Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
34. Masuk Sekolah Lagi


__ADS_3

Bara mengikutinya dan duduk di kursi samping Bela. Dia juga terdiam karena merasa bahwa perlakuannya kemarin sudah membuat senyum gadis kecil itu menghilang.


" Aku tidak ada maksud menyiksamu, namun hatiku sudah terlanjur marah karena kau pergi tanpa pamit. Aku takut kau menghilang" Bara membuka pembicaraan itu, akan tetapi bibirnya sangat susah untuk berkata maaf pada seseorang.


Sedikit ia menjelaskan apa yang telah dirasakannya kemarin. Bibirnya terus berbicara tentang apa yang telah dilakukannya adalah hal yang salah namun jauh di lubuk hatinya tidak ada maksud untuk menyakiti kembali gadis kecil itu.


Kesunyian menyelimuti pagi, sorotan mata keduanya saling beralih ke satu titik yang berbeda. Bara tetap menatap gadis itu, dan Bela menatap langit memandangi burung-burung.


"Aku sudah terbiasa dengan ini, jadi santai saja tuan karena aku baik-baik saja" Ucap Bela memecah keheningan.


Bela berkata demikian namun sorotan matanya masih saja tidak memandangi Bara. Bela mencoba tenang dalam hal yang menyakitkan dalam hidupnya.


"Kau tau, pukulan adalah makananku. Jadi Tuhan memberiku tubuh kuat agar tidak mudah menangis" Ucapnya kembali sambil tersenyum pada Bara.


Senyuman banyak menyimpan luka, namun dia tetap memaksakan dirinya untuk terus bahagia walaupun rasanya sangat sakit. Dia mencoba menghibur diri untuk terlihat bahwa dirinya baik-baik saja.


Bara juga semakin tidak tega bila harus melihat gadis kecil yang berstatus istrinya itu kesakitan dan menderita, akan tetapi dia juga tidak tega jika istrinya itu berjalan dengan orang lain atau keluar dari rumah tanpa pamit.


" Ini semua salah paham, apalagi emosiku tidak bisa ditahan" Bara mencoba untuk memegang tangan Bela namun dia menghindar.


"Tidak usah merasa bersalah, aku ingin hidup dengan tenang tanpa harus menangis. Karena tawa adalah caraku untuk melupakan apa yang telah terjadi" Jelas Bela.


"Hahahahhaha, hahhahahhaha, hahhhahhah" Tiba-tiba Bela tertawa terbahak-bahak bagaikan orang gila.


Hal itu membuat Bara semakin panik, dia takut bila Bela menjadi stres dan tidak terkendali. Bara segera beranjak dari tempat duduk lalu menatap dengan ibah pada gadis kecil di hadapannya.


Bara mendekat dan menatap dengan lekat, lalu dirinya memeluk Bela untuk membuatnya tenang dan tidak harus memaksakan tawa itu. Namun Bela masih terus tertawa terbahak-bahak dengan kegembiraan yang memaksa di sela-sela derita dalam hidupnya.


Bara memberikan pelukan itu karena takut bila Bela stress karena dirinya. Maka dia tidak akan bisa menjelaskan hal itu pada oma jika semua pikiran buruk Bara terjadi.


"Kau pikir aku gila? Tidak tuan, aku hanya ingin tertawa lepas. Dan sekarang lepaskan pelukanmu itu" Tutur Bela kembali berseru.


Bela memberontak dan melepaskan pelukannya dari Bara lalu dia masuk ke dalam kamar untuk memakan bubur yang sudah tersedia di atas nakas.


Dia memakannya dengan lahap seperti orang kelaparan yang belum makan kemarin. Bara menatapnya dengan bingung, karena dia tidak tau dengan hal aneh yang sedang dilakukan gadis itu.


Dahinya mengkerut penuh tanda tanya, namun dia hanya memilih diam. Yang paling terpenting adalah Bela makan dengan lahap agar lekas sembuh.


"Makanlah dengan pelan agar kau tidak tersedak" Perintah Bara dengan tutur lembut meski masih bersikap dingin.


"Uhuk... Uhuk... " Bela tersedak.


