roy walaupun beda tempat.


"Hei siapa itu "teriak seorang guru yang berada di belakang saat melihat Bela.


Teriakan itu mengejutkan Bela tapi dirinya mencoba tenang karena dia tahu saat ini adalah jam pelajaran sedangkan dia mendapatkan teguran oleh guru sebab telah meninggalkan kelas tanpa pamit dan membuat Bela bolos dalam kelas tersebut.


Bela menoleh lalu menutupi wajahnya dan dia berlari, kali ini Bela tidak pernah panik karena dia tahu bagaimana caranya kabur dari kejaran tersebut. Setelah dirasa jarak mereka jauh Bela masuk ke dalam kamar mandi. Dia pura-pura menjadi seseorang yang masuk dalam kamar mandi dan mengganti gaya rambutnya agar tidak diketahui oleh guru tersebut.

__ADS_1


"Apa ada orang "guru mengecek pintu satu-satu lalu mengecek pintu Bela.


" Siapa di dalam, cepat keluarlah " Bentak guru itu dari luar.


"Aduh perut saya sakit pak, apakah harus dibuka pintunya? "Bela merengek kesakitan seperti orang yang menahan saat ingin membuang hajat.


"Tidak usah, tutuplah dengan rapat pintunya " sahut guru tersebut, mereka pikir telah menangkap siswa yang slaah karena sedang membuang hajat. Padahal di dalam adalah siswa yang sedang mereka cari.


Hingga akhirnya dia berhasil mengecoh guru dengan gayanya seperti biasa. Bela sengaja berlama-lama di kamar mandi, kemudian dia keluar dan berjalan seperti biasa seperti tidak terjadi apapun.


"Apakah kamu sudah lama di dalam? "Tanya guru tiket pada Bela. Ternyata guru tersebut tidak pergi melainkan menunggu Bela di luar toilet.


"Jelas saja saya lama di dalam bu karena perut saya sangat sakit apakah saya harus menahan rasa sakit itu? "Bela kembali memainkan peran, wajahnya sangat meyakinkan karena dia adalah spesialis siswa yang bolos pada masa lalu.


"Baiklah cepatlah ke kelas "perintah guru tersebut.


Dan Bela hanya menjawab dengan senyuman lalu pergi serta berjalan dengan santai padahal yang mereka kejar adalah Bela namun mereka tidak mengenalinya karena Bela sudah mengganti gaya rambut.


Karena jika dilihat dari belakang gaya rambut Bela yang tadinya tidak diikat kemudian diikat maka mereka berpikir bahwa Bela adalah siswa lain dan bukanlah siswa yang sedang mereka cari.


"Tenanglah Roy mereka tidak akan mengenali kita, jadi kali ini kita akan lolos lagi "seketika Bela tersadar bahwa dirinya sedang berbicara dengan udara karena terlalu rindu dengan Roy membuat dia meracau tanpa disadari olehnya.


Betapa dahsyatnya pengaruh rindu itu hingga Bela berbicara sendiri seakan-akan dia sedang berbicara pada Roy bahwa persembunyiannya tidak diketahui oleh guru piket.


Namun dia lupa Roy kali ini tidak berada di sisinya karena Bela hanya dalam kesendirian tanpa Roy. Saat menyadari hal tersebut Bela tersenyum lalu memukul kepalanya dengan kecil serta kembali ke depan kelas untuk mendapatkan panggilan dari guru tersebut agar masuk ke kelas yang kembali.


"Sial apakah ini karma gara-gara tadi " gerutu Bela dalam hatinya. Lalu dia menyuruh ketiga sahabatnya untuk berjalan lebih dahulu karena Bela ingin ke kamar mandi.


Sedangkan Mario ingin menemani Bela di kamar mandi tapi itu adalah perbuatan hal konyol walaupun Mario mengatakan bahwa itu perhatiannya agar Bela tidak dijahili oleh Dira padahal itu adalah modus Mario yang tidak ingin jika Bela dekat dengan Beni.


"Kau sungguh konyol Mario, sudahlah kau pulang saja perutku sedang sakit "ketus Bela pada Mario membuat Brandon dan Sela tertawa di samping mereka.


"Kenapa kau tidak sekalian saja masuk ke toilet menjadi satpam Mario" sambung Brandon dengan kata-kata konyolnya membuat mereka kembali tertawa dengan keras.


"Diam , perutku benar-benar sakit kalian pulanglah sendiri dadah "Bela segera berlari ke kamar mandi dengan terburu-buru karena perutnya benar-benar sakit saat itu.


Benar saja tanpa pikir panjang dan baru saja duduk, Bela telah mengeluarkan isi perutnya dengan cukup lama di kamar mandi. Dia pikir itu adalah karma karena tadi sudah mengecoh guru dengan kebohongannya sendiri.


"Sial, ini pasti karma "gerutu Bela setelah dia selesai dari masa kritisnya.


Lalu dia membuka pintu ternyata dirinya semakin menambah kesialan sebuah pintu itu tidak terbuka dan terkunci dari luar. Bela terus mendobrak namun nyatanya tetap saja tidak bisa.


*brak*


"Tolong siapapun yang mendengarku di dari luar tolong bukakan pintu ini "teriak Bela dengan lantanh karena saat dia masuk pintu itu baik-baik saja namun mengapa saat Bela berada di dalam tiba-tiba pintu itu terkunci dari luar.

