Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
76. Ana dan Roy


__ADS_3

Bela kesal dengan Bara, karena dia sudah berharap tinggi pada perhatian yang telah diberikan oleh Bara. Akan tetapi kenyataan menjawab bahwa perhatian itu hanya untuk mencegah Bela sakit karena harus memasak besok.


Sungguh hal yang mencengangkan sekaligus menyebalkan merasuki pikiran Bela saat melihat langkah kaki tuannya telah pergi dari hadapan Bela.


"Semua sudah beres, aku tidak akan berharap lagi padamu tuan" Wajah Bela cemberut, kekesalan terlukis dari dalam hatinya. Lalu Bela bergegas untuk masuk ke dalam kamar.


"Hey" Teriak Alex dengan keras. Seketika Bela menghentikan langkahnya lalu menatap Alex dengan bibir manyun itu.


"Apa? " Sahut Bela dengan bentakan, seperti ingin menerkam Alex. Akan tetapi Alex hanya tersenyum saja lalu dia berjalan mendekati Bela.


"Astaga, anak bayi tidak boleh cemberut. Jika kau cemberut maka aku akan mengadukan itu pada Bara" Alex kembali menggoda Bela dengan ejekannya. Sungguh godaan yang menyebalkan dan semakin membuat Bela kesal.


Tidak pernah ada habisnya bagi Alex untuk membuat gadis itu marah. Namun perbuatan itu sengaja Alex lakukan agar tidak melihat Bela termenung dalam wajah lesunya. Rasanya bagaikan sayur asam tanpa asam, bila melihat Bela tanpa tawanya.


"Kak Alex, kau menyebalkan" Teriak Bela sambil berusaha menangkap Alex.


Mereka berdua bagaikan kucing dan tikus yang memenuhi ruangan. Mereka berdua berlarian antara tertawa dan marah saling berdampingan. Bela menatap Alex bahwa dia menyebalkan sedangkan Alex tertawa puas sambil mengejek Bela dengan gayanya sendiri.


Hingga akhirnya Bela juga tertawa dan mereka pun saling kejar-kejaran seperti kucing dan tikus namun tidak bisa saling menangkap satu sama lain. Sementara itu Bara menatapnya dari lantai atas.


Sepertinya dia ingin berbicara dengan dirinya sendiri saat melihat tawa yang terlukis di wajah gadis yang dia benci dan bersanding bersama tawa sahabatnya disebarkan di rumah yang biasanya terasa sangat sepi bila mereka berdua tidak ada di rumah atau sedang pergi.


" Mungkin saat kau mengetahui bahwa aku memiliki dendam padamu, tawa itu pasti akan hilang dari bibirmu " gumam bara sambil menatap Bela dan Alex yang masih berlarian.


Kemudian Bara bergegas pergi dari pandangan itu dan masuk ke dalam kamarnya seperti biasa. Menikmati kesendirian yang sunyi tanpa banyak bicara serta melakukan apapun yang dia kehendaki namun tiba-tiba tangannya melihat sebuah lembaran buku seperti catatan yang sudah dia tulis dan diisi tentang musuh yang akan dia balas.


Bahkan ada nama Bela serta foto keluarga Pras dan salah satunya adalah Bela yang menjadi keluarga itu. Satu persatu mereka akan merasakan sakit yang sudah Bara pendam selama ini, bahkan membuatnya menderita bila mengingat kematian ayahnya dan Denada.


"Menunggu kematianmu itu sangat mudah, hanya saja aku akan memprsulit itu untuk membuat kebebasan terlebih dahulu pada kalian. Lalu perlahan aku hancurkan semuanya sehancur-hancurnya" Tutur Bara penuh emosi pada foto keluarga Pras dan Erik.


Sementara itu keqdaaan dibawah telah tenang. Akhirnya pertengkaran kucing dan tikus itu telah usai dan Bela serta Alex terlihat sangat lelah lalu mereka berdua masuk ke kamarnya masing-masing. Di dalam kamar Bela kembali merasakan keheningan dia tidak bisa tidur lalu Mencoba membuka jendela sedikit serta menatap bintang hanya untuk mendapatkan sedikit ketenangan.


"Mah Bela mampu bertahan hingga sejauh ini, andai saja mama dapat melihat bahwa Bela akan terus merasakan bahagia setiap harinya walau kenyataannya yang didapatkan bertolak belakang. Bela sangat rindu dengan Mama, harapan mama kembali ke dunia ini selalu muncul setiap waktu" air mata kembali jatuh di dalam kesunyian dirinya saat di dalam kamar, rasanya Bela kembali memeluk sepi seakan tidak ada yang menghiburnya lagi.


Bela senang bila berinteraksi dengan orang banyak di setiap harinya karena dia akan merasakan senyum dan tawa. Namun tidak dengan kesendirian yang akan membuatnya kesepian kalau kembali meneteskan air mata dalam kepedihan yang dia rasa.


Karena dunia ini terasa antara baik dan tidak. Baiknya dia memberikan Bela kesempatan untuk tertawa dan mengubah nasibnya dengan perlakuannya sendiri untuk menghilangkan hal yang buruk. Bela melakukannya sendiri untuk mengubah nasib dari yang buruk menjadi yang baik.


