Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
35. Rencana Pindah Rumah


__ADS_3

Mereka yang mengetahui kejadian itu, mencemaskan Bela. Sementara Bela malah mencemaskan orang lain dan sibuk bertanya tentang keadaan mereka.


"Mario, bagaimana denganmu?" Tanya Bela pada Mario.


"Seharusnya aku menanyakan tentang keadaanmu Bel. Aku sangat cemas dari kemarin" Seru Mario dalam batinnya.


"Kenapa bengong? Aku sedang bertanya padamu Mario" Tegas Bela sambil mencolek lengan Mario.


"Eh iya, aku baik-baik saja" Sahutnya sambil tersenyum.


Pagi itu mereka makan dengan tenang tanpa Bara. Saat oma dan Klara menanyakan keberadaan Bara, Bela berkata bahwa suaminya sedang lelah dan tertidur karena telah menjaganya semalam.


Hal itu terdengar romantis, membuat oma dan Klara tersenyum kecuali Mario. Padahal Bela berbohong dengan ucapannya, karena dia tidak ingin membangunkan Bara pagi ini. Hal itu disebabkan oleh kelakuan Bara yang membuat Bela malu sendiri.


Bela dan Mario berangkat bersama ke sekolah hari ini. Mario melakukan hal itu karena masih mengkhawatirkan keadaan Bela yang masih terlihat belum sehat, jadi dia mengajaknya untuk jalan bersama.


"Ada apa? Kenapa terus menatapku? " Tanya Bela saat Mario terus memandangi Bela di dalam mobil.


"Ah tidak, aku hanya khawatir saja denganmu" Sahut Mario sambil menatap Bela kembali.


Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Bela, karena Mario sudah tau sifat dari kakaknya yang tidak hisa mengontrol emosi saat perintahnya dilanggar.


Mario terus memandangi tubuh Bela dan terlihat jelas bekas luka yang samar. Dia hanya terdiam dan tidak ingin menanyakan hal itu, karena Mario tau bahwa bekas luka itu terjadi karena kakaknya.


"Kau mengkhawatirkan aku tapi mengapa tidak menjenguk ku? Bukankah kamar kita bersebelahan" Gerutu Bela sedikit kesal pada Mario.


Sejenak Mario terdiam, karena bukan keinginannya untuk tidak menjenguk Bela yang sedang terbaring lemah saat itu. Bahkan dia selalu berusaha untuk melihat Bela namun selalu di cegah oleh Bara.


Mario juga mendengar jelas pukulan dan benturan di dinding. Teriakan dari suara Bela yang terdengar samar juga dia rasakan. Namun apalah daya dia tidak bisa mencegah hal itu.


Mario hanya bisa terdiam di dalam kamar dan merenungi keadaan bela hingga saat ini. Mario juga menyalahkan dirinya sendiri sebagai pengecut karena tidak bisa mencegah Bara meluapkan amarahanya pada Bela.


"Aku sedang sibuk belajar, jadi tidak sempat" Ucapnya bohong.


"Ternyata pelajaran lebih penting dariku, lagipula aku bukan siapa-siapa mu kan heheh" Ujar Bela sambil tertawa kecil.


Mario merasa bersalah mendengar ucapan bela. Padahal Bela sangat berharga bagi dirinya semenjak Mario merasakan bahwa Bela membawa pengaruh baik selama hidupnya.


Andaikata dia bisa memukul Bara dan membela bela, maka akan dia lakukan. Namun kali ini tidak bisa dia melawan Bara yang memiliki kekuasaan tinggi di keluarga Baratha.


"Maaf bel, aku salah"


Perkataan menyayat hati Mario, kata bersalah tersampaikan dalam hal yang tersembunyi. Bela tidak akan tau itu, namun Mario jelas mengetahuinya rasa sakit yang dialami oleh Bela walaupun dia tidak bersuara.


"Tenaglah, aku baik-baik saja"


*puk, puk, puk*


Sahut bela sambil memukul kecil punggung Mario dengan senyuman. Gadis malang yang selalu menyebarkan senyuman dan tidak ingin seseorang yang ada disekitarnya merasakan bahwa dirinya tersakiti.