__ADS_1


Lalu Bela mengeluarkan ponselnya namun nyatanya dia kehabisan baterai karena tadi pagi dirinya lupa untuk mengecasnya. Dia tidak bisa melakukan apapun sebab ruangan toilet sangat kecil dan tidak ada jendela yang bisa dia buka.


Jalan satu-satunya adalah keluar melewati atap dengan menjebol atap dan berjalan di lorong-lorong atas sana dan yang kedua yaitu berteriak minta tolong. Namun Bela melakukan hal yang kedua yaitu berteriak minta tolong karena pemikiran kesatu membuatnya kesulitan saya memanjat sebab tidak ada penopang.


"Tolong coba buka siapapun yang di luar, tolong aku "tetap saja teriakan itu tidak ada gunanya karena orang-orang sudah sepi tidak ada yang lalu lalang melewati toilet saat jam pulang.


"Sepertinya aku harus tertidur di sini astaga sial sekali hari ini" tiba-tiba pikirnya putus asa lalu dia menyandarkan diri sambil memegang rambutnya seakan dia menarik masalah yang sedang bergulir dalam pikiran tersebut.


Berulang kali Bela memejamkan matanya menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar dia berharap ada seseorang yang bisa membuka pintu tersebut karena kali ini Bela tidak bisa melakukan apapun sebab mustahil jika dia ingin menaiki plafon namun tidak ada penyangga yang bisa diandalkan kecuali hanya pijakan yang ada di wastafel.


"Tamatlah riwayat mu Bela" Bela berbicara sendiri karena dirinya telah putus asa.


* Brak*


"Apakah ada orang di sini?" mata Bela terbelalak karena dirinya kembali menemukan harapan untuk keluar dari toilet tersebut setelah mendengar teriakan itu. Belamengenali suara itu dia langsung bersiap untuk bergegas pergi dengan semangat.


"Tolong aku, aku di sini tolong bukakan pintu itu " teriak Bela dengan penuh semangat.


"Kau mundur lah, aku akan mendobraknya" sahut seseorang dari luar.


*Brak, brak* tabrakan beberapa kali akhirnya membuahkan hasil dan pintu itu terbuka lalu terlihat seorang gadis yang tersenyum dari balik pintu yaitu Bela.


" Mario kau menyelamatkanku "teriak Bela dan langsung memeluk Mario karena dia merasa bahwa lelaki di depannya menjadi pahlawan untuk membukakan pintu tersebut.


Sejenak Mario terdiam lalu bibirnya tersenyum kecil saat mendapatkan pelukan tersebut dari Bela. Dia menerima pelukan itu dan membalasnya karena merasa bahwa Bela sedang ketakutan di dalam padahal Bela hanya putus asa karena tidak bisa menaiki plafon.


" Bagaimana bisa kau tahu jika aku ada di sini? " Tanya Bela pada Mario sambil melepaskan pelukannya.


"Kak Alex menunggumu cepatlah keluar "sahut Mario membuat Bela tersenyum karena merasa dia selamat sebab kak Alex mencarinya bukan karena Mario memiliki telepati atau ikatan batin dengannya.


Bela dan Mario berjalan keluar dari sana sedangkan di balik tembok yang lain terlihat sepasang mata yang sedang mengawasi yaitu Beni. Dia merasa kesal karena salah start dengan Mario padahal Beni juga tahu jika ada Bela di dalam namun seketika dia mundur karena Mario telah sampai duluan dan mendobrak pintu tersebut.


"Mungkin ini bukan rezeki ku untuk menolong Bela, aku rasa lain kali "bibirnya tersenyum dan tertawa kecil namun hatinya terluka karena pujaan hatinya memeluk orang lain bukan dirinya.


Dengan rasa putus asa Beni meninggalkan tempat persembunyiannya namun tiba-tiba kakinya berhenti dan menatap sekitar.


"Tidak tidak mana mungkin aku harus putus asa sedangkan mereka hanya bersahabat dan aku yang akan memiliki hati Bela "rasa percaya dirinya sangat tinggi karena dia yakin bahwa Bela akan jatuh di tangannya.


Dan Beni sangat ambisius untuk mendapatkan hati Bela bagaimanapun caranya karena dia sangat mencintai gadis itu walaupun sudah mendapatkan penolakan.


Cinta memang tidak boleh dipaksa akan tetapi cinta boleh dikejar walaupun mendapatkan hasil yang belum memuaskan. Namun ada kalanya kita harus terus berjuang untuk mendapatkan cinta tersebut walau pada akhirnya tidak mendapatkan kepuasan.


Dan adakalanya juga kita tetap semangat meski harapan menolaknya di depan mata yang penting di dalam hati adalah ada rasa dengan semangat jiwa yang tinggi untuk mendapatkan dan menggapai cinta tersebut walaupun di ujung angkasa sekalipun.


"Maaf ke Alex aku lagi ke toilet "seru Bela saat dirinya telah bertemu dengan Alex

__ADS_1


"Tenang saja aku akan setia menunggumu sampai kapanpun, walaupun kau pergi kabur lagi dari sekolah "ucapan Alex membuat Mario dan Bela tertawa.



__ADS_2