Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
17. Suamiku


__ADS_3

Awalnya bela kebingungan, namun sekarang dia paham bahwa Bara sangat dihormati di sini sehingga pelayan hotel itu sungkan membiarkan Bela duduk sendirian di ruang tunggu ini.


Pelayan membawa Bela untuk menunggu di ruangan VIP. Ia juga disediakan banyak makanan dan sangat tepat sekali dengan perutnya yang sudah menanggung lapar.


"Silahkan dinikmati untuk hidangannya nyonya" Sapa, senyum dna santun sudah mereka kuasai untuk menghormati para pelanggan.


"Terima kasih banyak" Sambung Bela dengan senyuman yang membuat para pelayan itu merasa juga sangat dihargai.


Mereka tersenyum sambil keluar dari ruangan itu. Mereka membicarakan sikap Bela yang sangat ramah, padahal dia salah satu nyonya dari keluarga Baratha.


"Beruntung sekali keluarga Baratha mendapatkan menantu sepertinya"


"Iya benar. Dia cantik, baik, masih muda, ramah dan perhatian" ucap beberapa pelayan yang kagum dengan bela.


Pembicaraan pelayan yang sangat mengesankan karena sikap dan perilaku yang sangat sempurna berada dalam diri Bela saat ini.


Sementara itu Bela menikmati makanan yang tersedia. Dia tidak ingin menunda lapar lagi karena Bara meninggalkan Bela dalam keadaan lapar di pagi ini.


"Hmm makanan yang lezat, sepertinya cacing di dalam perutku sudah mengaung lapar" Ketus Bela dan siap menyantap hidangan.


Cara makan yang tidak elegan untuk nyonya besar. Bela tidak nemperdulikan itu karena dia sudah terbiasa makan dengan santai dan tenang saat bersama Roy di luar sekolah dan luar rumah.


Dia berhasil menghabiskan semua hidangan yang tersedia sehingga perutnya terasa sangat sesak dan susah bernafas hingga akhirnya dia memilih satu jalan yang penting, yaitu terlelap dan beristirahat.


Bela terlelap dalam ruangan itu karena kekenyangan. Sedangkan Bara masih sibuk mengurusi bisnis pengiriman senjatanya yang sedang bermasalah sebentar dan akhirnya bisa terselesaikan.


Markas Senjata


"Aku tidak ingin ada penghianat dari kalian, jika ada satu saja maka akan aku bunuh kalian hingga ke akarnya" Peringatan keras dari ketua mafia.


"Baik tuan, kami mengerti" sahut bawahan Bara dengan kepala tertunduk.


Bara pergi dengan tenang setelah masalah akan pengiriman yang hampir gagal telah diselesaikan. Kini dirinya pulang dengan santai dan menyetir mobil itu sendiri.


Di tengah perjalanan dia merasakan sesuatu hal yang aneh dalam dirinya. Bara merasa ada hal yang ketinggalan namun dia masih belum mengerti tentang hal itu.


"Ahhh, sial gadis itu masih di hotel" Gumamnya kesal dan kembali berbalik arah menuju hotel.


Hotel


Waktu menunjukkan pukul 08.00 dan Bela masih belum bangun juga karena efek kekenyangan yang membuat tidurnya terlalu nyaman walau hanya di atas sofa bukan kasur.


Tidak lama kemudian Bara datang dan disambut ramah oleh pelayan hotel. Dimana mereka mengatakan maaf pada Bara karena telah membiarkan bela terlelap di sofa.


"Permisi tuan, maaf saya telah lancang karena membiarkan istri anda tidur di ruangan tunggu VIP" Ucap manajer hotel yang merasa bersalah karena membiarkan Bela tidur disana.


Sedangkan dirinya bingung jika membangunkan Bela maka akan dianggap tidak sopan apalagi mereka sudah mengenal bela menanti dari keluarga Baratha.


Akhirnya manajer itu memilih untuk pergi dan membiarkan nyonya muda terlelap dengan damai bersama mimpinya.


"Bodoh, kemana dia sekarang" Bentak Bara membuat mereka terkejut.