Baru saja bara selesai berbicara, Bela langsung tersedak saat menyantap bubur secara tergesa-gesa. Dengan sigap Bara langsung mengambilkan air minum dan diberikan pada Bela.


"Minumlah, sudah ku bilang kau harus pelan-pelan" Bara memberikan segelas air untuk Bela minum.


"Hmm, kau benar tuan"


Dalam sekejap saja Bela berubah, dirinya yang terdiam kini kembali ramah dan menebarkan senyuman. Seakan dia sudah kembali menjadi Bela si anak periang tanpa beban.


Dia kembali banyak berbicara, begitu juga dengan Bara yang ikut membantunya untuk mengoleskan salep dan memberikan obat pada Bela. Dia juga ingin Bela cepat sembuh agar oma tidak merasa curiga dengan penyakitnya.




Hari berganti begitu saja, esoknya Bela kembali berdiam diri dan belum bisa sekolah karena tubuhnya masih belum sehat seperti sebelumnya.



"Kenapa kau tidak pergi lagi tuan? " Tanya Bela saat melihat Bara masih berada di dalam kamar.



"Apa kau ingin mengusir ku? " Ketus Bara.


"Tidak, aku hanya bertanya" Ucapnya.



Sekarang Bela berdiam diri di dalam kamar dan Bara selalu menemaninya walau dia harus berbohong dengan berkata banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah. Padahal dirinya hanya ingin memperhatikan perkembangan Bela setelah sakit. Sungguh hal yang cukup romantis namun belum disadari oleh keduanya.



Bara hanya berfikir untuk memenuhi tanggung jawabnya. Sedangkan Bela hanya berfikir seperti biasa saja. Tidak ada ikatan yang saling menyatakan cinta, namun sepertinya perhatian keduanya mulai terbentuk secara perlahan.



"Bosan sekali, sudah 2 hari aku ijin sekolah. Rasanya seperti di penjara" Ucapnya sambil mondar-mandir di depan ranjang.



"Tuan, aku ingin bersekolah besok. Aku mohon" Wajahnya kembali memelas.



"Lihatlah wajahmu terluka seperti itu, apakah kau tidak malu? " Bara mengingatkan bekas luka di wajah Bela.



"Tidak, aku butuh hiburan" Bela yang sudah terkurung di dalam kamar rasanya ingin segera keluar.


"Hmm baiklah"



"Yeyyyy" Bela meloncat dngan riang dan penuh semangat. Hingga dia lupa bahwa kakinya masih terasa sakit karena bekas tendangan Bara kemarin.



Namun kebahagiaan dalam diri Bela tidak bisa dibendung lagi. Dia selalu merasa senang bila dirinya sedang senang, dan dia akan merasa sedih bila rasa sedih datang secara tiba-tiba namun sangat susah untuk menangis.



Setelah itu dia kembali diam, merenungkan pertanyaan dalam pikirnya. Sudah dua hari dia tidak keluar ke ruangan bawah. Dan dia juga tidak melihat oma, pikirnya selalu khawatir dengan keadaan oma.



"Kau kenapa? " Tanya Bara saat melihat Bela terdiam seketika.

__ADS_1



"Apakah oma baik-baik saja? " Bara menggeleng mendengar pertanyaan dari Bela. Di saat dirinya masih sakit, dia masih mengkhawatirkan keadaan oma.



"Oma sangat baik, namun jika kau terus sakit maka oma akan terus murenung" Ujarnya.



Hal itu kembali membuat Bela bersedih. Di dalam kepalanya bertanya-tanya tentang keadaan oma yang sesungguhnya. Karena setiap pagi Bela akan mampir dan membuat oma tersenyum.



Saat malam tiba dia juga akan pergi ke kamar oma untuk membuatnya tertawa sebelum oma terlelap. Akan tetapi sudah 2 hari dia tidak mengunjungi oma.



"Aku harap oma baik-baik saja" Gunamnya kecil.



"Bolehkah aku turun? " Tanya Bela penuh antusias.



"Tidak, besok saja setelah keadaanmu membaik" Bara tidak mengijinkannya.



