
Rumah Baratha
"Selamat pagi oma, kita membersihkan diri dulu yuk" Langit pagi masih gelap, mentari belum muncul dan Bela sudah mengurusi oma dengan kesabaran yang tinggi.
Menemani oma Rose mandi dan membersihkan diri. Sebenarnya Bela selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa oma Rose tidak memiliki pengasuh yang akan menjaganya.
Tanpa dia ketahui bahwa pengasuh oma sangatlah banyak, tapi tidak ada yang bertahan dengan oma karena dia memiliki sifat yang dingin dan pemarah. Sama seperti Bara salah stau cucunya.
"Sudah selesai, ayo kita pergi menghirup udara segar" Bela segera membawa oma keluar dari kamar dan menikmati udara segar di kebun samping rumah.
"Lihatlah oma, pagi yang sangat sejuk. Dan kita akan melihat matahari terbit dari timur. Apakah oma siap? " Oma Rose hanya mengangguk dan tersenyum kecil melihat perilaku Bela yang sangat lucu dan periang.
Oma merasa melihat salah satu cucunya yang telah tiada yaitu Denada. Sifat periang dan cerewet memiliki kesamaan dengan Bela. Sehingga hatinya senang apabila Bela dekat dengannya.
Rasanya seakan Denada terlahir kembali atau reinkarnasi walau kenyataannya itu tidak. Karena Bela dan Denada memiliki umur yang sama. Mungkin takdir yang telah memeirsatukan mereka kembali.
"Apa kamu bisa bernyanyi? " Oma membuka suara dan membuat Bela terkejut. Karena dia sangat benci dengan bernyanyi.
"Tidak oma" Kepalanya menggeleng dan bibirnya terlihat manyun.
"Tapi oma ingin mendengar suaramu" Wajah oma memelas karena ingin mendengar suara cerewet itu dengan bernyanyi untuk menghibur kebun dan alam pagi ini katanya.
"Tapi suaraku jelek oma" Sahut Bela.
"Tidak apa-apa, yang penting oma bisa mendengar suaramu saat bernyanyi" Senyumnya seperti berkata untuk memohon. Membuat Bela tidak tega dengan wajah oma.
Bela menarik nafas dalam-dalam. Meyakinkan oma bahwa dia akan bernyanyi meskipun suaranya cukup dibilang sumbang. Karena Bela sangat benci dengan bernyanyi.
"Kau terindah dan selalu terindah...... " Suara serak-serak basah membangunkan semua orang, salah satunya Bara.
"Siapa pagi-pagi begini sudah bernyanyi sekeras itu, suaranya juga sumbang" Tutur Bara kesal. Tangannya sibuk mengucek mata untuk menyadarkan diri dari tidurnya.
Setelah di dengar-dengar suara itu adalah dari bela. Bara mengenalinya dan dia segera mencari dimana keberadaan suara itu. Ternyata setelah dilihat dari kaca jendela diatas, dia melihat bahwa Bela bernyanyi bersama oma di kebun.
"Anak itu lagi, tidak ada habisnya berbuat onar" Kesalnya saat melihat Bela kembali bernyanyi di hadapan oma.
Bara langsung menutup telinganya rapat-rapat. Karena suara Bela benar-benar tidak ramah saat masuk ke gendang telinga. Dan anehnya oma malah terlihat sangat senang.
Bibir Bara memberikan senyum saat oma tertawa riang mendengarkan suara Bela yang sangat hancur lebur. Kebahagiaan oma adalah kebahagiaannya juga.
"Sudah oma, suaraku benar-benar rusak" Jelas Bela pada oma.
Sedangkan oma hanya tersenyum dan mengenggam tangan Bela sambil menikmati pemandangan di kebun dan melihat matahari terbit.
Di balik jendela yang lain, Mario menatap dengan kesal kelakuan Bela yang terus bernyanyi padahal sudah jelas suaranya sangat hancur.
"Andai saja dia sendirian dan tidak dekat dengan oma, maka akan aku bungkam saja mulutnya" Ketus Mario sambil menatap Bela dengan wajah kesal.
