
Di satu sisi Bela terlihat lega karena Bara tidak menanyakan bagaimana bisa dagunya terbentur sehingga mendapatkan bekas lebam dan memiliki rasa sakit seperti tonjokan.
Biarlah hal itu terlupakan sehingga membuat Bela merasa tenang dan tidak berurusan dengan Bara, hitung-hitung itu balasan Bela saat pukulan Bara mendarat di wajah Bela seperti waktu itu.
"Tuan aku sudah menyiapkan air madu hangat untuk dirimu, agar kau tidak lemas lagi akibat alkohol tadi malam " Ujar Bela sambil memberikan segelas madu yang dia buat.
Bara hanya terdiam dan melanjutkan makan tanpa menghiraukan ucapan Bela, seakan-akan sifatnya telah kembali pada Bara yang dingin.
Padahal kemarin dia masih banyak berbicara dan sempat tertawa lepas saat Bela mengantarnya di ranjang waktu dia mabuk. Namun sekarang kepribadiannya kembali berubah menjadi Bara pendian dan pendendam seperti singa sedang mencari lawan.
Tanpa menunggu respon dari Bara, Bela segera pergi berpamitan untuk ke sekolah bersama Alex. Sedangkan Cintia ingin ikut bersama mereka berdua seperti biasa seakan-akan tidak lepas dari Alex. Padahal dari tadi masih berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apapun. Sungguh kekasih yang sangat aneh mengelilingi kehidupan Bela dan Bara.
Sekolah
Bela berjalan di lorong kelas, pandngannya tertuju pada sebuah mading sekolah. Disana terlihat ada sebuah poster lomba melukis yang mendapatkan hadiah cukup banyak.
Wajah Bela berbinar-binar sambil memegang poster itu seakan-akan dia telah menemukan harta karun di pagi hari yang cerah. Lalu dia segera berlari ke dalam kelas untuk mencari sahabatnya dan menunjukkan poster.
Matanya terus mencari sahabatnya di setiap sudut, akan tetapi dia tidak melihat sahabatnya dan hanya melihat Mario saja di dalam kelas.
"Mario lihatlah aku menemukan sesuatu" ujar Bela dengan kebahagiaan menghiasi raut wajahnya.
Mario heran dan tidak tahu apa yang sedang dibawa oleh sahabatnya itu, dia pikir Bela telah menemukan benda yang sangat berharga sehingga membuat dirinya gembira pagi ini.
Mario mencoba menenangkan Bela agar duduk terlebih dahulu karena dia ingin mendengar cerita Bela sekaligus bisa berbicara berdua dengan Bela.
"Apa yang kau temukan, apakah kau menemukan emas, uang ataukah benda yang lain? "Ujar Mario mengurutkan suatu benda yang ada di pikirannya.
"Apa kamu menemukan emas Bela " Beni tiba-tiba datang dan langsung duduk serta ikut masuk dalam pbicaraan mereka dan menjadi pengganggu di sela-sela perbincangan mereka.
Wajah Mario langsung mengkerut saat melihat Beni karena dia tidak suka jika Beni berdekatan dengan Bela. Mario sangat mengetahui bahwa Beni menyukai Bela tapi dia tidak ingin cinta itu menjadi satu. Karena hati Mario juga mencintai Bela.
Mario berusaha untuk menghalangi Beni agar tidak duduk di dekat Bela dan dia menarik kursi tersebut sehingga beni tidak bisa duduk. Akan tetapi Mario salah karena Beni duduk di meja di depan Bela sehingga mereka berdua sangat dekat.
"Kenapa kau selalu hadir di antara kita apakah kau tidak memiliki pekerjaan" gerutu Mario dengan kesal pada Beni.
"Aku tidak berbicara denganmu aku ingin berbicara dengan Bela lagipula apa urusanmu" sahut Beni menghiraukan kehadiran Mario dengan menampilkan wajah seperti ingin perang dengan Mario.
