
"Mengapa kau kabur? Menyusahkan aku saja" Alex membuka pembicaraan saat dia melihat Bela termenung sendiri tanpa banyak bicara.
"Sesekali kak, lagian kau jarang aku susahkan" Sahut Bela dengan wajah lesu, lalu dia menyandarkan kepalanya di jendela sambil melihat pemandangan yang berjajar.
Alex merasa heran dengan wajah itu yang tidak seperti biasanya. Wajah penuh gembira mendadak lesu saat pertengkaran antara Mario dan temannya itu.
Sesekali Alex melihat untuk memahami apa yang terjadi pada Bela, walaupun pada akhirnya dia tidak tau pasti tentang apa yang sedang bergulir di pikiran gadis itu.
"Untung saja Bara keluar dari rumah, jadi dia tidak akan tahu jika kita pulang telat " jelas Alex, tiba-tiba Bela terdiam dan matanya melotot menatap Alex.
"Apa? syukurlah kita selamat Kak. Tolong jangan beritahu ini pada Tuan Bara, pasti dia akan marah" Bela membuyarkan lamunannya dan berkata demikian, karena dia mengingat terakhir kalinya pukulan Bara penuh dengan emosi dan hampir membunuhnya.
Memang hal itu tidak membuat Bela menangis Akan tetapi rasa sakit itu diderita Bela hingga beberapa hari sebab rasanya tulang-tulang dia seakan ingin patah.
Untung saja Bela mampu bertahan hidup walau di tangannya dibantu selang infus dan meminum beberapa obat dari dokter untuk beberapa hari. Sungguh malang nasib gadis itu. Jadi Bela mencegah Alex agar tidak memberitahu hal ini pada Bara.
"Aku akan memberitahunya" goda Alex pada Bela.
Padahal dia sendiri tidak tega jika melihat Bela dipukuli oleh sahabatnya itu, akan tetapi Alex sangat senang bila menggoda Bela dengan gertakan serta kebohongannya.
"Kenapa kau tidak menyayangiku kak Alex? Aku adalah adikmu" ujar Bela dengan mimik muka yang lucu dan rasanya dia berkata seperti sedang bermain drama dan bermain peran.
Bela berkata demikian pada Alex seakan dia bersyair sambil memohon pada seorang raja untuk tidak melakukan hal itu. Membuat Alex tertawa dalam hatinya namun di luar dia pura-pura menahan tawa itu agar membuat Bela ketakutan sekaligus membalasnya karena dia telah membuat Alex menunggu terlalu lama di depan gerbang sekolah seperti orang gila.
" Itu salahmu, suruh siapa pergi tidak bilang-bilang padaku, maka aku akan mengadukannya pada Bara "kembali Alex berkata bohong dan seakan-akan Dia mengadukan pada Bara untuk membuat Bela sedikit ketakutan, karena rasa ketakutan di wajah Bela itulah yang membuat Alex bahagia.
"Kak Alex jika kau mengatakan itu maka adikmu akan sedih " lagi-lagi Bela merayu Alex dengan wajah manja seperti anak kecil yang sedang mengadukan hal itu pada mamanya.
Bahkan Bela bergelantungan di lengan Alex yang sedang fokus menyetir namun dia tidak mengganggu Alex karena dia tahu hal itu sangat berbahaya.
" Kak Alex yang sangat tampan dan dermawan kau tidak boleh berkata begitu karena aku akan terluka " tutur lembut serta merayu keluar dari mulut Bela agar dia terhindar dari kemarahan tuannya karena telah mengetahui bahwa Bela telah kembali kabur dari sekolah dan pantauan Alex.
Awalnya Alex mencoba untuk diam dan menampilkan kemarahan akan tetapi tetap saja hatinya tertawa dan lama-kelamaan Alex juga tergoda dengan bujuk rayuan Bela sehingga dia ingin tertawa keras saat melihat tingkah laku gadis kecil di sampingnya.
"Kau selalu membuatku tertawa hahaha" seru Alex sambil menyetir karena dia sudah dari tadi menahan tawa itu namun tetap saja pada akhirnya dalam memecah keheningan dan membuat Alex tertawa terbahak-bahak dengan wajahnya yang merayu sangat lucu.
Bagaimana bisa Alex terus menerus menahan dirinya sedangkan wajah Bela terlihat jelas seperti anak umur 7 tahun dan dia bergelayut manja pada tangan Alex dengan wajah konyolnya.
Sejenak mereka terdiam lalu saling bertatatapn, kemudian kejadian yang lucu kembali menghiasi mobil mereka hingga akhirnya Alex tertawa dengan kencang dan menyetir hingga menuju ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah untung saja Bara masih belum datang, akhirnya Bela berlari ke dalam kamar dan mempercepat langkahnya untuk mengganti baju serta menyiapkan makanan agar Bara tidak mengetahui bahwa dirinya telah kabur dari sekolah dan jalan dengan Beni. Jika Bara mengetahui itu maka dia akan memiliki pikiran bukan hanya untuk memukul Bela saja melainkan juga akan memukuk Beni dengan keras dalam lingkaran dendam.
