
Bela bukanlah anak kandung dari Pak Taryo, akan tetapi dia menyayangi Bela seperti anaknya sendiri bahkan melebihi dari dirinya sendiri.
Setiap malam Pak Taryo selalu mengingat Bela, Namun pak Taryo tidak menceritakan itu karena takut Bela kepikiran dan berpengaruh pada kehidupannya di rumah sana. Jadi pak Taryo hanya menceritakan sedikit tentang perkembangan kebun.
Bahkan pak Taryo bercerita tentang Mario yang suka berkebun walau hanya menanam dan memanen saja. Katanya dia ingin mempelajari tentang berkebun agar bisa makan sayur organik.
"Baiklah pak, Bela pamit ya pak" Mata Bela tidak bisa berbohong saat melihat lelaki tua renta di depannya yang selalu ia rindukan tapi sangat sedikit waktu untuk bertemu dengannya.
"Iya nak hati-hati" Tangan lembut pak Taryo mengelus kepala Bela.
Bela pergi meninggalkan pak Taryo dan tidak lupa memberikan pelukan kehangatan diantara ayah dan anak angkat itu yang sangat mengharukan.
Saat berjalan menuju mobil, Bela melihat Mario yang menghalangi jalannya. Mario ingin berbicara sebentar dengan Bela tapi tidak di hadapan Bara.
Lebih tepatnya ingin berbicara empat mata saja, karena Mario sangat rindu dengan sosok Bela di rumah ini.
"Tunggu, aku ingin bicara bel" Mario memberanikan diri untuk mencegah Bela yang akan pergi.
"Mario, besok kita masih bertemu di sekolah lebih baik berbicara besok saja ya. Soalnya aku sudah mengantuk dan ingin pulang" Bela menolak ajakan Mario dengan beralasan sangat mengantuk.
Mario ingin berbicara sesuatu pada Bela, namun yang didapatkan adalah penolakan. Dan Mario juga tidak bisa memaksa kehendaknya karena terlihat jelas dari mata Bela bahwa sudah sedikit sayu dan menguap berulang.
Akhirnya Bela hanya berpamitan saja pada Mario untuk pulang dan Mario tidak jadi berbicara pada Bela tentang pikirannya yang sedang berputar saat itu.
"Baiklah aku pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik dan jangan lupa jaga oma" Ujar Bela sebagai pengingat.
Dia juga memegang pipi Mario seakan memberikan perintah dan tanggung jawab padanya untuk menjaga oma. Akan tetapi Mario mengartikan hal yang salah.
Dalam sentuhan itu Mario merasakan suatu getaran dan seperti mendapatkan sentuhan yang hebat. Jantungnya berdetak kencang dan pikirannya mengatakan sudah bulat untuk menyatakan cinta pada Bela. Namun bukan hari ini melainkan besok di sekolah.
Malam itu Bara dan Bela pulang ke rumah mereka. Di tengah perjalanan mata Bela sangat berat dan dia tertidur di dalam mobil untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Aku tidak tau dengan kehidupan ini, mengapa harus membencimu dan ingin membalaskan dendam itu padamu. Tapi yang aku tau kau adalah keturunan Pras yang sudah membunuh ayahku" Gumam Bara dalam batinnya.
Sambil menyetir mobil batinnya berseru dan matanya sesekali menatap Bela yang sedang terpejam. Sekaan ada rasa yang bertentangan serta penuh tanya jawab dalam dirinya.
Bahkan dia juga tidak tau hal apa yang sedang ada dalam hidupnya. Terkadang merasa tidak tega melakukan semua itu. Dan terkadang juga membabi buta menghukum gadis yang tidak bersalah.
Disepanjang jalan Bara terus bergelut tidak damai dengan pikirannya sendiri. Apalagi melihat gadis cantik di sampingnya yang terlelap dengan nyaman hingga dia tidak ingin membangunkannya hanya untuk melihat bebas wajah Bela.
