
Penjelasan dari membuat Bara terdiam. Ternyata dia salah berpikiran buruk pada Bela. Dia pikir Bela ingin mencelakai oma namun nyatanya oma berkata bahwa Bela menolongnya.
"Tapi dia memaksa oma untuk berdiri. Dia memaksakan kehendaknya sendiri oma" Ucap Bara dengan nada yang tidak setuju pada oma yang mencoba melindungi Bela.
"Oma yang ingin berdiri, lihatlah foto ini. Semenjak kepergian Denada, rasanya seluruh tubuh oma lemas. Namun setelah kedatangan Bela, rasanya Denada kembali dalam wujud Bela dengan semangat yang sama" Jelas oma sambil memegang foto Denada yang tersenyum dengan riang.
"Tapi oma..." Cetus Bara.
"Dia selalu memberikan semangat pada oma untuk bangkit. Dari hari ke hari, oma merasakan bahwa Denada akan selalu menatap oma dengan kesedihan bila oma terus berdiam diri" Jelas oma kembali.
"Kemarilah nak" Oma Rose memeluk Bela dengan erat.
Air matanya mengalir, di tangan kirinya menggenggam bingkai foto Denada dan di tangan kanannya memeluk Bela dengan hangat.
Bara tidak bisa berbicara lagi, karena perkataan oma sudah menjelaskannya bahwa Bela tidak bersalah. Bahwa Bela datang memberikan semangat baru untuk oma.
"Sepertinya anak itu membawa hal positif untuk oma" Batin Bara berseru seakan menyetujui hal tersebut walau hanya sedikit.
Perlahan Bara keluar dari kamar oma dan segera naik ke kamar untuk membersihkan diri. Hari ini dia tidak ada jadwal apapun dan akan bersantai di rumah dengan ketenangan.
Tidak terasa pula Bela tertidur di kamar oma dengan tangan yang masih melekat dengan biasa memeluk oma. Kali ini berbeda karena dia tertidur dalam satu ranjang dengan oma.
"Ada apa denganku, mengapa harus memikirkannya" Bara kesal karena tidak fokus dalam ketenangannya sendiri.
Pikirnya masih berjalan tentang nama Bela yang terus berputar tanpa henti. Ada rasa sedikit bersalah karena menuduh Bela yang ingin mencelakai oma, tapi dia tidak peduli. Menurutnya dirinya sendiri sudah cukup benar. Dan Bara tidak akan pernah salah.
"Biarlah, suruh siapa dia memaksa oma. Dia tetap saja bersalah" Ucapnya lalu dia mencoba bermain ponsel untuk menghilangkan nama Bela.
Hari semakin siang, mata Bara terus mencari karena daritadi Bela tidak masuk ke kamarnya. Rasanya ada sedikit kecemasan yang muncul tapi dia tidak menyadari hal itu.
Hingga sore hari akhirnya Bela masuk ke dalam kamar. Dan itupun dia hanya menyiapkan baju untuk Bara saja. Setelah itu bergegas untuk keluar.
"Kau mau kemana? " Tanya Bara saat melihat Bela ingin keluar kembali dari kamarnya.
"Keluar" Sahutnya singkat.
"Apa maksudmu? Masuk ke kamar ini hanya untuk menyiapkan baju lalu keluar? " Tanya Bara.
"Iya" Lagi-lagi jawabnya singkat.
Bara langsung beranjak dari ranjang dan menghampiri Bela. Dia tidak tau lagi dengan gadis ini yang tiba-tiba menjawab dengan sangat singkat.
"Apakah kau tidak ingin menemuiku? " Tanya Bara kembali, dan tangannya mencengkeram erat lengan Bela.
"Aduh tuan, bisakah anda ini tidak mencengkeram tanganku? Tolong lepaskan karena ini terluka" Sahut Bela sambil menunjukkan luka yang sudah di perban.
Bara heran dengan Bela, saat tangannya masih terluka besar dia tetap saja terlihat tenang dan tidak ada rasa manja karena sakit.