Tatapan mereka berdua semakin memanas tidak ada angin tidak ada hujan Mario dan Beni selalu bermusuhan. Mungkin tidak akan pernah ada kata akur di antara mereka berdua karena di hati mereka hanya ada satu orang yang harus didapatkan dengan cara apapun yaitu Bela.
"Ah kalian ini sungguh menyebalkan, aku ingin bercerita tapi kenapa kalian bertengkar "kesal Bela sambil menatap Mario dan Beni secara bergantian.
" Maaf "ujar Mario dan Beni secara bersamaan
"Nah gitu dong jadi kan aku bisa tenang bercerita pada kalian" ujar Bela menampilkan senyuman. Baru saja Bela ingin cerita tiba-tiba Brandon dan Sela datang menyusul.
Dengan wajah rasa keingintahuan yang tinggi mereka langsung duduk dan ingin mendengarkan Bela. Karena Sela dan Brandon tidak ingin meninggalkan satu rahasia sekalipun apalagi tentang sahabatnya karena mereka adalah pendengar yang baik.
__ADS_1
Mungkin jika mereka hidup di zaman dahulu akan menjadi radio yang mendengarkan serta menyebarkan berita. Walaupun mereka berdua sungguh menyebalkan dan hal itulah yang membuat Mario dan Bela menyayangi mereka sebagai sahabat.
"Jadi begini..... " Bela menjelaskan pada mereka bahwa dia membawa poster lomba melukis yang ada di tangannya.
Bela bercerita bahwa ini adalah kesempatan Bela untuk menuangkan bakatnya. Semua mata tertuju pada Bela karena mereka tidak tahu bahwa Bela memiliki hobi untuk melukis.
Ketiga sahabatnya tercengang karena Bela baru memberikan rahasianya tentang kegemarannya pada melukis sungguh rahasia yang sangat tidak adil.
"Kau menyembunyikan rahasia pada kami?" Tanya Brandon di sela-sela penjelasan yang Bela berikan.
Bela terkejut dengan pertanyaan itu lalu dirinya mencoba tersenyum untuk menenangkan suasana. Karena mereka telah berjanji bahwa di dalam persahabatan tidak boleh ada rahasia.
Bela mencoba menenangkan mereka satu persatu dan berkata bahwa dia memiliki alasan tersendiri untuk berhenti melukis namun tiba-tiba setelah melihat poster tersebut dirinya hanya ingin melukis kembali karena telah lama dirinya tidak berhadapan dengan kuas dan kanvas.
"Sebentar , kau mengapa ada di sini apakah kau menguping pembicaraan kami? "Ujar Sela yang tiba-tiba sadar bahwa mereka tidak duduk berempat akan tetapi berlima.
Karena ada Beni yang duduk di samping dan menyenderkan diri untuk mendengar obrolan mereka. Sungguh kesadaran yang di luar nalar karena terlambat terlalu lama, padahal Beni sudah dari tadi duduk di sana tapi Sela tidak menyadarinya.
Begitu juga dengan Brandon ternyata dia tidak menyadarinya juga, karena fokusnya ada pada Bela yang sedang berbicara dengan Mario untuk mengetahui sesuatu hal. Sepertinya mereka benar-benar menganggap Beni adalah bayangan saja sungguh malang.
"Apakah kalian tidak tahu jika dia sudah dari tadi duduk di sini " jelas Bela pada Brandon dan Sela.
"Tidak " sahut Brandon dan Sela secara bersamaan.
"Aku lebih dulu datang dari kalian "Sambung Beni dengan wajah sombongnya.
"Sungguh payah, kau harus pergi karena ini rahasia persahabatan kami " Ujar Sela dengan tatapan kesal, tapi Beni menolaknya karena dia hanya ingin berdekatan dengan Bela.
Bela hanya terdiam karena dia juga tidak ingin Beni berada diantara persahabatan mereka, tapi dia juga sungkan jika mengusir Beni dari tempatnya karena dia merasa memiliki hutang Budi pada Beni.