Kemudian dunia juga dirasa belum baik untuknya apabila dia memaksa untuk terus memanjat dinding yang tebal hingga membuatnya akan terjatuh terhempas bagai sampah di antara rerumputan yang keras.


Maka dia harus tetap berhati-hati melewati lembahnya hidup dan tidak ada yang tahu bagaimana caranya kita bisa berhasil untuk mencapai finish yang sudah kita bayangkan dan dipersiapkan di waktu yang sangat lama.

__ADS_1


Kediaman Pras di pagi hari.


"Kak apakah tidak makan?" El melihat Ana masih berdiam diri di kamarnya saat makan pagi seharusnya sudah dia lakukan namun Ana masih tetap memilih diam dan tidak keluar dari kamar padahal dia sudah berpakaian rapi hanya tinggal makan saja.


" Kau makan saja, aku sudah kenyang " sahut Ana.


Semenjak Ana mengetahui bahwa pembunuh adiknya Bela adalah ayahnya sendiri, dia semakin memperlihatkan perubahan yang sangat besar terutama Ana sangat membenci apabila dia melihat wajah ayahnya saat di meja makan.


Ana juga sering sekali tidak makan bersama di meja makan walaupun dia selalu mendapatkan teguran dari dadynya tapi tetap saja Ana memegang erat keteguhan dalam dirinya untuk menjauh dari seseorang yang dianggap sebagai pembunuh itu.


"Apa kau tidak takut jika dia akan memarahimu lagi? "Sebenarnya El tidak rela jika setiap pagi ataupun malam rumah itu dipenuhi dengan keributan antara Ana dan dedynya.


El juga merasakan bahwa sifat kakaknya itu terlihat sangat berubah entah mulai beberapa hari dari kemarin. Sebenarnya El ingin bertanya tentang perubahan sifat itu namun seketika dia tidak berani karena akhir-akhir ini mereka berdua juga tidak akrab seperti dulu semenjak kematian saudaranya yaitu Bela.


"Biarlah dia marah, lagi pula aku hanya menginginkan ketenangan saja " Sahur Ana.


Perkataan itu sungguh tidak masuk akal di pikiran El karena tiba-tiba Ana membutuhkan ketenangan padahal hidupnya sudah tenang tanpa pengganggu sekalipun.


Bahkan El sendiri tidak pernah bisa menjawab pertanyaan itu kalau dia termenung beberapa jam memikirkan apa yang terjadi pada kakaknya.


"Baiklah aku akan makan dahulu, nanti aku akan memanggilmu jika sudah selesai makan dan kita berangkat sekolah bersama "ujar El. Ana hanya menjawab dengan anggukan saja.


El segera pergi ke meja makan saat itu, dia berhadapan hanya berdua dengan dadynya saja. Lagi-lagi dadynya menanyakan kenapa Ana tidak makan bersama, El hanya menjawab dengan penuh kebohongan bahwa Ana sedang tidak enak badan jadi dia menyuruh untuk membungkus makanan sebagai bekal ke sekolah.


"Cepatlah kau ambilkan makanan untuk kakakmu, agar dia makan di sekolah saja supaya tubuhnya tidak kurus dan lekas sembuh dri sakitnya. Dan jangan lupa berikan dia obat agar sakitnya tidak semakin parah" Pras tetap saja memberikan perhatian yang baik pada putrinya karena dia tidak ingin kedua putrinya sakit.


Apalagi Ana adalah putri pertama yang dia kagumi serta disanjung-sanjung karena kepintarannya. Pras ingin Ana masuk dalam kelas bisnis setelah lulus SMA, karena dia ingin memberikan asetnya untuk Ana agar dapat meneruskan perusahaannya.


Walaupun saat ini kepemilikan perusahaan itu masih menggantung karena masih atas nama Bela. Pras sudah memiliki rencana, dia ingin mempercepat membalik namakan atas nama Bela menjadi atas nama dirinya walaupun dengan cara yang sangat licik sekalipun.


Memang orang jahat sepertinya tidak akan menyerah begitu saja, sudah dapat dibaca bahwa orang yang tidak memiliki hati akan terus melakukan berbagai cara demi sebuah harta. Walaupun menggunakan cara busuk sekalipun.


"Dad, aku ke kak ana dulu ya" Seru El setelah menyelesaikan makan.


"Oke sayang, jangan lupa ingatkan lagi kakakmu untuk meminum obat" perhatian kembali diberikan oleh Pras pada Ana.


Setelah makan El tidak lupa membungkuskan makanan untuk anak, kemudian dia memanggil Ana untuk segera berangkat sekolah. Saat berangkat sekolah pun Ana tidak berpamitan Pras, dia selalu saja berjalan dalam diam kemudian masuk ke dalam mobil.


Berulang kali Ana melakukan itu namun tetap saja Pras belum bisa menegur Ana karena dia selalu terburu-buru dan sibuk dengan pekerjaannya saat ini.


"Kenapa Kakak tidak berpamitan dengan Dedi ? " Tanya El pada Ana.

