
" Bagaimana kabarmu, apakah kau baik-baik saja" tanya Bara pada Alex.
"Aku baik-baik saja" tutur Alex lembut menjawab pertanyaan Bara lalu dia tersenyum.
Bela tahu bahwa Alex memiliki masalah tapi dia berpura-pura sedang baik-baik untuk menghadapi sahabatnya yang sedang berhadapan dengannya. Karena Bara tidak tahu sebenarnya apa yang sedang Alex hadapi.
Alex menghadapi suatu kebimbangan antara rasa bersalah dan rasa bertanggung jawab untuk masa depannya karena dia telah menghianati cinta kekasihnya yaitu Cintia. Sementara Cintia sedang mengandung anak dari seorang lelaki yang telah memperk*s*nya di luar negeri.
"Ke mana kau tadi malam, tega sekali meninggalkan aku sendiri "sorotan tajam mata Alex sedang menyelidik pada Bara karena dia merasa ditinggalkan tadi malam oleh Bara dan juga Bela.
" Aku makan di luar hanya untuk mencari udara segar saja "sahut Bara tenang.
Lalu Alex mengalihkan pandangannya pada Bela yang membuatnya salah tingkah hingga seketika Bela terdiam tanpa banyak bicara lagi dan fokus pada makanan yang akan dihabiskan di atas piring.
"Sungguh bagus kau pergi keluar, sering-sering saja begitu biar aku kesepian" Alex menampakkan wajah kesal pada kedua sejoli yang telah meninggalkannya tadi malam.
"Sudahlah jangan banyak bicara, makan saja" Ujar Bara sambil melanjutkan makan.
Beberapa menit kemudian makan pagi telah selesai Bela membereskan semuanya. Bela segera berlari untuk mengambil tas dan bersiap diri pergi ke sekolah.
" Ya masih jam segini, Santai dulu nggak sih " Bela yang tadinya terburu-buru kini bersikap santai mengambil barang-barangnya setelah melihat bahwa dia masih memiliki waktu yang panjang.
Tidak lupa dia menyisihkan uang sakunya seperti biasa ke dalam tabungan, karena Bela ingin pergi menjenguk sahabatnya yaitu Roy. Beberapa menit kemudian Bela keluar dan segera masuk ke dalam mobil menunggu Alex untuk berangkat ke sekolah.
* gubrak* Bela tercengang saat yang masuk ke dalam mobil bukanlah Alex melainkan Bara.
" Tuan Kenapa kau yang masuk ke mobil ini, ke mana kak Alex" tanya Bela sambil celingukan melihat sekeliling karena biasanya yang mengantar sekolah adalah Alex bukan Bara.
" Bela berangkatlah dengan Bara ya, soalnya aku masih ada urusan" Alex tiba-tiba muncul dan memasukkan separuh badannya ke dalam jendela hanya untuk berbicara pada Bela.
Sedangkan Bela tidak bisa melakukan apapun karena kenyataannya Alex ingin keluar untuk melakukan sebuah urusan. Jadi terpaksa Bela harus berangkat pergi dengan Bara walaupun Sebenarnya dia tidak suka.
Sejenak Bela terdiam lalu menatap ke Bara seperti anak kecil yang menampilkan wajah lesunya.
" Sepertinya kau sangat kelelahan tuan, lebih baik aku akan naik bus dan kau istirahat saja" pikiran itu terlintas begitu saja dalam diri Bela karena dia sungguh tidak ingin berangkat pergi ke sekolah bersama Bara.
Apalagi di benaknya masih mengingat kejadian pagi itu dengan kecupan Bara yang begitu banyak melayang di pipinya. Kecupan itu menghilang, tapi rasa menyebalkan masih membekas dalam hati Bela.
" Kau diamlah, hari ini aku yang akan mengantar hingga sampai ke depan gerbang sekolah" tanpa banyak bicara lagi Bara langsung melajukan mobilnya. Entah rasanya Bela merasa seakan-akan tuannya itu berubah lebih tepatnya 110 derajat dari sifat biasanya.
