Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
21. Bertemu Sisil


__ADS_3

Pagi 06.00


"Bela, tumben sekali kamu sudah rapi nak? " Tegur Klara saat keluar dari kamar dan melihat Bela sedang menyiapkan makanan dengan pakaian sangat rapi di pagi itu.


"Iya ma, karena hari ini suamiku akan mendaftarkan aku ke sekolah" Sahutnya dengan gembira di depan mereka yang sudah duduk di meja makan.


"Sekolah? Dimana? " Tanya Mario antusias.


"Di tempatmu, aku harap kau menjaganya agar dia tidak bermain dengan lelaki lain" Sahut Bara yang baru turun dari tangga.


"Baiklah" Sahut Mario dengan wajah dinginnya. Karena selama ini Mario dan Bara tidak terlalu akur. Hanya Denada yang bisa menyatukan dua saudara yang tidak pernah tegur sapa itu.


"Oma, aku akan membawanya untuk bersekolah" Pamit Bara pada oma.


"Baiklah, oma sangat setuju dengan hal itu. Karena pendidikan itu penting" Ujar oma.


Bara sudah menyiapkan berkas yang akan dibawa. Semua yang mengurusi berkas itu adalah Alex, dengan menggunakan data palsu yang memakai nama pak Taryo sebagai ayah atau wali Bela.


Dalam satu hari penuh mereka mengurusi pendaftaran Bela. Bara dan Bela ditemani oleh Alex untuk mendaftar di sekolah Mario, dan semua urusannya menjadi gampang karena Bara adalah penyumbang dana terbesar bagi sekolah ini.


"Bara, semua sudah beres. Aku ingin pergi ke markas dulu" Ujar Alex.


"Baiklah, kau pergi saja dengan mobil ini" Bara memberikan kunci mobilnya.


"Tidak usah, karena sudah ada yang menjemputku" Ujarnya sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian sebuah mobil datang dan membawa Alex pergi. Dan sekarang mobil yang mereka tumpangi hanya berisi Bela dan Bara.


Keheningan kembali terjadi di dalam mobil. Bela masih terlena dengan kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan karena suasana sekolah terlihat sangat bagus.


"Tuan, aku sangat senang melihat sekolah itu" Bicaranya membuka keheningan diantara mereka.


"Dulu aku bersekolah hanya buat mainan saja, tapi sekarang aku ingin benar-benar menuntut ilmu" Jelasnya.


Bela merasakan penyesalan karena saat di sekolah yang dulu dia selalu berbuat onar dan bolos berkali-kali hanya untuk mendapatkan perhatian ayahnya. Namun nyatanya kosong dan hampa yang dia peroleh.


Mulai saat ini dia berjanji ingin belajar dengan baik dan memanfaatkan waktu untuk mengenyam pendidikan. Dan tidak akan berbuat onar seperti halnya bolos seperti saat di sekolah yang dulu.


"Mengapa kau tidak ingin kembali ke rumahmu" Bara mencoba berbaur dengan obrolan Bela.


"Aku tidak tau sedang berada dimana saat ini, lagipula aku membenci ayah" Wajah yang ceria mendadak lesu. Lalu Bara menatapnya perlahan.


"Ah sudahlah, aku tidak ingin kembali ke rumahku walaupun nanti aku tau jalan pulang" Ucapnya kembali, karena dia merasa canggung jika menceritakan hal itu pada Bara. Tuan muda yang menurut Bela arogan.


Bara terdiam mendengar hal itu, sekarang dia tau bahwa Bela tidak ingin kembali ke tempat asalnya karena dia sangat membenci ayahnya sendiri.


Bara segera melajukan mobilnya ke suatu tempat belanja yang besar. Dia ingin membelikan Bela satu set seragam agar besok dia bisa sekolah dengan nyaman.


"Kita mau kemana tuan? "


"Membeli perlengkapan skeolahmu" Bela tersenyum. dirinya merasa benar-benar bahagia di hari ini.


Mol yang sangat besar, saat mereka berdua turun dari mobil terasa seperti seorang adik dan kakaknya. Bukan seperti seorang suami dan istrinya.