Bela selalu berhasil menyimpan kesedihan di balik tawanya. Tanpa ada rasa sakit yang ditampakkan, dia selalu menyebarkan kegirangan. Keceriaan setiap hari selelu disebarkan dan tidak ada kata hanyut dalam sedih yang dideritanya.


Sekolah


"Mario, kenapa kamu berangkat dengannya? Apakah dia menumpang di mobilmu? " Tanya Dira di pagi ini seperti seekor burung yang terus bersiul saat melihat Mario dan Bela turun pada mobil yang sama.


Mario menghiraukan pertanyaannya sambil menggenggam tangan Bela dan dia segera meninggalkan Dira. Telinganya sangat panas jika mendengar Dira terus berbicara omong kosong.


Mario sangat tidak suka dengan Dira karena dia terlalu ambisius mengejar cintanya pada Mario, bahkan hampir setiap hari. Dia selalu menghiraukan Dira semenjak mereka pertama kali bertemu. Dira selalu mengejar Mario seakan tidak ada lelaki lain kecuali Mario.


"Tunggu, apa kau tuli" Bentak Dira pada Bela yang masih terdiam saat tangannya digenggaman oleh Mario dan ingin beranjak pergi dari hadapan Dira beserta rekan-rekannya.


"Aku rasa tidak" Sahut Bela penuh ketenangan.


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? "


"Karena tidak penting" Lanjut Bela.

__ADS_1


Lalu mereka berdua kembali meninggalkan Dira sendirian. Raut wajahnya sangat kesal karena kembali dihiraukan oleh Mario serta ditinggalkannya. Bibirnya terus bergumam untuk mengutuk Bela dengan perkataan yang buruk.


Dira selalu menyalahkan kehadiran Bela yang semakin membuat Mario bersikap dingin padanya. Padahal sebelum adanya Bela, Mario sudah tidak menyukai sifatnya yang selalu bersikap kekanak-kanakan serta selalu merasa paling benar.


Kediaman Baratha


*puk, puk* tangan Bara terus mencari sesuatu, tapi tidaa menemukan, sementara itu matanya masih terpenjam. Dia terus mengelilingi tanjang dengan tepukan kecil dari tangannya namun tidak menemukan juga.


Saat matanya terbuka ternyata dia sudah tidak mendapati Bela di sampingnya. Karena semalam mereka tidur dalam satu ranjang, namun setelah menjelang pagi rupanya istrinya telah menghilang.


"Sial, kemana lagi dia" Gunam Bara sambil meregangkan tubuhnya.


Otaknya masih menyesuaikan diri dan meregangkan otot-otot yang terlelap. Dia juga mengumpulkan niat untuk bangun dari ranjang di pagi ini.


Setelah berdiri ternyata dia baru sadar jika Bela sudah berangkat ke sekolah. Terlihat jelas bahwa sepatu dan tas Bela tidak ada di tempatnya.


"Dasar gadis keras kepala, tubuhnya belum sehat total tapi dia memaksakan untuk bersekolah" Ketusnya.


Pagi yang cerah, Bara memutuskan untuk beristirahat di rumah saja. Lagipula tidak ada kebutuhan dan permintaan mendesak kecuali Alex menelpon.


Bara sudah memiliki kaki tangan untuk melakukan keinginannya, sedangkan Alex adalah tangan kanan dan kiri Bara yang tidak bisa terlepas bebas. Hanya Alex yang Bara percaya, sedangkan yang lain mungkin masih bertanya-tanya.


*drettt, dreettt* dering telepon.


"Halo bos"


"Ah kau snagat menyebalkan, baru saja aku ingin tenang namun kau malah mengangguku. Ada apa? " Kesal Bara saat mendapatkan telepon dari Alex.


"Aku memiliki 1 pesan baik dan 1 pesan buruk untukmu"


"Apa? "


Alex menceritakan pesan tersebut. Pesan baiknya adalah, sisil mulai nyaman melakukan kerja sama dengan perusahaan Bara. Dia semakin yakin bahwa karirnya akan melejit setelah membintangi iklan yang sedang jalan sekarang.