"Sudah sampai, dia masih tidur" Gumam Bara.
Dengan terpaksa Bara memggendong Bela karena tidak ingin membangunkan gadis itu dari tidurnya. Dia menggendong Bela hingga ke kamarnya.
Hal itu terlihat oleh Alex yang duduk bersantai sambil menonton TV di ruangan tengah. Ada senyum di bibir Alex melihat keajaiban yang nyata, dia tidak tau bagaimana cara berfikir sahabatnya saat itu, karena telah memperlakukan gadis dalam gendongannya dengan baik.
"Aku rasa dia terkena angin malam, hingga menggendong Bela dengan perhatian" Ujar Alex sambil tersenyum menatap kamar Bela.
Dia terus menatap kamar Bela dengan senyuman, akan tetapi Bara belum keluar juga dari kamar Bela.
Sementara itu di dalam kamar Bela, Bara memperbaiki tidur Bela dan memberikan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sungguh perhatian kecil yang dia berikan pada Bela tanpa ada yang mengetahuinya, tapi Alex dia pasti tau karena sejenak Alex mengintip dari balik pintu yang tertutup tidak rapat.
"Kenapa kau harus jadi anaknya? " Gumam abara dalam hati sambil menggeleng. Wajahnya terlihat penuh dengan pasrah. Seperti melihat penyesalan dalam takdir yang dia sedang dia jalani. Seakan ingin berkata bahwa dia tidak setuju dengan apa yang didapatkannya.
Setelah itu dia keluar dari kamar Bela dan tidak lupa Alex menyapa hanya untuk memastikan bahwa sahabatnya Bara dalam keadaan sadar saat menggendong Bela.
"Hmm, kau menggendongnya? " Tanya Alex seperti pura-pura tidak tau.
"Seperti yang kau lihat" Sahut Bara santai.
"Pemandangan yang luar biasa, aku rasa kau harus menyayangi gadis kecil itu. Jangan terus disakiti sebelum ada seseorang yang benar-benar menyayangi dia secara tulus" Ujar Alex. Kali ini perkataannya mengandung unsur yang penuh dengan kebenaran.
"Diamlah" Ketus Bara dan dia memilih untuk naik ke kamarnya.
Padahal di pikirannya meresapi perkataan Alex karna apa yang dia katakan juga ada benarnya. Sesuatu yang kita benci belum tentu dibenci oleh orang juga. Dan sesuatu yang kita abaikan bisa jadi disukai dan diinginkan oleh beberapa orang.
Tapi tekad Bara sudah bulat, bahwa dia tidak akan meletakkan jantung hatinya pada Bela dan akan membuatnya menderita. Dan setelah itu membuat Bela seakan ingin mematikan kehidupannya sendiri secara perlahan. Sesuai dengan rencana awal yang dia jalankan.
Pagi
"Siapa yang ammebawaku ke kamar? apakah tuan bara memggendong diriku? " Bela bangun dari tidurnya dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Karena yang dia tau bahwa malam itu Bela tidur di mobil, tapi setelah Bela membuka matanya ternyata dirinya sudah terbangun di atas ranjang kamarnya sendiri.
Bela membayangkan kejadian di malam itu jika memang benar Bara yang menggendong dirinya, maka hatinya sangat meraskaan kebahagian. Sebab Bela berfikir jika tuannya telah merubah sikap dingin itu menjadi kehangatan.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Sebaiknya aku memasak saja" Bela segera membersihkan diri dan beranjak dari ranjangnya.
Seperti biasa di pagi buta Bela menyambutnya dengan gembira lalu mengambil alat masak untuk beradu skil kembali di dalam dapur setelah sekian lama dia terbaring lemah di atas kasur dan sekarang waktunya beraksi.
Bela memasak sesuka hatinya, dan masakannya selalu enak. Alex saja sangat senang tinggal di rumah Bara. Selain dia menghemat uang, dirinya juga bisa merasakan masakan Bela dengan sesuka hati.
