
Sela semakin memanas saat mendengar kepala Bela yang terlihat sabar dengan perlakuan Dira yang sangat kurang ajar. Bahkan Sela terlihat lebih geram mendengar cerita tersebut.
"Kau sungguh tidak asik, Jika saja ada aku di sana maka akan aku cengkram saja rambutnya dengan kuat biar dia kapok" Celoteh Sela sambil memperagakan gayanya.
"Ah sial kau sungguh Barbar sekali, Apakah kau wanita" ujar Brandon karena dia baru menemukan seorang wanita lebih Barbar dari Bela yaitu Sela.
"Sudahlah jangan berisik aku lapar" Seru Sela dan tangannya dengan Sigap menarik Bela serta Mario karena jika menarik Brandon tangannya tidak cukup jadi dia jalan sendiri mengikuti mereka bertiga sungguh kocak persahabatan mereka kali ini.
Mereka semua asik makan kecuali Mario karena di pikirannya masih bertanya-tanya dan berunding dengan perasaan hatinya yang ingin menyatakan cinta pada Bela.
Dirinya juga takut jika cintanya akan ditolak mentah-mentah dan membuatnya patah hati lagi serta penyakitnya akan kambuh lagi. Jadi Mario mencoba menenangkan diri untuk mencari momen yang tepat agar bisa menyatakan cintanya pada Bela.
Dia tidak peduli walaupun wanita yang dia sukai adalah istri dari kakaknya karena Mario tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
"Hei Kenapa bangun saja?" Gertak Brandon yang duduk di samping Mario. Seketika mata Sela dan Bela mengarah pada Mario.
"Tidak aku tidak apa-apa" kali ini ucapan bohong keluar dari mulut Mario dia mencoba menenangkan keadaan dan kembali menikmati momen kebersamaan dengan sahabatnya di kantin walaupun pikirannya masih tertuju pada Bela. Matanya juga memandangi Bela secara diam-diam.
Seperti biasa mereka selalu bercanda dan bergurau setelah makan di kantin. Disaat itu juga Mario akan mengambil kesempatan untuk Menikmati keindahan dari senyum dan tawa Bela.
Menurut Mario senyum dari Bela adalah anugerah dari Tuhan dan dia tidak bisa menikmatinya kembali seperti dulu. Karena Bela dan Mario beda tempat tinggal.
"Aku tidak akan pernah berpaling dari senyum indah dari orang yang sangat aku kagumi" Gunam Mario setiap kali dia melihat keindahan senyuman itu hingga menuju ke dalam kelas.
Sepulang sekolah seperti biasa Mario akan pergi untuk les tambahan, Sela akan pulang dengan sopirnya, dan Brandon akan pulang bersama cewek incarannya.
Kali ini Bela akan pulang dengan Alex, dan dia menunggunya di depan gerbang sementara itu Beni yang melihat sebuah kesempatan, dia mendekat dan menemani Bela duduk di sampingnya.
Beni ingin mengobrol banyak hal dengan Bela dan kali ini dia menghilangkan sedikit wajah tengilnya agar bisa menikmati ketenangan bersama wanita yang dia sukai dan juga agar Bela tidak merasa risih saat berada di dekatnya, walaupun dia sangat gemas melihat wajah itu.
"Aku ingin bicara denganmu" Ujar Beni sambil duduk di samping Bela.
"Bicaralah, Memangnya kau ingin menunggu apa" respon Bela dengan lembut sambil kembali melihat jalanan dan menunggu kedatangan Alex.
Beni terdiam lalu dia ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan hatinya. Beni mengatakan bahwa dia menyukai Bela saat awal bertemu di dalam bus.
Akan tetapi Beni tidak tahu dengan perasaan yang ada, terkadang dia ingin membuat Bela bahagia namun nyatanya setiap hari selalu membuat Bela murung dengan sikapnya.
Beni berjanji akan memperbaiki sikapnya untuk Bela dan membuatnya tersenyum seperti yang lainnya. Meski itu sulit, karena kehadiran Beni adalah hal yang menyebalkan.
