
Bara menatap Alex dengan tenang sambil tersenyum sekarang memberikan isyarat kelicikannya yang akan dia berikan pada Sisil sebagai balas dendam karena telah merusak hatinya
"Aku ingin menghancurkan hidupnya" Ucap Bara sambil tersenyum.
"Apa? " Alex benar-benar terkejut.
Karena ini pertama kalinya Bara mengatakan akan membalas dendam pada wanita yang dulu sangat dia cintai.
Karena selamat ini Bara hanya terdiam dalam pikirannya yang sangat sulit melupakan Sisil hingga beberapa tahun lamanya. Hingga akhirnya dia lupa dan kini wanita itu kembali lagi.
"Aku akan mendukungmu, dia sudah membuat sahabatku menderita. Maka aku akan membuatnya menderita juga" Celetuk Alex.
Dia sangat mendukung Bara karena mereka sudah menjadi Sahabat dari kecil bahkan bisa dibilang keluarga.
Alex akan maju di garda terdepan apabila sahabatnya itu dilukai. Bahkan dia yang selalu menemani Bara saat dia terpuruk dalam rasa cinta yang hilang serta kematian Denada saat itu.
"Sekarang tenangkan dirimu. Minumlah ini" Alex memberikan segelas Bir.
"Tidak, aku tidak ingkn minum" Baru kali ini Bara menolak untuk minum.
Alex hanya tersenyum kecil melihat wajah sahabatnya itu. Antara ingin tertawa, marah atau sedih. Banyak hal yang dijadikan satu terlukia di wajah Bara.
"Jangan tersenyum, kau nanti akan tertawa jika mengetahui rencanaku" ujar Bara membalas senyuman Alex dengan senyuman liciknya.
Alex hanya bisa terduam karena pikirannya sudah tau apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya. Semua yang dilakukan oleh Bara pasti ada pertimbangan yang besar. Jadi Alex hanya bisa mengikuti untuk mendapatkan kejutan yang besar.
Hingga malam tiba dia pulang dan meninggalkan Alex di markasnya. Dia pulang dengan membawa pikiran untuk cepat-cepat membalaskan dendamnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bara segera masuk ke dalam kamarnya dan terlihat Bela masih membaca sebuah buku.
Mereka berdua masih terdiam tanpa banyak kata apapun. Sejenak Bara meliaht ke arah Bela, kemudian kembali ke tatapannya yang tertuju pada sebuah nakas.
"Mengapa dia masih menyiapkan bajuku? Padahal aku tadi menamparnya" Ucap Bara dalam hati.
Sebuah set baju ganti yang telah disiapkan oleh Bela. Tertata rapi di atas nakas sperti biasa. Sekarang Bela sudah menjadi istri maka pikirannya adalah melayani suaminya tapi hanya keperluannya saja.
"Dia sudah datang, aku tidak ingin bicara dengannya. Lebih baik membaca buku ini" Gumam Bela dalam hati, dia tidak peduli dengan kedatangan Bara.
Matanya sibuk meneliti setiap kalimat dalam sebuah buku itu. Buku yang dipinjami oleh Mario tadi siang setelah dia pulang dari sekolah.
Mario yang dingin merasa kasihan saat mendengar Bela yang ingin melanjutkan sekolahnya. Jadi dia memberikan buku itu untuk belajar sekaligus sebagai teman Bela sebelum tidur.
"Isss, kenapa pipiku masih sakit ya? " Gumam Bela dalam hati sambil memegang pipinya.
Sementara itu Bara sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bela pergi ke dapur untuk mengambil air dingin yang akan digunakan sebagai kompresan untuk pipinya yang terlihat lebam.
Sempat tadi di ruang makan terlihat sangat ribut dengan pipi Bela yang membiru. Dia hanya berkata bahwa sedang jatuh saat mandi dan pipinya menabrak wastafel. Karena tidak ingin beberapa orang khawatir hanya karena luka yang dia miliki.
"Sepertinya aku bawa saja ke atas. Biar sekalinya langsung tidur" Gumamnya berbicara sendiri.
