Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
71. Bintang jatuh


__ADS_3

Bibir Alex tersenyum melihat kelakuan Bela Bahkan dia juga tertawa bersama Bela karena kepolosan gadis itu. Namun kenyataannya di dalam hati Alex sungguh tidak tega bila melihat tawa itu berubah menjadi sedih dan Tangis.


Padahal sebenarnya Bara tidak keluar dari kamar karena dia sedang menyusun bencana untuk balas dendam pada orang-orang yang dia benci salah satunya adalah Bela.


Dan kenyataannya lagi adalah Bara ingin membuat Bela hancur, sebab itu dirinya tidak ingin terlalu akrab dengan Bela seperti yang dia lakukan pada saat di rumah Oma.


"Kak Alex cobalah lihat malam hari ini sangat cerah, Aku ingin memanggil tuan Bara agar bisa menikmatinya bersama kita, dan kak alex tunggu di sini dulu ya " ujar Bela sambil beranjak dari tempat duduknya.


Alex ingin mencegahnya namun dia kalah satu langkah karena Bela sudah pergi dari hadapannya dan berlari menuju kamar Bara. Sebenarnya Alex tidak ingin Bela dimarahi oleh Bara lagi akan tetapi dia juga tidak ingin melihat keceriaan Bela menghilang karena Alex melarang Bela dalam melakukan hal yang dia inginkan.


" Entahlah aku tidak tahu apa yang ada di pikiran gadis itu, dia terlalu polos padahal saat ini dirinya telah memasuki kandang harimau yang sedang mempermainkan hidupnya " gumam Alex pilu mengingat nasib Bela.


Pemikiran Alex dan Barat tidak sama karena dia hanya membenci Prabu dan Erik, tapi Alex tidak memiliki niatan untuk membenci Bela karena nasib Gadis itu sudah malang sebab tidak memiliki kasih sayang. Ditambah lagi Bela masuk ke dalam kehidupan Bara dan semakin dicekik oleh kenyataan yang mungkin akan berakhir dalam kehancurannya.


Karena tujuan Bara adalah menghancurkan keluarga Erik dan Prabu hingga tuntas. Dan mangsa utama yang ada di depan mata adalah Bela, Bara ingin memainkan gadis itu sesuka hatinya.


* tok tok tok* ketukan pintu terdengar jelas sedangkan Bara merasa kesal mendengar ketukan itu. Bara snagat membenci bila ada seseorang yang sedang mengaggunya.


"Tuan keluarlah Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" teriak Bela dari luar untuk memancing Bara agar keluar dari kamarnya dan bisa melihat bintang malam bersamanya dan juga bersama Alex. Akan tetapi berulang kali Bela mengetuk pintu dan berteriak namun Bara tidak keluar juga.


" Tuan jika kau tidak keluar maka dirimu akan menyesal karena ada ramalan hari ini bahwa bintang akan jatuh" Bela terus berusaha untuk mengeluarkan Bara dari kamarnya dan duduk bersama dirinya serta Alex Di Bawah Langit dengan lentera rembulan dan taburan bintang malam itu.


Mendengar teriakan itu Bara segera menghentikan aktivitasnya karena dia sangat mencintai bintang jatuh. Menurut Bara bintang yang jatuh dari langit adalah Denada yang sedang ingin menjenguk dirinya di bumi karena dia yakin bahwa Denada akan selalu hidup dalam hati Bara melalui alam-alam semesta.


Namun kenyataan itu adalah sebuah kebohongan dan menjadi khayalan untuk seseorang yang mengalami keputusan tinggi. Akan tetapi Bara masih yakin bahwa Denada akan tersenyum di langit-langit diantara bintang-bintang.


*Klek* Teriakan Bela berhasil membuat Bara membuka pintu kamarnya.


"Sedang apa kau berteriak bagaikan orang gila, apakah kau tidak tahu jika hari sudah malam " ketus Bara dengan tatapan kesal pada Bela.


" Begini tuan aku hanya ingin mengajakmu untuk melihat bintang di malam hari dan kita menikmati angin malam bersama kak Alex " Bela menjelaskan tujuannya ke Bara, akan tetapi Bara menolak hal itu.


Dia beralasan tidak ingin pergi keluar karena angin malam tidak baik untuknya. Padahal kenyataannya dia ingin segera menatap langit dan menanti kehadiran Denada.


"Pergilah sendiri, jangan ganggu aku" Teriak Bara.


Kebohongan kembali di teriakkan, sementara itu di dalam hatinya dia ingin keluar menatap bintang dan mengingat perkataan Bela bahwa hari ini akan ada bintang jatuh namun dia tidak ingin duduk berdampingan dengan Bela karena dia hanya menginginkan kesunyian di saat bintang itu jatuh sebab Bara ingin merasakan berdua saja bersama Denada.


"Ayolah tuan daripada kau berdiam diri di dalam kamar lebih baik kita keluar bersama tuan Alex dan melihat bintang serta menikmati malam dengan bahagia bukan?" Bela terus memaksa agar Bara mau ikut bersamanya untuk menatap malam dan menikmati hembusan angin sambil tertawa serta gembira.