"Kau tidak keberatan kan jika aku menyukaimu " Ujar Beni pada Bela, terlihat dirinya ragu jika wanita di hadapannya merasa terganggu dengan perasaan Beni.
Bela berfikir bahwa Beni benar-benar jatuh cinta padanya padahal dia sudah tahu jika Bela memiliki suami.
Bela terdiam sejenak agar bisa memberikan pengertian pada Beni bahwa dia tidak boleh mendekati Bela karena ada sesuatu yang buruk akan terjadi jika Beni memaksa dalam pendiriannya yang mengutamakan arti perasaan itu.
"Sangat keberatan, aku tidak menyukai siapapun kecuali satu orang " Jelas Bela dengan tegas.
"Siapa? Apakah Mario? , aku akan bertarung dengannya secara sehat untuk mendapatkanmu" Beni tetap saja memaksa untuk mendekati Bela bahkan dia tidak segan-segan menyatakan jika akan bertarung dengan siapaun untuk mendapatkan Bela, salah satunya adalah Mario.
Dengan Tatapan yang tajam Bela berbicara pada Beni bahwa dia harus menjauhi Bela karena masih banyak wanita yang lebih baik dari Bela.
Memang sulit untuk mencari alasan dalam sebuah cinta. Karena untuk orang yang mencintai kita tidak akan perlu alasan dan untuk orang yang membenci kita tidak akan memerlukan penjelasan.
Beni tetap saja tidak mau mendengarkan Bela dan dia selalu berkata ingin mengejar Bela hingga mendapatkan hatinya.
__ADS_1
"Lebih baik kau menjauh daripada hidupmu berbahaya " sekali lagi peringatan Bela berikan pada Beni karena tidak mau jika Bara menghukum seseorang hanya karena mencintai atau mendekati Bela.
"Aku tidak peduli apapun, dan aku tahu pasti bahwa itu hanya alasanmu saja kan Bel biar tidak terganggu olehku. Dan ingat aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu Bela" ujar Beni dengan senyuman nakalnya.
Bela hanya terdiam, dia menghembuskan nafasnya dengan kasar karena peringatan yang dia berikan tidak berlaku di otak Beni.
Tidak lama kemudian mobil Alex datang, itulah kesempatan agar Bela bisa menghindar dari Beni. Bela segera lari tanpa berpamitan pada Beni dan masuk ke dalam mobil Alex.
Akan tetapi di dalam mobil terlihat aneh karena Cintia duduk di belakang padahal mereka sepasang kekasih menapa tidak duduk di depan saja dan wajah Alex juga terlihat murung begitupun wajah cintia.
Sepertinya Bela mengerti jika mereka sedang bertengkar. Di dalam perjalanan pulang, di dalam mobil terasa sunyi tidak ada suara apapun.
Tidak ada pertanyaan apapun atau pembicaraan apapun dari Alex dan juga Cintia. Seperti biasa sesampainya di rumah Bela akan bersantai sejenak menikmati ketenangan sambil merawat kebun di halaman belakang.
Sementara itu di perusahaan Bara.......
Sisil dan manajernya sudah menunggu dari pagi hingga sore hari sehingga mereka berdua terlihat sangat lelah dan tertidur di sana. Padahal Bara sudah datang dari tadi hanya saja dia tidak ingin menemui Sisil karena dirinya ingin membuat mereka menunggu dengan penderitaan.
Tidak lama kemudian Bara menyuruh sekretarisnya untuk mengambil sisir dan masuk ke dalam kantornya.
"Selamat sore tuan, kami berdua ingin berbicara empat mata dengan anda" Manager membuka percakapan.
Mereka masih belum mengetahui jika pemilik perusahaan itu adalah Bara, saat itu Bara masih membelakangi mereka dan akan memberikan kejutan yang sangat menyakitkan bagi Sisil.
"Selamat sore Senang bertemu dengan kalian " Sahut Bara memutar kursinya sehingga mereka saling berhadapan, tidak lupa Bara melebarkan senyumnya.
