Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
26. Senyum Mario


__ADS_3

Di dalam kelas dia berbincang-bincang bersama Brandon dan juga Mario. Padahal dahulu Brandon dan Mario tidak pernah ada interaksi sedikitpun. Namun sekarang Bela berhasil mempersatukan mereka walau hanya ddnagn obrolan ringan saja.


Brandon anak nakal yang selalu berbuat ulah, bisa dibilang foto copyan dari bela di masa lalu. Sedangkan Mario adalah anak teladan yang bisa mendapatkan nilai tertinggi di kelas ataupun seluruh sekolah.


"Bel aku ingin cerita" Ucap Brandon memecah keheningan.


Rasa ingin tahu Mario menjadi besar, lirikan matanya tajam saat Brandon memegang tangan Bela. Hati Mario seakan teriris dan tidak rela bila ada orang lain yang ingin mendekati Bela.


"Cerita apa? " Sahut Bela membenarkan posisi matanya menatap Brandon.


"Pegang pipiku" Bela menurut saja dengan perintah Brandon. Dia langsung memegang pipi Brandon sesuai perintahnya.


"Apaan sih, ngapain pegang-pegang begini" Emosi Mario tidak bisa di tahan saat melihat Bela dekat sekali dengan Brandon.


Amarah Mario tidak biasa, Bela hanya mengikuti arahannya lalu pandangan itu beralih pada wajah mario yang lucu. Dia terlihat marah namun masih saja menggemaskan.


Apakah itu cemburu? Mungkin iya, karena semenjak kehadiran Bela rasanya membuat Mario semakin nyaman untuk menjalani kehidupannya. Dan si beku akan meleleh bila mendengar Bela bercerita dengan celotehnya yang khas.


"Kalian ini kenapa si? Ayo pergi, bel sudah berbunyi" Bela memilih untuk menyeret Mario. Karena dia tau jika Mario marah maka sifatnya tidak akan beda jauh dengan Bara.


"Kau tau, marah akan membuatmu tua. Jika kau tua lebih dahulu, lalu bagaimana denganku" gerutu Bela pada Mario, lalu berpamitan pada Brandon untuk pergi dari kantin.


Bela terus saja mengoceh dengan kepiawaiannya dalam berbicara. Bahkan tidak ada sedikit saja dia berhenti, dia terus berbicara untuk membuat hati Mario sedikit tenang dan membuang amarah dalam dirinya.


Hingga sampai pulang sekolah Mario tetap sama dengan diamnya dengan ribuan amarah jika mengingat Brandon. Tapi dia sudah bisa menahan emosi sejenak karena Bela.


"Mau pulang denganku? " Mario. menawarkan tumpangannya pada Bela.


"Sepertinya tidak, karena kakakmu sudah menunggu" Sahutnya dengan lembut saat melihat mobil Bara yang sudah tiba menjemput.


Bela menolak ajakan Mario karena mobil Bara sudah terparkir di depan sekolah. Benar-benar tepat waktu sekali, mungkin pikirnya takut jika istri kecilnya di gondol orang lain. Jangankan orang lain, bersama adiknya sendiri saja sudah cemburu walau tidak menampakkan.


Sedangkan di belakang mereka terlihat Brandon menatap kelakuan Mario. Brandon menyukai Bela sebagai teman perempuannya, sehingga setiap hari mencoba mendekatkan diri dengan Bela agar bisa menjadi sahabatnya. Karena keceriaan Bela banyak yang menyukainya salah satunya Brandon, namun masih belum. menyukai tentang cinta.


"Tuan cepat sekali menjemputku, apakah tuan menunggu lama? " Bara diam, dia fokus melihat perjalanan namun hatinya kesal jika mengingat di pagi hari ada seorang anak lelaki merangkul Bela dengan mesra.


"Apakah tuan lelah? Baiklah jika tuan tidak ingin bicara" Bela menghentikan percakapannya.


Dia menempelkan wajah di kaca mobil untuk melihat pemandangan di jalan ini. Sekaligus untuk menghafal jalan dari rumah ke sekolah atau sebaliknya. Karena dia ingin jalan-jalan sepulang sekolah tanpa sopir atau pengawal suruhan Bara.