"Aku tidak marah denganmu, aku hanya ingin memastikan oma baik-baik saja. Karena kau memarahiku tentang keselamatan oma bukan" ucap Bela sedikit penuh ketenangan.
Bara terdiam mendengarkan itu, karena apa yang Bela katakan adalah kebenaran. Bara sangat mengkhawatirkan oma sehingga dia memarahi Bela atas hal yang terjadi tadi pagi.
"Tenang saja, aku akan tidur disini nanti malam. Dan akan aku pastikan bahwa oma tidak mengetahui status palsu kita" Ucapnya kembali sambil memberikan senyum pada Bara.
Wajah Bela terlihat selalu ceria, tidak pernah ada kata lesu atau marah pada Bara. Bahkan Bela selalu menanggap semua akan baik-baik saja.
"Ah gadis bodoh, sepertinya dia terbuat dari besi karena tidak merasakan sakit" Bara meracau sendiri setelah Bela keluar dari kamarnya.
Kali ini Bela lebih memilih mandi di kamar sebelumnya daripada mandi di kamar Bara. Karena dia tidak ingin ada hal buruk yang terjadi apabila mandi di dalam sana.
"Bela" Panggil Mario yang baru datang dari sekolah.
"Iya" Sahut Bela sambil berbalik ke arah suara itu.
"Ini ada buku baru" Mario kembali menberikan sebuah buku pada Bela. Sekaligus agar dirinya bisa semakin dekat dengan Bela.
"Aku saja belum selesai membaca buku itu" Jelasnya.
Padahal Mario ada alasan lain saat memberikan buku itu pada Bela. Karena dia ingin ngobrol banyak hal bersamanya. Entah mengapa Mario senang melihat keceriaan Bela.
__ADS_1
Sedangkan Bela sendiri tidak mengetahui hal itu, dia hanya ingin berteman dengan Mario saja. Bela menganggap Mario adalah penyelamat nya karena selalu memberikan buku bacaan sebagai teman Bela sebelum dia tidur.
"Kau pegang saja, siapa tau kau menyukai novel itu" Ujar Mario.
Perbincangan mereka dilihat oleh Bara. Matanya terus menatap dan menyelidik tentang apa yang dilakukan oleh adik dan istri kecilnya.
Ada sebuah tatapan sinis tentang ketidaksetujuan karena kedekatan mereka berdua. Dia tidak mau jika Mario sangat dekat dengan istri kecilnya.
"Baiklah, aku simpan ini. Dan setelah itu aku akan membacanya" Bela menerima buku itu. Karena selama ini dia sangat kesepian, tidak ada teman ataupun ponsel yang menemani.
Pekerjaan Bela hanya sebagai pelayan Bara, membantu untuk mengurus oma, menyiapkan makan dan begitu seterusnya.
"Tanganmu kenapa? " Mario mengkhawatirkan Bela saat melihat tangannya di perban.
"Oh ini, tadi hanya terjatuh tapi aku baik-baik saja kok" Sahut Bela dengan tenang.
"Baiklah, kamu jangan lupa untuk mengobatinya lagi agar tidak infeksi" Bela mengangguk.
Bela segera beranjak ke atas kamarnya, dia ingin meletakkan novel itu untuk menjadi teman malam sebelum dia tidur.
*klek*
Terlihat Bara memperhatikan Bela saat dia membuka pintu. Lalu pandangannya menuju pada sebuah novel yang digenggam oleh Bela. Padahal dia sudah tau itu dari Mario, akan tetapi dirinya ingin menanyakan walau sekedar basa-nasi saja.
"Apa yang kau bawa" Tanya Bara
"Novel" Sahutnya singkat lalu menata novel itu bersama novel kemarin.
"Apa kau akan terus menumpuk novel disini? " Ujar Bara.
"Jelas iya, karena aku kesepian disini. Tidak ada teman berbicara, andai saja aku sekolah maka tidak akan kesepian" Sindir Bela.
"Kenapa kau selalu berbicara demikian ha? " Bentak Bara kembali meluapkan amarah.