"Filingku tidak pernah salah dengan anak itu, dia yang akan membawa kebahagiaan bagi keluarga ini" Ucap Klara dari balik jendela ruang tamu.
yang juga memperhatikan perilaku Bela bersama oma.
Dia melihat sangat damai di wajah Bela. selain tubuhnya yang mirip dengan Denada, kelakuannya juga hampir mirip dengan Denada yang tomboi dan keras kepala.
"Aku sangat setuju bila kamu menjadi bagian keluarga ini nak" Ucapnya lagi, lalu langkahnya kembali pergi meninggalkan mereka berdua dari balik jendela.
"Kamu sangat lucu, oma sangat menyukai suaramu seperti ada ciri khasnya" Puji oka pada Bela.
"Iya oma, buat mengusir tikus" Sahut Bela dengan santainya.
"Hahahha" Tawa oma sangat kencang.
Baru kali ini Bara melihat oma tertawa dengan lepas tanpa beban. Dia merasa oma akan kembali dengan keadaan seperti dulu lagi. Seakan dunia kembali bersinar karena tawa oma.
Sungguh sangat mengejutkan dan sangat menyenangkan. Berharap tawa itu terus berlanjut untuk kedepannya.
"Selamat pagi pak Taryo" Sapa Bela dengan gembira, dia sangat senang melihat keadaan pak Taryo semakin membaik dari sebelumnya.
Mulai hari ini pak Taryo sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Untuk membalas jasa Bara, dia kembali mengabdikan dirinya sebagai supir ataupun tukang kebun. Namun Bara menyuruhnya untuk menjadi tukang kebun saja.
"Pagi non, pagi oma" Sapanya sangat ramah. Dan oma membalas sapaan pak Taryo dengan senyuman.
"Saya masuk dulu ya pak" pamit Bela.
__ADS_1
"Baik non" Sahut pak Taryo.
Bela membawa oma masuk ke dalam ruang makan. Sebentar lagi sarapan pagi akan dimulai karena hidangan sudah tersedia lengkap di meja makan.
"Kenapa masih sepi? " Tanya oma pada Bela.
"Mungkin sebentar lagi mereka akan keluar oma" Sahut Bela dengan tenang.
Tidak lama kemudian Klara sudah siap dengan baju lengkap seorang CEO dan Mario lengkap dengan baju sekolahnya. Mereka duduk seperti biasa namun Bara masih belum turun juga.
"Andai aku juga sekolah seprti tuan Mario, pasti hidupku senang dan banyak teman" Batin Bela menyeru.
Matanya menatap dengan penuh keinginan pada Mario yang sudah berseragam sekolah dengan rapi. Hatinya benar-benar sangat ingin bersekolah kembali.
Harapannya sekarang dia letakkan pada Bara. Karena Bara sudah berjanji bahwa dia akan mengabulkan permintaan Bela bersekolah setelah mereka menikah.
"Bela, Bela" Panggil Klara namun Bela masih asik dengan lamunannya.
"Bela" Sambung oma.
"Eh iya oma maaf" Lamunan itu seketika menghilang saat tangan oma menepuk kecil lengan Bela.
"Kamu sedang memikirkan apa? " Tanya tante.
"Ah, tidak tante aku sedang asik melihat seragam tuan Mario. Soalnya seragamnya indah" Sahut Bela sambil tersenyum.
"Lebih baik kamu panggil Bara ya, agar kita semua bisa sarapan pagi bersama lagi" Tutur lembut Klara membuat Bela menurutinya.
"Baik tante" Bela bergegas pergi dari ruang makan. Langkahnya menuju ke kamar Bara.
*tok, tok, tok*
Ketukan pintu yang berulang-ulang namun belum ada jawaban sepatah katapun sari Bara. Bela terus mengetuknya namun Bara masih belum membukanya.
"Tuan, permisi. Tante klara menyuruh tuan untuk makan bersama" Ucap Bela dengan sedikit teriakan kecil.
