Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
31. Tempat Rahasia


__ADS_3

Padahal Bela selalu menganggap Mario sebagai teman saja saat itu. Tapi sikap Bara selalu berlebihan untuk melarang Bela mendekati lelaki lain, salah satunya adalah Mario adik kandungnya sendiri.


"Hmm, untuk merayakan ini bagaimana jika aku membuat kue untuk oma" Ujar Bela dengan ceria.


"Benar sekali, oma juga rindu dengan kue buatanmu" sahut oma sangat antusias karena sudah lama tidak makan kue buatan Bela.


"Siap oma, aku tidak sia-sia kan belajar memasak dengan mereka? " Dengan sombongnya Bela berkata demikian, dan oma mengakui juga kehebatan Bela setelah belajar kue dengan para pelayan di rumah Baratha.


Semenjak Bela disini, dirinya benar-benar melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Bela suka memasak baik itu memasak makanan ataupun membuat kue bersama pelayan rumah.


Sifatnya benar-benar berbanding terbalik dari kehidupan Bela dulu. Dia hanya memasak bersama bi Siti untuk dirinya sendiri dan membuat kue, itupun tidak sering hanya beberapa waktu senggang saja. Dan sekarang Bela lebih sering memasak seperti seorang istri yang utuh.


"Bela, aku ingin membantumu" Mario Beranjak ingin membantu Bela.


"Ayo Mario" Ajak Bela dengan senang.


"Hey Mario, kau ini lelaki bukan perempuan. Lebih baik tunggulah disini dan kita menjaga oma" Perintah Bara.


Mario hanya menghembuskan nafas dengan kasar dan mengikuti perintahnya tanpa menjawab sepatah katapun. Bela cukup kecewa karena Mario tidak ikut memasak bersamanya hanya karena larangan dari Bara.


Akhirnya Bela memasak dengan baik dan tenang serta membuat kue bolu yang menjadi kue andalan dari jemari Bela. Tidak lama kemudian, Klara tiba di rumah Baratha. Dirinya baru pulang dari luar negeri setelah beberapa minggu lamanya.


"Selamat siang" Ucapnya dengan senyuman yang sangat gembira.


"Oma, bagaimana kabar oma apakah baik-baik saja? " Klara datang dan langsung memeluk oma.


"Iya, kabarku sangat baik. Dan mengapa kau baru pulang sekarang" ketus oma pada menantunya.


"Aku banyak urusan tentang bisnis disana. Oh iya, aku juga tidak lupa membawakan oma ini" Klara mengeluarkan bingkisan dalam tas yang dibawanya. Klar memberikan satu persatu untuk oma, Mario dan juga Bara.


Seperti biasa Bara selalu menolak oleh-oleh itu. Anak dan ibu tidak pernah akur sepanjang hidupnya. Penolakan terus berdatangan dari Bara kepada Klara. Dirinya masih merasa sangat membenci mamanya yang selalu mementingkan bisnis hingga saat ini.


"Bara ambillah, mama belikan khusus untukmu" Klara menberikan bingkisan itu, namun tetap saja penolakan yang dia dapatkan.


"Tidak usah, aku bisa beli sendiri jika aku mau" Sahutnya sambil menatap laptop kembali.


Oma juga tidak bisa memaksakan kehendak Bara. Karena itu menjadi haknya untuk menerima atau menolak sebuah oleh-oleh yang dibawakan oleh mama kandungnya.


Klara juga sadar bahwa hubungannya dengan bara tidak akan pernah akur, mungkin untuk selamanya. Karena benci dalam diri Bara tidak akan pernah hilang, sifat pendendan dalam diri ayahnya sudah menurun sepenuhnya pada Bara.


"Oma, kue bolunya sudah jadi" Bela datang dari dapur membawa kue bolu dengan wangi yang memenuhi ruangan rumah.


"Mama, mamaaaa kapan pulang" Dia menghentikan langkahnya saat melihat Klara sudah datang.


Begitu dekatnya mama dan menantu itu. Bela merasakan kehangatan seorang mama semenjak dirinya tinggal disini. Tidak peduli suaminya memperlakukan Bela dengan tidak baik tapi keluarga ini sudah sangat baik menurutnya.


