Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
11. Ajakan Menikah


__ADS_3

Bela sangat pandai untuk menjaga perasaan orang. Akan tetapi dia sangat bodoh untuk menjaga perasaannya sendiri agar tidak mudah untuk disakiti.


"Mengapa kamu tidak marah dengan keputusanku, apakah kamu setuju?" ucap oma membuat Bela tersontak kaget dari lamunannya yang berbicara pada dirinya sendiri.


"Sebenarnya aku tidak ingin menikah oma, aku ingin sekolah. Apalagi aku ingin menjadi sarjana" Suara pilu membuat oma Rose merasa haru mendengarnya.


"Tolong ambilkan itu" Tangan oma mengarah pada sebingaki foto gadis cantik yang tersimpan dan tertata rapi di atas nakas samping ranjangnya.


"Dia cucuku, aku kehilangan dirinya selama 2 tahun. Dia adalah Denada kembarannya Mario. Jika melihat dirimu, seakan hidupku kembali merasakan kehadiran Denada" Bela tertunduk lesu dan membisu.


Telinganya terus kesakitan akan kesedihan yang diceritakan oma. Memang sangat singkat, namun bermakna karena selama ini Bela belum mengetahui seorang gadis yang bernama Denada.


Gadis yang slelau bergelit dalam pikirannya dan penuh tanda tanya. Sekarang oma memberitahu siapakah Denada itu, walau hanya sebatas mengenalnya saja.


"Dia cantik, sepertinya dia baik" Bela senang meliha wajah Denada yang sejuk dan terlihat ramah. Wajah itu mirip Mario bedanya Mario lelaki dan Denada perempuan.


Denada yang sangat cantik dan Bela merasa bahwa tubunya hampir mirip dengan dirinya. Terlihat kurus rampung dan tidak terlalu tinggi serta tidak pula terlalu pendek.


"Aku ingin kamu menikah dengan Bara" Lanjut oma.


"Tapi oma, aku ingin melanjutkan sekolah. Dan aku tidak ingin menikah" Sahutnya.


Terlihat jelas kesedihan di wajah oma Rose saat Bela mengatakan hal tersebut. Apalgi dirinya berkata tidak ingin menikah dengan Bara. Bela tidak tega melihat wajah murung itu terlukis pada seorang nenek yang sangat menyayangi cucunya.


Dalam kebimbangan bela harus memutuskan jawaban yang cepat agar tidak menyakiti hati seseorang. Di lain sisi dia juga khawatir dengan keadaannya sendiri.


"Oma tolong jangan murung, aku ingin melihat wajah oma tersenyum" Oma Rose masih saja termenung dan tidak ingin memberikan senyumnya seperti hari kemarin.


Bela merasa menyesal dengan keputusan yang dia ucapkan tadi. Sedangkan dalam pikirannya dia hanya ingin melanjutkan bersekolah walaupun di sokalh yang dulu dia sering bolos.


"Oma istirahat saja ya, Bela janji akan menemani oma disini. Dan tuan Bara tidak perlu menikah denganku karena aku akan selalu ada buat oma" Berharap perkataan itu di dengar oleh oma dan menarik kembali keputusannya untuk menjodohkan Bela dan Bara.


Bela membenarkan posisi tidur oma. Sedangkan diwajahnya masih terlihat murung seperti awal mula saat Bela bertemu dengan oma. Dirinya merasa bersalah lalu berpamit untuk keluar kamar agar oma tidak merasa terganggu dengan kehadiran Bela.


"Bela keluar dulu ya oma, sekalian mau mengambil sarapan oma dan obat" Langkahnya keluar dari ruang kamar.


Sedangkan Mario, Klara dan Bara berkumpul di ruang khusus mereka saat membahas hal tertutup di keluarga ini.


"Kak lebih baik kau menikah saja dengan gadis itu, daripada oma tersiksa karena mendapatkan penolakan darimu" ucap Mario.


Sebenarnya mario tidak ingin mengatakan hal itu karena dia takut. Akan tetapi ketakutannya menghilang bila menyangkut kesehatan dan kebahagiaan oma. Jadi dia terpaksa mengungkapkan hal itu, walau nanti terima konsekuensi dari kakaknya.