__ADS_1


"Sudahlah El tubuhku sangat tidak enak badan jadi sekarang aku ingin beristirahat dan tolong bangunkan jika sudah sampai ke sekolah "Ana sangat malas menjawab pertanyaan adiknya yang berkaitan dengan dirinya jadi dia memilih untuk memejamkan mata dan berpura-pura tidur agar El tidak banyak bicara sepanjang perjalanan menuju ke sekolah.


"Andai saja kau tahu apa yang dilakukan oleh Daddy El, mungkin kau akan juga melakukan hal yang sama sepertiku" gumam Ana dalam hatinya, sebenarnya dia ingin memberitahu El tapi takut mental adiknya itu lemah sehingga dia memilih untuk memendam hal itu sendiri.


Karena dia yakin adiknya masih memiliki masa depan yang panjang dan masih belum bisa memiliki sifat dewasa untuk menghadapi masalah tersebut. Bahkan Ana tidak ingin hal buruk masuk ke telinga El karena dia tidak mau jika otak El dipenuhi dengan keburukan.


Sesampainya di sekolah seperti biasa El dan Ana akan berpisah di lorong sekolah karena kelas mereka berbeda. Saat El sudah tidak terlihat di sampingnya karena berbalik arah, Ana segera bergegas menuju ke kelas Bela untuk mencari Roy.


" Roy tunggu "teriak Ana saat matanya sudah mendapati Roy yang sedang berjalan menuju ke kelasnya.


Roy menghentikan langkahnya dan berbalik lalu wajah itu kembali menampilkan sikap datar dan tatapan hangat, wajahnya sangat tidak suka melihat kedatangan Ana.


"Roy ikutlah denganku "Ana langsung menarik tangan Roy dan segera menuju ke halaman belakang. Karena dia tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh kakaknya Bela tersebut.


Bahkan dia juga tidak bisa menolaknya karena semakin Roy menolak maka Ana akan semakin terus mengejar dan memberikan rasa penasaran yang tinggi.


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan, aku menginginkan ketenangan saat ini" Roy kembali berkata dingin dan wajahnya tidak ada perubahan lalu dia duduk di kursi halaman tanpa menatap Ana sekalipun.


"Ambillah ini sebagai ucapan terima kasihku" Ana memberikan sebuah coklat pada Roy akan tetapi Roy tidak mengambilnya. Lalu tetap saja Ana memaksa dan memberikan coklat itu ke tangan Roy meskipun berulang kali Roy melempar coklat itu.


"Tidak baik membuang makanan Roy lebih baik kau mengambilnya saja aku ikhlas memberikan ini sebagai ucapan terima kasih "ujar Ana pada Roy.


Saat Roy melirik mata Ana terlihat sangat tulus lalu dia menyetujui ucapan Ana bahwa makanan tidak boleh dibuang-buang dan harus dihargai. Akhirnya Roy menggenggam coklat itu di tangannya.


"Kau ingin berterima kasih apa?"tanya Roy.


"Aku berterima kasih bahwa kau sudah mengajakku ke tempat gubuk yang terpencil kemarin karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya melihat Bela tersenyum walaupun hanya dalam selembar foto" Ana selalu mencoba berinteraksi dengan Roy walaupun setiap harinya wajah Roy tidak pernah berubah.


"Dan sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih saat itu akan tetapi saat aku ke kelasmu kau tidak masuk kelas. Dan setelah pulang sekolah aku melihatmu di jalanan, apakah itu tempat yang sama saat Bela bersamamu Roy? " Kembali Ana mengingatkan dua hari yang lalu saat dia ingin berterima kasih pada Roy akan tetapi Roy bolos sekolah.


Saat pulang sekolah Ana melihat bahwa Roy sedang berada di pinggir jalanan bersama para pengamen cilik. Jadi Ana berpikir untuk bertanya pada Roy apakah tempat itu juga biasa Bela gunakan untuk nongkrong bersamanya.


"Itu bukan urusanmu "Roy kembali menolak untuk berbicara pada Ana.


Entah mengapa rasanya rasa sangat benci jika melihat wajah Ana bahkan hatinya sendiri berkata untuk menjauh darinya akan tetapi hal itu tidak bisa Roy lakukan karena setiap hari pasti akan ketemu karena mereka satu sekolah.


"Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku, aku sudah berulang kali meminta maaf padamu Roy " Rasanya Ana sedikit putus asa karena Roy tidak pernah mau berkata baik padanya namun seketika putus asa itu menghilang dan dia mencoba tegar hanya demi mendekatkan diri pada Roy untuk mencari tahu bagaimana keseharian adiknya di semasa dia hidup.


"Baiklah aku memang pengganggu di hidupmu, tapi aku mendekatimu karena aku memiliki hati yang tulus agar bisa berteman denganmu sekaligus berteman dengan keseharian yang Bela lakukan "jelas Ana.


Namun tanpa banyak bicara Roy pergi meninggalkan Ana dan meletakkan coklat itu kembali. Ana terdiam karena dia tahu bahwa Roy tidak akan pernah menerima pemberiannya karena lagi-lagi dia pergi dengan wajah datar tanpa banyak bicara.

__ADS_1



__ADS_2