"Sudah siap, waktunya bergegas untuk sekolah" Ujar Bela. Dia segera masuk ke dalam kamarnya dan bergegas untuk bersiap diri berangkat ke sekolah.
Kali ini Alex yang akan menjadi supir pribadi Bela karena itu perintah dari Bara. Semenjak kejadian itu Bela tidak diperbolehkan pergi menggunakan taksi atau bus, dan sekarang hanya Alex yang melakukan antar jemput.
Selesai mengganti baju, Bela segera pergi ke ruang makan. Disana dia melihat ada Alex yang sudah siap dan rapi. Sepertinya dia akan makan juga sebelum berangkat mengantarkan Bela.
"Pagi kak" Sapa Bela dengan ramah.
"Pagi, kamu sudah makan? " Tanya Alex sekedar basa-basi.
"Ya jelas belum lah, tadi kan aku masak dan sekarang waktunya makan" Sahut Bela dengan jawaban santainya.
"Oh iya, aku lupa jika ada koki handal di rumah ini. Hehehe" Alex memberikan sedikit pujian yang membuat Bela tersenyum dengan sumringah
Mereka berdua sudah sangat akrab, bahkan makan pagi saja berdua. Sebenarnya Bela ingin membangunkan Bara tapi Alex melarangnya karena Bara sedang sibuk, ada hal yang harus dia urusi dalam bisnisnya.
Akhirnya Bela berangkat dengan berpamitan hanya menggunakan suara saja di depan kamar Bara. Karena dia tidak mau jika Bara kembali marah apabila Bela pergi begitu saja tanpa berpamit.
"Tuan, aku berangkat sekolah dulu ya. Nanti kalau kau ingin makan, sudah aku siapkan makanan untukmu di meja makan. Makanlah yang banyak agar tidak sakit" Teriak Bela dari luar pintu kamar Bara.
Walaupun tidak ada jawaban, setidaknya dia sudah berpamitan pada Bara. Dan berangkat sekolah bersama Alex.
Padahal Bara di dalam sudah mendengar suara gadis itu yang berteriak untuk pamit padanya, tapi dia tidak menyauti teriakan itu hingga bela benar-benar sudah berangkat ke sekolah.
Untuk masalah uang saku Bela, sekarang Bara sudah memeprcayakan pada sahabatnya. Jadi Alex yang memegang uang untuk Bela dan kebutuhan gadis itu. Entah apa alasan Bara melakukan itu, tapi intinya dia masih memenuhi kebutuhan Bela hingga kontrak pernikahan mereka telah habis.
"Kak, kenapa tuan Bara memberikan uang saku ini padamu. Biasanya dia sendiri yang memberikan padaku"Tanya Bela penuh penasaran saat mereka berdua dalam perjalanan ke sekolah.
"Mungkin dia sangat sibuk akhir-akhir ini" Sahut Alex penuh percaya diri. Padahal dia sendiri tidak tau alasan Bara melakukan itu.
"Hmm baiklah, setidaknya aku bisa meminta uang padamu bukan pada tuan arogan itu" Ujar Bela sambil tersenyum pada Alex.
Mereka berdua memang benar-benar sudahmenyatu antara seorang adik dan kakak. Karena Bela sangat nyaman di sisi Alex sedangkan bersama Bara rasanya harus terus mengelus dada dan menguji kesabaran.
Sesampainya di sekolah dia masuk ke dalam kelas dan duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Mengeluarkan sebuah buku dan tangannya gatal ingin menggambar sesuatu.
__ADS_1
Bela menggambar imajinasinya yang berkeliaran di dalam alam semesta. Yaitu tentang pepohonan tumbuh di pucuk pegunungan. Padahal dia belum kesana, tapi imajinasinya sudah sampai terlebih dahulu ke hutan itu.
"Indah sekali gambarmu" Suara Sela menyapa. Bela langsung terdiam dan berhenti menulis.