Akan tetapi bujuk rayu nya tidak berhasil dan tetap saja Bara menolak hal itu karena dia tidak ingin terlalu dekat dengan Bela.


"Apa kau tuli lebih baik kau pergi saja "bentak Bara untuk mengusir gadis itu di hadapannya.


Tanpa banyak bicara lagi Bara langsung menutup pintu kamarnya dengan keras dan tidak peduli dengan Bela yang sedang berdiri di depan kamarnya.

__ADS_1


Bela hanya bisa terdiam dan menatapnya dengan sinis lalu melakukan gerakan ejekan setelah Bara tidak ada di hadapannya


"Baiklah tuan jika kau tidak ingin pergi, aku ingin mengambil makanan dan minuman dulu lalu menikmati malam bersama kak Alex. Biarkan saja kau mengurung diri di sana lama-lama juga bertelur "ujar Bela lalu dia langsung meninggalkan kamar Bara.


Bela segera mengambil makanan di dapur sebagai teman saat menikmati malam di luar bersama Alex. Saat Bela ingin keluar dia lupa bahwa malam ini terasa sangat dingin jadi Bela kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil selimut dan juga mengambil ponsel.


Sekaligus untuk mengabadikan momen malam itu bersama Alex dan bercerita banyak hal. Bela tidak peduli walaupun besok dia harus bangun pagi memasak dan bersekolah, akan tetapi dia akan menunggu bintang jatuh untuk meminta permintaan.


"Ah ribet sekali hidupku, kedinginan seharusnya menggunakan jaket tapi aku tidak punya sudahlah nasib-nasib "gerutu Bela saat mengambil selimut di atas ranjangnya.


Karena dia sendiri tidak memiliki jaket yang digunakan untuk penghangat tubuhnya. Jadi Bela membawa selimut seperti orang yang ingin pindahan rumah sungguh gadis yang lucu dan memiliki banyak akal.


"Kak Alex tolong bantu aku "teriak Bela saat sudah mendekat pada Alex dan membawa makanan selimut serta banyak hal di tangannya.


"Apa kau ingin mengungsi? "ujar Alex pada Bela sambil tertawa dengan puas.


" Jelas tidak, cepat bantu aku tanganku terasa penuh " Teriak Bela dengan merasakan banyak beban dan matanya sambil menunjuk pada barang-barang yang dia bawa.


Alex segera membantu Bela menurunkan barang-barang itu dan mereka kembali duduk menatap langit.


"Kau tahu kak bahwa tuan Bara tidak mau keluar dari kamarnya, apakah dia malas atau sok sibuk saja? "seru Bela sambil membenarkan selimutnya agar menutupi tubuh Bela sehingga menjadi hangat walau malam akan semakin larut.


Dia terus bercerita bahwa Bara tidak mau keluar dari kamarnya dan mengusir Bela, katanya dia tidak ingin keluar malam sedangkan Alex mendengarkan Bela lalu sambil tersenyum dengan celoteh gadis itu.


"Tutuplah mulutmu gadis kecil, coba kau lihat di sebelah sana "ujar Alex sambil memberikan kode kepada arah yang dia tunjukkan pada Bela.


Terlihat sangat aneh karena tadi Bara menolak ajakan dari Bela untuk melihat bintang akan tetapi dia keluar juga dari kamarnya serta melihat bintang sesuai dengan keinginannya sendiri.


"Katanya tidak mau keluar, ternyata keluar juga " gerutu Bela sambil menatap sinis pada Bara. Sedangkan Alex hanya tersenyum saja melihat kelakuan Bela seperti anak kecil.


Di malam yang dingin ini Bela setia menunggumu datangnya bintang yang akan turun, karena dia ingin meminta satu permintaan saja dalam hidupnya. Jadi dia rela menunggu kapanpun sampai bintang menemuinya di bumi.


"Kak lihatlah itu bintang jatuh "Teriak Bela mengalihkan semua pandangan mata menuju ke langit. Begitu juga dengan Bara yang mendengar hal itu dia langsung mengadahkan kepalanya dan menatap langit ternyata benar ada sebuah bintang yang jatuh.


Kata orang apabila ada bintang jatuh maka mintalah satu permintaan yang nanti akan terkabulkan oleh Tuhan. Bela segera memejamkan matanya lalu meminta satu permintaan yang sangat dia inginkan dalam hidupnya.


" Aku hanya ingin bertemu mama, dan menjalani kehidupanku dengan baik "seru Bela dalam hati sambil tersenyum.


Lalu Bela menyuruh Alex untuk memejamkan matanya dan meminta satu permintaan juga. Alex menuruti hal tersebut walaupun dia tidak percaya dengan keajaiban dari bintang jatuh. Lalu dia juga menutup matanya serta menginginkan satu hal dalam hidupnya.


Begitu juga dengan Bara setiap ada bintang jatuh dia akan meminjamkan mata dan merasakan kehadiran Denada namun dia tidak tahu jika bintang jatuh dapat membuat seseorang akan meminta satu permintaan. Dan Bara baru mengetahuinya kali ini dari mulut Bela.