"Kenapa lelaki itu merangkulmu tadi pagi? " Bela terkejut saat bara membuka pembicaraan.


Sejenak Bela memandangi wajah Bara yang terlihat sangat kesal. Dia juga tidak tau lelaki siapa yang merangkulnya tadi pagi. Karena Bela banyak memiliki teman lelaki dan mereka semua mudah akrab dibandingkan teman perempuan.


Dan salah satu yang merangkul Bela adalah Mario, adik kandung Bara. Jadi tidak mungkin Bela mengatakan jika Mario merangkuknya juga.


"Lelaki siapa? " Tanya Bela untuk menemukan jawaban.


"Tidak suah berbohong, lelaki tadi pagi di depan gerbang" Ketus Bara membuat Bela tersenyum kecil.


Dia tidak menyangka jika lelaki dingin disampingnya mengawasi Bela saat masuk ke dalam sekolah. Bahkan dia tau jika tadi pagi di depan gerbang Brandon merangkulnya, padahal mereka hanya sebatas teman bukan siapa-siapa.


"Apa tuan cemburu? " Gumam Bela kembali sambil tersenyum.


"Jawablah" Bentak Bara. Kali ini tutur kasarnya keluar kembali.


"Baiklah, dia temanku" Bara masih terdiam mendengar jawaban singkat Bela.


Dia kembali fokus untuk menyetir mobil. Sedangkan Bela juga sama terdiam sambil menikmati pemandangan. Hatinya sudah mengerti, apabila Bara terdiam berarti sedang marah.


Bela juga tidak bisa apa-apa, karena Bara masih memilih diam dan menghindari tatapan dari Bela. Kesunyian itu berlanjut hingga ke rumah.

__ADS_1


Bara segera naik ke atas, sedangkan Bela seperti biasa masuk ke kamar oma. Dia selalu mengajari oma untuk berdiri dan berjalan perlahan. Kali ini cukup di kamar oma saja karena Bela takut kejadian kemarin terulang kembali.


"Selamat sore oma" Sapa Bela dengan riang.


"Sore sayang, kamu baru sampai? " Seru oma.


"Iya, tapi tenang oma karena aku selalu bersemangat mengajari oma jalan agar kita bisa ke lantai" Keceriaan Bela seakan tidak ada habisnya.


Semenjak kehadiran Bela selalu saja ada hal positif yang membuat oma kembali untuk bangkit. Secara tidak langsung Bela sudah memberikan semangat untuk oma berdiri.


Hampir setiap hari Bela mengajarinya dan itupun tidak ada yang tau, karena oma merahasiakan hal ini agar saat kaki oma bisa berjalan dapat memberikan kejutan untuk semuanya.


"Bagus oma sedikit lagi" Teriakan kecil dari Bela penuh dengan semangat.


Sudah terlihat jelas kemajuan oma, dahulu yang sangat susah menggerakkan kakinya dan sekarang bisa melangkah walaupun hanya satu dua langkah saja. Dan bahkan oma bisa berjalan beberapa menit sambil berpegangan tembok.


Setelah beberapa menit akhirnya oma menyuruh Bela untuk istirahat, karena dia pasti kelelahan sspulang sekolah.


Tidak salah Tuhan kirimkan Bela, karena hal itu membuat kebahagiaan Denada kembali di rumah ini. Memang dia bukan Denada asli, tapi sifatnya sangat mirip dengan Denada. Anak ceria, selalu menghibur dan melakukan banyak hal demi orang di sekitarnya tersenyum.


*klek*


Bela masuk ke kamar, tapi Bara sudah tidak ada di kamar itu. Karena dia pergi ke luar untuk melakukan kegiatan yang dia inginkan. Entah kegiatan apa yang penting bara melakukan tanggung jawabnya.


"Dia sudah keluar, baguslah jadi aku bisa mandi disini" gunam Bela dalam hati.


Kehadiran Bara selalu membuat Bela waspada. Karena dia takut di saat Bara tiba-tiba masuk, jadi dia akan mandi di atas bila Bara keluar. Dan akan mandi di bawah bila Bara berada di kamar mandi.


