
Sorotan wajah baru kembali memandangi Bela dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bara memperhatikan kelopak matanya yang sedang berkedip, pikirnya sudah mengetahui bahwa Bela pura-pura tertidur.
"Sekali lagi kau pura-pura tidur, maka aku akan melemparkan kau ke gudang" Teriak Bara yang berdiri di samping Bela sambil menatap Bela yang masih pura-pura tertidur.
Sontak Bela langsung membuka matanya lalu tersenyum pada Bara karena dia tahu bahwa dirinya telah berhasil membuat tuan arogan berbicara walau Bela mendapat sebuah ancaman darinya.
"Baguslah Rencanaku berhasil untuk membuatmu bicara Tuhan" sambung Bela berbicara dalam hatinya lalai memberikan senyuman lebar.
Tanpa menghiraukan lagi, Bara segala keluar dari kamar Bela namun langkahnya terhenti karena lengannya dicengkram kuat oleh Bela.
Bela menatapnya dengan lekat dan memberikan surat lewat tatap mata yang penuh dengan pikirannya sendiri.
Wajah Bela yang tersenyum berubah menjadi wajah yang menyedihkan dan sengaja dia buat sendiri untuk menarik perhatian Bara.
"Tuan Apakah kau sariawan" Seru Bela karena dia merasa Bara sudah jarang berbicara padanya.
"Apa maksudnya lepaskan tanganku " ketus Bara lalu melemparkan tangan Bela dengan kasar.
Tanpa menjawab pertanyaan konyol dari Bela, Bara segera keluar dari kamar Bela dan ingin kembali menuju ke kamarnya namun Bela menghentikan langkah itu yang sedang berada di tengah tangga, karena dia berkata ingin ke rumah oma.
Bela meracau di bawah bahwa hatinya sedang merindukan Oma, dia ingin pergi ke rumah Oma dan memeluknya gadis itu berbicara dan mengeluarkan isi hatinya tentang sebuah kerinduan yang mendalam sehingga membuat Bara terhenti lalu kembali turun menghampiri Bela.
"Tuan tolong Izinkan aku ke rumah Oma, setiap malam aku merindukan dirinya" ucapan yang menyedihkan dari Bela dengan raut wajah yang sangat meyakinkan Bara.
Bohong bila hal itu tidak membuat hati Bara terketuk, apalagi tentang oma. Bara juga merindukan Oma akan tetapi dirinya sangat sibuk dengan beberapa pekerjaan tentang mafia dan CEO yang sedang dia jalani secara bersamaan.
Dan lebih parahnya dia juga sibuk sedang mencari kesempatan yang tepat untuk menghancurkan Erik di luar negeri, Bara juga tidak tega melihat Bela menahan rindu yang menyedihkan tentang Oma.
" Baiklah kita pergi besok pagi" sahut Bara dengan lemah lembut yang menyetujui bahwa dia akan membawa Bela ke rumah oma.
Mendengar hal itu Bela langsung loncat kegirangan dan menari-nari seperti anak kecil, kesenangannya tidak terbendung lagi karena telah lama dia tidak bertemu dengan Oma dan juga ayahnya.
Hatinya sangat senang karena sebentar lagi akan berkumpul dengan keluarga besar Baratha yang menyayanginya, sehingga dirinya tidak merasakan kesepian walaupun hanya sehari. Untung saja Besok adalah hari libur di sekolahnya jadi dia bisa leluasa bermain bersama oma dan juga ayahnya.
"Makasih tuan kau adalah malaikat yang membuatku tidak kesepian lagi" Bela kembali meluapkan kesenangan dalam hatinya dan tidak lupa rasa terima kasih ia berikan pada Bara sehingga dia memeluk Bara dengan erat.
Sungguh kejadian yang sangat lucu seakan-akan Bela sedang memeluk tiang dan Bara sedang memeluk adiknya. Bara terkejut dengan hal itu di satu sisi dia sangat membenci Bela di sisi lain dia tidak menyadari bahwa hatinya juga merasakan lega saat melihat senyum itu terlukis di bibir gadis itu.
Karena yang Bara tahu keceriaan adalah menjadi ciri khas dari Bela , dia juga memperhatikan Bela secara diam-diam. Akan tetapi ego dan dendamnya mengalahkan semua perhatian Bara untuk Bela karena yang dipikirannya hanya berkaitan tentang dendam pada Prabu dan Erik.
"Lalu kenapa kau tidak masak? " tanya Bara pada Bela. Mungkin ada rasa canggung saat pelukan itu masih melekat pada tubuh Bara sehingga bibirnya membuka sebuah pertanyaan. Bela segera melepaskan pelukan itu.
"Maaf tuan Aku lelah" sahut Bela dengan melemaskan sedikit pembicaraan, seakan-akan dia benar-benar lelah dan letih setelah pulang sekolah.
Padahal dalam hatinya dia hanya pura-pura terlihat lelah dan tidak mau masak agar Bara mau berbicara padanya. Dan rencananya berhasil, tapi sekarang dia juga salah karena perutnya sedang menahan lapar.