Sebenarnya hal itu sangat aneh bagi Bela walaupun di hari biasa Bela menginginkan kehangatan tapi kali ini kehangatan itu sudah diberikan dan membuat pikiran Bela kembali melayang terbang.
Seakan-akan Bela tidak setuju dengan perlakuan Bara yang hangat serta menganggap Bela seperti keluarganya sendiri. Padahal di hari-hari biasa Bara bersikap dingin namun kali ini sikap dingin itu sebenarnya masih ada namun seakan dikesampingkan oleh Bara.
" Bagaimana sekolah mu? " Bara kembali membuka keheningan di dalam mobil dan bertanya tentang sekolah Bela.
"Baik, aku senang bersekolah karena banyak teman" sahut Bela dengan wajah cerianya lalu tiba-tiba Bela kembali menatap wajah Bara dengan diam.
Sungguh terlihat sangat aneh jika seorang Bara mempertanyakan itu karena tidak mungkin pertanyaan yang merujuk tentang perhatian dapat diucapkan oleh Bara.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti itu, apakah kau menyukaiku? " ujar Bara dengan penuh percaya diri membuat. Bela langsung mengalihkan pandangannya dan menatap keluar.
Bukannya Bela menatap ketampanan Bara melainkan menetap keanehan yang sedang ditunjukkan oleh tuannya itu. Agar tidak banyak bicara, Bela pura-pura menutup matanya hingga menuju ke sekolah.
Bela tidak ingin berdebat lagi dengan membahas perkara hal itu sebab dirinya masih merasa kesal dengan tuan arogan yang menyebalkan di sampingnya.
"Lagi-lagi dia pura-pura tidur" Seru Bara dalam hati sambil memperhatikan Bela sekilas. Kemudian dirinya kembali konsentrasi menyetir.
Tidak lama kemudian mobil mereka sudah sampai di depan sekolah. Ternyata Bela benar-benar tertidur pulas. Padahal tadi dia hanya pura-pura terlelap namun nyatanya kebablasan terlelap hingga masuk dalam mimpi yang singkat.
Bara yang melihat itu segera membantu Bela untuk membuka sabuk pengaman yang mengikat di tubuhnya.
"Aaaa" Teriak Bela dengan keras.
Bela terkejut saat wajah Bara berhadapan dengan wajahnya karena dia tidak tau jika Bara berusaha membuka sabuk pengaman Bela. Bara juga terkejut dengan teriakan itu, lalu dia menatap Bela dengan tatapan sinis.
"Diamlah, aku sedang membantumu membuka sabuk pengaman ini" Jelas Bara sambil membuka sabuk pengaman Bela.
Mendengar hal itu Bela segera bernafas lega, karena dia trauma jika Bara kembali mencium Bela. Bela masih membeku di tempatnya karena kejutan tadi, pikirnya kembali melayang terbang tentang Bara.
"Apa kau tidak ingin turun? " Bara mendekatkan wajahnya pada Bela sehingga membuat tubuh gadis itu spontan menjauh walau tidak terlalu jauh dari sorotan mata singa dari Bara.
"Aku akan turun, jangan mendekat tuan. Aku akan turun segera, lihatlah aku akan turun" Ucapan Bela berulang kali dan juga sangat gugup sehingga dia berulang kali mengatakan sesuatu yang sudah dia katakan. Tangannya sibuk untuk membuka pintu mobil tapi tetap saja rasanya sangat susah.
"Jangan mendekat" Teriak Bela dengan tatapan trauma pada bibir Bara.
"Diamlah, kau sangat berisik. Aku hanya membantumu menbuka pintu" Bara segera membantu membuka pintu Bela walaupun dirinya masih duduk di bangkunya sendiri.
"Ternyata dia begitu takut denganku, awas saja nanti aku akan menjadi singa ganas untukmu gadis kecil" Bara tersenyum sambil melihat langkah Bela yang sebentar lagi menghilang saat masuk ke dalam sekolah. Barulah Bara mengemudikan mobilnya untuk bergegas pergi.