*tok, tok, tok* terlihat wajah kesal Bela karena dari tadi tidak ada jawaban apapun dari Bara.
*klekk*
*brakkk*
"Aduh" Bela terjatuh di hadapan Bara yang sedang membuka pintu.
"Astaga tuan, kenapa anda tidak memakai baju" Tangan Bela dengan cepat menutupi wajahnya saat melihat Bara telanjang dada dan bagian bawahnya hanya dibalit dengan handuk putih.
"Apa yang kau lihat, aku sedang mandi. Kenapa suaramu berteriak seperti orang hutan" Bentak Bara pada Bela yang masih duduk bersimpuh di lantai.
"Enak saja aku dibilang orang hutan, memangnya dia siapa? Apakah temannya orang hutan" Ketus Bela dalam batinnya.
"Pergilah, aku akan turun sebentar lagi" Usir Bara pada Bela.
"Aaaaa" Bela kembali teriak saat bara tiba-tiba mendorong tubuh bela menggunakan pintu. Kulit di kakinya terselip di bawah pintu sehingga membuatnya sangat kesakitan.
Sedangkan Bara tidak menyadari hal itu karena dia sesegera mungkin untuk menutup pintu. Padahal kaki Bela terselip sehingga pintunya tidak tertutup.
"Tuan tunggu dulu jangan ditutup pintunya, apakah anda belum melihat orang sebesar ini masih di bawah" Bentaknya dengan berani.
"Siapa yang menyuruhmu duduk bersantai disana, cepatlah pergi dari sini" Usir Bara pada Bela.
Bela segera berdiri sedangkan tangannya masih menutup wajah karna tidak ingin matanya ternodai dengan tubuh Bara yang terlihat sangat gagah.
Bela juga takut jika dirinya tergoda dengan tubuh itu. Karena tidak mungkin wanita akan bisa menahan bila disuguhi roti sobek yang benar-benar indah.
"Aduhhh, untung saja cuma merah dan tidak terluka. Tapi rasanya seperti teriris" Gumam Bela di depan pintu bara sambil memegangi kakinya yang tadi terjepit di bawah pintu.
"Andai saja dia bukan tuanku, akan aku balas dia" Tangannya mengepal dan siap meninju ke depan pintu Bara.
Dirinya memperagakan tinjuan yang pas sesuai dengan tinggi Bara. Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan Bela tertegun sehingga tangannya masih mengepal tepat di hadapan wajah Bara.
"Apa yang kau lakukan? "
"Hmm, tuan. Cepat sekali anda mengganti baju. Aku tadi sedang berlatih tinju" Ucapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Dia tau bahwa dirinya ketahuan oleh Bara yang tiba-tiba keluar dan membuka pintu. Untung saja banyak alasan yang ada di benak Bela sehingga dia segera ijin untuk turun ke bawah.
"Saya turun dulu tuan, spertinya oma memanggil" Padahal tidka ada yang memanggilnya.
Bara hanya menatap langkah kaki gadis itu pergi dari hadapannya. Padahal dia mendengar ucapan Bela di depan pintu tadi. Karena Bara sengaja berdiri di balik pintu untuk memastikan hal konyol apa lagi yang dibicarakan Bela padanya.
Bara turun dan duduk di ruang makan bersama keluarga. Sedangkan Bela terlihat malu dan berdiri di samping oma untuk menyiapkan makanan pagi untuk oma.
"Bara, kenapa tadi berisik sekali? " Tanya Klara dan menatap sambil menahan senyum.
"Tidak ma, tadi hanya ada tikus kecil yang mencoba masuk dan mengoceh sendiri di depan kamarku" Sahut Bara yang turun dari kamarnya.
Mata Bela langsung terbelalak mendengar ucapan Bara. Sekarang dia semakin malu dan sedikit takut karena Bara mengetahui bahwa Bela sedang berguman tidak jelas di depan kamarnya.
"Dia memang benar-benar menyebalkan, tadi menyebutku orang hutan dan sekarang menyebutku tikus. Dan dia juga mendengarkan pembicaraan ku tadi. Ah sungguh sial" Gumam Bela dalam hati.