"Hey"
"Astaga.... " Bela benar-benar terkejut dan jantungnya hampir copot.
"Kamu kenapa tiba-tiba muncul tuan Mario" Ujar Bela.
"Sudah aku bilang, panggil saja Mario. Jangan panggil tuan" Sahutnya.
Semenjak siang tadi Mario merasa nyaman dengan Bela. Wajahnya yang membeku sekarang sedikit agak mencair wlaupun jika di lihat masih ada rasa dinginnya.
"Iya, Mario. Kenapa kamu mengejutkanku, untung saja ini tidak jatuh" Ujar Bela sambil memegang baskom di tangannya.
"Aku hanya ingin minum, tidak ingin mengejutkanmu" Jelas Mario sambil mengambil gelas minum.
"Baiklah, aku ke atas dulu ya" Bela pamit dari hadapan Mario.
"Tunggu" Baru saja Bela melangkah sekarang Mario memanggilnya.
"Ada apa? " Saat bela menoleh, Mario terdiam sambil menelan salivanya dengan kasar.
"Hmm, tidak jadi. Besok saja" Terlihat wajahnya gugup.
__ADS_1
"Baiklah" Bela segera pergi meninggalkan Mario.
Entah ada apa dengannya, dia ingin ngobrol banyak hal bersama Bela namun rasanya terlalu sulit. Karena Mario sudah terbiasa dengan rasa kesendirian tanpa seorang teman yang diajak bicara setelah kepergian Denada.
"Nah sekarang sudah lebih enakan. Aku lebih baik sekarang, dan mungkin mata ini akan segera terlelap" Gumamnya dalam hati.
Lalu perlahan matanya menutup dan kompresan itu masih melekat pada pipinya. Kini Bela telah larut dalam mimpinya yang akan segera ia rajut dalam tidur panjang malam ini.
Beberapa menit kemudian Bara keluar dari kamar mandi. Matanya langsung menatap ke Bela yang sudah terlelap dari tadi.
"Anak itu sungguh aneh, pipinya bengkak tapi dia tidak merintih kesakitan. Bahkan pukulan ku yang sangat keras tidak mampu membuatnya menangis" Gumam Bara.
Pandangannya tertuju seluruhnya pada Bela. Dia duduk di atas ranjang sedangkan Bela masih dengan posisi tidur di atas sofa.
Sedikit hati Bara merasa kasihan melihat pipi Bela yang terlihat membiru. Lalu dia beranjak dari duduknya dan memperbaiki selimut Bela yang berantakan.
"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis sepertinya memiliki tubuh yang kuat" Tatapan Bara menuju ke arah langit-langit.
Otaknya terus saja bertanya-tanya tentang keberanian Bela dan ketegasannya. Dia terdiam dan tidak menangis seperti gadis lain. Bahkan jika di ingat, pukulan itu sangat keras karena tangan Bara yang begitu kekar.
"Sudahlah, suruh siapa dia melakukan hal itu di meja makan. Itu semua kesalahannya sendiri" Kesalnya kembali muncul.
Lalu dia kembali merebahkan diri dan mempersiapkannya untuk tertidur malam ini. Kali ini dia tidak ingin memikirkan Bela atau wanita ****** yang kembali hadir.
Bara hanya ingin menikmati lelah dan tidur malam ini tanpa harus memikirkan banyak hal yang tidak penting.
Pagi
Bela sudah berada di dapur membantu para pelayan menyiapkan makan. Lalu kembali ke kamar oma untuk mengurusinya seperti biasa. Membantu oma untuk bersiap diri.
Kasih sayangnya sangatlah dalam. Bahkan dia sudah menganggap oma sebagai neneknya sendiri.
"Bela, kamu antarkan oma ke kebun ya" ucap oma pada Bela.
"Baik oma"
Walaupun hati Bela hancur karena permintaan untuk sekolah tidak ada yang meresponnya tapi dia tetap ingin menjadi anak baik dan menantu baik di rumah ini.
"Lihat oma, mawarnya sangat indah bukan? " Seru Bela sambil menunjuk pada mawar yang masih melekat di pohonnya.