Bela berjalan dan mendekat pada Bara. Dia menatap Bara dengan tajam, tingginya hanya sebatas dada Bara. Jadi saat melihat Bara yang berdiri maka dia akan mengangkat wajahnya ke atas.
Bela ingin menjelaskan tentang kesepinanya pada seseorang arogan seperti Bara. Dia ingin meluapkan semua pikirannya agar bara mengerti bahwa kesepian itu tidak nyaman.
Bara mendengarkan perkataan gadis itu dengan tenang. Walaupun wajahnya tidak tenang karena Bela selalu berbicara tentang sekolah dan sekolah.
"Tapi tenanglah, jika kau tidak ingin aku bersekolah. Maka aku akan belajar dengan adikmu saja" Ucap Bela, lalu dirinya melangkah keluar.
Bara tidak ingin Bela terlalu dekat dengan Mario. Jadi dia memutuskan untuk mengubah keputusannya sendiri. Dia akan menuruti kemauan Bela dan akan menyekolahkannya.
Lagipula Bela telah menuruti semua kemauan Bara dengan berpura-pura menjadi istrinya hanya untuk oma. Maka Bara akan mengabulkan permintaan Bela kali ini.
"Malam ini dingin sekali ayah" Malam yang dingin. Bela menghampiri ke ruangan pak Taryo yang sudah dia panggil dengan sebutan ayah.
"Labih baik kamu masuk ke dalam saja ya nak, agar tubuhmu tidak kedinginan" saran pak Taryo agar anak angkatnya tidak kedinginan.
"Baiklah"
Dengan pak Taryo rasanya hati Bela menjadi tenang. Walaupun tidak banyak cerita yang keluar dari mulutnya, setidaknya pak Yaryo menemani Bela untuk malam ini.
"Oh iya ayah, hmm jangan lupa istirahat ya. Dan jangan lupa untuk meminum obat agar tubuh ayah tidak sakit" Perhatian itu yang selalu Bela berikan untuk ayahnya.
Karena ayah yang dia miliki tidak pernah menyayangi Bela. Dan baru kali ini Bela benar-benar merasakan kasih sayang seorang ayah walaupun tidak sedarah.
Bela berjalan keluar dari ruangan pak Taryo yang terpisah dari rumah mewah Bara. Dia berjalan ke samping gajebo yang berdekatan dengan taman.
"Di sini aku belajar banyak hal, mulai dari kasih sayang dan kesabaran. Ternyata merubah diriku yang dulu tidak susah. Aku hanya ingin menjadi anak baik" Ujar Bela berbicara dengan malam.
Dia duduk di gajebo dengan meringkuk dan memegangi kedua lututnya. Matanya terus mengarah pada langit seperti sedang berbicara banyak hal.
Rasanya dia mendapatkan ketenangan yang sungguh nyaman. Seringkali dirinya ditemani oleh bintang-bintang dan para Rembulan seakan sambil tersenyum walau itu hanya khayalan.
"Apa kabar denganmu Roy, maaf aku tidak ingin pulang karena aku benci suasana rumah. Meskipun disini tuan Bara terlihat arogan, tapi setidaknya keluarga ini memberiku kehangatan dan sedikit harapan untuk bertahan" Curhat Bela malam ini di antara hembusan angin.
Bela tidak sadar jika ada sepasang mata yang menatap dari kejauhan. Telinganya juga mendengar ucapan Bela dan membuat bibirnya tersenyum sedikit.
__ADS_1
"Siapa Roy yang dia maksud? Apakah pacarnya dahulu? " Pikiran Bara bertanya-tanya. Dia ingin mencari tahu tentang latar belakang Bela yang sebenarnya.
Dia juga heran mendengar ucapan Bela yang tidak ingin kembali ke rumahnya dahulu. Bara juga sedikit senang saat dia mendengar bahwa keluarha di rumah ini membuat Bela nyaman.
"Kasihan juga anak itu sendirian, aku akan menghampirinya" ucap Bara.
"Bela" Belum sempat dia melangkah, Mario datang dan duduk di samping Bela. Membuat Bara mengurungkan niatnya untuk menemani Bela di malam ini.