Dia ebuah perbelanjaan perlengkapan sekolah. Bela memilih barang-barang yang dia butuhkan. Mulai dari tas, buku, sepatu, seragam dan lainnya.


"Semua 1 juta 300 ribu tuan" Jumlah uang itu cukup kecil bagi Bara, dia langsung mengeluarkan kartu black kardnya.


"Mahal sekali, padahal aku hanya membeli yang merek biasa saja" Gumam Bela saat mendengar jumlah yang harus dibayar.


Lalu pandangan bela tertiju pada kartu black kard yang dipegang oleh Bara. Dia terkejut saat Bara mempunyai kartu itu.


"Apakah dia sangat kaya sehingga memiliki kartu itu" Batinnya berseru dan pandangannya masih terpaku.


"Apakah kau akan tinggal di sini? "


"Ah tidak tuan" Sahutnya dna langsung mengikuti bara dari belakang.


Bela memegang belanjaaj itu sendiri, dia tidka pernah manja kepada siapapun. Karena dia selalu memiliki hidup sederhana dari dulu, jadi tidak terkejut jika menghadapi kerasnya dunia.


Setiap perjalanan di dalam tempat perbelanjaan, wajahnya selalu ceria dan gembira. Lalu tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang tanpa diundang.

__ADS_1


"Bara" Seketika langkah mereka berdua berhenti.


"Bara, aku merindukanmu" Entah darimana datangnya, dia mendekat dan langsung memeluk Bara seperti sepasang kekasih.


Bela yang terkejut dengan hal itu hanya bisa terdiam lalu menatap mereka. Sedangkan Bara sangat tidak suka dengan perilaku Sisil seperti itu.


"Lepaskan, aku tak mengenalmu" Ucap Bara dengan dingin dan melepaskan pelukan Sisil dengan paksa.


"Apa kau lupa jika kita sudah menjalin hubungan cukup lama. Dan sekarang kau melupakanku? " Sisil terus bergelayut manja di lengan Bara. Sedangkan Bara sangat membenci wanita di hadapannya.


"Lepaskan" Ucapnya dingin.


"Tidak, aku masih merindukanmu. Muah" Sisil langsung mencium pipi Bara.


Bela kembali terkejut dengan hal itu. Matanya terbelalak dan tubunya membeku. Pikirnya sedang bertanya-tanya tentang wanita yang bersama Bara.


Mereka terlihat sangat saling mengenal, apalagi wanita yang sedang berhadapan dengan Bara. Bela benar-benar tidak mengerti denagn kehidupan orang dewasa yang bertingkah seenaknya dan meninggalkan seenak kehidupannya.


"Buat apa aku disini, sebaiknya aku pergi saja" Ucap Bela dalam hati. Lalu perlahan langkahnya pergi menjauh.


*brak*


"Pergi dari sini sebelum aku membunuhmu" Benarkah Bara dengan kasar sambil mendorong Sisil hingga terjatuh.


"Tidak, aku menyayangimu. Aku pergi ke luar negeri hanya untuk karirku saja" Teriak Sisil denagn antusias untuk kembali pada Bara.


"Bela berhentilah" Teriak Bara saat melihat langkah Bela sedang menjauhi dirinya dan Sisil.


"Kenapa dia memanggilku, bukankah dia sudah bersama kekasihnya. Dasar orang gila" Gumam Bela lalu tubuhnya berbalik menatap Bara.


"Kemarilah" Ucapnya dengan lembut.


Lalu bela segera mendekat pada Bara sambil membawa banyak barang belanjaan. Dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh tuannya pada wanita itu.


Hati Bela merasa ubah saya melihat Sisil di dorong oleh tangan kekar Bara. Tapi dia juga tidak bisa membantunya karena wajah Bara terlihat sangat kusut. Sepertinya ada sesuatu yang tersimpan rahasi.


"Siapa dia, apakah adikmu? " Tanya Sisil yang tidak mengenali Bela.


Dia menunjukkan cincin pernikahan yang digunakan oleh Bara dan Bela untuk menunjukkan pada Sisil dan membuatnya menjauh dari kehidupan Bara.