"Bara, jangan pergi kemanapun hari ini" Ucap oma sambil menatap Bara.
"Tapi oma bara ada pekerjaan lain" Sahut Bara mencoba menolak perintah oma.
"Serahkan saja pekerjaan itu pada alex" Pernyataan oma yang sangat menakutkan.
"Memangnya ada apa oma? " Tanya Bara yang tidak paham dengan larangan dari omanya itu.
"Kamu besok harus menikah" Ujar oma membuat kejutan sedikit di pagi ini.
"Apa? " Sahut Bara dan Bela secara bersamaan.
Mereka berdua lupa jika besok adalah hari pernikahannya. Ternyata secepat ini pernikahan dadakan yang akan diadakan besok.
"Kenapa kalian terkejut, bukankah kemarin sudah memesan gaun untuk Bela? " Tangan oma.
Bara langsung bersikap pura-pura tenang, walaupun hatinya gelisah karena tidak ingin menikah dengan paksa. Namun dirinya paham karena semua ini dilakukan untuk kebahagiaan omanya itu.
"Benar oma, maaf aku melupakan itu" Sambung Bara.
"Tidak apa-apa nak, mama juga sudah menyiapkan hantaran dan beberapa kue pernikahan. Walaupun hanya diadakan secara kekeluargaan saja" Sambung Klara.
Bela hanya terdiam, wajahnya yang ceria kini berubah menjadi lesu. Dia sungguh tidak percaya karena sebentar lagi akan menikah dengan lelaki arogan yang berstatus sebagai tuannya saat ini.
"Bela, tolong katakan pada pak Taryo bahwa dia akan menjadi walimu saat ini" Oma memberikan perintah padanya, tapi Bela masih terdiam dan tercengang.
Klara mengulangi pembicaraan oma namun Bela masih terdiam dan berdiri di samping oma. Tangannya memegang kursi roda oma sedangkan matanya menatap ke sembarang arah.
Dia masih tidak percaya dengan keadaan saat ini. Mau tidak mau tapi harus tetap melakukan. Paksaan itu tidak bisa dia tolak walau hatinya terus berkata tidak mau.
"Bela" Bentakan keras dari Bara membuat Bela langsung terbelalak.
"Iya tuan ada apa? " Bela terkejut dan langsung menatap Bara.
"Apakah kamu dengar dengan ucapan oma dan mamaku? " Bela tersenyum kecil lalu kepalanya menggeleng.
"Saya tidak mendengar tuan" Sahutnya, karena dia memang melamun
"Cepat katakan pada pak Taryo bahwa besok dia akan menjadi walimu dalam pernikahan" Tegas Bara, Bela kembali tersenyum saat mendengar perkataan Bara.
"Mengapa kau tersenyum? Apakah ada yang lucu? " Teriak Bara kembali.
"Tidak tuan, hanya saja suara tuan mengagetkan jantung saya. Untung saja jantung ini tidak copot dari pemiliknya" Sahut Bela dengan santainya.
Seketika oma dan Klara menahan tawa dengan apa yang Bela ucapkan tadi. Sedangkan Mario yang biasanya bersikap dingin, kini mulai tertarik dan terhibur dengan keberadaan gadis itu.
Perkataan Bela yang ceplas-ceplos seakan mengatakan bahwa dia sangat menarik karena ucapannya selalu menghibur banyak orang tanpa dia sadari.
"Saya pergi dulu tuan"
"Pergilah" Sahutnya dengan keras.
Bela segera pergi untuk menemui pak Taryo yang sibuk mengurusi kebun di rumah itu. Banyak tanaman bunga yang mengelilingi rumah sehingga pak Taryo harus bekerja ekstra untuk merawat bunga-bunga itu.
Pekerjaan itu membawa hal positif bagi pak Taryo karena dia juga tidak tinggal di rumah itu secara gratis. Dalam hidupnya pak Taryo selalu memanjakan rumah tuannya seperti pelatah dimana bumi dipijak disitu lah kami junjung.
__ADS_1