Malam
Bela menyiapkan makanan cukup banyak di meja makan berbeda di hari-hari sebelumnya. Kemudian dia menunggu Bara datang dan juga menyuruh Alex untuk menunggu Bara di meja makan padahal semua makanan telah siap.
__ADS_1
"Kak Alex aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu dan tuan bara, kuharap kau menikmatinya ya Kak " ujar Bela sambil menebarkan senyumannya, sementara itu Alex kembali bersikap cuek dan tidak peduli dengan Bela.
Dirinya pura-pura tidak mendengarkan apa yang telah Bela bicarakan dan dia kembali memainkan ponselnya serta duduk di ruangan tengah. Tidak lama kemudian Bara datang dan dia langsung masuk ke kamarnya untuk mengganti baju lalu Bela mengikuti Bara naik ke kamarnya.
" Tuan Apakah kau ingin mengganti baju? " tanya Bela pada Bara.
" Apakah mata mu buta? sudah jelas aku ingin masuk ke kamarku" jelas Bara dengan dingin.
"Bolehkah aku menyiapkan bajumu?" Bela menawarkan diri karena dia sudah lama tidak menyiapkan baju Bara seperti saat mereka tinggal berdua di rumah oma.
Karena sekarang Bara dan Bela seakan hidup sendiri-sendiri tanpa bergantung satu sama lain, namun Bela tetap ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yaitu menyiapkan baju Bara. Akan tetapi Bara tidak pernah memperbolehkan Bela untuk masuk ke kamarnya.
"Kau sudah lupa bahwa kamar ini melarang kau untuk memasukinya" ujar Bara.
"Iya aku tahu tuan namun aku hanya menolongmu saja, kulihat wajahmu sangat capek dan aku yakin bahwa kau belum makan" tutur Bela dengan lembut namun Bara tidak memperdulikannya, dia selalu segera masuk ke dalam kamarnya dan segera mengganti baju.
Pikirnya kembali bertanya-tanya atas apa yang dilakukan oleh gadis kecil itu sehingga membuat sikapnya begitu aneh dan terlihat sangat perhatian dengan Bara.
Padahal di hari-hari biasa saat Bara pulang dari pekerjaannya, Bela tidak pernah bersikap demikian karena dia hanya memiliki kewajiban untuk memasak saja bukan untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa dengannya, apakah kepalanya sedang terbentur sehingga dia ingin menyiapkan bajuku Aku tidak akan membiarkannya masuk ke dalam kamar ini " Aku membara dalam kamarnya. Sementara itu Bela terlihat berpikir untuk mencari cara bagaimana agar Alex tidak berbicara tentang hal tadi pada Bara.
Serta Bela mencari cara bagaimana agar dirinya dan Bara sibuk berbicara sehingga tidak memberikan ruangan waktu untuk Alex mengadu hal tersebut.
" Kak Alex Ayo kita makan" Bela menyeret Alex menuju ke meja makan. Dia menyiapkan kursi dan seakan menjadikan Alex adalah seorang raja meski hanya sementara waktu.
"Apa yang kau lakukan aku bisa sendiri Bella" seru Alex sambil memberikan senyum liciknya.
Seketika Bela tersadar bahwa Alex tersenyum bukan hanya pada dirinya melainkan ada Bara yang sedang berjalan di belakang Bela karena saat ini belajar Alex saling berhadapan dan Bela sedang membelakang Bara yang masih berjalan untuk menuju ke meja makan. Bela segara berbalik dan melihat ke belakang.
"Silakan tuan duduk dan nikmati semua hidangan yang ada" tutur Bela penuh kelembutan. Seperti melayani pada yan g kamu bisa yaitu barang Setelah dia melayani raja kedua yaitu Alex.
Bela segera mengambilkan makanan pada Bara seperti biasa kemudian mengambilkan makanan pada Alex, dia memperlakukan mereka sebaik mungkin. Pada saat Bela meletakkan makanan Alex, terlihat jelas mata Bara menatapnya dengan tajam dan melihat sangat aneh karena tidak seperti biasa Bela melayani Alex seperti itu.
Sementara itu Alex kembali memberikan senyum kecilnya yang penuh arti pada Bela membuat jantung Bela berdebaran dan matanya kembali terbelalak.
"Apa kau mau ayam? "Tanya Bela dengan ramah pada Alex.
Alex hanya menggangguk dan menyetujuinya lalu Bela mengambil ayam tersebut menggunakan pisau seperti seseorang yang siap menghantam mangsanya dengan tatapan tajam tersebut.
Lalu Bela kembali memberikan senyuman itu pada Alex dan memberikan isyarat bahwa dirinya sedang memegang pisau untuk. menghajar tatapan itu. Seketika Alex terdiam lalu kembali seperti pura-pura jika tidak sedang terjadi apa-apa.
Setelah itu Bela duduk dan juga melakukan makan malam bersama. Makan malam berlangsung dengan baik dan tidak ada sedikit pembicaraan dari mereka. Bahkan Alex sendiri tidak mengeluarkan suaranya tentang apapun hingga makan malam selesai.