Bela segera berlari dan meletakkan kue bolu di atas meja. Dia langsung memeluk Klara dengan erat. Rasa rindu telah terbayar dengan pelukan saat melihat Klara telah datang dari luar negeri.


"Bela, mama rindu padamu nak" Kecupan berulang di dahi Bela terasa dia dikecup oleh seorang ibu.


Kasih sayang ibu telah lama tidak dirasakan, namun skarang dia sudah merasakannya. Karena Klara benar-benar mencintai Bela seperti putrinya sendiri. Apalagi sifat Bela sangat mirip dengan Denada.


Klara langsung memberikan oleh-oleh pada Bela. Sebuah kalung cantik yang cukup mewah. Dia membelikan khusus untuk menantu kesayangannya.


"Lihatlah, mama membelikan oleh-oleh ini untukmu" Klara mengeluarkan kalung itu dan diberikan pada Bela.


"Wah bangun sekali ma, tapi ini terlalu mahal" Ucap Bela saat mengetahui bahwa itu kalung berlian.


"Tidak apa-apa, karena ini sangat cocok untukmu" Klara tetap saja memberikan pada menantunya yang rendah hati.


"Benar nak, kalung itu sangat cocok untukmu" Sambung oma yang juga sangat senang melihat oleh-oleh itu karena sangat pas untuk Bela.


Sebuah kalung dengan liontin kupu-kupu putih berlapis pinggiran dengan warna merah yang sangat cantik. Tapi kebahagiaan Bela bukan tentang kalung, melainkan tentang pemberian yang berbalut kasih sayang.


Sepanjang hidupnya, baru kali ini Bela mendapatkan hadiah cantik dengan ketulusan setelah mamanya. Lentik senyum tidak bisa bohong, bila dia sangat menyukai ketenangan keluarga Baratha serta sangat menghargai dirinya.


"Bara, pasangkan kalung ini untuk istrimu" perintah oma pada Bara.


"Tidak usah oma, aku bisa memasangnya sendiri" Sahut Bela dengan senyuman.


"Mana kalungnya ma, biar aku saja yang memasangkan" Ucap Bara dengan nada dingin.


Dia memasangkan kalung itu dengan wajah datar, namun saat oma melihat walah datar itu berubah menjadi senyuman yang lebar. Seakan dirinya bahagia bisa memasangkan kalung itu untuk istrinya.

__ADS_1


Bela hanya bisa menurut, karena mereka sedang berada di hadapan keluarga besar. Menolak secara halus sudah tidak bisa, jadi dia terpaksa mengikuti kemauan Bara.


"Lihatlah, istriku sangat cantik menggunakan kalung ini. Benar kan oma? " pujian itu datang dari mulut Bara.


"Benar sekali, oma sangat menyukainya sayang" Sambung oma dengan girang.


"Iya, mama juga. Kamu memang benar-benar cantik nak" Klara juga memberikan pujian itu.


Pujian kebohongan Bara hanya untuk menutupi tentang kepalsuan pernikahan mereka. Dia hanya berakting, wajahnya memberikan senyuman terpaksa. Walaupun Bela hanya melihat sekilas, dia sudah tau bahwa pujiannya adalah palsu.


"Terima kasih suamiku, pujianmu sangat berkelas" Ucap Bela penuh penekanan.


"Hahaha" Sahutan Bela membuat semua tertawa kecuali Mario.


Mario merasa cemburu melihat kedekatan mereka yang sangat mesra. Wajahnya tidak bisa memalingkan dirinya bahwa dia cemburu. Bahkan untuk berpura-pura bahagia juga tidak bisa. Sepertinya Mario benar-benar mencintai Bela.


Bela menggenggam erat tangan Bara hanya untuk mengucapkan terima kasih. Tanpa dia sadari, jantung Bara berdetak kencang. Rasanya seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi setiap Bela memegangnya.


"Gadis pintar dan cantik" Ucap Bara sambil mengelus lembut kepala Bela dan langsung melepaskan genggaman tangan itu.


"Hmm ma, itu hadiah untuk siapa? " Tanya Bela saat melihat salah satu kotak terbengkalai di atas meja.