Tapi Mario sedang memperhatikan itu sehingga sepasang mata kakak dan adik saling bersaudara tanpa ada rasa persaudaraan yang tentram. Satunya menatap dengan kesal dan satunya lagi menatap dengan tidak peduli.
Begitu bencinya kedua saudara tanpa ada sedikit komunikasi. Seakan bisa dikatakan mereka berdua telah putus untuk berkomunikasi semenjak kematian Denada walau masih menyimpan nomor masing-masing.
Akan tetapi nomor itu hanya pajangan sementara di ponsel mereka kecuali ada keadaan darurat yang memungkinkan, pasti slaah satu akan menghubungi dan sedikit mengesampingkan ego mereka.
"Apakah Bela baik-baik saja bersamanya? Entahlah mengapa aku selalu khawatir dengan Bela" Gumam Mario dalam hati sambil menatap mobil Bara yang telah berlalu.
Hampir setiap hari Mario berfikir bahwa Bela dalam keadaan yang tidak aman. Serta kekhawatiran akan selalu tumbuh dalam hati Mario, maka dari itu hampir setiap hari Mario mengirim pesan untuk Bela.
Walaupun pesan itu hanya berisi singkat tentang pertanyaan pelajaran sekolah ataupun tentang keadaan Bela. Sungguh sangat susah untuk mencari topik pembicaraan pada Bela, karena Mario sendiri adalah tipe orang pendiam dan tidak memiliki pengalaman untuk menaklukkan hati wanita.
"Beni" Teriak Bela saat dirinya melihat Beni berada di dalam kelas.
Bela segera menghampiri Beni dan menariknya keluar kelas karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Bela hanya ingin tau tentang masalah Beni agar bisa membantunya.
Sebab mereka yang memiliki masalah pasti menginginkan sebuah pundak untuk menyandarkan lelah dalam kegelapan dan kesunyian yang sedang dihadapi.
"Ikut aku cepat" Ujar Bela sambil menarik lengan Beni.
__ADS_1
"Kemana? " Tanya Beni dengan heran, karena dia tidak tau kemana Bela akan membawanya.
"Diamlah, ikutlah denganku" Bela terus menarik Beni sejauh mungkin.
Sementara itu teman sekelas mereka merasa heran dengan perilaku Bela. Apalagi kedua sahabatnya yaitu Brandon dan juga Sela, mereka menatap penuh heran dan bertanya-tanya dalam pikirannya.
Mata kedua sahabatnya memberikan sorotan tajam penuh menyelidik, akan tetapi mereka memilih diam karena tau bahwa Bela sedang memiliki urusan dengan Beni. Jadi mereka memilih untuk tidak ikut campur degan hal tersebut.
"Kalian mau kemana? " Tanya Mario saat mereka saling berpapasan di lorong kelas.
"Tidak kemana-mana, tunggulah aku di kelas ya. Nanti aku akan bicara denganmu Mario" Sahut Bela, karena dia hanya ingin berbicara dengan Beni hanya berdua saja.
"Aku ikut" Mario tidak akan pernah merelakan Bela berduaan dengan Beni. Karena rasa cemburu itu akan selalu muncul dalam diri Mario.
"Tidak, kembalilah" Teriak Bela penuh penekanan. Lalu menarik kembali tangan Beni dan membawanya. Sementara itu Beni tersenyum licik seakan mengatakan bahwa dia berhasil berduaan dengan Bela tanpa Mario.
Wajah Mario sangat kesal dengan hal itu, apalagi melihat senyum Beni yang menampilkan kemenangan. Ingin rasanya Mario mengejar mereka, namun tiba-tiba seorang guru memanggilnya untuk ke ruangan guru tersebut.
Jadi Mario hanya pasrah melihat kejadian itu walapun hatinya sungguh tidak rela jika melihat mereka pergi berdua saja. Sungguh pagi yang menyedihkan bagi Mario, dipatahkan oleh kakaknya dan juga teman sekelasnya hanya karena satu wanita yaitu Bela.