Setiap kali Bela ingin turun ke bawah, Bara selalu mencegah dan melarangnya. Dia tidak ingin oma melihat langsung keadaan Bela agar dirinya tidak terkejut dan membuat penyakitnya kambuh.



Jadi dia terpaksa untuk menjaga Bela dan menyerahkan semua tanggung jawab pekerjaannya pada Alex. Walaupun juga ada maksud lain dia menjaga Bela, yaitu ingin menebus kesalahan yang telah diperbuatnya.



"Baiklah, aku akan tidur saja" Bela memilih untuk tidur daripada melakukan sesuatu dalam kesepian.



Bela hanya memilih tidur walaupun banyak kegelisahan. 2 hari dia tidak keluar kamar, tidak bertemu dengan oma, tidak bertemu dengan ayahnya untuk berkebun, tidak bertemu dengan Mario untuk belajar, tidak bertemu dengan mamanya untuk tertawa. Dan tidak bertemu dengan pelayan.



Sungguh kehidupan membosankan dari gadis itu. Dirinya selalu senang bila dikelilingi oleh banyak orang, dan dia benci dengan kesunyian yang selalu membosankan karena setiap detiknya harus teremenung saja.



Hari berganti malam, Bela tetap saja berdiam diri di kamar. Sedangkan Bara turun ke meja makan untuk melakukan makan malam bersama.



"Apakah cucuku belum sehat? " Berulang kali Oma menanyakan keadaan Bela pada Bara, karena kekhawatiran yang oma rasakan sangat tinggi.




"Aku rindu dengan tawanya, setiap malam rasanya sangat kesepian bila tidak mendengar tawa Bela" Ujar oma dengan tatapan lesu.



Karena selama ini yang membuat dirinya bangkit adalah Bela. Gadis itu membawa banyak semangat dan menyebarkan ke dalam penghuni rumah hingga dapat mengubah segala suasana.



Bela merubah segalanya, sehingga oma sangat senang mendengarkan apa yang Bela ceritakan. Bukan hanya oma, namun seluruh keluarga Baratha kecuali Bara yang masih simpang siur dengan perasaannya sendiri.



Beberapa menit kemudian Bara naik ke atas sambil membawa makan malam untuk Bela. Setiap pagi, siang, sore dan malam dia melakukan hal yang sama hanya untuk melihat gadis itu kembali sehat.



\*klek\*



"Makanlah ini untuk membuat tubuhmu berisi" Sepiring nasi diletakkan di dekat Bela.



Tidak ada jawaban apapun, Bara mendekat ternyata Bela sudah terlelap dalam keadaan perut kosong. Sekarang pikirnya menjadi bimbang, jika tidak dibangunkan maka gadis itu akan tidur dalam keadaan lapar.



Namun jika Bara nekat membangunkannya, maka dia sudah menganggu kenyamana gadis itu untuk terlelap. Jadi dia memilih untuk diam dan membiarkan Bela untuk tertidur.



Kali ini Bara memiliki keinginan untuk tidur di samping Bela. Dia hanya ingin memeluk tubuh gadis itu dengan kehangatan agar Bela tidak merasakan kesepian.



"Aku tidak tau dengan pikiran ini. Apakah kau gadis yang dikirim Tuhan untukku ataukah untuk ku sakiti? " Ujarnya sambil memeluk tubuh Bela yang sudah terbalut dengan selimut.



"Aku harap ada jawaban dimasa depan. Semoga saja amarah dan cinta tidak bertumbuh secara berdampingan" gumam Bara lalu dirinya terlelap di samping Bela dengan pelukan yang melekat pada tubuh gadis itu.



Bara bimbang dengan pikirannya sendiri. Dia tidak tau tentang isi hatinya saat ini. Terkadang merasa kesal, marah, dingin dan hangat secara bergantian jika melihat Bela di hadapannya.



Kadang pula dirinya meluapkan amarah yang cukup besar sehingga menyakiti gadis itu. Bara merasa bahwa mereka hanya nikah kontrak, dan berharap tidak ada waktu untuk membuatnya jatuh cinta secara nyata dengan gadis kecil itu.