"Sebentar oma" Bela segera pergi ke tengah kebun untuk memberikan setangkai mawar untuk oma.
Apapun keinginan oma akan Bela turuti. Karena baginya oma adalah suatu harta yang harus di jaga di rumah ini. Karena jantung rumah ini adalah oma.
"Aduhh, jahat sekali kamu mawar" Ucapnya saat duri mawar menusuk tangan Bela.
Sedikit darah menetes walaupun tidak begitu deras. Tapi sedikit nyilu, seperti orang bilang kayak di gigit semut.
"Kenapa? " Tanah oomapenasaran saya Bela memegangi telunjuknya.
"Tidak oma, tadi si mawar menyapa dan mengenggol tanganku sedikit" Sahutnya sambil tersenyum.
Dia menyembunyikan luka itu agar oma tidak khawatir. Karena menurut Bela itu adalah luka yang kecil dan tidka berpengaruh.
"Oma, aku ingin mengajak oma untuk berdiri. Apakah oma mau? "
Sejenak oma terdiam, karena sudah lama semenjak kematian Denada oma merasakan kelemahan dalam tubuhnya sehingga dia hanya duduk di kursi roda tanpa berdiri.
"Oma tidak bisa" Penolakan yang Bela dapatkan dari oma saat ini.
"Tapi Bela akan menjaga oma agar tidak terjatuh" Bela mencoba meyakinkan oma agar mau berdiri dan menjelajahi dunia dengan kakinya.
Bela tidak ingin kaki oma mati untuk selamanya. Karena kaki itu hanya dimatikan sendiri untuk sementara waktu. Selebihnya kaki oma masih bisa berfungsi dengan baik.
Sementara itu Bara menatap perlakuan Bela dari balik jendela kamarnya di atas. Dia baru terbangun dari tidurnya lalu mendengar suara oma dan Bela sedang berbincang-bincang.
"Tidak apa-apa oma, Bela akan menjaga oma agar tidak terjatuh" Beberapa ucapan Nela akhirnya meyakinkan oma agar mau untuk mencoba berdiri.
Selama ini oma tidak mau pergi ke dokter untuk melakukan terapi. Karena menurutnya semangat oma ada dalam Denada. Semenjak Denada pergi, semuanya seketika menghilang.
Sungguh wanita yang beruntung itu bernama Denada. Dicintai oleh seluruh keluarga ini. Karena kepergiannya membuat semua orang di rumah ini menjadi patah.
"Sekarang Bela turunkan kaki oma, nanti oma pegang bahu Bela agar bisa berdiri" Bela memberikan instruksi kecil pada oma.
__ADS_1
"Baiklah, tapi hati-hati ya"
"Siap oma"
"Apa yang akan dilakukan gadis itu pada omaku, apa dia ingin balas dendam karena aku tidak menurutinya?" Pikir Bara menjadi salah paham.
Dia pikir Bela akan mencelakai oma dengan memaksanya untuk berdiri dari kurus roda. Dia berpikir bahwa Bela marah dan akan membalaskan dendam itu pada oma.
Bara bergegas turun ke taman dan menghampiri mereka berdua. Karena Bara tidak ingin hal sekecil apapun menyakiti oma..
"Sekarang oma berdiri ya" Ucap Bela sambil memegangi tangan oma.
Perlahan oma berdiri dengan kakinya yang masih gemetar. Sudah beberapa tahun ini oma mematikan fungsi dari kakinya sendiri. Akhirnya hari ini pertama kalinya oma berdiri walaupun masih sulit.
"Baik oma, peganglah aku dengan erat. Langkahkan satu per satu" Ucap Bela menuntut oma.
Bela terus mengajari oma secara perlahan untuk melangkah sedikit demi sedikit. Dia terus memberikan semangat walaupun awal yang sangat susah untuk oma melangkah.
Namun tidak sengaja dirinya menginjak batu kecil dan membuat Bela kehilangan keseimbangan untuk menahan oma.
"Aaaa" Mereka berdua terjatuh.