"Lagipula buat apa aku menghampirinya, tidak ada guna" Ketusnya, lalu dia melangkah pergi meninggalkan Bela sendiri.
"Kenapa kau sendiri disini? " Tanya Mario, ternyata dia juga memperhatikan gadis itu daritadi.
"Aku hanya ingin menatap bintang" Sahutnya sambil tersenyum diantara bintang-bintang.
"Bintang? " Bela mengangguk.
"Dengan menatap bintang dan bulan rasanya aku bisa tenang, aku bisa berbicara dengan seseorang yang aku rindu walaupun tak nampak wujudnya" Mario mengangguk.
Dia mencoba memahami apa yang Bela katakan. Bela terus bercerita berapa tenang dirinya saat ditemani bulan dan bintang.
"Masuklah, di sini dingin" Mario membuka jaketnya dan diberikan pada Bela agar melindungi tubuh mungil itu dari serangan udara malam ini.
"Terima kasih, tapi aku ingin disini" Ucap Bela menolak ajakan Mario.
"Udara malam tidak baik untukmu, lebih baik masuk ke kamar agar kau tidak sakit" akhirnya Bela menuruti Mario dan masuk ke dalam rumah.
Dia mengekor Mario dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Klara melihat itu semua dengan senyuman.
Klara merasa senang karena semenjak kedatangan Bela kini Mario berubah. Dia sedikit mencair dengan kehadiran Bela. Padahal Mario sangat susah untuk berinteraksi dengan orang lain.
*klek*
Bela masuk kamar dan duduk di sofa. Dia berdiam diri lalu membuka bukunya. Tiba-tiba Bara mendekat dan berdiri tepat di depan Bela.
"Ada apa tuan? Apakah ada yang bisa saya bantu? " Tanya Bela seperti menantang tentang pertanyaan.
"Tidak ada, aku hanya ingin bicara denganmu" Ucap Bara.
Bela segera menutup buku yang dia pegang. Segera dia menatap bara dengan baik. Dia melihat mata bara ingin berbicara hal yang sangat serius dengannya.
"Persiapkan dirimu, kau akan sekolah besok" Kejutan yang menyenangkan terdengar dari mulut Bara. Bela tercengang mendengarkan hal itu.
"Sekolah? " Tanya Bela untuk memastikan kebenaran.
"Ya"
"Yeeyyyy" Bela meloncat kegirangan seperti anak kecil. Karena dia memang masih anak remaja yang butuh kesenangan.
"Terima kasih tuan" Karena kebahagiaannya saat mendengar ingin sekolah, Bela memeluk Bara dengan erat.
Bara hanya terdiam dan jantungnya sedikit berdebar. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi. Karena sentuhan Bela dalam pelukan itu membuat Bara merasa bergetar.
"Terima kasih tuan" Bara langsung melepaskan pelukan Bela. Dirinya merasa tidak nyaman saat menerima pelukan itu.
"Akhirnya aku bisa sekolah dan punya banyak teman lagi" Teriakkannya masih belum usai. Kebahagiaan itu membuat Bela terus menari dan molancat kegirangan.
"Tuan, aku saat berterima kasih padamu" Celoteh nya terus berkepanjangan mengucapkan Terima kasih pada Bara.
"Kenapa kau susah untuk memanggiliu Bara" Tegas Bara. Karena mulai awal dia menyuruh Bela untuk memanggilnya Bara atau suami saat didepan oma.
"Rasanya aku tidak bisa, karena umurmu lebih tua dari ku. Aku hanya bisa memanggiliu tuan, kakak, atau om" Tatapan Bara menetap pada Bela.
"Om? Kau pikir aku saat tua? " Suara Bara menunggi.
"Ah tidak tuan, aku hanya becanda hehehe" Sahutnya sambil menyengir.
Malam ini benar-benar suatu kebahagiaan karena Bara telah menyetujui keinginan Bela untuk bersekolah kembali.
Bela segera tertidur untuk menyimpan kekuatan dirinya besok dan melihat sekolah baru yang akan dia tempati. Rasanya sangat tidak sabar untuk mendapatkan banyak teman.
__ADS_1