"Hmmm, ini.... " Klara tidak bisa berkata jika itu hadiah untuk Bara namun ditolak.


Mata bela berkeliling, melihat oma ternyata sudah memegang hadiah di tangannya. Lalu melihat Mario juga memegang hadiah di tangannya. Sekarang Bela tau bahwa itu hadiah untuk Bara.


Sejenak Bela tersenyum, kesenjangan antara ibu dan anak sudah berlangsung lama dan tidak pernah membaik. Bela ingin menyatukan kasih sayang untuk mereka selama dirinya masih berada disini.


"Sepertinya ini untuk suamiku, jam tangan ini sangat indah ma. Biar aku saja yang memasangkan pada suamiku" ucap Bela dengan semangat.


Klara hanya tersenyum.


"Kemarilah suamiku, aku akan memasangkannya untukmu" Bela segera mendekat pada Bara.


Tidak ada kata sahutan pula dari bibir bara. Bela langsung menganggap tangan Bara dengan erat, wajah Bara terlihat penuh penolakan dan Bela mengetahui itu.


Namun penolakan itu tidak akan bisa mengalahkan cara Bela. Mereka berdua menarik ulur tangannya, hingga akhirnya tangan Bara menetap dan Bela bisa memasangkan jam itu dengan baik.


"Iya" Jawab mereka semua secara bersamaan. Bara juga tersenyum dengan paksaan dari otaknya sendiri.


Oma juga tersenyum melihat kelakuan cucunya. Ada rasa bersyukur juga karena berkat Bela, Bara mau menggunakan barang pemberian mamanya untuk pertama kalinya.


Begitu juga dengan Klara, rasanya sperti mimpi. Karena selama ini Bara tidak pernah menerima pemberian apapun. Dan karena kehadiran Bela, perlahan telah berubah. Klara berharap Bela bisa memperbaiki hubungan seorang ibu dan anak untuk ke depannya.


"Bagaimana kalo sekarang kita menikmati kue buatanku" Ucapan Bela memecah semuanya lalu dia membawa kue buatannya untuk di cicip bersama.


"Ide bagus bel" Sahut Mario dengan senang.


Bela membagikan kue buatannya pada semua keluarga yang berkumpul. Tidak lupa beberapa pelayan yang berada di dalam rumah.


Seketika kehangatan tercipta dari sepotong kue bolu coklat. Tidak terlalu manis namun sangat enak di lidah. Semua orang senang merasakannya termasuk Bara. Dia mengakui bahwa setiap masakan Bela sangat enak, namun bibirnya selalu berkata bahwa masakan Bela biasa saja.


Malam


"Rumah, apa kabar dengan mereka semua. Apakah sudah melupakanku? " Gumam Bela berbicara sendiri sambil menatap langit di atas balkon.


Dia paling suka menatap bintang dan rembulan, Bela selalu bercerita tentang harinya. Tidak lupa dia juga bercerita tentang kerinduan pada orang-orang terdekat yang sangat menyayanginya.


Dan yang paling menyakitkan adalah rindu kepada mamanya yang telah lama pergi dan tidak pernah kembali lagi. Bela sudah terbiasa dengan kesunyian, bercerita dalam otaknya sendiri yang terus bergelut resah.


"Aku ingin kembali, tapi sepertinya sangat jauh dengan kota ini" Gumamnya lagi.


Sudah cukup lama Bela bersekolah, dan setiap di perjalanan dirinya selalu berfikir dan mengingat sebuah tempat yang telah dia lewati.


Tidak lupa dia mengingat tempat tinggal dimana dia berasal. Ternyata setelah dicari, dirinya berada cukup jauh dengan kota kelahirannya. Namun tidak ada kata menyerah untuk kembali ke kota itu walau sejenak. Karena dia rindu dengan Roy dan juga bi Siti.


"Kau belum tidur? " Tanya Bara memecah lamunannya.


Dia masih terdiam dengan pertanyaan Bara, karena baru kali ini pertanyaan itu muncul serta kehadiran Bara duduk bersama di kursi sebelah menemani Bela.