"Aku akan masak sekarang tuan, kau tunggu saja di ruang tengah sambil menonton TV atau membaca buku" Bella memberikan saran agar barang menunggunya untuk memasak namun hal itu mendapatkan penolakan.
__ADS_1
"Tidak usah karena aku sangat lapar ayo kita keluar" Bara menarik tangan Bela dan segera keluar dengan pakaian seadanya.
Dengan wajah Bela yang berantakan karena baru saja bangun tidur sehingga tidak sempat untuk bersiap diri.
Sebenarnya Bela ingin menolak akan tetapi hal itu tidak sempat dilakukan dan membuat Bela berbicara karena tangan kekar Bara menariknya dengan kuat sehingga masuk ke dalam mobil.
Akhirnya Bela menuruti kemauan tuannya itu karena perutnya juga lapar dan dirinya juga sedikit lelah karena tadi mengepel menyapu hanya untuk menarik perhatian Bara namun hasilnya nol.
"Lebih baik aku mengikutinya, daripada aku mati kelaparan malam ini" Seru Bela dalam hati. Dia menyetujui ajakan makan malam Bara walau dirinya masih terlihat berantakan.
Bara membawa Bela ke suatu tempat Resto yang cukup mewah dengan menggunakan pakaian yang sederhana, dengan tenang dia memesan meja serta memilihkan menu untuk Bela dan juga dirinya.
" Tuan Apakah kau tidak malu kita berpakaian baju ini tapi masuk ke Resto yang cukup mewah ini " ujar Bela membuka pembicaraan diantara kesunyian mereka yang berdiam diri dalam pikirannya sendiri di depan meja makan.
"Diamlah, kita perlu mengisi perut untuk makan bukan mencari perhatian publik" sahut Bara dengan nada yang penuh penekanan.
Seketika Bela langsung terdiam dan menikmati suasana resto yang cukup nyaman dengan beberapa alunan musik yang dimainkan oleh beberapa penyanyi yang ada di panggung depan.
Rasanya sangat terhibur, hal itu juga mengingatkan Bela saat bernyanyi di jalanan bersama Roy. Di sepanjang menunggu makanan itu datang Bela selalu tersenyum sambil memandangi para penyanyi yang ada di depan bahkan dirinya menghiraukan Bara yang sedang sibuk memandangnya walau hanya sesekali.
"Tutuplah mulutmu gigimu kering" Ujar Bara yang membuat Bela spontan langsung menutup mulutnya dan tersenyum saat melihat panggung yang beraksi.
"Sial padahal aku sedang menikmati musik di depan tapi dia menyuruhku untuk menutup mulu" batin Bela berseru tidka setuju dengan perintah tuannya itu, tapi dia tetap saja melakukannya.
Tidak lama kemudian hidangan sudah siap di meja makan lalu mereka berdua menikmati hidangan tersebut. Rasanya seperti dinner romantis yang dilakukan oleh pasangan pada umumnya akan tetapi pasangan ini berbeda karena dinner menggunakan baju sederhana tanpa make up dan tanpa aksesoris apapun.
Sementara itu mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasi.
"Sepertinya ini adalah waktuku untuk membalaskan dendam padanya ".
Ternyata Dira juga sedang menikmati makanan di sana bersama kekasihnya. Saat dia ingin ke toilet pandangannya tidak sengaja sedang menyoroti Bela yang duduk bersama seorang lelaki yang lebih tua dari mereka dan sedang menikmati makanan di resto yang cukup mewah.
Apalagi pakaian Mereka terlihat sangat sederhana dan hal itu semakin membuat Dira percaya diri untuk mempermalukan Bela malam itu. Dia menghubungi kekasihnya untuk menunggu di mobil dan Dira beralasan bahwa sedang ada kepentingan sejenak serta akan segera menyusulnya nanti.
" Kau tidak cocok makan di sini, lebih baik kau makan di warteg saja " ejek Dira yang tiba-tiba menghampiri Bara dan Bela.
Wajahnya terlihat sangat bangga dengan berkata demikian dan juga dia sengaja meninggikan suaranya agar beberapa orang di samping mereka mendengar ucapan Dira.
"Apa urusanmu, apakah Resto ini milik keluargamu sehingga kau berhak berbicara seperti itu padaku" Bela menjawabnya dengan santai sambil menikmati hidangan tersebut.
Sementara Bara sudah terlihat sangat kesal dan ingin menampar Dira yang berbicara seenak jidatnya dan menghina mereka berdua.
"Ini memang bukan Resto keluargaku, tapi yang makan di sini seharusnya orang yang berkasta tinggi bukan gembel sepertimu atau mungkin kekasihmu ini tidak memiliki uang untuk membeli baju karena sudah mentraktirmu di resto yang mahal ini " Sindir Dira dengan perkataan pedasnya, tangannya sangat ringan menunjuk Bara sebagai sampah.
Bibirnya terus meracau tidka jelas tanpa dia sadari bahwa lelaki di hadapannya adalah seorang mafia kejam berdarah dingin.