"Duduklah, aku ingin bicara denganmu" Bela membawa Beni ke atas gedung sekolah. Mereka berdua berada di atap, karena Bela hanya ingin Beni terbuka padanya. Sebab dari kemarin Bela selalu memikirkan tentang Beni yang betgelut bersama masalahnya.
"Kenapa kamu membawa aku kesini Bela? " Wajah Beni penuh tanda tanya. Karena dia tidak tau apa yang dilakukan oleh gadis yang dicintainya itu.
"Kau kenapa? Apakah ada masalah? " Wajah Bela terlihat sangat serius bercampur khawatir atas masalah Beni. Walau dia tau Beni memiliki masalah, namun seutuhnya Bela belum mengetahui masalah apa yang sedang bergilir di kehidupan Beni.
"Tidak, tidak ada apapun. Aku baik-baik saja" Beni berbohong, dia tidak ingin masalahnya diketahui banyak orang.
"Kau berbohong, jika kau baik-baik saja tidak mungkin harus bolos sekolah bukan. Aku tahu memang masalah dalam hidup sangat sulit diceritakan pada orang lain akan tetapi aku hanya ingin membantumu Beni "tutur lembut Bela sambil memegang kedua pipi Beni.
Seakan-akan tangannya menetapkan bahwa Beni harus menatap mata yang penuh ketulusan padanya, karena Bela saat ini bukan hanya untuk membantu Beni melainkan untuk membangun mental yang lemah walaupun mentalnya sendiri juga terkadang goyah oleh terpaan hidup dan tidak pernah tahu bagaimana arah selanjutnya.
Mendengar ucapan Bela, hati Beni terasa luluh dengan tutur kata yang lembut penuh ketulusan. Karena selama ini Beni hanya hidup sendiri tanpa ada kasih sayang yang benar-benar tulus dari seseorang. Kali ini dia mendapatkan ketulusan tersebut dari Bela.
" Aku adalah anak pungut setiap hari ayah selalu membentak dan memukul diriku. Dia selalu pulang mabuk oleh karena itu aku keluar dari rumah walaupun dalam hati aku tidak tega melihat ibu yang selalu menjadi sasaran untuk meluapkan emosi ayah" Beni memberanikan diri untuk bercerita pada Bela.
Banyak yang bilang jika selalu ada tempat untuk kita mengadu akan tetapi tempat itu belum tentu apakah aman atau tidak untuk menceritakan keluh kesah pada orang asing.
Tapi kali ini Beni melakukannya, karena selama ini Beni tidak ada tempat untuk bersandar. Semua rasa resah dan lelah dia genggam sendiri tanpa ada seorangpun yang tau. Dan kali ini Beni mencurahkan semuanya pada Bela.
Beni juga bercerira tentang kehidupan yang sungguh mati, oleh karena itu Beni menutupinya dengan tawa yang selalu dia tuangkan dari raut wajah konyolnya. Hanya untuk menghilangkan masalah yang dia peluk selama ini.
"Apakah kau tau dimana orang tuamu? " Bela semakin penasaran dengan Beni, karena tidak mungkin orang tuanya hanya memberikan Beni begitu saja pada orang asing.
"Mereka masih hidup, tapi tidak pernah menjenguk ku. Mereka ada di luar negeri, tapi tidak pernah memberiku nomor ponsel agar bisa menghubunginya" Jelas Beni.
Tiba-tiba air mata Beni terjatuh secara perlahan. Tubuhnya terasa sangat hancur, karena orang yang melahirkannya telah mencampakkan dirinya selama belasan tahun.
Bahkan Beni hanya bisa melihat orang tua kandungnya melalui foto saja. Setiap Beni memohon pada orang tua angkatnya, pasti pukulan yang akan dia dapatkan dari tangan ayahnya. sedangkan ibunya hanya bisa terdiam dan menutup mata.
__ADS_1
Karena ibunya hanya mementingkan hubungan antar suami istri tetap terjalin tanpa adanya pertengkaran sehingga ibunya tidak pernah membela Beni walau pukulan itu terus menghujani tubuhnya.