"Baiklah sekarang tinggal kita berempat, jadi kau harus memberitahu kami apa alasanmu bersembunyi dengan kenyataan sebagai pelukis " sambung Brandon setelah keadaan di meja mereka sudah tidak ada lagi pengganggu.
Bela berdiam diri lalu dia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin melukis lagi karena dia akan mengingat mamanya. Semenjak kematian mamanya Bela berhenti melukis akan tetapi kali ini dia memutuskan untuk terjun lagi dan melukis.
Serta ada alasan di baliknya akan tetapi Bela tidak bisa menjelaskan hal itu kepada sahabatnya. Mereka bertiga juga memaklumi mungkin ada hal yang ingin disembunyikan dan mereka juga tidak bisa memaksa karena hal itu adalah hak Bela.
"Sok-sokan jadi pelukis tahu-tahu lukisannya cuma gambar gunung doang hahaha "sungguh menyebalkan suara pengganggu dan sindiran datang dari mulut Dira serta teman-temannya.
*brak* gertakan meja dengan keras.Tangan Bela sudah sangat kesal sehingga memukul meja tanpa dia sadari.
Bela beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Dira dan kawan-kawannya. Wajah mereka ketakutan bila mengingat Bela pernah memukuli mereka hingga babak belur di dalam kelas, seketika bibir mereka terdiam dan tubuh mereka membeku seakan-akan tidak tahu apa yang ingin ia lakukan.
"Kita lihat aja nanti apakah aku berhasil ataukah hanya omong kosong saja " jawaban Bela sambil tersenyum licik pada Dira.
Kali ini Bela tidak ingin membalasnya dengan pukulan ataupun kekerasan karena dia ingin menjadi anak baik. Tiba-tiba Beni muncul di belakangnya sambil bersorak bahwa Bela akan menjadi pelukis terkenal dan Beni akan selalu mendukung Bela sampai kapanpun.
Mario melihat kelakuan Beni dia tidak setuju dengannya karena Mario juga ingin mendukung Bela. Mario beranjak dan menyingkirkan Beni lalu dia berbicara pada Dira bahwa Bela akan menjadi pelukis terkenal dan terhebat.
__ADS_1
Dira semakin cemburu melihat Mario yang biasanya dingin dan pendiam kini malah sebaliknya menjadi periang dan mendukung Bela. Seakan-akan Mario telah berubah karena Bela dan semakin hari Mario akan semakin membenci Dira.
" Oke kita lihat saja nanti aku yang akan menantangmu di lomba itu " Ternyata Dira juga memiliki hobi melukis. Bahkan dia memiliki banyak jam terbang, sehingga dia menyombongkan diri seperti itu.
Dia bertekad untuk mengalahkan Bea di lomba melukis tersebut, Bela hanya tersenyum karena dia tahu bahwa keahlian bukan hanya dari omongan melainkan dari berlatih hingga hasil akhir yang akan dilihat.
Sepulang sekolah Bela kembali menunggu Alex dan kali ini Mario libur untuk melakukan les lalu dia menemani Bella menunggu jemputannya.
"Bel Apakah kau bahagia dengan kakakku?" Tanya Mario membuka keheningan saat mereka berdua duduk di halte menunggu Alex yang menjemput Bela.
Bela terdiam matanya menatap ke sembarang arah untuk mencari sebuah Jawaban. Dia tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya dan apa yang sedang terlibat dalam kehidupannya.
Yang dia tahu Bara adalah orang baik walau terkadang dia emosi dan menyerang Bela hingga babak belur dan Bela juga pernah hampir mati karena serangan Bara. Bela juga tidak bisa mengatakan bahwa Bara kejam karena dia juga melihat Sisi kebaikan Bara yang tidak pernah dirasakan oleh orang lain yaitu perhatiannya secara diam-diam.
" Mengapa kau bertanya itu?" Bukan jawaban yang Mario dapatkan dari Bela melainkan pertanyaan lagi yang di lemparkan kepadanya.
