Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
28. Takut Cacing


__ADS_3

Bara terus menyinggung penolakan dari Bela yang disebabkan oleh pelukan darinya. Karena Bela sungguh tidka ingkn dipeluk oleh Bara.


"Kau marah saat suamimu memeluk, namun tidak jika orang lain memeluk mu" Tutur Bara mulai meninggi.


Tanpa banyak bicara Bela keluar dari kamar dan meninggalkan Bara. Dia tidak menjawab apapun dan tidak menoleh lagi padanya. Karena hatinya sudah terlanjur marah dengan sikap Bara.


Bela merasa bahwa Bara memperlakukan dirinya seakan dia wanita murahan. Karena Bara selalu berkata dan mengungkit tentang Bela yang mau di rangkul oleh Brandon tapi tidak dengan eangkulan Bara.


"Benar-benar menyebalkan, aku tidak akan tidur disana nanti malam" Mulutnya menggeruru sambil berjalan menuju ke kamar oma.


Seharian Bela bermain bersama oma, mengajak oma menikmati indahnya pagi di kebun sambil mengajari oma berjalan secara diam-diam. Dan dia juga tidak menghiraukan Bara walaupun saat ini mereka bertemu antara sepasang mata bersautan.


Sorotan tajam hanya melihat saja namun tidak saling menyapa. Bela sangat malas menyapa tuannya, namun wajahnya berubah saat di depan oma karena Bela akan menjadi istri paling baik.


"Oma, aku ingin kita berjalan-jalan di pantai. Dan aku ingin oma sembuh serta bisa berjalan kembali" Seru Bela mengatakan hal itu.


"Iya, oma juga ingin melihat senja yang sangat indah. Hmm Bara mengapa kau hanya diam di sana? Kemarilah" Tegur oma saat melihat cucunya menjauh dari mereka berdua.


Bara berjalan kearah mereka berdua dengan senyuman, sedangkan Bela mengalihkan wajahnya ke sembarang arah karena tidak ingin melihat Bara. Namun semua berbuah karena hal itu tidak boleh terjadi di hadapan oma.


"Ada apa oma? " ujar Bara sambil mendekat.


"Oma ingin kita bersama-sama melihat senja" oma mengatakan tentang keinginannya untuk menemui senja.


"Iya oma, Bara berjanji akan membawa oma melihat senja bersama istri Bara yang sangat cantik ini" Tangan Bara membelai lembut rambut Bela.


Belaian itu membuat dahi Bela mengkerut karena tidak suka dengan perlakuan itu. Dia berusaha menghindari dengan memikirkan sesuatu untuk tidak dekat dengan Bara lagi.


Jalan satu-satunya saat ini adalah oma. Oma akan membantu Bela untuk pergi dari Bara yang sudah berbuat hal-hal melebihi perjanjian sebelum menikah.


"Oma, sepertinya kita harus ke kamar dan kaki oma harus beristirahat" Kata kunci kaki beristirahat yaitu untuk melakukan terapi belajar berjalan lagi.


"Benar, ayo nak kita ke kamar" Bela tersenyum dengan persetujuan oma. Karena dia akan segera meninggalkan Bara.


"Aku ikut" Seru Bara mengejar mereka.


"Tidak, hmmm maksudku oma buruh istirahat" Sahut Bela singkat, karena tujuannya menghindarinua maka dia tidak ingin ada Bara untuk sementara waktu.


"Tapi aku juga cucu oma dan kamu istriku bukan, jadi apa salahnya aku ingin beristirahat dengan kalian berdua" Ujar Bara dengan menunjukkan senyum liciknya.


*drettt, drettt, drettt*


Dering telepon berbunyi, Bara segera mengangkatnya. Ternyata panggilan itu berasal dari Alex. Alex mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus disampaikan. Yaitu mengenai kematian Denada.


Tanpa pikir panjang Bara segera berpamitan pada oma untuk pergi, dia tidak lupa mengecup kening Bela seperti seorang istri sungguhan. Kecupan itu kembali membuat Bela semakin marah dan langsung mengelapnya saat oma tidak melihat.