Matanya menatap tajam pada Sela seperti ingin memberitahu agar Sela merahasiakan tentang dirinya yang sangat bodoh kemarin karena ingin melompat dari ketinggian.
Tapi Sela tidak membicarakan hal itu, karena saat ini Sela duduk di samping Bela sambil memuji gambar yang Bela kerjakan. Sela berbicara tentang gambar, bukan tentang kejadian kemarin. seakan dia sudah melupakan semuanya.
"Ternyata kamu pandai menggambar ya Bel, gambarmu sangat indah dan terlihat seperti nyata" Sela memberikan pujiannya pada Bela setelah melihat gambar di tangan Bela walau hanya sekilas.
"Terima kasih" Sahut Bela sambil tersenyum kecil lalu melanjutkan gambarannya. Padahal dia tidka suka dengan ouhian, akan tetapi kali ini harus menerimanya. Sebab Bela tidak ingin jika Sela menjadi kecewa saat pujian itu di tolak sehingga Sela membocorkan kebodohan Bela pada semua orang.
Bela mencoba menenangkan diri dan tidak ingin berbicara apapun yang berkaitan dengan dirinya kemarin. Karena Sela sendiri sudah diam dan tidak berbicara tentang hal itu.
Bela terus menggambar dan membiarkan Sela duduk di samping dirinya dan sambil melihat gambar Bela. Mereka berdua tidak banyak bicara, sedangkan Sela hanya menatap kagum pada gambar yang Bela kerjakan berkaitan dengan pemandangan alam.
"Heyyy, aku merindukanmu Bela. Kamu kemana saja kenapa tidak masuk sekolah selama seminggu ini" Beni tiba-tiba datang entah darimana asalnya dan meributkan hal itu di pagi yang seharusnya membuat Bela tenang.
"Diamlah, dia sedang fokus menggambar" Tegur Sela pada Beni, karena dia fokus melihat Bela yang sedang mengggambar.
"Benarkah, wah indah sekali dan juga cantik seperti orangnya" Puji Beni dengan tawa konyolnya yang menberikan apresiasi terhadap Gambar Bela berupa tepuk tangan.
Bela langsung berhenti menggambar dan membereskan semuanya, dia tidak suka bila ada yang memujinya seperti itu. Karena Bela tidak ingin seseorang mengatakan pujian sehingga membuat Bela sangat risih tentang hal omong kosong yang diberikan.
Apalagi pujian itu berasal dari mulut Beni. Sepertinya Bela masih sedikit kesal dengan Beni, dan dia tidak ingin terlalu dekat dengan Beni.
Dia langsung membereskan gambarnya dan berhenti untuk meneruskan imajinasinya dalam sebuah buku gambar. Bela segera pergi dari ruang kelas dan mencoba untuk menangkan dirinya sendiri.
"Ahh tidak asik, ini semua karenamu Beni" Kesal Sela pada Beni. Sela merasa ucapan Beni menyinggung hati Bela sehingga membuat gadis itu beranjak pergi dan meninggalkan kelas.
"Bela, kau mau kemana? " Tanya Sela sembari mengikuti Bela dari belakang. Tapi Bela hanya terdiam dan tidak ingin bicara.
"Berhentilah, jangan membuat hal bodoh lagi" Ujar Sela mengungkit kejadian kemarin, membuat langkah kaki Bela terhenti begitu saja.
Dia langusng berdiam diri di tempat sekan tidak ingin melangkah lagi. Matanya mencoba memperhatikan sekitar takut ada seseorang yang mendengar hal itu.
Untung saja masih belum banyak siswa yang datang di pagi itu. Jadi hati Bela sedikit tenang dan mencoba untuk berbicara empat mata pada Sela.
"Kemarilah" Ujar Bela sambil menyeret tangan Sela.
Sela hanya terdiam melihat perlakuan Bela padanya. Dia hanya menuruti perintah Bela walaupun tidak tau kemana mereka akan pergi. Karena sebenarnya Sela tau kehidupan Bela sedang kacau.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1