"Benar Bara, lagipula Bela anak yang baik dan dia pasti akan menjadi menantu yang baik pula di rumah ini" Sambung Klara.


*brak* hentakan keras pada meja membuat mereka berdua terkejut. Terlihat jelas wajah Bara yang menahan emosi.


"Kalian selalu saja menginginkan hal itu tanpa tau perasaanku, lebih baik kalian keluar" Bentaknya membuat Klara dan Mario tertunduk.


Mereka berdua memang takut pada Bara, apalagi Mario salah satu adik lelakinya yang sangat takut dengan kemarahan bos mafia itu. Dia pernah menghabisi banyak orang tepat di depan mata Mario.


Hingga saat ini Mario tidak pernah bisa melawan kekejaman dalam diri Bara. Walaupun sifat mereka berdua sama-sama dingin dan tidak ada reaksi kehangatan apapun.


"Tenanglah, mama tau perasaanmu. Tapi kamu harus melihat kondisi oma saat ini" klara mencoba mendekat dan mengelus lembut punggung Bara untuk menenangkan dirinya.


"Lebih baik mama dan Mario keluar karena aku ingin sendiri" Klara dan Mario segera keluar dari ruangan itu dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


Mario pergi ke sekolah, Klara mengurusi bisnisnya dan Bara menenangkan pikirannya sendiri yang sedang beradu tentang pernikahaan yang diinginkan oleh oma.


"Sepertinya oma sudah tidur, aku harus keluar agar tidak menganggu tidurnya" Ujar Bela dan bergegas ke kamar pak Taryo.

__ADS_1


"Pagi pak, ini Bela bawakan makanan agar pak Taryo bisa minum obat" Sepiring nasi dan air sudah Bela siapkan.


"Tidak usah non, saya bisa sendiri" Pak Taryo masih merasa tidak nyaman karena dari kemarin yang merawat dirinya adalah sang majikan yang sering dipanggil non Bela.


"Pak sekarang aku bukan lagi majikan pak Taryo, sekarang aku adalah pengasuh dan pelayan di rumah ini" Ucapnya dengan penuh tawa.


Pat Taryo merasakan wajah Bela yang begitu ceria dibandingkan berada di rumahnya yang dulu dengan bergelimang harta akan tetapi dirundung oleh luka. Bahkan sekarang Bela sangat senang walaupun hanya sebagai pelayan.


"Mulai sekarang aku yang akan merawat bapak hingga sembuh" Hati Bela tersentuh saat melihat banyak jahitan luka di tubuh pak Taryo. Dirinya merasa bersalah karena hal tersebut.


Jadi untuk menebus kesalahan itu, Bela akan mengurusi pak Taryo hingga sembuh. Apalagi dia sudah menganggap pak Taryo sebagai ayahnya sendiri. Karena kasih sayang pak Taryo dan bi Siti yang membuat Bela tumbuh hingga saat ini.


Kesenangan bukan ada pada keluarganya, tapi dia mampu mencari kesenangan dan bahkan ketenangan pada orang lain yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.


"Nah semuanya sudah selesai dan pak Taryo istirahat saja disini, dan jangan bertanya-tanya lagi tentang rumah ini" Ucap Bela.


Karena saat pak Taryo sadar, dia selalu menanyakan keberadaan dirinya serta tentang rumah yang disinggahi saat ini. Sedangkan bela saja tidak tau apa yang harus dijelaskan tentang rumah megah ini jadi dia memilih untuk diam.


"Terimakasih non"


"Pak, panggil Bela saja ya? " Pak taryo mengangguk dan Bela bergegas pergi setelah mengurus pak Taryo.


"Aduhhh, rasanya sangat lelah sekali" Dia menggoyangkan tubuhnya yang terasa sangat remuk. Karena Bela sendiri tidak pernah bekerja sekeras ini, membersihkan rumah menjadi pengasuh dan masih banyak lagi.