Wajah siail terkejut bukan main. Dia berfikir bahwa Bara sudah melupakannya sehingga dia menikah dengan orang lain selain dirinya.Namun dirinya masih tetap tidak percaya dengan hal itu.


"Tidak mungkin, aku yang akan menjadi kekasihmu satu-satunya" Ujar Sisil dengan percaya diri.


"Jangan bermimpi, sekarang aku bukan Bara yang dulu" Sahut Bara.


Bara mengambil barang belanjaan di tangan Bela lalu membawa Bela menjauh dari Sisil. Namun Sisil masih tidak percaya dan terus saja mengejar mereka berdua.


Dia mengikuti mereka berdua untuk berkata bahwa semuanya adalah kebohongan dan dirinya tidak akan mudah percaya dengan hal itu.


"Kau pikir aku bodoh, dia masih anak-anak" Ucap Sisil kembali sambil menghadang Bara untuk pergi.


*brak*


"Sekali lagi kau mengejarku, maka nyawamu akan habis" Ancam Bara.


Sekilas Bela langsung menatap wajah Bara yang terlihat memerah karena menahan amarah. Dia tertegun mendengar ucapan Bara yang kejam. Bahkan dia juga ketakutan dengan ancaman itu.


"Siapa dia, mengapa selalu mengancam orang dengan kata pembunuh. Apakah dia pembunuh bayaran, aku harap tidak" Gumam Bela dalam hati.


Bela menelan salivanya dengan kasar. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan. Karena saat ini tangan Bara satunya merangkul bahu Bela dengan erat.


Tanpa banyak bicara Bela mengambil barang belanjaannya namun Bara mengenggan barang itu dengan erat sehingga Bela tidak bisa mengambil alih dan terpaksa mengikuti skenario itu.


"Ayo istriku kita pergi, aku muak melihat wanita ****** ini" Lagi-lagi Bela hanya membisu dan menelan salivanya dengan kasar.


Bela hanya bisa menurut walaupun dia tidak mengerti dengan sandiwara yang sedang Bara lakukan saat ini.


"Kali ini kau bisa pergi dariku, tapi aku akan membuatmu kembali cinta mati padaku" Tatapan licik Sisil mengikuti setiap langkah kaki mereka berdua yang bergegas pergi hingga sampai ke mobilnya.


"Aku tidak akan membiarkan kau jatuh ke tangan orang lain, karena Bara hanya milikku saja" Wanita egois. Sisil selalu memaksakan kehendak untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Kemarin dia pergi meninggalkan Bara hanya untuk perkembangan karirnya. Tapi sekarang dia datang kesini bukan hanya untuk karirnya saja namun sekaligus untuk menangkap cinta Bara kembali.


Pikirannya selalu mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Karena Sisil adalah wanita ambisius yang tidak pernah mau kalah denagn siapapun.


"Tuan siapa dia? " Tanya Bela penasaran.


"Diamlah" Bentaknya.


Padahal Bela hanya ingin mengetahui wanita itu saja namun Bara memaksa untuk diam. Jadi apalah daya Bela hanya terdiam.


Mobil dilakukan dengan kecepatan sedang. Pandangan Bela hanya ingin menatap dunia luar yang sedang dia jalani saat ini. Karena semenjak dia di rumah Bara rasanya sangat terkurung.


"Apa kau akan terus menatap jalanan sepanjang hari? " Bara membuka pembicaraan yang sunyi, seperti tidak rela jika semua perhatian Belk tertuju pada alam yang sedang berjalan.


"Mungkin bisa dikatakan begitu tuan, aku sangat mencintai pemandangan itu. Aku ingin berjalan-jalan lebih luas lagi" Bela mengeluarkan isi hatinya.


Dengan senang dan bangga dia menceritakan bahwa kebahagiaan yang dimiliki saat ini adalah dunia luar. Dia terus melemparkn senyum dari setiap kata yang diucapkan pada Bara.


Jiwanya sangat periang dan tidak membuat seseorang sedih saat disamping Bela. Rasanya dia ingin terus tertawa dan tersenyum sepanjang hari.


"Aku ingin sekali menjelajahi semua tempat, rasanya aku seperti menjelajahi dunia" Ucapnya lagi.