"Ihhh, Bara sialan" Ketusnya dalam hati.


Lalu matanya melirik sinis pada Bara, sedangkan Bara membalasnya dengan senyuman licik sambil memberikan tanda cinta dari tangannya.


Bela segera mengantar oma ke dalam kamar dan menyuruh oma untuk istirahat. Bela memberikan pengertian untuk tidak sering melakukan terapi karena kaki oma saat ini bengkak. Dan untung saja tidak ada yang menyadari hal itu di rumah besar ini. Karena kalau tidak, maka semua akan tau jika oma belajar berjalan.


Jadi dia segera mengkompresnya dengan air hangat agar memberikan kenyaman dan menghilangkan bengkak di kaki oma. Tidak lama kemudian oma terlelap.


"Oma, Bela keluar dulu ya buat cari angin" Pamitnya berbisik kecil.


Bela segera pergi ke luar meninggalkan oma yang sudah terlelap. Pikirannya ingin mencari tempat untuk sendiri terlebih dahulu menenangkan hal yang perlu dia tenangkan.


"Hey Bela, mau kemana? " Sapa. Mario yang melihat Bela berjalan menuju ke kebun belakang.


"Mario, kenapa kau baru keluar. Apakah kau sakit? Dan aku juga tidak melihat mama" Bela memberikan banyak pertanyaan, tentang Mario dan juga Klara.


"Aku tidak sakit, hanya saja ingin bersantai di pagi ini karena ada urusan kecil yang harus aku selesaikan. Dan apakah kamu tidak tau jika mama pergi ke luar negeri beberapa hari? " Jelas Mario singkat tentang dirinya sekaligus memberitahu kepergian Klara.


"Ha? Ke luar negeri" Ujar Bela terkejut.

__ADS_1


Bela tidak mengetahui bahwa Klara ada urusan bisnis yang harus diselesaikan di luar negeri untuk beberapa hari. Dia berangkat tepat di tengah malam sekalian untuk menemui rekan bisnisnya.


Bahkan Bara sebagai anaknya tidak mengetahui hal itu. Bara dan seluruh rumah juga tidak ada yang tau tentang kepergian Klara. Hanya Mario saja yang mengetahui tentang kepergiannya.


"Kenapa mama tidak berbicara padaku? Bahkan suami ku juga tidak mengatakan bila mama ke luar negeri" Bela heran dengan hal itu, seakan Klara pergi secara bersembunyi.


"Hal itu sudah biasa, palingan mama nanti akan pulang dan itupun juga tidak ada yang tau kalau mama sudah pulang" Jelas mario yang mengatakan tentang hal biasa. Karena Mario sudah hafal dengan kelakuan Klara yang pergi tanpa berbicara begitu juga dengan kedatangannya.


Bela masih merasa bingung, sepertinya tidak ada kehangatan apapun di keluarga ini. Seharusnya bila berpergian jauh akan mengabari orang terdekat dan memberikan pengertian tentang kepergiannya.


Namun di keluarga ini sungguh berbeda, Klara pergi begitu saja tanpa mengabadi siapapun. Mario juga berkata jika oma tau namun memilih diam dan tidak berbicara tentang Klara.


"Kau mau kemana? " Tanya Mario mengembalikan pembicaraannya tadi.


"Aku dari kamar oma, dan sekarang ingin ke kebun" ujar Bela.


"Apakah aku boleh ikut? " Walah Mario antusias saat Bela mengatakan tentang kebun, jadi Bela memagngguk menyetujuinya.


Di kebun yang luas terdapat tanaman bunga dan sayuran segar. Semua itu karena masukan dari Bela yang membuat kebun kecil di belakang dan pak Taryo yang bertanggung jawab atas semua ini.


Bela mengajak Mario untuk berkebun dan memanen beberapa sayur yang sudah matang dan siap untuk diolah. Hal itu baru pertama kali Mario lakukan. Karena selama ini dirinya lebih nyaman menyendiri di dalam kamar.


"Ini cabai sudah merah dan siap di petik" Bela memberikan sedikit penjelasan tentang sayuran yang siap panen dan tidak.