Untung saja Bela dengan sigap menahan oma dan menjadi pelindung oma. Dia tidak peduli walaupun saat ini tubuh oma menindihnya.
Untung saja Bara datang dan segera membantu oma untuk berdiri dan duduk kembali ke kursi roda. Sedangkan Bela masih terbaring di bawah lantai yang bersebelahan dengan kebun.
"Oma, apakah oma baik-baik saja" Tanya Bela walaupun dirinya masih menahan rasa sakit. Oma terdian dan tidak menjawab apapun.
"Oma duduklah disini, aku akan membawa oma ke dalam untuk istirahat" Tanpa banyak bicara Bara membawa oma masuk ke dalam.
Dia membiarkan Bela yang masih bergelut dengan lantai. Bela menatap heran karena dia sempat mengulurkan tangan dengan pikiran bahwa Bara akan menolongnya. Ternyata pikirannya salah karena Bara menghiraukan dia.
"Aduhhh, dia kenapa sih. Aku ingin menanyakan keadaan oma tapi tuan Bara membawa oma masuk ke dalam" Kesalnya sambil membersihkan diri.
Tanpa dia sadari ternyata tangannya terluka karena menahan tubuh oma sehingga tangan Bela tidak sengaja terbentur pada batu yang ada di samping.
Lukanya tidak besar namun mendapatkan robekan sedikit sehingga mengeluarkan darah kembali.
"Sial, luka dari mawar belum sembuh dan sekarang luka dari batu. Kalian ini membuatku kesal" Gumamnya memaki bantu yang ada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan? Apa ingin membuat omaku celaka ha? " Tutur kasar keluar dari mulut Bara
Bara datang dan terus memarahi Bela. Karena dia pikir Bela sengaja memaksa oma untuk berdiri dan membuat oma terjatuh.
"Tuan, aku hanya ingin mengajak oma untuk terapi kaki" Jawab Bela dengan tenang.
"Terapi kaki? Memangnya kau dokter. Cukup sudah alasanmu, karena kau selalu membuat keributan pagi ini" Bentaknya kembali.
"Tuan Bara yang terhormat, saya hanya ingin oma menikmati masa hidupnya bukan hanya di kursi roda. Saya ingin kma memiliki semangat hidup" Jelas Bela tidak mau kalah.
"Ingat ya, sekali lagi kau melakukan hal itu pada oma. Aku tidak akan segan-segan untuk menyiksamu" Ancam nya kembali diberikan.
"Baiklah, silahkan saja" Balas Bela dengan santai.
Lalu dia bergeas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Bara sendiri. Bela segera menyiapkan sarapan pagi untuk oma yang belum sempat makan bersama di meja makan.
Sedangkan mario dan Klara sudah berangkat dari tadi. Bela tidak sempat makan bersama mereka karena oma meminta untuk menikmati udara segar di kebun.
"Anak itu tidak memiliki otak" Kesal Bara saat melihat wajah Bela yang santai karena amarahnya tadi.
Bela segera menyiapkan makanan dan masuk ke dalam kamar oma. Dia melihat oma duduk bersanrai sambil memegangi sebuah foto. Yaitu foto Denada
"Oma, apakah badan oma baik-baik saja? " Tanya Bela sambil melihat ke seluruh tubuh oma. Dan syukurlah tidak ada luka yang menggores sedikitpun.
"Tidak ada, oma baik-baik saja" Sahut oma dengan ramah.
Lalu bara tiba-tiba masuk kembali ke kamar kloma. Dia menarik tangan Bela untuk keluar dari kamar oma. Dia tidak ingin Bela mendekati oma lagi.
"Kamu ngapain disini, cepat keluar"
"Tuan, aku hanya ingin merawat oma" Jelas Bela.
"Merawat? Sedangkan kau tadi membuat omaku terluka dan sekarang kau bilang ingin merawat oma?" Amarahnya kembali memuncak.
__ADS_1
"Apa katamu bara? Bagaimana kau bisa terluka sedangkan tubuh bela menjadi penopang saat oma jatuh. Dia melindungi oma agar tubuh ini tidak terjatuh ke lantai" Jelas oma.