Jadi Bara juga memejamkan matanya serta meminta satu permintaan.


"Sudah aku sudah memintanya "seru Alex lalu kembali tertawa bersama Bela.

__ADS_1


Bela dan Alex berbincang-bincang sambil tertawa keras sedangkan Bara hanya duduk dalam kesendirian di atas gazebo. Malam larut begitu saja penuh dengan tawa Bela hingga akhirnya dia menyerah karena merasa sudah mengantuk. Akhirnya Bela kembali ke dalam kamar untuk merebahkan tibuhnya di tengah-tengah malam.


Pagi


"Tuan aku jarang sekali melihatmu keluar kamar, apakah kau ada masalah? "Ujar Bela memberikan sedikit perhatian dalam pertanyaan yang dia berikan pada Bara di saat makan pagi telah selesai sambil membersihkan piring. Bara terdiam lalu memberikan sorotan matanya pada Bela tanpa berkata apapun.


Sedangkan Alex memberi kode pada Bela untuk diam dan tidak banyak bicara akan tetapi mereka tetap saja dengan celotehnya yang mencari tahu tentang banyak hal.


"Aku salah apa sih, jika kau tahu kesalahanku tolong catat agar aku bisa memperbaikinya sehingga tuan Bara tidak mendiamkanku seperti patung "bisik Bela pada Alex, padahal Bara masih berada di ruang makan itu namun Bela berbisik pada Alex seakan-akan ruang makan itu sudah sepi dan hanya tinggal mereka berdua.


" Berhentilah membicarakanku" ketus Bara dengan penuh penekanan lalu dirinya kembali beranjak pergi dan masuk ke dalam kamar.


Alex dan Bela memberikan kode dengan ejekan lalu kembali menatap Bara. Setelah itu mereka berdua tersenyum dengan hal lucu tersebut. Karena Alex dan Bela adalah manusia konyol yang disatukan Tuhan untuk saling menghibur satu sama lain.


Tidak lama kemudian Bara keluar dengan menggunakan baju seperti biasanya. Bela heran karena selama ini tidak pernah melihat Bara keluar di pagi hari, akan tetapi kali ini dia melihatnya.


"Tuan kau mau pergi ke mana, Apakah kau akan mengantarkanku ke sekolah? " tanya Bela.


Bela sangat antusias dan sangat percaya diri bahwa Bara akan keluar dan mengantar dirinya ke sekolah padahal tidak.


Bara tidak menjawab pertanyaan gadis itu, dia langsung keluar dengan membawa mobilnya kemudian melaju dengan kencang tanpa menghiraukan Bela yang sedang mengejar dirinya hingga ke depan jalan rumah.


" Sudahlah dia banyak urusan, kau pergi bersamaku saja. Ah dasar anak nakal " gurutu Alex sambil memukul kepala Bela.


"Iya Iya aku tahu akan pergi bersama orang gila seperti mu kak hahaha " sahut Bela sambil tertawa lepas.


Kemudian mereka berdua berangkat menuju ke sekolah, di dalam perjalanan Bela bercerita pada Alex bahwa dirinya sudah memulai kembali untuk melukis. Bela mencoba mengesampingkan pikirannya dan mengumpulkan keberanian untuk menjejaki dunianya yang dulu walau sedikit suli.


Dan Bela menceritakan tentang seleksi melukis di sekolahnya serta diadakan untuk pemilihan siswa yang memiliki bakat seni terbaik dan akan didaftarkan untuk lomba antar kota. Bela menceritakan banyak hal tanpa ragu pada Alex karena dirinya yakin Alex adalah pendengar yang terbaik.


"Baguslah kalau kau berani melukis lagi, aku sangat mendukungmu sobat" Alex selalu memberikan dukungan terbaik pada Bela, meski dia tau bahwa Bela adalah sasaran balas dendam untuk sahabatnya.


Namun perlakuan Alex sangat berbanding terbalik dengan Bara, bahkan Alex sudah menganggap Bela adik, teman, sahabat dan sandaran untuk tertawa.


"Iya kak, dan katanya hari ini pengumuman seleksi itu keluar" Wajah Bela terlihat sangat antusias membicarakan hal itu pada Alex.


"Aku doakan kau lolos Bela" Ujar Alex sambil mengelus lembut kepala Bela seperti biasa.


Bela sangat senang berbagi cerita bersama Alex, karena dia selalu menanggapi dan mendengar cerita Bela dengan baik. Bahkan Bela menceritakan tentang ketiga sahabatnya salah satunya adalah Mario.


Tidak lupa juga Bela menceritakan kebahagiaannya saat kembali ke sekolah, tapi Bela tidak pernah menceritakan bahwa ada yang membencinya di sekolah karena dia tahu kebencian itu akan berubah sewaktu-waktu di saat hatinya sudah terbuka, karena orang yang sangat kita benci suatu saat pasti akan menjadi sahabat terbaik kita.


"Dah kak aku masuk dulu" Bela melambaikan tangan oada Alex.


"Dah Bela" Setiap hari wajah ceria Bela selalu tergambar dengan senyumannya yang khas.

__ADS_1



__ADS_2