*brak*


Bibir Bela menganga dan jantungnya terkejut saat pintu kamarnya dibuka secara kasar. Bara masuk tanpa permisi dan mendekat pada Bela yang ingin merebahkan tubuhnya sejenak.


"Tuan, bisakah kau membukanya secara perlahan? " Sebenarnya hati Bela sangat kesal, tapi dia memilih tersenyum karena tidak bisa berbuat apapun.


"Apa masalahmu, ini adalah rumahku jadi terserah aku mau berbuat apa" Ketusnya sambil berkacak pinggang menghadapi Bela.


"Benar ini rumahmu, aku takut pintu itu roboh dan nanti membutuhkan uang untuk perbaikan" Sahutnya sambil mengangkat alis matanya hanya sebelah.


"Apa? " Bela benar-benar terkejut mendengar hal itu.


Dia sudah bersusah payah menolak dari oma Rose dan sekarang Bara datang dengan tiba-tiba lalu mengajaknya menikah. Hal itu seperti di todongkan sebuah pistol dan rasnaya ingin menembak jantung Bela yang bergetar hebat.


Pikirnya tidak karuan katena dia bingung aoa yang harus dikeluarkan dari mulutnya. Seakan tubuhnya tertekan dalam sebuah kotak, bersusah payah membuka gembok dan setelah lolos ternyata ada gembok baru.


"Aku tidak mau" Bela beranjak dari duduknya dan menjawab dengan keras untuk menolak hal itu.


"Jika kau tidak mau, maka pergilah dari sini" Bisikan licik Bara terdengar kasar di telinga Bela.


Sejenak bela terdiam memikirkan hal itu. Jika dirinya pergi maka dia akan hidup di jalanan tanpa tempat tinggal. Apalagi Bela tidak tau dia terletak di daerah mana saat ini. Dan dia juga tidak ingin kembali lagi ke rumah neraka itu.


Rasa bimbang bergelut tak menentu. saat sebuah kompas kehidupan menentukan arah dengan paksaan waktu. Tidak ada pilihan lain bagi Bela, maka dia harus melakukan itu.


"Bagaimana? " Tanya Bara dengan senyum liciknya.


"Aku.... " Bela menelan salivanya dengan kasar. Matanya menatap Bara dengan dalam. Bibir Bara tersenyum licik pada gadis di depannya yang sedang kebingungan untuk menjawab.


"Baiklah kalau kau tidak mau maka angkat kakimu dari sini" Tegasnya saat Bela masih terdiam belum menjawab pertanyaan dari Bara.


"Tunggu sebentar tuan, aku membutuhkan waktu satu hari untuk berfikir"


"Aku tidak memberimu waktu sebanyak itu, aku hanya membutuhkan waktu satu jam untuk jawaban. Jika tidak maka pergilah dari rumah ini" Tegas Bara dan dia segera keluar tanpa mendengarkan penjelasan dari Bela yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Dasar tuan gila, memangnya dia siapa mau menikahiku. Aku saja masih kecil" gumamnya sendiri sambil bercermin.

__ADS_1


Bela benar-benar bingung, dia takut menikah dengan Bara karena tubuhnya yang kekar seperti petinju. Bela takut saat tidur nanti Bara akan menindih tubuhnya hingga mati.


Tapi di lain sisi dia tidak ada pilihan untuk menolak permintaan Bara. Karena jika menolaknya maka harus siap-siap angkat kaki dan jadi gelandangan di luar sana.


"Sepertinya kau harus menerimanya Bela. Tapi harus dengan beberapa syarat" Senyum nakal bela kembali terlihat. Bagaimanapun dia masih berumur 17 tahun dan belum dewasa untuk menikah jadi pikirannya masih labil.


*tok, tok, tok* dengan berani Bela pergi ke kamar Bara yang berada di sebelahnya. Dia akan mengatakan syarat yang harus di penuhi oleh bara.


"Ada apa? "


"Galak sekali" Gumamnya kecil.


"Begini tuan, aku... "


"Masuklah" Bara mendorong Bela untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Jangan tuan, jangan sekarang. Kita kan belum menikah" Teriaknya ketakutan seperti ingin di pe*ko*a saja.