Bela hanya mendengarkan dengan senyuman akan tetapi berbeda dengan Bara dia sudah geram dan mengepal tangannya untuk siap-siap menghajar gadis yang sedang meracau tidak jelas serta mengejek dirinya dan Bela.
__ADS_1
Untung saja Bela dengan sigap menggenggam erat tangan Bara serta menenangkannya karena dia tahu apabila Bara marah maka semuanya akan menjadi kacau. Bukan hanya itu, saja resto ini juga akan dibuatnya kacau serta wajah Dira yang sangat menyebalkan akan hancur berantakan.
"Sepertinya makananmu tidak halal, karena mulutmu berbicara tidak baik. Aku ingin menyarankan padamu lebih baik sikat gigi dahulu lihatlah selada melekat digigimu" Jawab cerdik Bela dan membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa.
Spontan tangan Dira langsung menutupi mulutnya lalu dia ingin menampar Bela akan tetapi Bara langsung beranjak dari kursinya dan menahan tamparan itu.
Bara mencengkram kuat tangan Dira dengan tatapan amarah yang sudah menggunung. Bara sudah menahannya dari tadi karena Bela menggenggam tangan Bara dan mencoba untuk menenangkannya tapi kali ini amarahnya meluap karena gadis itu sudah kelewatan merendahkan seseorang yang tidak dia ketahui identitasnya. Sungguh tamat riwayatnya apabila Bara mengeluarkan seluruh emosinya.
"Lepaskan" teriak Dira Sambil mencoba menarik tangannya yang sedang dalam cengkraman Bara.
Sorotan mata Bara sudah siap menghantam mangsa yang ada di depannya namun tangan yang satunya kembali ditenangkan oleh Bela sehingga amarahnya sedikit reda.
" Sekali lagi kau berkata seperti itu pada wanita di sampingku ini, akan kupastikan besok kau tidak akan melihat dunia" sungguh ucapan yang sangat tajam serta ancaman yang diberikan Bara pada Dira.
Bara segera melemparkan tangan Dira dengan keras sekaligus melepaskan amarahnya walau itu hanya lewat lemparan saja. Sedangkan semua orang yang ada di sana memandangi Dira dengan tatapan heran yang membuat dirinya sangat terusik dan malu karena kejadian itu.
Niatnya ingin mempermalukan Bela akan tetapi dia sendiri yang malu karena jawaban Bela yang sangat menyinggung dengan baik tentang selada yang melekat di giginya.
*gubrak*
Semua mata kembali lagi tertuju pada suara itu begitu juga dengan Bela dan Bara. Ternyata kaki Dira tergelincir dan dia terjatuh saat menuruni tangga kecil Resto tersebut. Bela langsung berlari dan ingin membantunya.
" Ayo bangunlah" ucap Bela sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Dira berdiri.
Namun uluran tangan itu ditepis oleh Dira dengan tatapan bengis. Bela hanya menerima nya dengan lapang dada dan tanpa banyak bicara lagi.Padahal niat hati ingin membantu, namun ditolak karena gengsi Dira yang sangat tinggi.
"Untuk apa membantunya orang seperti dirinya, dia tidak pantas dibantu karena dia sama seperti sampah " jelas Bara sambil berbicara di depan Dira .
Lalu Bara segera menarik tangan Bela dan pergi untuk meninggalkan Dira yang masih tergeletak di lantai. Bara segera menyuruh Bela masuk ke dalam mobil dengan tatapan kesal.
" Maaf tuan aku telah membuat kekacauan malam ini " ujar Bela sambil tertunduk karena merasa bersalah dengan kejadian tadi sehingga mereka berdua tidak menyelesaikan makan.
Bara tidak menyahuti permintaan maaf Bela tersebut, dia langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Di dalam perjalanan kembali kesunyian menghiasi mobil mereka.
Hanya terdengar gemuruh suara mesin motor dan mobil yang saling bersahutan mengisi sunyinya malam.
"Terima kasih karena kau telah membantuku dan maaf karena aku menyusahkan mu tuan " suara Bela kembali mengisi kesunyian tersebut dengan perkataan terima kasih dan juga kata maaf yang diucapkan secara bersamaan.
"Aku menolongmu agar dia tidak merendahkan ku sebagai lelaki " jelas Bara.
Dia mengatakan bahwa menolong Bela adalah kewajibannya karena dia yang membawanya ke dalam resto dalam keadaan baik dan dia juga yang akan membawa keluar dari resto dalam keadaan baik juga.
Bara juga mengatakan pada bela agar dirinya tidak terlalu besar kepala karena tujuan Bara menolongnya tidak ada maksud lain dalam hatinya itu.
"Tapi aku merasakan senang tuan karena kau telah memberikan yang terbaik. Aku merasa bahwa kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan" jelas bela sambil melebarkan senyuman. Bukannya terdiam tapi bela malah memuji Bara karena telah melindunginya.
"Berhentilah memuji ku, aku jijik mendengarnya" ketus Bara. Seketika Bela berhenti berbicara serta tidak menghiraukan tuannya lagi.
__ADS_1