Sisil benar-benar terkejut dengan apa yang saat itu sedang dia lihat. Matanya terbelalak melihat lelaki yang duduk di depannya. Dia tidak percaya jika dirinya bekerja sama dengan perusahaan Bara.
Karena yang dia tahu perusahaan ini adalah milik orang yang pernah bertemu dan tanda tangan kontrak dengannya yaitu Pak Raka.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Apa yang kau lakukan bersama manajermu. Bukankah kau sudah aku pecat?" Ujar Bara sambil tersenyum licik.
"Apa maksudnya, Bukankah pemilik perusahaan ini Pak Raka" bisik Sisil pada sang manager.
"Tidak, pemilik perusahaan sebenarnya adalah Bharatayuda sedangkan Pak Raka hanya tangan kanan dari Pak Bara "jelas sang manajer.
Sungguh-sungguh keajaiban yang tidak Sisil sangka-sangka ternyata Bara adalah pemilik utama dari perusahaan yang mengikat kontraknya dengan Sisil.
Pikirnya berkata jika saja dia tahu mulai dari awal, mungkin dirinya bisa mendekati Bara dan mengambil alih perusahaan ini tapi sekarang dia sedang dihadapkan oleh masalah yang besar karena sebuah skandal.
Sisil mencoba tenang karena dia tahu jika Bara sangat mencintainya dulu, dan tidak mungkin akan memecatnya semudah itu. Sisil berfikir untuk mencari cara agar berbicara dengan nyaman bersama Bara.
"Sayang jadi kamu pemilik perusahaan ini, syukurlah kalau begitu aku yakin kau tidak akan memecatku bukan?" rayuan Sisil mulai mencuat tangannya mencoba menggenggam lengan Bara akan tetapi hanya penolakan yang dia dapat.
"Kau merayuku, sungguh benar-benar wanita j*lang lepaskan tangan kotormu dari lenganku" ujar Bara dengan wajah dinginnya.
"Kenapa kau berkata begitu, bukankah kita....."
"Tutup mulutmu, Jangan bicarakan masa lalumu di sini karena aku tidak membutuhkan itu" jelas Bara mecegah omongan kotor Sisil yang belum dia selesaikan.
Bara mengatakan pada sang manajer bahwa perusahaannya sudah benar-benar memutuskan kontrak dengan modelnya, Bara memberikan alasan bahwa skandal itu akan membuat kerugian besar bagi perusahaan yang dikelolahnya.
Oleh karena itu jalan satu-satunya adalah memutuskan kontrak secara sepihak. Manajer dan Sisil tidak bisa berkata apapun karena semua yang diucapkan oleh Bara adalah kebenaran.
Tapi Sisil tidak menyerah dia tetap merayu Bara hingga bersujud di kakinya akan tetapi Bara melemparkan Sisil dengan keras lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Pergilah j*lang, aku tidak ingin melihatmu di sini" Bentak Bara dengan keras. Lalu dia pergi tanpa banyak bicara pada Sisil.
Dengan senang Bara berjalan menuju ke arah pulang di mana kamarnya adalah sebuah ketenangan bagi Bara. Dan hari ini adalah suatu kebahagiaan karena berhasil membalaskan dendam yang pertama .
"Satu persatu dendamku akan terbalaskan, dan satu persatu juga para musuh akan menderita" gumam Bara sambil menyetir mobil dengan kegembiraan.
Kali ini hatinya sangat senang dia akan menikmati hari yang indah dengan gembira dan tanpa adanya masalah baik dalam hatinya ataupun dalam rumah.
Sementara di rumah Bara, ternyata Bela dan Cintia sudah selesai memasak. Mereka semua sudah berkumpul di meja makan hanya tinggal menunggu Bara datang akan tetapi Alex dan Cintia masih tetap berdiam diri dan tidak ingin berbicara.
"Apakah kalian akan terus berdiam diri, mataku lelah melihat wajah kalian terus ditekuk. Lama-lama Aku ingin menyetrikanya karena kusut " gerutu Bela berbicara dengan kesal pada Alex dan Cintia.