"Entahlah aku merasa bahwa kalian tidak baik-baik saja" ujar Mario.
Bela tersenyum sambil mengalihkan pandangannya dia tahu jika Mario tidak mengetahui kebenarannya bahwa Bela menikahi Bara adalah sebuah kepalsuan dan hanyalah sebuah perjanjian untuk membuat Oma bahagia.
Namun Bela merasa jika dirinya baik-baik saja bersama BBara, entah itu nyata ataukah kebohongan belaka.
" Tidak, aku baik-baik saja bersamanya dan aku juga senang tinggal di rumah itu walau terkadang rasanya sepi tidak seramai di rumah saat aku bersamamu,oma, dan juga mama Clara" Jelas Bela.
" Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Tapi aku tidak tahu memulai dari mana" sambung Mario lalu memberanikan diri untuk menatap Bela. Begitu juga dengan Bela membalas dengan sorotan matanya yang penuh dengan rasa keingintahuan pada Mario.
"Bicaralah aku akan tenang mendengarmu, Aku harap kau juga menenangkan pikiranmu agar bisa meluapkan Apa yang sedang ingin kau bicarakan padaku " tutur Bela dengan tenang.
Dia tidak ingin apabila Mario mengatakan sesuatu hal yang membuat dirinya kepikiran sehingga cemas berlebihan dan mengakibatkan penyakitnya kambuh. Bela mencoba menggenggam tangan Mario untuk memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
Bela juga menenangkan agar Malio bisa berbicara sesuai isi hatinya serta tidak mengikuti omongan orang lain dan juga tidak berpikir negatif secara berlebihan karena itu akan berpengaruh pada mentalnya.
"Apakah kau masih gugup untuk berbicara padaku, sedangkan kita sudah berteman lama dan aku akan selalu menganggapmu sahabat terbaikku " Ujar Bela sambil memberikan senyuman pada sahabatnya yang duduk di sampingnya.
"Entah mengapa aku merasakan bahwa Denada hadir padamu, dan rasanya diri ini ingin selalu dekat dengan mu Bela " ujar Mario dengan mengumpulkan semua keberaniannya.
"Banyak yang bilang aku mirip Denada, Padahal sudah jelas Wajah kami berbeda. Dan Denada memiliki ciri khas dan aku juga memiliki ciri khas. Jadi kita adalah orang berbeda, tapi jika kau memganggap demikian maka aku tidak akan keberatan. Dan kau tenang saja aku akan selalu berada di sampingmu dan menjadi sahabat terbaik" sahut Bela.
Padahal Bukan jawaban itu yang ingin Mario dengar, melainkan jawaban lain yang berkaitan dengan cinta. Mario melihat Bela bukan sebagai sahabatnya melainkan sebagai seorang wanita yang dia sukai.
Mario benar-benar telah meletakkan hati pada diri Bela, akan tetapi dia sangat sulit untuk mengatakan hal tersebut. Hatinya terletak diantara kebimbangan karena dia tahu bahwa Bela adalah istri dari kakaknya sendiri.
" Bagaimana jika aku menyukaimu?" Ucap Mario kembali sambil memegang tangan Bela dengan erat.
Sungguh kejutan yang luar biasa bagi Bela dia tidak mengerti mengapa Mario mengatakan demikian. Padahal jelas-jelas Mario sudah mengetahui bahwa Bela sudah memiliki suami yaitu kakaknya sendiri.
Tapi Bela juga tidak menyangkal jika dirinya menyukai Mario walaupun sedikit. Karena selama ini rasanya Bela tidak ingin menyukai lelaki manapun Bahkan dia sendiri juga tidak tahu bagaimana rasanya cinta.
__ADS_1
Yang pasti seseorang itu mampu membawa dirinya terbang dalam kebahagiaan serta mengelilingi keindahan dan begitu bergembira. Karena selama ini Bela hanya menggenggam kesengsaraan, hatinya berharap di akhir hayatnya dia mendapatkan kebahagiaan.