Baru kali ini Bela merasakan kepedulian walaupun hanya pertanyaan singkat. Karena biasanya Bara hanya melihat, lalu meninggalkan Bela sendirian.


Sejenak bintang-bentang malam semakin terang saat kehadiran Bara menemani Bela hanya untuk menatap langit malam yang begitu terang dengan sinar rembulan.

__ADS_1


"Apakah kau tuli? " Ketus Bara saat pertanyaannya tidak di jawab.


"Tidak, aku tidak mengantuk" Sahut Bela singkat.


Bara terdiam, karena tidak seperti biasa gadis itu termenung seperti itu dengan wajahnya yang mengkerut. Biasanya dia bergembira dengan senyum yang selalu melekat kemanapun dia pergi. Namun kali ini sangat berbeda.


Sejenak Bara melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mencoba memahami hal apa yang sedang terjadi di malam ini pada istri kecilnya. Tanpa dia sadari, kepeduliannya sedikit demi sedikit telah muncul.


"Apa kau punya masalah? " Bara kembali membuka pertanyaan.


"Tidak"


"Lalu? "


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat bintang" Jelasnya.


"Tapi kenapa wajahmu muram? " Bela melirik.


"Karena aku ingin..... "


"Ingin apa? Katakanlah" Sahut Bara antusias.


Dia tidak tau keinginan gadis kecil di hadapannya. Tiba-tiba Bela mendekat pada Bara dan menatap dengan tajam. Seakan ingin mengatakan dari tatapan menyelidik itu.


Bara terdiam dan mencoba mendengarkan, namun saat tubuh Bela mendekat jantung Bara kembali bergoncang. Rasanya ingin copot dari tataan organ tubuhnya.


"Jangan terlalu dekat" Bentak Bara, membuat Bela kembali memundurkan tubuhnya.


"Kau pemarah, membuatku lelah dan aku ingin tidur" Ucap Bela dan langsung pergi meninggalkan Bara.


Wajah Bara mendengus kesal dengan emosinya yang selalu bergejolak. Dia juga merasa sedikit bersalah karena membentak Bela. Dia hanya bisa melihat langkah Bela pergi ke atas sofa dan terlelap di bawah selimut.


Bara tau jika ada kesedihan dalam pikiran gadis kecil itu. Tapi kesedihan apa yang bersarang dipikirkannya, Bara belum mengetahui dengan pasti. Namun dirinya hanya bisa terdiam dan tidak tau apa yang harus dilakukan.


Malam itu lewat begitu saja dengan sunyi. Suara tawa Bela menghilang ditelan gelap malam. Bara juga terdiam karena merasa asing tanpa mendengar ocehan gadis kecil yang berstatus sebagai istrinya itu.




Bela dan Bara melewati hari ini dengan kegiatan seperti biasa. Bela berangkat ke sekolah bersama supir pribadi, dan Bara berangkat untuk melakukan gaya hidup yang dia sukai.



Tanpa disengaja saat dalam perjalanan, pandangannya kembali bertemu dengan Sisil. Hanya sebatas kaca mobil yang menghalangi di sebuah perempatan lampu merah. Dia melihat Sisil dengan tatapan licik untuk menyusun sesuatu sebagai awal balas dendamnya.



"Aku sudah memberimu pekerjaan, dan sekarang tinggal satu langkah lagi untuk membuat dirimu hancur" Gumamnya sambil tersenyum.



Saat lampu merah sudah berganti hijau, Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia akan pergi ke tempat yang selalu dia gunakan untuk menenangkan diri. Bukan klub atau kafe, melainkan tempat rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya.



Tempat asing itu selalu dia gunakan untuk menyimpan barang-barang kenangan dari papanya dan juga Denada. Di dalam sanalah dia merasakan bahwa papa dan adiknya masih hidup.



\*klek\*



"Maaf, aku sudah lama tidak kesini. Tolong jangan marah" Ucapnya pada foto-foto yang terpajang di dinding ruangan.



"Pa, bertahun-tahun aku menahan untuk membalaskan dendam atas kematian di hari itu. Dan sekarang aku telah menyusunnya untuk menyakiti secara perlahan baj\*ngan itu" Ketus Bara dengan kesal.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2