Dan satu pesan buruknya adalah, Bara harus segera pindah dari rumah keluarga Baratha untuk menghindari beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Yang utama yaitu para bedebah yang sedang mengincar Bara, yang kedua adalah Sisil, dan yang ketiga adalah teman Bela.


Alex mengatakan bahwa semakin Bara memaksa untuk tinggal di kediaman Baratha, maka rahasia rumah tersebut akan semakin mudah masuk dalam pengintaian para musuh.


Ternyata setelah Bela sekolah, kediaman Bartatha tidak akan aman lagi. Sudah beberapa kali ada seseorang yang mengikuti mobil Bela. Mereka memaksa untuk masuki wilayah keluarga Baratha, untungnya para pengawal sigap dan tidak akan membiarkan siapapun masuk.


Hal tersebut berkaitan dengan Bela, antara cinta dan musuh. Seorang lelaki mengintai untuk mengamati kehidupan Bela. Dan seorang perempuan mengamati untuk menghancurkan Bela.


Alex menjelaskan detail, bahwa mereka bekerja sendiri dan secara berpisah. Mereka dalam satu sekolah namun mereka tidak mengetahui tujuannya masing-masing.


"Benarkah? "


"Benar Bara, kau harus segara pindah ke tempat lain agar kediaman Baratha tetap aman" Jelas Alex pada Bara.


"Kau benar, aku akan melakukannya" Bara setuju dengan ucapan Alex, karena dia tidak ingin ada yang menganggu kehidupan oma dan keluarganya.


Kediaman Baratha harus tetap aman, karena di rumah itu terdapat oma yang sangat bara sayangi. Tidak boleh ada yang memasuki wilayah Baratha kecuali orang-orang tertentu.


Selama ini ayah Bara selalu menyembunyikan wilayah yang dia singgahi dari pantauan para musuh dan juga dari pantauan orang asing. Hal itu dikarenakan mereka sangat berpengaruh dan tidak boleh ada seorangpun yang menyebarkan tentang isi dari rumah Baratha.


"Bagaimana dengan oma, jika aku pindah apakah oma setuju? " Ucapnya di ambang kegelisahan dalam pikirannya sendiri.


Dia tidak tau apa yang harus dilakukan, namun jika Bara tidak pergi dari kediaman Baratha maka semua keluarga besar akan dalam bahaya. Hari ini Bara harus mengambil sebuah keputusan yang sangat besar untuk berlangsungnya kehidupan yang tenang.


Dia terus merenung dalam sunyi, memikirkan tanda tanya yang selalu melintas dalam benaknya. Sejenak berdiam diri hingga akhirnya jawaban itu muncul.


Sore hari


" Mario, apakah kau tidak capek selalu belajar tambahan dan pulang belakangan? " Bela menanyakan hal itu karena dia selalu merasa kasihan pada Mario.


"Itu sudah biasa" Sahutnya singkat.


"Andai saja otakku memiliki kecerdasan sepertimu, mungkin aku bisa melakukan apapun yang ku mau" Seru Bela dengan riang.

__ADS_1


"Tidak juga" Sahut Mario kembali dengan nada singkat.


"Maksudmu? "


"Sudahlah, sebentar lagi kita sampai maka kau bersiaplah" Sahut Mario mengalihkan pertanyaan.


Ada banyak hal yang menjadi rahasia Mario dan Bela belum mengetahuinya. Tidak semua kehidupan orang pintar itu aman dan damai, namun ada juga yang merasakan sengsara.


Mario tidak mau menceritakan singkat ataupun jelas pada Bela, dia hanya mengalihkan pembicaraan itu. Untung saja mobil sudah sampai dan mereka segera turun.


"Seharusnya kau jangan bersikap aneh Mario, semua orang takut jika kau tidak tersenyum" Ujar Bela sambil berjalan.


"Tunggu"


"Apa? "


"Tersenyumlah baru berjalan" Bela menarik kedua ujung bibir Mario secara bersamaan.


Dia melukiskan senyuman di bibir Mario walaupun terlihat sangat terpaksa. Namun hal itu sangat terlihat indah dan bagus daripada Mario terus murung dan terdiam seperti orang bisu.


"Nah seperti itu sangat bagus" Ujar Bela berbicara kembali.