Dalam rasa tertekan karena dia masih merasa sendirian semenjak kedua sepasang kekasih itu bertengkar. Cintia berdiam diri di kamar, Alex sibuk dengan ponselnya. Hal itu menyebabkan pikiran Bela menjadi menderita.
"Kak Alex Apakah kamu bisu" tanya Bela dengan tatapan tajam. Alex hanya diam dan menggeleng saja tanpa mengeluarkan suara.
"Kak Cintia Apakah kau sariawan" ujar Bela melemparkan pertanyaan kembali pada Cintia.
Hal yang paling dibenci oleh Bela adalah, dia mendapatkan gelengan kepala bukan jawaban.
"Ah sungguh sial" gerutu Bela sambil kesal pada dirinya sendiri lalu dia beranjak pergi dari ruang makan dan berjalan ke pintu depan.
Bela duduk di halaman depan sambil merenung untuk menenangkan diri sendiri. Padahal yang bertengkar adalah Alex dan Cintia tapi nyatanya pikiran Bela yang pusing. Sungguh di luar Nalar yang tidak pernah terpikirkan.
Tidak lama kemudian Bara datang, dia keluar dari mobil dengan senyuman kecil. Bela terkejut melihat senyuman itu, karena dia sudah tidak pernah melihat senyuman di bibir Bara semenjak pindah dari rumah Oma dan tinggal di rumah Bara sendiri.
Bela merasakan hawa kebahagiaan yang sedang Bara bawa dari luar. Namun Bela tidak mengerti kebahagiaan tentang apa yang ada dalam pikiran tuannya itu.
"Tuan Apakah kau menang lotre? " ujar Bela saat Menghadang Bara yang ingin masuk ke dalam rumah. Hatinya sungguh penasaran karena merasa jika Bara sangat berbeda, terlihat jelas dari raut wajahnya yang penuh dengan keceriaan bercampur bahagia.
"Aku ingin makan enak malam ini apakah kau sudah masak?" Tutur lembut Bara sampaikan sambil melemparkan senyuman kecil.
Sejenak Bela terdiam dan terpaku karena tidak biasanya Bara datang dan menanyakan tentang masakan di setiap harinya. Sungguh hal yang benar-benar aneh, akan tetapi seketika Bela langsung sadar jika suaminya sedang lapar.
Lalu dia membawanya ke ruang makan sambil menunjukkan masakan yang sudah dia buat sebelumnya.
"Tuan makanlah" Ujar Bela sambil menyiapkan makanan untuk Bara.
Sejenak Bara melihat heran karena Alex dan Cintia Hanya berdiam diri tanpa melakukan obrolan seperti biasa. Tanpa banyak bertanya Bara langsung mengerti jika mereka berdua sedang bertengkar.
Lalu Bara menggertak Alex dan Cintia untuk segera makan dan tidak membuat suasana hatinya yang senang menjadi keruh. Akhirnya Alex dan Cintia menurutinya dan mereka ikut serta makan bersama Bara begitupun dengan Bela.
Di tengah-tengah mereka makan, Bara memuji masakan Bela yang sangat enak sambil memberikan jempolnya.
"Masakanmu kali ini sangat mantap, Bela. aku sangat menyukainya" Ujar Bara sambil melahap makanan dengan penuh nafsu.
Sontak seketika Alex dan Bela terkejut karena saat makan Bara Hanya berdiam diri dan tidak pernah memuji masakan Bela walaupun masakan itu sangat enak.
"Apakah kau sedang berbunga-bunga " ujar Alex saat melihat sahabatnya berbeda dari hari sebelumnya.
"Benar aku sangat gembira, karena wanita j*lang itu sebentar lagi akan menjadi gelandangan" sahut Bara sambil memberikan muka datarnya sekaligus menikmati makanan.
Bela masih tidak mengerti Siapa wanita j*lang yang sedang Alex dan Bara bicarakan jadi dia memilih untuk makan dengan ketenangan.
__ADS_1