"I.. I.. Itu disana tuan" Sahutnya terbata-bata.


Bentakan Bara membuat manajer ketakutan, dia pikir Bara akan memecatnya dan ternyata Bara kesal pada Bela karena memilih tidur di ruangan itu, bukan di kamar hotel.


"Pergilah" Bentak Bara pada manajer.


"Ba.. Baik tuan" Terdengar jelas dia sedang sangat gugup.


Saat Bara memasuki ruangan itu, dia tidak langsung membangunkan Bela. Sedikit memperhatikan wajah gadis kecil itu yang terlihat sangat damai.


"Mengapa wajahnya sperti itu, apa dia ingin menggodaku? " Batin Bara merasakan ketidaknyamanan.


Dia juga heran saat melihat Bela yang masih nyenyak tidur di atas sofa, bukannya kasur. Padahal informasi dari manajer dia sudah tertidur dari pagi hingga sekarang masih belum bangun.


Sungguh wanita yang gila menurut Bara.Karena baru kali ini dia menemukan wanita model Bela yang nyaman tidur dimanapun termasuk di atas sofa.


*pyarrr* sebuah piring sengaja di jatuhkan.


"Aduhh" Bela terbangun dan tubuhnya bergeliat untuk meregangkan otot-otot yang telah terlelap lama.


"Bangunlah pemalas" Bela langsung membuka mata dan segera memperbaiki duduknya.


Tangannya sibuk mengucek matanya untuk melihat jelas lelaki yang duduk di depan Bela. Ternyata dia Bara yang melihat dengan tatapan kesal karena menunggu Bela terbangun.

__ADS_1


"Eh tuan, aku bukan pamalas. Aku menunggumu daritadi disni, dan anda meninggalkanku sendirian. Sedangkan aku tidak tau arah jalan pulang" Kekesalan dalam hatinya dia keluarkan.


Dia terus mengoceh tanpa rasa takut, padahal yang ada di depan matanya adalah bos besar mafia namun dengan santainya dia mengoceh terus menerus seperti tidak ingin disalahkan.


"Diamlah, mulai sekarang panggil aku Bara. Jika di depan oma panggil lah aku suamimu" Ketus Bara membuat Bela menelan salivanya dengan kasar.


"Hahahaha, suami? Bara? Banyak sekali panggilan untukmu tuan. Lalu aku memanggilnya dengan sebutan apa" Lagi-lagi Bela terkekeh karena dia belum merasakan hal yang sesungguhnya.


"Diamlah, ayo pulang" Bara terlihat semakin kesal.


"Ahh ternyata kau marah, padahal aku sedang becanda" Gumam Bela sambil mengekori Bara keluar dari hotel ini.


Bela masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Karena Bela tidak ingin duduk di samping orang yang memiliki sifat antagonis. Rasanya setiap hari ingin menerkam siapapun yanga ada di dekatnya.


"Kau pikir aku supirmu? " Tanya Bara dengan wajah kesal.


"Ah tuan, aku tidak nyaman duduk di dekatmu. Karena aku belum terbiasa" Padahal kemarin duduk saling berdampingan. Tapi sekarang Bela memilih untuk menghindari.


"Duduklah depan dengan cepat atau aku akan meninggalkan mu di jalanan" Ucapan Bara dengan lembut tapi lebih tepat itu adalah berupa ancaman.


"Cepat" Bentaknya lagi.


"Nasib, nasib, dia pikir aku budaknya apa" Gumam Bela dengan langkah kakinya keluar dari mobil dan berpindah duduk di samping Bara.


"Tuan, kenapa kau selalu marah? Bukankah orang yang lemarah akan cepat naik darah? " Pertanyaan konyol Bela yang tidak ada takutnya.


"Sekali lagi kau bicara, mulutmu akan ku kunci" Celwtuk Bara sebagai peringatan.


"Kunci? Bagaimana caranya? " Sahut Bela penuh penasaran.


*crittt* Bara menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia langsung menatap Bela dan mendekat ke arahnya.


Sekarang wajah mereka berdua saling berhadapan. Wajah Bara semakin mendekat sedangkan Bela semakin memundurkan kepalanya karena merasa takut jika Bara melakukan hal yang tidak wajar.