"Kamu yang menanam ini? " Tanya Mario, karena yang dia tau kebun itu hanya berisi bunga Klara saja tidak ada sayuran segera seperti yang dia lihat saat ini.


"Iya, atas persetujuan mama. Dan kebun ini ada semenjak aku datang ke rumah ini" Jelas Bela.


Mereka berdua menikmati berkebun, bukan hanya memetik sayuran yang segar tapi mereka juga menanam beberapa tanaman sayur seperti kangkung, sawi, dan bayam.


Jadi sekarang kebun keluarga Baratha tidak sia-sia lagi dan bisa dimanfaatkan dengan baik. Juga bisa memperkecil pengeluaran untuk membeli sayuran. Dan sayur yang ditanam sendiri juga terasa lebih sehat.


"Aaaa, apa ini. Tolong singkirkan " Mario menjerit ketakutan saat ada seekor cacing kecil menempel di tangannya.


"Hahahaha" Bukannya menolong Mario, tapi Bela tertawa dengan keras.


Hal itu membuat Bela terasa sangat terhibur jadi dia tidak ada niatan untuk menyingkirkan cacing itu dan semakin menambah cacing yang dia temui tadi untuk dilemparkan ke Mario.


"Aaa Bela singkirkan, aku sangat jijik. Aku tidak ingin ada cacing Bela" Teriak Mario putus asa.


Dan Bela masih saja tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Mario seperti seorang anak kecil yang ketakutan setengah mati. Perut Bela sampai sakit karena menertawai Mario.


"Larilah Mario, biar dia terlepas. Kibaskan saja tanganmu agar mereka lepas" Teriak Bela sambil tertawa.


Mario terus mengibaskan tangannya agar cacing itu terlepas. Beberapa cacing sudah jatuh, namun masih ada beberapa cacing di tangan Mario. Dia terus meloncat ketakutan dengan cacing itu.


Sungguh konyol anak muda ini, ternyata sifatnya yang dingin menyimpan banyak misteri lucu. Salah satunya adalah. Takut dengan cacing tanah, padahal tubuhnya lebih besar daripada cacing.


"Aaa, aku membencimu cacing" Hardik Mario pada cacing yang tak bersalah.


*brak*


Mario terjatuh karena fokus menjerit dan menghilangkan cacing. Padahal seluruh cacing sudah hilang namun rasa takutnya membuat dia trauma dan terus berlari sehingga tidak melihat bahwa ada selang untuk menyiram kebun.


Kakinya tersandung dan membuatnya terjatuh, tubuhnya terkapar di tanah dengan semburan lumpur. Bajunya kotor dan wajahnya belepotan yang membuat Bela semakin tertawa keras.


"Hahahha, Mario kau sangat konyol. Lihatlah wajahmu sangat lucu penuh tanah" Teriak Bela bersemangat untuk mengolok-olok Mario dengan candaan.


"Aahhh, menyebalkan sekali. Kenapa kau masih tertawa, ayo bantu aku" Teriak Mario kesla karena tubuhnya di penuhi oleh lumpur.


"Baiklah, ayo kita bersihkan di kran itu" Bela membantu Mario untuk berdiri dan menuju ke kran untuk membersihkan tanah di tubuhnya.


Bagaimana bisa Bela terdiam saat melihat wajah Mario dipenuhi lumpur seperti seseorang yang habis dari sawah dan membajak sawahnya. Ya begitulah penampakan Mario setelah bergelut dengan cacing tanah.


Untung saja ada selang panjang, jadi Bela membantu Mario untuk membersihkan tubuhnya. Bela seperti memandikan sapi di siang hari, panas menjadi sejuk karena semburan air yang diberikan ke tubuh Mario.

__ADS_1


"Bel, kemarilah" Seru Mario pada Bela.


"Apa? Tubuhmu kan sudah bersih" Bela melihat Mario dengan tatapan penuh curiga. Namun dia tetap saja mendekat pada Mario.


Mario tersenyum licik, dia langsung merampas selang air itu dan menyemburkan ke tubuh Bela. Mereka berdua asik bermain air sambil siram-siraman di kebun belakang.