Namun Bara hanya konsentrasi menatap jalanan dan melajukan mobil yang dikendarainya. Sebenarnya dia mendengarkan tapi pura-pura tidak tau.


"Tuan, apakah kau tidak ingin membawaku ke tempat yang ramai? " Ujar Bela memberikan kode agar Bara membawanya untuk jalan-jalan.


"Tidak" Jawaban singkat, jelas dan padat.


Bara menolak mentah-mentah permintaan Bela. Tapi hal itu tidak membuat gadis kecil menyerah. Bela tidak pernah manja, namun pikirannya masih anak-anak yang menginginkan sesuatu dalam hidupnya.


Dia terus menyoceh untuk memberikan gambaran dan keinginannya secara tersirat pada Bara.


"Dulu aku tidak pernah jalan-jalan kemanapun, hanya berada di pinggiran jalan dan berteman dengan anak jalanan. Dan sekarang aku memiliki suami tapi dia tidak pernah mendengarkan apapun dariku" Ujarn Bela.


"Tapi sudahlah, nasibku memang begini. Sepertinya aku harus pergi menjelajah kota sendiri di tengah malam saat semua tidur" Sambungnya kembali.


"Apa kau mau mati? Keluar dari rumahku adalah pelanggan, jika tanpa ijin maka aku akan menyiksamu" Tidak ada kata ibah dalam diri Bara, dia kembali membentak saya mendengar celoteh Bela.


Dia terus memarahi dan mengancam Bela agar diam. Telinganya merasa terganggu dengan ocehan Bela, tapi saat dilihat b,ela bercerita dengan senyuman dan tidak ada kesedihan apapun.


"Tenang tuan, anda menyuruhku hanya 2 tahun saja tinggal disana. Dan selebihnya aku akan keluar bersama pak Taryo bukan" Jelas Bela.


Bara memang meminta Bela untuk menyetujuinya menjadi istri pura-pura selama 2 tahun saja untuk menyenangkan oma. Selebihnya dia tidak akan memeprdulikannya lagi.


Bela juga menerima hal itu karena dia butuh tempat tinggal saat ini. Dia juga memikirkan keadaan pak Taryo yang belum pulih karena kecelakaan kemarin.


"Jadi sebelum kau mengusir ku, maka aku akan mencari jalan kehidupan sendiri" Ucapnya kembali. Dan bara masih terdiam.


*crittt*


"Aduh" Rem mendadak membuat kepala Bela terbentur.


"Turunlah" Perintah Bara.


"Kau mengusir ku? Tadi aku hanya bercerita 2 tahun kedepan bukan sekarang. Sedangkan saat ini aku belum memiliki tujuan tuan" Ujar Bara mengoceh sendirian.


Bela tidak ingin turun dari mobil. Dia hanya ingin di dalam saja. Lagipula pikirnya tidak tau mengapa Bara menyuruhnya turun. Dia juga takut akan di tinggal olehnya.


"Kau masih berdiam diri? Atau aku menyeretnya?" Tutur lembut tapi memgancam dari Bara.


"Baiklah" Pasrah adalah jalan satu-satunya. Bela keluar dari mobil dan mengikuti Bara yang berjalan menuju sebuah taman.


"Apakah dia mengajakku ke tempat hiburan? " Pikirannya bertanya-tanya dan bibirnya melukiskan sebuah senyuman.


Hati Bela senang dan dia ikut menikmati perjalanan mengelilingi taman. Dia tau walaupun Bara arogan tapi ternyata hatinya mengabulkan permintaannya untuk jalan-jalan.


"Tuan tunggu" Bara menghentikan langkah. Bela segera jongkok di depan Bara. Pikiran Bara mulai merasa aneh dengan sikapnya.


Tanpa banyak bicara Bela langsung mengikatkan tapi sepatu Bara yang terlepas. Dengan sabar dia mengikat tali sepatu itu, Bara masih tercengang.


Terlihat wajah ketulisan yang nampak dari Bela. Senyumnya selalu menjadi ciri khas dalam melakukan apapun. Rasanya ada sesuatu yang spesial bila dilihat oleh Bara pada gadis yang sedang bersamanya saat ini.

__ADS_1



__ADS_2