__ADS_1



Pagi



Bela tertidur dengan pulas malam itu hingga tidak tau jika Bara tidur bersamanya juga. Bara memeluknya dengan erat, tanpa Bela sadari dia juga ikut terlelap salam dekapan itu.



"Ehmmm" Tubuhnya berguling sedikit, namun terasa berat seperti tertindih sesuatu.



Matanya melotot saat melihat pemandangan asing untuk yang kedua kalinya. Bara kembali tidur dan memeluk Bela seperti seorang istri dan suaminya bersatu.



Nafas Bara masih berhembus dan terdengar di telinga bela. Gadis itu bingung untuk keluar dari pelukan Bara karena angannya cukup berat, jadi Bela mencobanya secara perlahan dan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Bara.



"Aaah, sungguh sial. Lagi-lagi dia tidur bersamaku" gumamnya dalam hati.



Akhirnya Bela bisa terlepas dari jeratan pelukan tangan kekar itu. Dia segara mandi dan berpakaian rapi untuk pergi ke sekolah tanpa harus berpamit ke Bara. Karena dia sudah rindu untuk pergi ke sekolah.



Beberapa menit kemudian dia turun dan segera berjalan ke kamar oma. Di lantai bawah masih sepi, tidak ada Mario dan Klara. Mungkin mereka masih bersiap-siap karena hari masih sangat pagi.



\*tok, tok, tok\*



"Masuk"



"Omaaaa" Teriak Bela mendekat dan memeluk oma.



Dia berteriak seakan tidak pernah bertemu oma beberapa tahun lamanya, padahal mereka tidak bertemu hanya 2 hari saja. Oma juga bersikap demikian, senyumnya kembali sumringah dan memeluk Bela dengan erat.



Rasa rindu selama dua hari sudah dibayarkan dengan senyum Bela. Oma merasakan bahwa Bela adalah semangat hidupnya saat ini. Karena setiap waktu Bela akan memberikan suasana hangat dan gembira untuk dinimmati oleh oma.



"Kamu sakit apa sayang" Tanya oma sambil mengelus lembut rambut Bela.



Bela bersandar di pangkuan oma seperti biasa. Mereka berdua sangat akrab seperti seorang cucu dan nenek dalam ikatan yang kuat.



"Badan Bela lemas sekali oma, jadi tidak bia turun" kebohongan tentang rasa sakit yang bela ucapkan hanya untuk menutupi kekejaman Bara agar tidak mengejutkan oma.



"Kalau sekarang"


"Bela sudah sehat, lihatlah oma" Senyum Bela kembali terlukis dengan lembut untuk oma.



\*brak, brak, brak\*



Bela meloncat-loncat di tempat dengan ceria untuk menunjukkan pada oma bahwa dirinya baik-baik saja. Hal itu semakin membuat oma tertawa dengan gembira karena tingkah laku kekanak-kanakan Bela namun sangat dia rindu.



Setiap tatapan oma pada Bela merasakan bahwa tatapan itu tidak biasa. Oma selalu melihat bahwa Denada selalu ada dalam diri Bela dimanapun dan kapanpun itu. Seperti pinang di belah dua, kelakuan mereka sangat mirip walaupun wajahnya berbeda.



Bela menghabiskan waktu bersenang-senang dengan oma walaupun sebentar. Kemudian dia membawa oma ke meja makan. Hal itu membuat Mario dan Klara sangat terkejut melihat beyla ceria seperti hari sebelumnya.



"Bela? " Ucapan secara bersamaan antara Klara dan Mario.



Kehadiran Bela sontak membuat mereka terkejut. Ingin bertanya keadannya namun tidak bisa karena di meja makan ada oma yang tidak pernah mengetahui apapun tentang keadaan Bela saat Bara meluapkan amarahnya.



"Hai mario, Hai mama. Apa kabar kalian? " Sapanya sangat ramah seperti tidak terjadi apapun dalam hidupnya.



"Baik, mama baik. Bagaimana denganmu nak? " Klara kembali bertanya pada Bela, karena dari kemarin dia khawatir pada Bela.



"Selalu baik ma, buktinya sekarang Bela disini" Klara membalasnya dengan senyuman.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2