Bella segera membereskan makanannya dan juga membersihkan piring-piring kotor, sementara itu Bara dan Alex masih duduk di meja makan.
__ADS_1
"Bara Aku ingin berbicara denganmu" ujar Alex sengaja memperkeras ucapannya agar didengar oleh Bela.
*pyar* Bela menjatuhkan piring saat dia sedang mencucinya. Karena dia takut Alex ingin membicarakan tentang kepergian dirinya dari sekolah kepada Bara.
"Kenapa? " tanya Bara pada Bela saat mendengar pecahan piring tersebut. Begitu juga dengan Alex berbalik sambil menata Bela yang sedang berdiri di wastafel cuci piring.
Bela segera berbalik dan menatap pada mereka berdua. "Tidak apa-apa tuan, aku baik-baik saja" ujarnya dengan penuh senyuman, padahal hatinya begitu gugup.
Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa tangan Bela tergores pecahan piring sehingga membuat darah segar meluncur dari jari-jarinya.
"Tanganmu berdarah Bela " seru Alex yang menemukan darah mengalir dari jari-jari Bela.
Seketika semua tatapan menuju pada tangan Bela dan benar saja darah mengalir segar dan terus menetes.
Bela segera menghentikannya untuk mencari kain namun tiba-tiba Bara beranjak dari tempat duduknya lalu membersihkan tangan Bela dengan air kemudian menghisap darah itu menggunakan mulut Bara untuk menghentikan pendarahan yang biasa dilakukan orang-orang terdahulu.
"Alex tolong ambilkan aku kotak obat" perintah pada pada Alex. seketika Alex langsung berlari dan mengambil kotak obat yang berada di ruang tengah.
Sementara itu Bara sibuk menghisap tangan Bela lalu mencucinya dan kemudian menghisapnya lagi. Sedangkan Bela menatap heran pada tuan yang berdiri di depannya serta memberikan perhatian yang tidak seperti biasa.
Padahal dia selalu tidak peduli dengan Bela akan tetapi kali ini dirinya baru memahami seakan-akan Bara menunjukkan kepeduliannya dengan membantu Bela untuk menghentikan pendarahan itu.
"Entahlah, hantu apa yang masuk dalam dirimu tuan sehingga engkau berbuat baik seperti ini" batin Bela berseru sambil terpesona melihat perlakuan Bara pada dirinya.
Bela hanya bisa terdiam dan tidak bisa berbuat apapun karena tangannya dicengkram keras oleh Bara dan memasukkannya ke mulut Bara, sedangkan di hatinya Bela merasakan kesenangan karena Bara tidak bersikap dingin lagi pada Bela.
"Tanganmu terluka, namun kau masihtersenyum? m" ujar Bara dengan heran saat melihat senyuman kecil yang terlintas di bibir Bela.Belum sempat Bela menjawab, alex sudha datang membawa kotak obat lengkap.
" Bara ini kata obatnya" Alex membawakan kotak obat. Bara segera mengecek tangan Bela takut ada pecahan beling yang masuk ke dalam kulitnya.
Kemudian dia mengobatinya secara telaten dan baik. Mungkin jika Bara bersikap lembut seperti itu maka tidak akan ada yang menyangka jika dia adalah seseorang mafia yang sangat kejam.
Bahkan Bela terpaku dengan kebaikan yang sedang Bara lakukan padanya saat itu. Sehingga rasanya Bela ingin jari-jarinya terluka setiap hari agar Bara bersikap hangat pada dirinya seperti itu. Karena selama ini sikap Bara selalu dingin bahkan jarang sekali untuk menyapa Bela atau bahkan hampir tidak pernah.
"Kurasa kau sudah aman Bela, jadi aku ingin mencari udara segar saja "ujar Alex sambil tersenyum lalu keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam rumah.
Alex sengaja membiarkan mereka berdua di dalam sana agar terlihat semakin dekat. Dia juga ingin menghilangkan sedikit dendam dalam diri Bara dan menggantinya dengan cinta yang tulus pada Bela. Karena Alex mulai dulu tidak pernah setuju atas dendam Bara yang ditujukan pada Bela yang tidak mengerti apapun.
Sementara itu ada sedikit rasa canggung dalam diri Bela dan juga ada rasa bahagia karena melihat Bara memberikan kehangatannya walaupun itu hanya sebentar.
"Lain kali kau hati-hati jika kau sakit maka siapa yang akan memasak" ketua Bara lalu dia meninggalkan Bela setelah selesai mengobati tangannya.
Bela pikir dia peduli padanya dan memberikan perhatian saat dirinya terluka akan tetapi Bara mengatakan bahwa dia hanya peduli jika tangan Bela sakit maka tidak akan yang memasak di rumahnya. Dan Bara akan memakan makanan luar yang sangat tidak sehat untuk dirinya.
" Aku pikir kau berubah jadi hangat tuan, ternyata kau hanya menyuruhku untuk menjadi pembantu saja" gerutu bela setelah Bara pergi.
__ADS_1