Namun hal itu juga dilakukan hati-hati karena takut jika Klara dan Mario mengetahui hal itu. Dan hingga saat ini tidak ada yang tau jika Bela dan Bara melakukan kawin kontrak.


"Segar sekali, aku mau istirahat sejenak" Ia melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Terlelap dalam selimut tebal dan merajut mimpi secara perlahan.


Padahal tadi Klara ingin membangunkan menantu kecilnya namun tidak tega melihat wajah mungil itu terlihat sangat lelah. Jadi dibiarkan saja, dan makanan khusus Bela sudah disiapkan.


"Mama, apakah sudah makan malam? " Wajah polos Bela saat turun dari kamarnya.


"Iya sayang, maaf mama tidak membangunkanmu. Karena wajahmu terlihat sangat letih" Sahut Klara dengan lembut.


"Baiklah tidak apa-apa ma, Bela akan makan sendiri. Oh iya apakah oma sudah makan? " di saat perutnya kosong saja, Bela masih memikirkan oma.


"Sudah, kamu makan aaja ya karena masakan itu masih baru dan khusus untukmu" Jelas Klara.


Bela duduk di meja makan, terlihat semua makanan itu masih baru dan banyak. Tidak mungkin dia akan menghabiskan makanan itu sendiri. Sedangkan keluarga besar sudah makan, kecuali Bara karena dia tidak terlihat barang hidungnya.


"Ma, apakah suamiku sudah pulang? " Tanya Bela kembali.


"Belum, kamu makan saja. Karena dia biasanya dia akan makan diluar" Sahut Klara dan kembali menatap laptop di ruang tamu sambil bersandar di kursi.


Bela segera pergi ke dapur, dan melihat beberapa pelayan masih sibuk membersihkan piring dan juga alat masak. Mereka selalu bekerja dengan cekatan dan cepat untuk membersihkan rumah.


Pikiran mereka tentang kebersihan dan tidak boleh ada noda sedikitpun yang terlewat. Mereka sudah mengabdikan dirinya dengan baik di sini, apalagi uang gaji tidak pernah terlambat dan juga cukup besar bagi mereka.


"Apa kalian sudah makan? " Bela memecah kegaduhan aliran air dengan suaranya.


"Eh nyonya, kami akan makan setelah keluarga besar makan" Ucap ketua pelayan.


Bela mengetahui bahwa mereka akan menahan lapar dan segera makan setelah semua keluarga besar menyelesaikan makanannya.


Tidak tega rasanya bila hingga malam mereka akan makan dan menunggu Bela selesai makan. Jadi pikirnya berinisiatif untuk mengajak para pelayan makan, agar Bela tidak merasa sendirian di meja makan dengan hidangan yang banyak itu.


"Baiklah, kalian makan bersamaku di meja makan" Ajak Bela kepada mereka.

__ADS_1


"Tapi, itu untuk keluarga besar saja nyonya dan kami akan makam disini setelah keluarga besar selesai makan" Jelas pelayan.


"Bukankah kita sesama manusia? Lagipula apakah kalian tega membiarkan aku makan sendirian. Rasanya sedih tau" Bujuk Bela.


Akhirnya dengan persetujuan Bela mereka makan di meja makan keluarga Baratha. Dimana sudah bertahun-tahun mereka mengabdi dan baru kali ini merasakan makan di meja yang indah.


Biasanya hanya menyediakan makanan dan sekarang merasakan makanan dengan sendok dan garpu mewah. Rasanya seperti mimpi yang sangat nyata.


"Bela? Kenapa ini" Tegur Klara.


Mereka semua membeli saat ingin memgambil nasi. Seketika suasana sneng menjadi sunyi karena rasa takut melihat Klara datang dan bertanya pada menantunya itu.


Para pelayan tau diri, tapi mereka juga tidak bisa menolak permintaan Bela yang ramah. Dan sekarang para pelayan merasa jika diri mereka terancan.


"Eh mama, jadi begini ma karena Bela tidak ingin makan sendirian dan makanan ini terlihat banyak jadi Bela putuskan ajak mereka" Klara terdiam mendengar perkataan bijak dari menantunya.