Mata Bela menatap dengan kecemasan, dia juga melihat sekelilingnya dan ternyata jalanan yang dilalui sangat sepi. Jantung Bela berdetak kencang karena tatapan Bara semakin tajam.


"Baiklah, aku akan diam. Dan tidak bicara lagi" Akhirnya Bela mengalah.


Bara segera melajukan mobilnya kembali tanpa menghiraukan Bela. Sedangkan Bela masih dalam keadaan trauma dengan tatapan tajam Bara.


"Aku tidak ingin dia menyentuhku, karena aku ingin menyelesaikan sekolahku" Gunam Bela dalam hati.


Dia memang menyetujui pernikahan ini, tapi tidak menyetujui untuk tidur dengan lelaki yang ada di sampingnya. Bela menerima pernikahan karena dia membutuhkan tempat tinggal dan tidak ingin kembali ke nerakanya.


Rumah Keluarga Baratha


Bara turun dari mobil, tapi dia tidak langsung masuk ke dalam rumah melainkan menunggu Bela yang masih membuka pintu mobil.


"Cepatlah" Ketus Bara. Membuat Bela terheran-heran karena melihat lelaki arogan sedang menunggunya agar bisa berjalan bersama. Sungguh hal yang benar-benar aneh.


"Baiklah tuan, aku sedang berjalan" Ucap Bela.


"Bukan tuan, tapi suami" Ketus Bara saat Bela melupakan kesepakatan untuk memanggilnya suami. Bela menahan senyum saat mendengar perkataan itu.


"Kenapa kau tersenyum"


"Ah tidak, ucapan itu lucu" Bara menarik nafas yang dalam mendengar ucapan gadis kecil yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya.


*klek*


"Wahhh, menantuku sudah sampai" Sambutan dari Klara yang sangat hangat. Dia langsung memeluk Bela.


Tidak lama kemudian oma datang bersama Mario. Setelah memeluk Klara, Bela memeluk oma. Dan hampir lupa dia ingin memeluk mario, untung saja dia ingat jika Mario adalah lelaki.


Oma mengajak kedua pengantin baru itu untuk menikmati makan malam di rumah sambil menginginkan mereka bercerita pengalamannya di hotel. Padahal mereka sendiri tidak melakukan apapun di hotel kecuali untuk kepentingan masing-masing saja.


Hidangan yang sangat banyak sudah tersedia untuk makan malam. Sengaja di masak banyak karena menyambut pengantin baru yang telah tiba dari hotel.


"Bagaimana malam kalian di hotel? " Tanya oma.


"Eee.... "


"Baik oma" Bara langsung mengambil alih ucapan Bela. Dia tidak ingin Bela salah bicara di depan oma.


"Suamiku, apa kamu ingin ayam? " Tanya Bela dengan lembut.

__ADS_1


*krik, krik, krik* semua mata melirik pada Bela. Oma tersenyum karena kemesraan mereka, begitu juga dengan Klara yang ikut berbahagia.


Namun tidak dengan Mario karena merasakan hal aneh setelah Bela menikah dengan kakaknya yang arogan itu. Mario berfikir jika tidak sepantasnya seseorang yang dewasa menikah dengan gadis remaja seperti Bela.


Bara juga berlaku sama, dirinya terdiam dan membeku saat melihat Bela mengambilkan nasi serta menawarkan lauk padanya.


"Hmm, iya sayang aku menginginkan itu" Sahut Bara dengan lembut.


Sifatnya berbanding terbalik saat dia berbicara di depan oma. Sepertinya sifat arogan nya telah menghilang seketika saat dirinya berhadapan dengan oma Rose.


"Sayang? Bukankah tidak ada perjanjian jika dia memanggilku sayang? " Batin Bela kembali bertanya-tanya dengan heran.


Tanpa banyak pikir Bela langsung mengambilkan lauk untuk Bara. Dia melayani seperti seorang suami pada biasanya. Padahal dia sendiri tidak tau apa tugas yang harus dilakukan seorang istri.