"Aaa Mario, aku sudah bersih jangan kau mandikan lagi" Teriak Bela berusaha keluar dari smeburan air namun tidak bisa.


"Bodo amat, ini balasan karena kau menertawai ku tadi. Hahahhaha" Tawa Mario sangat puas karena bisa membalas Bela yang menyebalkan.


Keceriaan kembali di dapatkan oleh Mario walaupun dia sendiri tidak menyadari itu. Tawa Mario terlihat sangat puas dan memberikan seluruh tawanya bersama Bela.


Kelakuan mereka berdua dilihat oleh para pelayan rumah, banyak yang merasa heran saat melihat tawa Mario. Karena selama ini Mario terkenal sangat pendiam dan dingin setelah kepergian Denada. Namun sekarang semua berubah karena Bela.


Mereka asik bermain air tanpa mengetahui bahwa banyak pasang mata memandang sambil memberikan senyuman. Banyak yang bahagia atas kembalinya tawa yang lebar dari Mario.


"Bela, kenapa kamu bermain air nak? " Tegur pak Taryo pada anak angkatnya.


"Ayah, tadi Bela hanya ingin berkebun dan tidak sengaja Mario terjatuh jadi aku membersihkannya yah" Jelas Bela pada pak Taryo.


"Maaf tuan, sebaiknya tuan berhenti bermain air karena takut masuk angin. Dan untuk kamu nak, segera masuk dan membersihkan diri agar tidak masuk angin" Tutur lembut pak Taryo mengingatkan anaknya dan tuan muda.


Nasehat seorang ayah angkat yaitu pak Taryo, walaupun Bela bukan anak kandungnya namun dia sangat menyayanginya melebihi dirinya sendiri. Jadi dia tidak ingin jika Bela sakit karena bermain air di siang hari.


Akhirnya mereka berdua segera masuk dan mengganti baju agar tidak masuk angin. Tidak lama kemudian pelayan sudah membuatkan coklat panas jadi Bela dan Mario kembali duduk bersantai di depan televisi.


"Mario, katanya kamu mau ikut lomba olimpiade ya" Bela membuka pembicaraan dalam keheningan beberapa menit setelah mereka berganti baju.


"Hmm"


"Kapan? "


"Mungkin minggu depan" jelas Mario.


"Baiklah, aku tidak akan menganggumu seminggu ini. Jadi kau belajarlah dengan giat" Bela memilih untuk belajar sendiri tanpa Mario, karena dia takut dirinya bisa menganggu konsentrasi Mario.


Sebenarnya Mario ingin belajar bersama Bela walaupun dirinya harus menyiapkan diri untuk mengikuti olimpiade. Tapi rasanya sangat asik bila bersama Bela, dia merasa ada hiburan saat belajar dan tidak harus tentang pelajaran melainkan juga tentang kesenangan.


"Apa kau ingin belajar denganku? " Mario. memberikan tawaran itu pada Bela.


"Jelas sekali, tapi tunggu kau selesai olimpiade saja agar bisa fokus untuk memenangkan Olimpiade itu" Bela memilih untuk tidak menganggu Mario agar Olimpiade yang dilaluinya berjalan lancar.


"Baiklah"


Kedekatan semakin terasa diantara mereka berdua. Mereka memang seumuran, namun statusnya sekarang adalah sebagai adik ipar dan kakak ipar. Karena Bela adalah istri dari kakak kandung Mario.




Sementara itu di lain sisi, Bara bertemu kembali di bar dengan Alex. Mereka berbicara 4 mata tentang hal yang sangat penting di ruang VIP. Lebih tepatnya tentang kematinan Denada.



Kepergian Denada bukanlah kecelakaan melainkan karena kesengajaan yang dibuat oleh musuh Bara. Karenanya Bara kehilangan seorang adik yang sangat dia sayangi. Sebab Denada anak perempuan satu-satunya di rumah keluarga Baratha.



"Bagaimana? " Bara membuka pembicaraan.



"Aku sudah menemukannya, tinggal langkah untuk membalas dendam pada mereka. Yang membunuh Denada adalah pembunuh ayahmu Bara" Jelas Alex singkat.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2