"Bukankah mereka juga keluarga ini ma? Karena mereka sudah mengabdikan kehidupannya sejauh ini" Sambung Bela.


"Iya benar, mama suka dengan kepribadianmu karena tidak membedakan orang lain di kasta tertinggi atau terendah. Jadi lanjutkan lah" Klara menyetujui perbuatan Bela dan dia menyuruhnya untuk melanjutkan hal yang baik itu.


"Mama setuju? " Klara mengangguk dan tersenyum.


Bela dengan sigap langsung memeluk Klara, dirinya merasakan ada dukungan yang hebat dari keluarga ini. Karena tidak ada larangan saat Bela menginginkan makan bersama pelayan di rumah ini.


Dari kamar atas Mario juga melihat bagaimana perubahan seisi rumah semenjak kedatangan Bela. Rumah yang sunyi dan senyap, hanya ada dentingan benda-benda kali ini sudah tidak lagi semenjak kehadiran Bela.


Bela datang membawa banyak kebahagiaan yang disebarkan dalam rumah. Gadis langka yang ditemui oleh keluarga Baratha dan membawa kebahagiaan yang melimpah.


"Gadis itu, mengingatkan aku dengan senyum Denada" Gumam Mario sambil menatapnya.


Lalu dirinya pergi masuk ke dalam kamar, dia kembali ke meja belajar untuk melanjutkan bacaan yang belum usai. Namun buku itu sekarang mengalihkan konsentrasinya, karena seperti mengambarkan wajahnya Bela.


Pikirannya terngiang-ngiang dengan wajah Bela, senyum Bela dan segalanya tentang Bela. Seakan dunianya terisi dengan Bela. Bahkan hari bertambah hari, senyum Mario semakin merekah walaupun sedikit demi sedikit.


"Bela, andai saja kau bukan istri kakakku. Mungkin aku yang akan menikahimu" Batinnya berseru, namun beberapa detik kemudian ia sadar.


"Astaga, apa yang aku katakan. Mana mungkin aku mencintainya" Mario menyadarkan dirinya sendiri.


*plak, plak, plak*


Tubuhnya salah tingkah. Mario memukul pipinya dengan gemas, seakan untuk menyadarkan lamunan tentang Bela yang tak seharusnya dia pikirkan.


Mario segera beranjak dari meja belajar dan mengakhiri bacaannya. Dia segera melemparkan tubuh di atas ranjang sambil meracau tidak jelas supaya ingatan tentang Bela menghilang.


Malam semakin larut dan Mario telah terlelap untuk membangun bunganya mimpi baru dalam gelap malam.


"Pelajaran sudah aku siapkan, seragam juga sudah, baju tuan Bara juga sudah. Semua sudah beres dan aku akan beristirahat. Tapi tuan Bara belum datang, sepertinya aku harus menunggu dia lagi" Gumam Bela berbicara sendirian dalam kamar.


Malam sudah larut, namun batang hidung Bara belum saja muncul di dalam kamar. Mata Bela juga sudah mengantuk, tapi dia tidak akan bisa tidur sebelum menunggu suaminya itu.


Akhirnya dia rela begadang dan menunggu Bara pulang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dia tidak peduli jika besok bangun kesiangan, karena yang dipedulikan saat ini adalah suaminya.


*klek*


"Akhirnya tuan kau pulang juga" Bara terdoam dan memandangi gadis kecil dihadapannya yang turun dari ranjang secara tergesa-gesa.


"Apakah tuan tidak apa-apa? Aku menunggumu daritadi, aku takut kau belum makan. Apakah tuan sudan makan? " Perhatian Bela selalu dicurahkan dengan celotehnya yang selalu berbicara tanpa henti.


Banyak pertanyaan yang Bela berikan, sedangkan Bara sangat malas menanggapinya. Lalu dirinya diduk di atas sofa dan sejenak menenangkan pikiran itu. Dan Bela juga ikut duduk di samping itu untuk memastikan bahwa Bara baik-baik saja.


__ADS_1


__ADS_2