"Ada apa denganmu, diamlah. Aku tidak ingin melukaimu" Teriak Bara dengan kesal dan bercampur heran saat melihat Bela ketakutan seperti ingin dilukai saja.


"Baiklah, jelaskan tujuanmu sekarang" Bara sudah mengerti apa yang ingin Bela katakan. Dia pura-pura tidak tau saja dan duduk santai di sofa besar miliknya.


Pikiran Bela sudah terbaca karena tidak mungkin gadis ini akan pergi dari rumah yang sangat mewah sedangkan dia tidak tau kemana akan pergi.


Sungguh rencana yang bagus untuk membuat gadis itu bertekuk lutut dan tidak bisa menolak ajakan baran untuk menikahinya.


"Aku mau menikahimu, tapi ada syaratnya" Bara tersenyum sebentar lalu tatapannya kembali menyelidik.


Bela melihat tatapan Bara begitu tidak biasa. Dia menelan salivanya dengan kasar seakan melihat bara ingin menerkam. Pikirnya berayun, bagaimana bisa seorang pelayan memberikan syarat pada majikannya. Tapi apapun alasan itu, Bela harus mengatakan keinginannya.


"Apa? Sebutkan. Aku akan mengabulkannya" Bara rela mengabulkan keinginan gadis itu, yang penting dia menikah dengannya dan membuat oma Rose bahagia.


"Aku ingin melanjutkan sekolah dan kau tidak boleh menyentuhku selayaknya suami istri pada biasanya" Bagaimanapun juga keinginannya untuk lulus sekolah sangat tinggi di pikiran Bela. Dia tidak peduli lagi dengan amarah Bara saat mendengarkan hal itu.


"Baiklah, aku akan mengabulkannya" Sahut Bara.


Mata Bela terbelalak, mulutnya ternganga saat mendegar persetujuan Bara tanpa banyak basa-basi lagi.


"Yes, berhasil" Batin Bela sangat bahagia dengan keputusan tersebut. Terlihat senyum tipis di bibir bela karena bara telah menyetujui keinginannya.


"Dan aku juga memiliki syarat untukmu" Wajah Bela berubah drastis dan terlihat sangat tidak senang mendengarkan hal itu.


Padahal dia sudah bahagia karena Bara menyetujuinya dan ternyata dia belum menyelesaikan pembicaraan ini.


"Mengapa begitu, bukankah tuan menyetujui pernyataan ku? " Tanay bela penuh dengan kebingungan.


"Benar sekali, tapi aku memiliki syarat yaitu kamu harus terlihat seperti istriku saat di depan oma agar dia percaya bahwa kita sudah menjadi sepasang kekasih pada layaknya" Jelas Bara.


Bela kembali menelan salivanya mendengarkan hal itu. Dia tidak tau tugas apa yang harus dijalankan sebagai seorang istri. Hal buruk dipikiran Bela akan segera terjadi.


"Baiklah, aku menerimanya" Dengan rasa yang sangat terpaksa Bela menyetujui syarat dari Bara.


Selanjutnya dia ijin untuk pergi meninggalkan kamar Bara. Namun Bara mendekat dan tidak ingin membiarkan gadis itu pergi begitu saja dari kamarnya.


Bara menghamprii bela dengan tatapan licik, tubuhnya terus maju membuat gadis kecil itu ketakutan dan memundurkan tubuhnya beberapa langkah hingga terbentur dengan tembok.


"Ingat, syarat ku" Bara berbicara seakan dia menemukan mangsa, tangannya yang kekar menghadang Bela agar tidak keluar dari tatapan matanya saat ini.


"Iya tuan aku mendengarmu, dan aku juga tau tubuhmu wangi tapi setidaknya jangan begini karena oksigen ku sedikit" Sahutnya dengan santai.

__ADS_1


Padahal niat Bara ingin menakuti Bela agar dia terlihat sangat gugup dan ketakutan. Ternyata yang di dapatkan adalah ucapan Bela yang membuat Bara ingin tertawa bercampur heran.



__ADS_2