"Kemana ayah? " Tanya Bela


"Ayah? Oh pak Taryo" Klara paham siap yang sedang dicari oleh menantunya.


Sekarang Bela benar-benar menganggap pak Taryo sebagai ayahnya. Dia tidak ingin memanggilnya pak Taryo lagi dengan sebutan supir, tapi sekarang mereka adalah sepasang anak dan orang tua dan harus memanggilnya pak Taryo dengan sebutan Ayah.


"Oma, mama, apakah aku boleh memanggil ayah untuk ikut makan disini? " Tanya Bela dengan lembut.


"Tidak" Ketus Bara dengan keras.


"Bara, kenapa? " Tegur oma saat mendengar cucunya tidak menyerujui perkataan dari istrinya sendiri.


"Begini oma, bukankah dia orang asing di keluarga ini? " Jelas Bara dengan lembut.


"Orang asing? Dia ayahku" Sahut Bela dengan tatapan kesal.


"Benar Bara, dia ayah angkat dari isterimu. Jadi pak Taryo berhak untuk makan bersama keluarga Baratha" Bara terdiam dan tidak bisa menyangkal pembicaraan oma.


"Bela, panggillah ayahmu sekarang juga"


"Baik oma"


Bela segera pergi dan memanggil pak Taryo dengan sebutan ayah untuk ikut makan bersama keluarga Baratha. Awalnya dia tidak mau namun Bela pandai membujuknya hingga akhirnya mereka makan di tempat yang sama.


Dalam pembicaraan makan malam ini, oma juga menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar pak Taryo. Sekarang pak Taryo sudah dipandang dengan hormat oleh keluarga ini.


Pak Taryo juga di angkat menjadi pengawasan di rumah ini. Dia bertugas untuk memantau para pekerja agar bisa menjaga kebersihan rumah dengan baik.


"Bela kamu ngapain membersihkan piring kotor?" Tanya oma dengan heran saat Bela membersihkan piring kotor di atas meja setelah makan malam selesai.


"Ini sudah menjadi tugas seorang istri oma" Sahut Bela tanpa ada rasa keberatan.


"Tidak, tidak, biarkan pelayan saja yang membereskan. Karena sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Baratha" Bela terdiam mendengar perkataan oma.


Dia tidak bisa melawan lagi perkataan oma dan akhirnya dia menyetujuinya untuk tidak melakukan apapun.


Malam semakin larut, Bara berada di ruang tamu. Sedangkan Bela kebingungan antara masuk ke kamar tidurnya ataukah kamar Bara. Tapi perintah oma dia harus tidur di kamar Bara.


"Apakah aku harus masuk kesini, ataukah kesini" Di antara kedua pintu dia kebingungan. Ingin masuk ke kamar Bara ataukah kamarnya sendiri.


"Apa kau ingin tidur di luar? " Ucap Bara yang tiba-tiba saja baik ke atas.


Sontak hal itu membuat Bela terkejut karena ucapan Bara. Ucapan yang dingin namun dengan nada menakutkan.


"Ah tidak, aku ingin masuk" Sahut Bela dengan senyuman.


"Masuk ke sana? Apakah kau ingin oma memarahiku" Ujar Bara kembali saat Bela ingin masuk ke kamarnya sendiri.


"Maaf tuan, aku salah" Bela segera masuk ke kamar Bara.


Dia mengekori Bara dari belakang. Kamar yang sangat mewah dan indah. Dengan cat yang berwarna coklat muda membuat romansa kamar semakin indah.


"Indah sekali kamar ini" Ucap Bela lalu duduk di atas ranjang.


Seketika Bara langsung menatapnya dengan tajam. Awalnya Bela tidak menyadarinya, namun beberapa detik kemudian dia sadar dengan tatapan tersebut.


"Tenang saja tuan, aku tidak akan tidur disini" Ucapnya dengan senyuman. Lalu dia keluar dari kamar Bara dan segera mengambil selimut dari kamarnya.


Tidak akan ada yang mengetahui hal tersebut karena oma, Klara dan Mario sudah berada di kamarnya masing-masing.


__ADS_1


__ADS_2