Setelah tangan Bela terlepas dari bibir Mario, senyum itu masih melekat dan tidak ikut terlepas juga. Mario tersenyum dan matanya memandangi gadis cantik serta periang di hadapannya.


Seumur hidupnya tidak ada seorang gadis satupun yang mau membuat Mario tersenyum dan memaksa untuk tersenyum saat dirinya dalam kegelisahan, kecuali saudara kembarnya yaitu Denada. Lalu sekarang gadis itu ternyata nyata dan membuat Mario tersenyum dengan hati yang bahagia.


Tanpa mereka sadari, kedatangannya sudah diintai oleh Bara di balik jendela kamar atas. Lagi-lagi wajahnya terlihat kusut saat menatap kedekatan sepasang remaja di bawah sana yang tak lain adalah adik dan istri kecilnya.


"Sebaiknya aku segera membawa Bela pergi dari rumah ini, agar mereka tidak terlalu dekat" Gumamnya.


Dahinya mengkerut, sungutnya tumbuh saat melihat kedekatan itu. Jika dilihat, Bela lebih nyaman dengan Mario daripada harus bersama Bara.


Karena sifat Mario sangat penyayang walaupun dingin, namun Bara selalu tidak bisa mengontrol emosinya yang menjadi-jadi saat amarahnya di ujung tanduk. Bahkan dia tidak segan-segan melukai gadis malang itu.


"Hai oma" Sapa Bela dengan wajah gembiranya.


"Kalian sudah pulang" Sahut oma.


Terlihat oma sedang bersantai di ruang tamu sambil membaca koran. Seperti biasa Bela menyapa dengan gembira, padahal mereka baru pulang sekolah akan tetapi energi Bela seperti tidak habis.


Senyumnya selalu sumringah membuat seisi rumah senang dengan kehadiran Bela. Apalagi oma, tidak bisa dikatakan lagi bahwa kehadiran Bela memberinya semangat dan tidak pernah bisa marah.


"Makanlah, oma tau kalian pasti lelah"


"Tidak oma, aku ingin disini saja menemani oma" Bela bergelayut manja, seakan bergelayut pada oma kandungnya sendiri.


"Baiklah, Mario kamu makan dulu ya. Karena saat kamu berada di dalam kamar pasti akan susah keluar untuk makan" Ujar oma.


Karena dunia Mario adalah kamarnya, namun mereka tidak menyadari saat ini semua telah berubah. semenjak kehadiran Bela, Mario sering makan di ruang makan. Dia juga sering keluar walau sebentar, hanya untuk melihat Bela saja.


"Iya oma"


"Tenang saja oma, dia akan selalu keluar kamar. Jika tidak, maka aku yang akan menyeretnya keluar untuk makan" Bela berverita dengan gayanya sendiri, membuat Mario tersenyum kecil saat mendengar perkataannya.


"Hahahah, kamu bisa saja nak" Oma dan Bela tertawa keras.


Sedangkan Mario menatap mereka dengan senyuman saja, wajahnya masih sama terlihat dingin dengan ekspresi yang sedikit. Padahal di hatinya sangat senang dan berbunga-bunga karena melihat tawa Bela .


Mario segera pergi ke kamar, saat dia menaiki tangga tiba-tiba bara keluar dari kamarnya. Dua pasang mata menatap dalam satu tatapan tajam, mereka tidak pernah akur sampai kapanpun semenjak kepergian Denada.


"Jangan pernah mendekati istriku" Gumam Bara penuh penekanan.


"Aku dan dia hanya teman sekolah" Sahut Mario dan tatapanan mereka masih menyatu.


"Teman sekolah tidak harus dekat dengannya setiap hari" Kecemburuan selalu merasuki pikiran Bara, entah cemburu karena cinta atau hanya nafsu saja.


"Tenang saja, jika dia menyukaimu pasti dia akan menjadi milikmu seutuhnya" Sahutan yang sangat berkelas dari Mario.

__ADS_1


Ucapan Mario membuat Bara berfikir, kali ini dia setuju dengan Mario. Jika Bela menyukainya sudah pasti dia akan menjadi milik Bara seutuhnya. Namun jika tidak, maka Bela tidak akan pernah menjadi milik Bara sampai kapanpun.



__ADS_2